2. MALAM PERTAMA YANG TERTUNDA

2088 Words
Cuaca pagi di kota Semarang terlihat asri dan sejuk. Hamparan hijau persawahan terasa memanjakan mata. Hembusan angin segar begitu menentramkan jiwa. Sebuah rumah yang terletak di ujung jalan perumahan Mangun Asri terlihat ramai. Rumah yang ditinggali oleh keluarga Bapak Heru Suwiryo dan Ibu Rinjani. Bapak Suwiryo adalah seorang pensiunan TNI yang kini sedang menikmati masa tuanya bersama istri, anak dan para cucunya. Anak bungsunya yang bernama Ajeng Anggraeni Puspita, seorang janda muda beranak satu yang telah ditinggal mati sang suami, kini dipersunting oleh seorang laki-laki tampan dengan wajah blasteran bernama Benji Eldino. Benji adalah anak dari seorang pensiunan PNS bernama Okka Diandro. Meski hidup dalam kesederhanaan karena hanya berprofesi sebagai blogger dan YouTuber, namun uang di rekening Benji selalu membuncit. Lelaki itu tak pernah kekurangan bahkan dirinya sudah mampu membeli rumah mewah di Jakarta beserta sebuah mobil mewah sebagai pelengkapnya. Sebab, profesi Benji di dunia maya hanyalah settingan belaka untuk menutupi profesi lelaki itu yang sesungguhnya. Sejak memutuskan untuk pulang ke Indonesia, Benji yang memang sebelumnya pernah menjalani pendidikan sebagai intel, langsung direkrut oleh Badan Inteligen Negara atau BIN sebagai anggota rahasia mereka setelah Benji berhasil membunuh seorang teroris yang selama ini menjadi dalang dibalik tragedi pemboman istana Wensminter di Inggris 20 tahun silam. Karena profesinya yang sangat berbahaya itulah, tak ada satu orang luar pun yang tahu kalau Benji adalah seorang mata-mata negara, selain Ayah dan adiknya, dan sang Komandan tentunya. Sang Ayah, yang dulunya juga merupakan pegawai pemerintahan. Keahlian bela diri Benji memang diturunkan dari Okka yang dulunya berprofesi sebagai pengawal Presiden. "Saya nikahkan kamu dengan anak perempuan saya Ajeng Anggraeni Puspita binti Heru Suwiryo dengan mas kawin seperangkat alat shalat dan uang tunai senilai Rp 999.990 dibayar tunai," Acara Ijab dan kabul pun di mulai. "Saya terima nikahnya Ajeng Anggraeni Prameswari Bin..." "Puspita, bukan Prameswari," potong sang penghulu. Satu titik keringat di pelipis si mempelai laki-laki menetes. Seketika suasana hening itu kian ricuh saat sang mempelai laki-laki salah menyebutkan nama calon pengantin wanitanya. "Di ulang saja, Pak," sambung Pak Penghulu lagi. Kalimat ijab pun diulangi oleh Heru. Lelaki paruh baya itu kembali menggenggam tangan calon menantunya yang terasa dingin dan gemetar. "Santai saja, Ben," ucap Heru pada Benji. Benji tersenyum tipis. Dia terus mengutuk kebodohannya. Dia melirik ke arah sosok laki-laki muda berjas kupu-kupu yang berdiri di pojok ruangan. Adik laki-lakinya yang bernama Ronald. Ronald yang tertawa geli saat melihat kebodohan sang Kakak dengan wajah polos dan lugunya. Siapa sangka, seorang Benji Eldino, si Jenius yang kini menjadi agen rahasia intelijen negara itu terlihat seperti seorang lelaki t***l dihadapan banyak orang hanya karena satu kalimat singkat. Sangat memalukan! Kalimat kabul pun di ulang oleh Benji. "Saya terima nikahnya Ajeng Anggraeni Puspita Binti Heru Suwiryo dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!" Benji mendesah lega. Akhirnya dia berhasil mengucapkan kalimat sakral itu dengan baik dan benar. Usai prosesi Ijab dan kabul selesai, ke dua pengantin langsung dibimbing ke atas pelaminan. Dengan langkah hati-hati, Benji dan Ajeng berjalan di atas gelaran karpet merah menuju singgasana pengantin mereka. Pakaian adat jawa yang dikenakan Benji dan Ajeng membuat mereka cukup kesulitan melangkah. Sebelum menduduki pelaminan, Benji dan Ajeng harus melakukan serangkaian prosesi pernikahan adat jawa terlebih dahulu, salah satunya yaitu sungkeman. Hari yang melelahkan bagi Benji, saat dirinya harus berdiri dan duduk di atas pelaminan, bersalamanan dengan para tamu undangan, dan terus tersenyum sepanjang waktu. Lebih baik dirinya menjalani tugas berat dari pada harus terjebak dalam kerumunan banyak orang seperti saat ini. Benji bukan seseorang yang suka dengan keramaian, terlebih di antara orang-orang yang tidak dia kenal. Jika bukan memenuhi keinginan Ibu dan Bapak mertuanya, sebenarnya Benji enggan mengadakan acara resepsi. Cukup baginya proses Ijab dan Kabul dilaksanakan, lalu dia bisa membawa Ajeng hijrah ke Jakarta bersamanya. Tapi sialnya, sang Bapak Mertua, merupakan orang yang cukup terpandang di desanya, dan menginginkan pernikahan anaknya dirayakan secara besar-besaran dan hal itu tentu membuat Benji harus terjebak di Semarang, desa kelahiran Ajeng sang Istri selama satu minggu penuh. Sebagai seorang lelaki yang terbiasa hidup bebas, Benji kurang menyukai hidup di daerah pedesaan. Menurutnya kehidupan di desa itu banyak aturan. Dan Benji tidak menyukai hal itu. Heru dan Rinjani itu merupakan orang tua yang berpikiran kolot. Mereka masih mempercayai hal-hal spiritual atau mitos-mitos jaman dahulu kala. Tidak seperti Ayahnya, Okka yang memiliki pikiran ala manusia modern kekinian. Hari itu, acara resepsi pernikahan Benji dan Ajeng berjalan dengan lancar tanpa hambatan apapun. Malam harinya, ke dua mempelai terlihat begitu mempesona dengan gaun pengantin dan jas formal yang mereka kenakan. Kedatangan keluarga besar Sastro Sudiro, Surawijaya dan keluarga besar Dirgantara membuat acara kian meriah. "Itu Hardin dan Luwi, anak dan menantu almarhum Bapak Hadi, presiden RI yang pernah di kawal Ayahkan, Mas?" bisik Ajeng di telinga Benji. "Iya, mereka semua itu orang penting. Itu, laki-laki yang berjas abu-abu, namanya Bastian Dirgantara, dia pemilik perusahaan Dirgantara dan di belakangnya itu Devano, anak laki-lakinya, Bosnya Ronald di Jakarta," beritahu Benji sambil menunjuk ke arah kerumunan tamu yang kini sedang di sambut kedatangannya oleh keluarga besar Ajeng juga Okka. Ajeng menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Saat itu dia dan Benji kembali berdiri karena satu persatu tamu kehormatan itu mulai berbaris untuk memberikan ucapan selamat kepada mereka. Acara terus berlanjut hingga akhirnya di tutup saat waktu telah menunjukkan pukul 22.00 WIB. Benji sudah menanggalkan seluruh pakaiannya di kamar mandi dan menggantinya dengan celana bahan hitam panjang dan singlet sementara Ajeng masih terlihat sibuk dengan riasan dan pakaian pengantinnya yang kini dibantu oleh beberapa orang untuk melepasnya. Benji diminta keluar oleh salah satu penata rias saat gaun Ajeng hendak di buka. Benji yang baru saja menempelkan bokongnya di sofa jadi mendengus kesal. Gue suaminya keles! Kenapa juga, Ajeng cuma mau ganti baju, gue harus keluar! Norak! Makinya dalam hati. Dengan hati setengah kesal, Benji pun terpaksa keluar dari kamar pengantinnya. Semua keluarganya sudah pulang, termasuk Ronald. Benji kini hanya sendirian di rumah Ajeng. Jujur, dia merasa tidak nyaman. Dia merasa asing. Dia merasa tidak kerasan berada di sini. Seandainya dia sudah diperbolehkan untuk membawa Ajeng ke Jakarta, rasanya malam ini juga, Benji ingin membawa istrinya itu ke Jakarta. Sebagai seorang personil BIN, Benji di bayar dengan gaji yang cukup fantastis. Untuk itulah hidup Benji kini serba berkecukupan. Dia sudah memiliki rumah dan mobil yang dia beli dari hasil keringatnya sendiri. Suasana di sekitar kediaman Ajeng terlihat masih cukup ramai oleh para pekerja yang sedang berlalu lalang membereskan semua peralatan pasca berlangsungnya resepsi tadi. Benji berjalan ke arah kolam ikan di halaman belakang rumah adat jawa berbahan dasar kayu jati itu. Dia duduk di sana sambil sesekali melempar makanan ikan ke arah kolam. Suara jangkrik yang mengerik dan kodok yang mengorek terasa menyatu dengan alam. Hembusan angin malam yang bertiup cukup kencang tak juga membuat Benji gentar dan berniat untuk beranjak dari tempat itu. Benji duduk sambil bersiul-siul santai dan jadi terperanjat saat bahunya di tepuk dengan cukup kencang oleh seseorang dari belakang. "Husss... Malem-malem kok siul-siul! Nanti di rasuki makhluk halus kamu," ucap Heru sang Bapak mertua. Benji berdiri dan tersenyum kikuk. "Orang cuma iseng, Pak," jawabnya yang mendadak salah tingkah. "Jangan sembarangan di sini. Sesepuh di sini nggak suka kalau mendengar orang siul-siul malam hari. Kalau nanti mereka merasa terganggu, terus mereka ikutin kamu, bisa panjang urusannya," lanjut Heru. Benji hanya menunduk masam mendengar ceramah sang Bapak mertua. "Perlu kamu tahu ya, Ben, dua hari yang lalu, si Rudi, tetangga sebelah itu habis dikerjai sama sesepuh di sini. Anu-nya membesar gara-gara dia kencing sembarangan," Benji mendengarkan dengan seksama cerita sang Bapak Mertua. Wajahnya seketika meringis. Masa iya? Sampe segitunya? Pikirnya bingung. Dia tersenyum remeh. Perasaan, gue bertahun-tahun kencingin pohonan di hutan, tapi ucok gue bae-bae aja tuh! Ucap batin Benji, mengingat masa-masa sulit perjuangannya dahulu ketika dirinya masih bergabung dengan kelompok teroris internasional yang dikepalai oleh lelaki bernama Tobias Kellyson. Seorang lelaki yang sangat Benji benci karena sudah menculik dan membunuh ibunya. Dan Benji, tak pernah menyesal telah membalaskan dendam atas kematian sang Ibu setelah dia berhasil membunuh Tobias dengan tangannya sendiri. ***** Benji berjalan menuju kamar pengantinnya setelah dia susah payah mencari alasan untuk menghindar dari sang Bapak mertua yang terus menerus mengajaknya mengobrol. Rasanya Benji hampir mati bosan saat harus terpaksa mendengarkan celotehan Heru mengenai hal-hal mistis yang sering kali terjadi di desanya. Bagi Benji, semua itu hanya omong kosong. Seumur hidup, dirinya menjalani kehidupan dengan bergerilya dari satu tempat ke tempat lain, dari satu hutan ke hutan lain, dia sama sekali tak pernah mengalami hal-hal mistis seperti yang di ceritakan Heru padanya. Sepertinya, Bapak mertuanya itu perlu di rukiyah supaya tidak terlalu mempercayai hal-hal seperti itu. Padahalkan dia itu mantan anggota TNI, bagaimana bisa dia memiliki pikiran sekolot itu? Benji hanya bisa geleng-geleng kepala. Saat ini, dia tidak mau berpikiran macam-macam. Karena dia akan bersenang-senang bersama Ajeng. Melewati malam pertamanya dengan Ajeng, sang wanita pujaannya. Benji masuk ke dalam kamarnya dengan wajah sumringah, namun senyum manis lelaki itu kian sirna saat dilihatnya kini Ajeng sedang bermain-main dengan seorang anak kecil di atas ranjang pengantin mereka. Ajeng menghentikan aktifitasnya bersama Nayna, anak perempuannya yang berusia lima tahun dari hasil pernikahan pertamanya. "Lama banget, Mas? Kamu darimana?" tanya Ajeng tanpa sedikit pun menyadari kegusaran di wajah Benji melihat kehadiran Nayna di dalam kamar pengantin mereka. Hubungan Benji dengan Nayna memang kurang baik. Nayna itu anak yang sangat nakal, menurut lelaki itu. Anak itu seringkali membuat Benji kesal, padahal Benji sudah berusaha untuk berbuat baik padanya. Tapi tetap saja, Nayna selalu menjahilinya dengan beribu ide-ide konyol anak itu. "Tadi, aku ngobrol sama Bapak," jawab Benji acuh, dia melirik ke arah Nayna yang masih asik bermain dengan boneka-bonekanya. "Malam ini, Nayna tidur di sini, nggak apa-apakan Mas? Badannya hangat, kayaknya dia kecapean deh hari ini. Biasa kalau sakit, Nayna agak kolokan," ucap Ajeng merasa tak enak hati. "Yaudah, aku tidur di sofa aja kalau gitu," "Jangan marah..." Ajeng merangsek duduk di pangkuan Benji. Mengelus rahang suaminya yang kini mulus tanpa helaian janggut-janggut tipisnya. Bapak yang meminta Benji memangkas habis brewoknya padahal Benji menolak, tapi apa daya Benji, dia tak akan mampu bertahan lebih lama untuk melawan kehendak sang Bapak mertuanya itu. "Nggak kok, aku nggak marah, kesehatan Nayna itu lebih pentingkan?" ucap Benji yang berusaha untuk tersenyum. Dia ikut membelai wajah Ajeng dan merapikan helaian rambut panjang Ajeng yang setengah basah. Wangi. Itulah aroma yang Benji rasakan saat hidungnya mencium helaian lembut rambut panjang Ajeng. Benji mengecup bahu Ajeng satu kali. Dan mengusap-usap punggung istrinya. Hingga setelahnya dia berbisik di telinga Ajeng, "yaudah, tidurin dulu sana Naynanya... Aku tunggu di sini," "Oke," Ajeng bangkit dari pangkuan suaminya. Dia menghampiri putri kecilnya di ranjang. "Nayna, mainannya dilanjut besok ya, sekarang kita bobo dulu, udah malem," rayu Ajeng pada anaknya. Dia mengambil alih boneka di tangan Nayna dan menaruhnya di sisi tempat tidur. "Itu ngapain Om Benji di sini?" tanya Nayna gusar, dia melirik sinis ke arah Benji yang balik menatapnya dengan tatapan masam. "Om Benji sekarangkan udah jadi Papahnya Nayna, jadi mulai sekarang, Om Benji akan tidur sama Bunda," jelas Ajeng, dia tahu Nayna itu sedikit keras kepala, harus pelan-pelan bicara dengan anak itu, supaya Nayna mengerti. "Kalau Om Benji tidur sama Bunda, nanti Nayna tidur sama siapa? Selama inikan Nayna selalu tidur sama Bunda," protes Nayna yang mulai cemberut. "Nayna tetep tidur sama Bunda, Kok. Kita tidur sama-sama ya? Kan ranjangnya luas, lima orang juga muat kok tidur di sini," "Bener Bun?" mata Nayna langsung berbinar cerah saat mendengar penjelasan Bundanya. "Iya dong," "Oke deh, kalo gitu, Nayna mau ajak Dhio sama Tasya tidur di sini aja, kan Nayna jadi bisa main bareng sama mereka sebelum tidur, sebentar ya, Bun, Nayna panggil Dhio sama Tasya dulu," "Eh... Nay... Bukan begitu maksud Bunda... Nay..." Nayna sudah ngibrit keluar untuk memanggil para sepupunya tanpa sedikit pun menghiraukan panggilan Ajeng. Benji menepuk keningnya, mengutuk kebodohan Ajeng yang tak juga menyadari bahwa Nayna itu sedang berusaha mencari cara untuk mengusir Benji dari dalam kamar ini. "Maaf ya, Mas... Aku udah salah ngomong sama Nayna," ucap Ajeng memohon. "Ahk tau ahk! Udahlah aku mau tidur aja!" Benji menepis tangan Ajeng yang hendak menyentuh lengannya. Dia berbalik dan tidur di sofa dengan posisi memunggungi Ajeng. Ajeng menghela napas berat. Dia benar-benar merasa bersalah pada suaminya. Malam itu, yang harusnya menjadi malam pertama romantis yang telah terbayang oleh Benji, kini berubah menjadi malam dimana Benji harus menahan kesal dan dongkol saat dia tak kunjung bisa tertidur nyenyak akibat ulah Nayna dan sepupu-sepupunya, yaitu para keponakan Ajeng yang seumuran dengan Nayna kini memenuhi kamar pengantin mereka. Anak-anak itu berlarian ke sana kemari dan membuat kegaduhan di dalam kamar itu. Ya tuhan... Malam pertama macam apa ini? Gerutu batin Benji, kesal!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD