Dua minggu sudah Umi Fariah di rawat di ruangan ini. Tubuhnya terlihat lebih kurus , wajahnya pucat pasi , terlihat jelas beliau sedang menahan sakitnya. Walaupun begitu sejak masuk ke dalam ruangan ini , tidak henti-hentinya Umi Fariah tersenyum. Senyuman yang biasanya hangat dan menenangkan hati itu kini terlihat berbeda , sedikit di paksakan untuk menutupi rasa sakitnya. "Umi udah lama loh gak liat kamu Na , gak nyangka ya? Anak didik Umi yang bandelnya gak ketulungan ini , sudah jadi wanita dewasa." Genggaman tangannya masih sehangat dulu. Umi adalah guru yang ku anggap sebagai Ibu kedua-ku. "Umi---" Ah! Air mataku tidak bisa lagi di tahan. "Kenapa Umi gak bilang kalo Umi sakit? Umi kan udah janji akan selalu menganggap aku dan yang lain sebagai anak Umi , mana ada orang tua yang me

