5. TENTANG MIA DAN SI KEMBAR

1908 Words
Tok! Tok! Tok! "Assalamualaikum," "Waalaikum salam, sebentar..." Seorang wanita yang sedang memasak mie rebus di dalam rumahnya terlihat berlari ke arah pintu untuk melihat siapa tamu yang datang pagi-pagi begini. Wanita itu tersenyum sumringah saat didapatinya seorang wanita cantik berdiri di depan pintu rumahnya sambil menggendong seorang bocah lelaki berusia tiga tahun dan menuntun seorang anak perempuan berseragam sekolah taman kanak-kanak dengan tangan kanannya. "Pagi Tante, Joyce..." sapa Calista pada tetangga di samping rumahnya itu. Bocah perempuan itu tersenyum manis pada wanita dihadapannya. Seorang wanita yang hanya mengenakan tank top hitam dan celana hot pants. Wanita itu menyambut sapaan Calista. "Pagi cantik, ini Tante Jovan bukan Tante Joyce," ucap Jovan membenarkan. Jovan dan Joyce memang kembar. Banyak sekali tetangga-tetangga mereka yang terkecoh oleh mereka. Terkecuali wanita bernama Mia dihadapannya saat ini. Dia adalah Tante Calista. Seorang wanita beranak satu yang berprofesi sebagai Guru TK di sekolah keponakannya sendiri. "Maaf ya, Jov pagi-pagi udah ganggu. Joyce mana?" tanya Mia sungkan. "Joyce lagi ke depan, fotokopi tugas kampus katanya," "Oh, begitu," jawab Mia sambil manggut-manggut kepala. "Hm, begini Jov, Bi astuti hari ini nggak bisa ke rumah buat jagain, El. Katanya sih sakit, aku juga nggak mungkin bawa El ke sekolah. Boleh titip El sebentar nggak? Biasanya sih aku titip sama Joyce, tapi aku udah telat nih, kamu bisa bantu? Nanti aku telepon Joyce di jalan deh supaya gantiin kamu jaga El," jelas Mia pada Jovan. Joyce dan Jovan. Tetangga Mia di rumah susun yang dia tempati di lantai lima. Meski mereka kembar, tapi sifat dan gaya berpakaian ke duanya jelas jauh berbeda, itulah hal yang membuat Mia dengan mudah mampu mengenali antara Joyce dan Jovan. Jovan itu kakak Joyce. Dan sejauh ini, Mia memang lebih dekat dengan Joyce ketimbang Jovan. Itulah sebabnya Mia agak sungkan untuk menitipkan anaknya, El pada Jovan. Meski baginya, baik Joyce maupun Jovan sama-sama baik. "Oh, nggak apa-apa, Mba. Sini, biar El sama aku, sebentar lagi juga Joyce pulang," Jovan mengambil alih El dari tangan Mia dan menggendong bocah mungil itu. El saat itu masih tertidur. Jadilah Jovan menggendong El dengan hati-hati. "Semalam badan El agak panas. Makanya dia baru bisa tidur pagi tadi. Ini obat sama s**u El. Udah aku siapin semua. Hari ini aku nggak lama kok ngajarnya. Sebelum jam 12 juga pulang. Makasih banyak ya Jov," jelas Mia lagi sebelum dia pergi bersama Calista. Jovanka mengiyakan tanda mengerti. Sepeninggal Mia, Jovan menutup pintu rumahnya dan langsung menaruh El di tempat tidur. Di cuilnya ujung hidung El yang mancung. "Lucu banget sih kamu," serunya gemas. Kalo diliat-liat dari tampangnya, gue yakin bapaknya pasti orang bule dan pasti ganteng abis, anaknya aja udah kayak manekin begini, ck ck ck... Gumam Jovan sambil terus memperhatikan wajah El yang sedang tertidur pulas. ***** Mia dan Calista sedang berdiri di pinggir halte, menunggu angkutan umum lewat, saat sebuah mobil Marcedes Benz hitam berhenti tepat dihadapannya. Kaca pintu mobil bagian depannya terbuka, wajah seorang bocah mungil menyembul dari balik kaca itu. "Hai Calista? Pagi Bu Mia," sapa sang bocah pada ke dua manusia yang berdiri di tepi jalan itu. "Hai Ruby," balas Calista sama sumringah. Ruby adalah teman Calista di sekolah. Mereka cukup dekat satu sama lain. Dan menjadi bertambah dekat saat Papah Ruby diam-diam menaruh hati pada makhluk cantik yang menjadi guru anaknya di TK. "Pagi Ruby," jawab Mia dengan senyum manisnya. "Bareng Bu Guru," suara itu berasal dari seorang laki-laki yang duduk di jok kemudi. Dia Reymond, Papah Ruby. Seorang duda kaya yang menjadi pewaris tunggal perusahaan Syailendra. "Oh, nggak apa-apa nih?" ungkap Mia sedikit sungkan, meski dia merasa sangat terbantu atas tawaran itu, sebab waktunya saat ini memang sudah mepet untuk sampai ke sekolah tempatnya mengajar. "Kita searah, Bu. Ayo naik. Ayo Calista, kita berangkat sama-sama ke Sekolah,"ajak Reymond lagi. Dengan sangat senang hati mereka pun menumpang mobil itu untuk bersama-sama menuju ke sekolah. Tanpa mereka sadari, sebuah mobil sport hitam tengah memperhatikan mereka dari kejauhan. Ternyata, di sini kamu bersembunyi Mia... Bisik si pemilik mobil sport itu. Mobil itu pun pergi mengekor kemana arah mobil Reymond melaju. ***** Joyce sedang berkutat dengan layar komputernya, mengerjakan tugas kampus yang akhir-akhir ini terus menumpuk. Diliriknya ke arah Jovan yang sedang sibuk mematut diri di depan cermin. Sudah hampir satu bulan ini Jovan selalu pergi di saat hari sudah gelap, bahkan dengan pakaiannya yang begitu terbuka dan kekurangan bahan. Membuat Joyce bertanya-tanya sendiri, apa sebenarnya yang tengah dilakukan Jovan di luar malam-malam begini. Dengan segenap keberanian akhirnya, Joyce pun bertanya. Dia hanya khawatir terhadap diri Jovan. Dia tidak mau Jovan salah langkah dan terjerumus pada lembah nista kehidupan malam yang menyesatkan. "Lo itu sebenernya kerja apaan sih, Jov? Berangkat malem - pulang pagi, berangkat malem - pulang pagi, jangan bilang lo jual diri?" tegas Joyce pada sang Kakak. Dia duduk menghadap ke arah Jovan yang langsung menghentikan aktifitas bermake up nya. Jovan menoleh dengan tatapan penuh ketersinggungan ke arah Joyce. Menaruh bedak di tangannya dengan bantingan cukup keras di atas meja rias. "Emang kenapa kalau gue jual diri? Masalah buat lo?" tanya Jovan dengan nada dingin. "Ya jelaslah jadi masalah buat gue! Gue nggak mau ya makan duit haram!" balas Joyce menyampaikan pendapatnya. Tanpa pernah dia tahu, bahwa reaksi Jovan benar-benar di luar dugaannya. "Eh, lo kalo ngomong di pikir dulu pake otak! Lo pikir gue mau kayak begini? Gue ngelakuin ini juga demi siapa sih? Demi lo jugakan? Lo pikir, gue bisa bayar biaya rumah sakit Ibu selama ini darimana? Gue bisa biayain lo kuliah darimana? Lo bisa makan enak setiap hari darimana? Semuanya dari hasil keringet guekan? Nggak usah sok suci lo!" Joyce terdiam. Dia kehabisan kata-kata. Berdebat dengan Jovan itu bukanlah hal yang mudah. Joyce pasti selalu kalah bicara jika sudah adu mulut dengan Jovan. Hingga akhirnya dia terpaksa mengakhiri percakapan mereka dengan keterdiamannya. Lagi pula, kalau pun di ladeni, Jovan pasti akan tambah meradang. Jovan menatap Joyce dengan perasaan bersalah. Dia sadar sudah terpancing emosi. Tidak seharusnya dia meluapkan keresahan yang melanda hatinya akhir-akhir ini pada sang adik yang jelas tak bersalah. "Joy, gue tahu lo khawatir sama keadaan gue. Tapi lo tenang aja. Gue nggak jual diri kok. Sejauh ini gue masih bisa jaga diri. Gue minta maaf kalau gue udah emosi tadi," ucapnya lemah dan dia kembali melanjutkan kegiatannya. Joyce menarik napas berat. Dihampirinya Jovan di depan meja rias. Dia membungkukkan badan dan melingkarkan ke dua lengannya di leher Jovan. "Gue sayang banget sama Lo, Jov. Cuma lo satu-satunya keluarga yang gue punya sekarang. Gue minta maaf karena udah ngebebanin hidup lo selama ini, harusnya gue bisa bantu lo cari duit," "Sssttt... Udah ah, nggak usah drama! Kita udah sepakat untuk menjalani tugas kita masing-masingkan? Tugas gue itu cari duit, dan tugas lo itu belajar yang bener, biar bisa cepet dapet gelar sarjana, terus bisa di terima di Firma hukum yang bonafit. Cuma lo yang jadi tumpuan harapan terakhir Ibu sebelum dia koma. Gue yakin, lo bisa jadi pengacara sukses nanti dengan otak lo yang jenius. Lo harus bebasin Ayah dari Penjara. Dan untuk itu, gue harus bekerja keras buat mewujudkan itu semua dengan bekerja, cari duit yang banyak. Lo tahukan kondisi gue udah nggak memungkinkan lagi untuk melanjutkan sekolah karena keterbatasan gue. Sekarang, gue cuma bisa manfaatin badan gue buat menghasilkan uang, tapi yang pasti, gue nggak jual diri," jelas Jovan panjang lebar. Dia tersenyum menatap pantulan wajah dirinya dengan Joyce di cermin. Cup. Joyce mengecup dengan sayang pipi Jovan lalu kembali beranjak ke depan meja komputernya. "Besok pulang dari kampus lo ke rumah sakit ya, liat kondisi Ibu," perintah Jovan pada Joyce saat dirinya hendak pergi. "Oke sip," sahut Joyce dengan mengacungkan ibu jarinya ke arah Jovan. "Yaudah, gue berangkat ya? Nathan udah nunggu di bawah," "Cie... Di jemput nih ye..." ledek Joyce. Jovan tersenyum tipis dan langsung melangkah keluar. Joyce mengantar kepergian sang Kakak sampai pintu rumahnya. Sepeninggal Jovan, senyuman di wajah Joyce kian pudar. Dia menutup pintu rusunnya rapat-rapat. Lalu dia menangis sejadi-jadinya di balik pintu itu. Sejak Ayahnya masuk penjara akibat fitnah keji seseorang lalu Ibunya yang memang seorang ilmuwan diculik oleh sekelompok orang tak dikenal dan mengalami penyiksaan berat selama masa penculikan berlangsung hingga menyebabkan sang Ibu depresi dan beberapa kali melakukan tindakan percobaan bunuh diri, kehidupan ekonomi Joyce dan Jovan kian berubah drastis. Bahkan terakhir, ketika dirinya mendapat kabar bahwa ibunya itu menabrakkan diri ke arah Truk pasir yang sedang melaju kencang di jalan raya hingga tubuh Ibunya terseret beberapa meter di aspal dan mengalami pecah pembuluh darah otak. Itulah sebabnya, Joyce dan Jovan harus bahu membahu mencari uang untuk melunasi biaya operasi Ibunya. Naasnya, hingga detik ini, Ibunya belum juga sadarkan diri pasca operasi setelah tim dokter menyatakan bahwa sang Ibu koma. Seluruh harta benda mereka habis tak bersisa demi melunasi biaya rumah sakit Ibunya. Untuk itulah, kini Jovan harus bekerja keras membanting tulang demi memenuhi kebutuhan hidup mereka. Sebenarnya, Joyce tidak tega melihat keadaan Jovan, dia ingin sekali membantu meringankan beban Jovan, tapi sayang Jovan selalu melarangnya. Jovan bilang, dia tidak mau fokus belajar Joyce terganggu jika Joyce tetap kekeuh menyambi untuk bekerja part time, itulah sebabnya diam-diam Joyce terpaksa mencari jalan pintas untuk mendapatkan uang tanpa sepengetahuan Jovan. Jovan benar-benar menyayangi adiknya, begitupun Joyce. Mereka adalah potret kembar identik yang saling melengkapi kekurangan satu sama lain. ***** Sebuah ruko berlantai tiga terlihat berjejer rapi di sepanjang jalan metropolitan Mall. Langkah seorang gadis berpakaian sexy itu kian berat saat Nathan sang kekasih menggandengnya memasuki salah satu ruko itu. Saat mereka hendak menaiki tangga, langkah si gadis terhenti dan menahan langkah kekasihnya. "Beb, kamu beneran udah jelasinkan ke mereka kalau aku nggak mau bener-bener topless, aku masih punya batasan buat kerjaan ini," ucapnya memperingatkan Nathan. "Iya Beby. Aku kenal kok sama fotoghraphernya, dia itu pebisnis kayak aku juga. Cuma dia nyambi jadi fotographer majalah pinggir jalan," sahut Nathan memberi penjelasan. Nathan melihat kabut kecemasan mewarnai tatapan Jovan. "Tenang aja, Beb. Aku bakal temenin kamu kok di sana. Mereka nggak akan bisa macem-macem sama kamu, oke? Biasa aja dong bibirnya, cium nih..." Nathan mencubit bibir berlapis lipstik tebal kekasihnya. Terlihat begitu menggiurkan dan selalu membuatnya ketagihan kalau sudah merasakan nikmatnya berciuman dengan Jovan sang kekasih. Jovan memberengut dan melanjutkan langkahnya, diikuti oleh Nathan yang jadi cengar-cengir sendiri. Nathan sempat menghentikan langkahnya dan sedikit membungkuk saat Jovan sudah menaiki tangga lebih dulu, berharap dia bisa mengintip isi di balik rok mini yang dikenakan Jovan saat itu. Kalau kemarin Jovan mengenakan celana dalam hitam, lalu celana dalam apa yang dia kenakan malam ini? Nathan mulai bereksperimen dengan pikiran cabulnya, sekaligus fantasi liarnya terhadap Jovan. "Kamu ngapain?" tanya Jovan dari atas tangga saat disadarinya Nathan tak juga beranjak dari bawah sana. "Mau ngintipin isi di balik rok kamu, hehehe..." ucap Nathan to the point. Jovan hendak melempar high heelsnya ke arah Nathan saat Nathan langsung berteriak ampun dan berlari mendekatinya. Jovan sempat memukul d**a kekasihnya itu, meski setelahnya dia justru tertawa. Jovan dan Nathan, adalah sepasang kekasih yang sudah cukup lama menjalin asmara. Walau sedikit begajulan dan berandal, tapi Jovan sangat mencintai Nathan. Meski hal itu tak sebanding dengan perasaan yang dimiliki Nathan untuk Jovan. Setelah menaiki tangga sebanyak dua lantai, mereka sampai di lantai tiga. Nathan mengetuk pintu ruangan itu. Seorang laki-laki menyambut kedatangan mereka dengan wajah sumringah. Dia mempersilahkan Nathan dan Jovan masuk. Saat itu, di dalam sana sedang dilakukan sesi pemotretan. Dan ke dua mata Jovan terbelalak saat dia mendapati dua pasang manusia berlainan jenis tengah berpose di atas ranjang berseprai putih bahkan tanpa mereka mengenakan sehelai benang pun yang menempel di tubuh mereka.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD