Setelah melakukan perjalanan kurang lebih dua belas jam, Semarang-Jakarta. Akhirnya mobil yang dikendarai Benji dan keluarga barunya sampai di sebuah perumahan yang terbilang cukup mewah.
Perumahan Gardenia Hills yang terletak di daerah Jakarta Selatan.
Kedatangan mereka di sambut oleh Ronald dengan pakaian santainya.
"Om Ronald...." teriak Nayna yang langsung berhambur ke arah Ronald. Tubuh mungil Nayna di sambut oleh Ronald yang langsung memutarnya di udara. Nayna berteriak senang. Nayna itu bukan anak kecil yang penakut. Dia adalah anak kecil yang pemberani, bawel dan sangat cerdas. Jika dia tidak menyukai sesuatu dia akan langsung mengatakannya di depan orang tersebut begitu pun sebaliknya.
Seperti halnya saat Nayna menyampaikan ketidak setujuannya terhadap rencana pernikahan Ajeng dengan Benji. Sejak awal bertemu dengan Benji, Nayna merasa kurang sreg dengan laki-laki itu.
Kata Nayna, "Nayna nggak suka sama Om Benji, abis badannya kayak gorilla, gede banget! Mendingan Bunda nikahnya sama Om Ronald aja, gantengan juga Om Ronald dari pada Om Benji,"
Glek!
Dan sejak saat itu, Benji pun merasa kurang sreg pada Nayna. Meski, sebagai seorang Papah baru untuk Nayna, Benji harus tetap menunjukkan sikap manisnya kepada Nayna. Semenyebalkan apapun seorang Nayna, di mata Benji, dia hanya seorang anak kecil yang akan luluh hatinya jika di iming-imingi mainan. Dan benar saja, saat Benji mengajak Nayna ke toko mainan di Semarang, bocah itu terlihat sangat antusias. Dan menjadi begitu girang saat Benji memperbolehkan dirinya memilih mainan sesuka hati.
Sejak hari itulah, Nayna perlahan mulai membuka peluang untuk Benji masuk ke dalam kehidupan Ajeng. Dan saat ini Nayna bahkan sudah mau memanggil Benji dengan sebutan Papah.
"Nayna masuk dulu ya, Om mau bantuin Papah Benji dulu bawa barang-barang," pinta Ronald pada Nayna yang langsung nyaman dalam gendongan Ronald.
"Udah-udah, barang biar gue aja yang bawa, lo ajak aja Nayna ke kamar," perintah Benji pada adiknya.
Kedipan mata Benji cukup membuat Ronald mengerti maksud terselubung yang ada di dalam otak sang Kakak. Hingga akhirnya Ronald pun mengajak Nayna bermain di kamarnya.
Ajeng membantu Benji membawakan barang-barang mereka yang memang cukup banyak.
Begitu masuk ke dalam kamar mereka, Benji langsung menutup pintu kamar itu dan menguncinya dari dalam.
Ajeng hanya bisa melongo di tempatnya berdiri. Apalagi saat tiba-tiba Benji melangkah ke arahnya dengan begitu tergesa.
"Loh Mas? Kenapa di Kun," ci...
Kalimat Ajeng terputus saat tiba-tiba Benji menyatukan bibirnya dengan bibir Ajeng.
Direngkuhnya tubuh Ajeng kuat-kuat hingga tubuh mereka benar-benar menempel sempurna. Ajeng memejamkan mata saat Benji mulai melumat bibirnya dengan lembut, membuatnya terbuai. Dia melingkarkan ke dua tangannya di leher Benji.
Benji menggiring tubuh istrinya ke atas tempat tidur dan melumat lebih dalam bibir Ajeng. Lidah Benji menelusup masuk ke dalam rongga mulut Ajeng dan membelitnya. Mengajak lidah itu bermain.
Tubuh Ajeng kian bergetar dan panas dingin secara bersamaan di kala permainan Benji semakin menggila.
"Mas, kita baru sampe loh, nan... Hmmm... Mas..."
Benji tidak perduli dengan kicauan Ajeng. Dia terus melancarkan aksinya.
Tubuh atasnya sudah polos. Benji hendak melepas pakaian Ajeng namun tangan Ajeng menahannya.
"Nggak enak sama Ronald," bisik Ajeng lagi.
"Sebentar doang sih, Nayna aman sama Ronald," ucap Benji yang kini berhasil melepas pakaian atas Ajeng.
"Bukannya begitu, nanti kalo Nayna cari aku gimana?"
"Sebentar sayang... Kamu nggak kasian apa sama aku? Udah seminggu kita nikah loh," balas Benji Frustasi.
Ajeng jadi serba salah.
Hingga akhirnya dia pun pasrah, membiarkan sang suami menuntaskan apa yang telah dia tahan selama satu minggu belakangan ini.
Ajeng pun menyerah di bawah kuasa Benji.
*****
Satu jam cukup membuat Ronald jenuh saat dirinya harus menemani Nayna bermain boneka Barbie. Belum lagi saat Nayna memintanya menjadi kuda-kudaan dan berjalan keliling kamar sambil terus di pecuti oleh tali mainan Nayna.
Rasanya Ronald ingin menangis saja.
Puas bermain kuda-kudaan, kini bocah itu mengajak Ronald bermain salon-salonan. Menggunakan peralatan make up mainan miliknya, Nayna mendandani Ronald seperti dia biasa di dandani oleh Ajeng.
"Jangan tebel-tebel lipstiknya, Nay..." pinta Ronald saat tangan terampil Nayna mulai memulas lipstik mainannya di bibir Ronald.
"Ih, diem Om, kan biar cantik," Nayna menepis tangan Ronald yang hendak menghapus jejak lipstik mainan di bibirnya.
Cantik-cantik, pale lu peyang! Muka gue di bikin kayak badut begini? Aduhh...
Gerutu Ronald membatin. Dia benar-benar tidak bisa berkutik bila sudah berhadapan dengan Nayna.
Jadilah Ronald bulan-bulanan Nayna malam itu.
Puas dengan karyanya di wajah Ronald. Saatnya Nayna meminta Ronald untuk mendandaninya.
Usai berdandan, Nayna mengajak Ronald berselfie.
"Aduh, perut Nayna sakit, Om," ucap Nayna tiba-tiba dengan wajah meringis sambil memegangi perutnya.
Prettt prepet-pet-peeettt...
Nayna buang angin dengan suara yang teramat keras dan bau yang sangat menyengat.
Busyet dah! Abis nelen apaan sih nih bocah! Ngebom sampe bau bangke begini!
Gerutu Ronald dalam hati saat hidungnya mulai mencium aroma tak sedap yang dikeluarkan dari b****g Nayna.
"Yah... Nayna ee, Om... Nggak ketahan nih..." ucap Nayna lagi.
Mata Ronald membelalak. "Kamu ee? Ee di celana?" pekiknya kaget.
Nayna mengangguk pasrah.
Buru-buru Ronald mengangkat tubuh Nayna dan menaruhnya di dalam kamar mandi.
"Bisa cebok sendirikan? Yaudah Om tungguin,"
"Nggak bisa! Panggilin Bunda, Om... Nayna Jijik nih, eenya udah keluar..."
Wajah Nayna sudah hampir menangis.
Ronald jadi panik. "Ya udah, kamu tunggu sini ya, Om panggil Bunda dulu,"
Ronald berlari ke kamar Kakak iparnya dan mendapati kamar itu terkunci. Dalam samar, Ronald mendengar suara-suara aneh dari dalam kamar itu.
"Aduh... Mas... Pelan-pelan..."
Deg!!!
Kampret si Benji! Baru juga sampe udah di garap aja tuh istri! Nggak bisa nunggu entar apa!
Maki Ronald dalam hati.
Terus? Gue gitu yang harus cebokin Nayna? Mana tuh bocah cepirit lagi bau banget!
Ronald mundar-mandir di depan kamar itu. Mencari ide.
Hingga akhirnya, dia pun mendapat ide bagus.
Tok! Tok! Tok!
"Mba! Mba Ajeng! Nayna sakit perut, dia nangis tuh..." teriak Ronald dari luar pintu kamar.
"Oh... I-iya, Nald, se-sebentar, nanti Mba keluar,"
"Cepet ya Mba, takutnya kenapa-napa,"
Ronald mencebik sambil berlalu dari kamar itu.
Mampus lo! Kentang-kentang deh tuh!
*****
Beberapa jam kemudian, setelah Ajeng berhasil menidurkan Nayna, Benji kembali melanjutkan kegiatannya dengan sang istri yang tadi sempat tertunda.
Malam semakin larut, gerimis terlihat mengguyur kota Jakarta. Menimbulkan suasana romantis bagi setiap pasangan yang sedang dilanda asmara. Terlebih lagi bagi pasangan pengantin baru.
Seperti halnya Benji dan Ajeng.
Permainan panas itu masih berlangsung. Di atas sebuah ranjang berseprai putih dengan dua tubuh manusia yang saling berguling, saling menindih bergantian dan saling berpagutan satu sama lain. Pakaian mereka sudah tanggal sempurna.
Penyatuan itu telah berlangsung sejak setengah jam yang lalu dengan berbagai posisi ternyaman yang mereka coba.
Api cinta itu kian membara. Membakar tubuh mereka yang berguncang hebat dilanda gairah yang bergelora. Menggetarkan jiwa hingga menghadirkan sensasi-sensasi liar dari tiap-tiap sisi tubuh yang di sentuh. Berharap siksaan kenikmatan itu akan terus bergelung dalam setiap satu kali tarikan nafas dan desahan yang keluar tanpa henti.
Benji menggigit bibir bawahnya saat dia merasakan o*****e yang begitu hebat tengah melanda dirinya. Tubuh lelaki itu ambruk di samping tubuh Ajeng dengan keringat yang membanjiri kulitnya. Napasnya masih tersengal hingga d**a bidangnya yang ditumbuhi bulu-bulu halus terlihat naik turun dengan cepat.
Benji menoleh ke arah Ajeng yang juga terlihat lelah di sisinya. Mata wanita itu hampir terpejam saat Benji membelai rambutnya.
"Kamu cape?" tanya Benji dengan senyumnya yang menggoda. Dia meremas bukit kembar Ajeng yang membuatnya gemas.
"Kamu pikir aja sendiri! Dari jam sebelas, begitu Nayna tidur, kamu langsung ajak aku ke kamar, sekarang udah jam tiga lewat tuh!" omel Ajeng setengah kesal, meski dalam hati dia tidak menampik keperkasaan Benji di atas ranjang yang sungguh luar biasa.
Benji tertawa kecil. "Tapi enakkan?" Benji memiringkan posisi tidurnya menghadap Ajeng. Dia menarik selimut dan menutupi tubuh polos mereka.
Wajah Ajeng yang merona membuat tubuh bagian bawah Benji mulai on lagi.
Gila! Sebut Benji gila! Tapi pesona Ajeng memang tak terbantahkan. Membuat kewarasan Benji berada pada titik nol.
Benji hendak mencium bibir Ajeng yang terlihat bengkak akibat ulahnya, namun dorongan lembut tangan Ajeng di dadanya mengurungkan niat Benji.
"Ngantuk, Mas..." rengek Ajeng manja. "Besokkan kita harus berangkat pagi, buat daftarin Nayna sekolah,"
"Oh iya ya... Yaudah tidur sana," ucap Benji dan hendak bangkit dari tempat tidur, tapi sebelum itu, dia menyempatkan diri untuk mendaratkan kecupan singkat di kening istrinya.
"Loh, kamu mau kemana?"
"Mau ngerokok sebentar,"
Mata Ajeng yang sudah lima watt, membuat Ajeng tak lagi berkata-kata. Tenaganya benar-benar dikuras habis oleh Benji.
Hingga akhirnya, mata wanita kemayu itu pun terpejam sempurna.
Dengan seulas senyuman yang terukir di sudut bibir tipisnya.