3. IDE LICIK BENJI

1251 Words
Hari yang cerah dengan sinar mentari pagi yang menghangatkan tubuh tengah dirasakan oleh warga Jakarta pagi ini. Para pekerja kantor terlihat berlalu lalang melalui jalan-jalan Ibukota menuju gedung-gedung pencakar langit, tempat dimana mereka mencari pundi-pundi rupiah. Sebuah Honda CBR sporty terlihat melaju dengan kecepatan tinggi dan mulai memasuki area parkiran gedung Dirgantara Corp. Si pengendara itu, memarkirkan Honda CBR nya dan membuka helm full facenya. Sejauh mata memandang, hanya ada puluhan motor yang berjejer rapi di sana. Laki-laki itu menuruni motornya dan hendak bergegas memasuki gedung. "Gila! Perasaan Matahari lagi adem hari ini, kenapa dia masih aja bikin mata gue silau sih, Mir! Pake pelet apa sih tuh cowok?" seru seorang wanita yang berada di parkiran saat melihat si pemilik Honda CBR itu berlalu dihadapannya. "Jadi itu, cowok yang udah bikin heboh di kantor, yang katanya jadi saingan si Bos?" tebak Mira dengan tatapannya yang tak lepas dari punggung cowok bertubuh atletis itu. "Iya bener! Gue harus cari tahu siapa tuh cowok. Sebelum kecolongan lagi! Pak Dev udah ada yang punya, jadi mending cari amankan? Heheh..." Lidia terkekeh. "Huh... Dasar, gatel!" "Bodo amat! Dese cucok, masih single. Cogan begitu sayang kalo di anggurin," bantah Lidia. "Tapi, apa bener ya, dia itu mantan pacarnya Ibu Zia, istrinya si Bos?" tanya Mira sok tahu. "Denger-denger sih begitu! Makanya, Si Bos suka sensi sama tuh cowok, marah-marah mulu katanya, hihihi..." "Takut kesaingan kali ya?" "Yoi, pastinya," Ke dua karyawati itu terus berceloteh sepanjang perjalanan menuju gedung perkantoran mereka. PT. Dirgantara Makmur Tbk, sebuah perusahaan besar yang berdiri di pusat Jakarta dan begerak di bidang perdagangan ekspor impor berbagai barang kebutuhan pokok, baik primer, maupun sekunder. Perusahaan ini merupakan anak perusahaan dari Dirgantara Corp yang memiliki relasi di setiap pelosok pulau-pulau besar di Indonesia. Dan di sinilah tempat sang lelaki most wanted bernama Ronald Abiyasa Malik bekerja. Seorang laki-laki dengan gayanya yang selalu cool dan macho. Terlihat dari cara berpakaiannya yang casual dengan celana bahan hitam dan kemeja hitam serta cardigan hitamnya, begitu kontras dengan kulit putihnya. Wajah tampannya dan rambut maskulinnya yang licin tertata rapi dengan sapuan pomade. Paduan aroma woody dan elemen fruity yang semerbak tercium saat dirinya berjalan di antara kerumunan orang. Wewangian yang elegan dan menghipnotis. Lelaki yang memakai parfum ini terlihat gentle sekaligus manis dihadapan kaum hawa. Terlebih dengan gaya khasnya yang ramah semakin membuat sang pemilik wajah molek dengan garis rahang tegas dan bibirnya yang sexy itu menjadi bahan perbincangan banyak pihak. Terlebih setelah beredarnya rumor yang mengatakan bahwa Ronald adalah mantan kekasih Dinzia yang merupakan istri dari CEO Dirgantara Grup yang bernama Devano. Karena hal itu, nama Ronald di muka umum semakin dikenal. Di dalam lift, Ronald kembali menjadi pusat perhatian dari mata-mata liar para wanita yang haus akan kasih sayang. Wanita-wanita tukang ghibah yang selalu menjadikan anak baru di kantor mereka sasaran empuk untuk menjadi bahan bullyan. Susan, Vani, Dewi dan Sekar. Mereka yang kini berada satu lift dengan Ronald dan berdiri tepat di belakang Ronald. Susan langsung memencet tombol lift call button untuk menahan pintu lift supaya tetap terbuka. Ronald memperhatikan tingkah Susan dengan kening yang berkerut. Dari caranya menatap, Susan tahu Ronald bingung dengan tingkahnya saat ini. "Tunggu sampai Liftnya penuh, oke, tuh banyak yang mau naik," ucap Susan menjelaskan pada Ronald. Hatinya seperti kembang api. Bahkan Susan sampai lupa berkedip saat dia bersitatap dengan Ronald tadi. Saking takjubnya melihat pesona memikat dari kharisma seorang Ronald. Vani, Dewi dan Sekar sudah mengambil posisi terbaik mereka dengan mengepung Ronald dari depan, belakang, kiri dan kanan saat lift itu mulai penuh oleh kerumunan pegawai lain. Ronald berdecak dalam hati. Sebab ini bukan kejadian pertama dirinya dikerjai oleh cewek-cewek tengil menyebalkan ini. Alhasil Ronald hanya bisa pasrah saat tubuhnya dihimpit dan dijadikan bahan lelucon oleh ke empat cewek itu yang Ronald yakin tak lagi memiliki urat malu. Mereka terus cekikikan tidak jelas saat berhasil membuat Ronald mati kutu di dalam lift. Hampir sesak nafas, Ronald sampai juga di lantai tujuannya dan mulai memasuki kubikel kerjanya. Dia menghela nafas berat, seraya memijit pangkal hidungnya. Berasa j****y gue kalo udah ketemu cewek-cewek gila itu! Pinter banget cari-cari kesempatan buat grepe-grepe gue! Najis! Ronald bergidik geli saat dia kembali harus mengingat kejadian di lift tadi. "Nih, kerjaan lo! Berkas yang lo kerjain kemarin ditolak semua sama Pak Dev! Suruh dikerjain ulang dan harus selesai hari ini juga, kalau nggak, besok, gaji lo nggak akan turun," sebuah suara berhasil Ronald tangkap dari arah belakang. Seorang wanita bertubuh tambun dengan kacamata tebal berdiri sambil menaruh setumpukan berkas di meja kerja Ronald. Lalu wanita itu berlalu begitu saja sebelum sempat Ronald protes. "Hhh... Anak lulusan SMA di taruh dibagian HRD! Bikin susah!" umpat wanita itu. Dan kalimatnya itu jelas ditangkap oleh indra pendengaran Ronald. Jujur, Ronald sakit hati. Dia memang diterima bekerja di sini bukan karena kemampuan yang dia miliki melainkan atas dasar nepotisme. Hubungan baik yang terjalin antara Ayahnya dengan pemilik perusahaan Dirgantara. Meski dirinya masih ada hubungan saudara, tapi tetap saja Ronald merasa kurang kerasan bekerja di perusahaan ini. Ronald terpaksa menerima pekerjaan ini karena dia tahu kini sang Kakak sudah berkeluarga. Ronald tidak mungkin terus menerus menggantungkan hidupnya pada sang Kakak, maupun Ayahnya. Lagi pula, Ronald memang ada rencana untuk melanjutkan kuliahnya yang sempat tertunda. Jadi untuk itu dia membutuhkan biaya. Meski Benji sudah seringkali menawarkan bantuan, Ronald selalu menolaknya dengan dalih dirinya mampu berdiri sendiri di atas kakinya sendiri, tanpa memerlukan bantuan siapapun. Mungkin untuk saat ini, Ronald hanya perlu bersabar. Jika dia sudah mendapatkan gelar sarjana nanti, Ronald akan mencari pekerjaan di tempat lain. ***** Setelah melewati hari-hari panjang nan membosankan di Semarang, akhirnya Benji bisa bernafas lega saat kini dia sudah dalam perjalanan menuju Jakarta bersama Ajeng dan Nayna. Sesampainya di Jakarta nanti, Benji berencana untuk langsung menuntaskan malam pertamanya yang masih tertunda sampai detik ini. Bahkan setelah satu minggu terlewat dari tanggal pernikahannya dengan Ajeng. Jika sebelumnya malam pertama mereka tertunda akibat ulah konyol Nayna, malam ke dua Benji dihadapkan pada kenyataan kalau Ajeng mendapat Menstruasi. Jadilah dia harus kembali menelan pil pahit untuk menahan hasratnya itu. Dan Benji sudah merencanakan hal hebat demi memuluskan niatnya kali ini. Dia tahu kalau Nayna itu sangat dekat dengan Ronald, maka dari itu, Benji sengaja meminta Ronald untuk tinggal dengannya beberapa hari sebagai pengasuh Nayna di malam hari. Bocah kecil petakilan itu pasti akan terus menempel dengan Ronald. Entah magnet apa yang dimiliki oleh Ronald sampai membuat Nayna begitu menyukainya. Benji sendiri bingung. "Bunda, kalau kita tinggal di Jakarta, nanti gimana sama sekolah Nayna? Kan jauh," tanya Nayna di tengah perjalanan. Nayna yang duduk di kursi belakang merangsek di tengah-tengah jok kemudi di depannya. "Nanti di Jakarta, Nayna akan sekolah di Sekolah baru, bertemu teman-teman baru, Ibu guru baru dan sekolah di sana lebih bagus, lebih banyak permainannya," jelas Ajeng dengan gayanya yang keibuan. "Yah... Nayna nggak bisa main sama Dhio sama Tasya lagi dong?" keluh Nayna dengan bibir mungilnya yang mengerucut. "Kan di Jakarta nanti, Nayna bisa ketemu sama Om Ronald setiap hari?" Benji tersenyum dan mengelus pipi Nayna sekilas. Lalu dia kembali fokus menyetir. Ke dua mata boneka Nayna mengerjap senang. "Beneran Pah?" "Iya sayang, nanti Om Ronald akan tinggal sama kita," sahut Ajeng. "Asiikkkk... Nanti Nayna bisa main kuda-kudaan sama Om Ronald, Nayna mau bobo sama Om Ronald aja kalo gitu," Yessss!!! Benji berseru girang dalam hati. Rencananya untuk menyingkirkan makhluk kecil menggemaskan sekaligus menyebalkan itu akhirnya berhasil. Sepanjang perjalanan itu, Benji terus tersenyum. Bahkan dia sempat menahan tawa, saat membayangkan hari-hari Ronald yang pastinya akan sangat sibuk ke depannya. Bersama Nayna tentunya. Hahaha... Mampus lo Nald!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD