Hari ini Ronald mendapat gaji pertamanya.
Dan rencananya, uang gaji ini akan dia gunakan untuk mendaftar kuliah di salah satu perguruan tinggi di Jakarta.
Semoga saja uang ini cukup untuk melunasi biaya pendaftaran kuliahnya dan membiayai kebutuhan hidupnya selama satu bulan ke depan.
Ronald sedang berkutat di depan mesin ATM untuk mencairkan uang gajinya, saat tiba-tiba, seseorang yang sedari tadi berdiri di belakangnya, hendak mengantri mesin ATM yang sama dengan Ronald, tiba-tiba menodongkan senjatanya ke arah Ronald.
"Jangan coba-coba teriak kalo lo mau selamet. Kosongin ATM lo, dan serahin semua duitnya ke gue! CEPET!" perintah si penodong dengan begitu percaya diri.
Kebetulan, mesin ATM itu memang terletak di ujung jalan dan cukup jauh dari keramaian.
Mesin ATM di tempat itu memang kerap menjadi sasaran begal atau pembobol ATM, dan Ronald sudah tidak heran dengan kejadian macam ini.
Dipikir gue takut? Receh banget anceman lo! Pikir Ronald membatin.
Dengan santai, Ronald mengambil seluruh uang di dalam ATM-nya hingga nominal di rekeningnya benar-benar kosong.
Uang tunai itu masih di genggamannya. Ronald hendak memberikan uang itu kepada si penodong, meski setelahnya dia melakukan satu manuver hebat dengan menahan jemari si penodong yang dia gunakan untuk memegang senjata dan memutus pegangannya dengan satu pukulan maut.
Senjata itu terpental dan terlempar ke lantai, dekat dengan pintu masuk.
Si penodong terjebak dan berusaha untuk kabur, tapi tarikan tangan Ronald sudah lebih dulu menahan langkahnya. Ronald mengunci ke dua tangan lelaki itu di belakang tubuhnya.
"Udah sering lo beroperasi di sini?" tanya Ronald pada si penodong.
"Ampun bang! Saya baru kali ini Bang ngelakuin hal kayak gini. Saya terpaksa ngelakuin ini Bang, saya butuh duit Bang buat bayar biaya sekolah anak saya, Bang... Tolong Bang jangan laporin saya ke polisi Bang... Anak sama istri saya nungguin di rumah Bang,"
Jika boleh jujur, Ronald terenyuh dengan pengakuan si penodong itu, namun sebuah kalimat yang sempat didengarnya dari Benji kian meluluhkan sisi kemanusiaannya.
"Dimana-mana, penjahat itu punya seribu satu cara untuk menyelamatkan diri di saat dia sudah dalam keadaan terjepit. Buat gue, sekali penjahat, tetep penjahat, dan nggak ada kata maaf apalagi ampun! Bahkan di saat dia mengemis di kaki gue sambil nangis darah sekali pun gue nggak akan kepancing sama propagandanya! Penjahat itu licik, dan untuk mengatasinya, nggak bisa pake hati apalagi perasaan, tapi sama otak!"
Ronald hendak meringkus penodong itu tapi seseorang lain terlihat memasuki ruangan ATM dan jadi terkaget-kaget saat melihat Ronald sedang menodongkan senjata ke arah si penodong tadi.
"Ya ampun begal? Lo begal ya?" teriak wanita itu panik.
Belum sempat Ronald bicara, si lelaki penodong itu sudah lebih dulu menyela.
"Iya, Mba, dia abis nodong saya Mba, itu duit saya udah di ambil sama dia semua Mba, ati-ati Mba, dia pake senjata Mba," ucap si penodong dengan propagandanya.
Wanita itu semakin panik. Tapi dia tak gentar untuk melakukan perlawanan.
"Heh! Balikin nggak, duit Bapak ini! Kalau nggak gue bakal teriak dan panggil warga buat ngeroyok lo!" ancamnya pada Ronald.
Seperti memakan buah simalakama. Ronald benar-benar kebingungan. Meski setelahnya dia mencoba untuk membela diri dan menjelaskan kejadian yang sesungguhnya pada si wanita. Tapi sialnya si penodong itu pun tak gentar untuk melakukan pembelaan.
"Bohong Mba, jangan percaya Mba, dia yang udah nodong saya Mba, duit saya buat bayar sekolah anak saya di ambil semua sama dia Mba, tolong saya Mba," mohon si penodong itu dengan wajahnya yang memelas.
"Lo bener-bener ya! Jangan bikin gue kehabisan kesabaran, lo mau senjata ini tembus di kepala lo!" Bentak Ronald frustasi.
"Heh penjahat! Lepasin nggak bapak ini! Balikin duitnya! Cepet!" ucap wanita itu kepada Ronald. Wanita itu melangkah maju tanpa sedikit pun rasa takut.
"Heh, lo udah salah paham, kalo lo nggak tau apa-apa nggak usah sok ikut campur! Dia yang udah nodong gue duluan! Dia mau ngibulin lo! Gue yang korban di sini!" beritahu Ronald lagi, berharap wanita itu mengerti. Hingga akhirnya, Ronald mendapat ide bagus saat dia melihat kamera CCTV di dalam ruang ATM itu. "Gini aja, kita datengin kantor Bank ATM ini dan minta diperlihatkan kejadian awal yang terjadi di sini melalui CCTV, dengan begitu lo bakal tahu siapa yang benar dan siapa yang salah di sini! Gimana?" ucap Ronald dengan segala kekuatannya yang masih terus mengunci ke dua tangan si penodong yang sepertinya masih berusaha untuk melarikan diri.
Wanita itu tersenyum remeh. "Lo pikir gue bisa percaya gitu aja sama omongan lo? Lepasin dulu senjata di tangan lo kalo emang lo bukan begalnya!" pinta si wanita.
Dengan segala kepolosan yang dimilikinya, Ronald pun mengikuti perintah si wanita, tanpa sedikit pun terpikir olehnya bahwa si wanita itu adalah salah satu komplotan dari si penodong yang tengah dia sandera saat ini.
*****
"HAHAHAHAHA..." Benji tertawa terpingkal-pingkal saat mendapati adiknya pulang dengan tampang kusut usai menjadi korban begal di ATM tadi.
Ronald baru saja selesai menceritakan apa yang telah di alaminya kepada Benji.
"Jadi sekarang duit gaji lo ilang semua?" tanya Benji di sisa tawanya.
"Iya," jawab Ronald lemah.
Ajeng menatap Ronald prihatin.
"Jangan bilang gara-gara tuh penjahat berjenis kelamin perempuan terus lo jadi bego begini?"
"Ya nggak juga, dia jago beladiri, Ben," ucap Ronald dengan wajah kesal yang masih kentara. Meski dari dalam sudut hatinya, Ronald tak menampik ada rasa ketidak tegaan saat dia harus membalas pukulan seorang wanita. Itulah sebabnya Ronald terpaksa mengalah. Ronald tidak sekejam Benji.
"Yaelah Nald-Nald... Sejago-jagonya cewek beladiri, masa lo kalah sama cewek? Gue tahu kemampuan lo, Nald! Lo emang sengaja ngalah karena dia seorang cewekkan? Mau cewek atau pun cowok, yang namanya penjahat ya tetep aja penjahat! Kalo gue jadi lo, udah gue perawanin tuh cewek di tempat itu juga!"
"MASSSS!!!" Ajeng langsung melotot seraya menjewer telinga suaminya.
Benji terkekeh sambil cengengesan.
"Terus kenapa lo dorong-dorong motor tadi?" tanya Benji lagi.
"Keabisan bensin gue! Orang duit gue diambil semua! Di sisain nih, dua ribu perak! Sialan emang tuh cewek!" Ronald melempar dua koin seribuan ke atas meja ruang tamu.
Benji kembali tertawa.
"Minum dulu, Nald," ucap Ajeng menyuguhkan segelas es jeruk dingin untuk sang adik ipar.
Ronald meminum es jeruk itu. Hawa segar dan dinginnya sedikit melunturkan emosi jiwanya.
"Lo masih inget nggak muka tuh begal?" tanya Benji pada Ronald.
Ronald menggeleng lemah. "Orang mereka pake masker semua,"
"Nah itu tuh, gobloknya lo itu di situ! Harusnya dari situ juga lo mikir dong, kalo emang tuh cewek nggak ada kaitannya sama tuh begal, mustahil dia berani deketin lo sementara lo pegang senjata, apalagi sampe nantangin lo kayak gitu. Minimal, cewek itu pasti bakal teriak dan lari keluar, bukannya malah nyamperin," jelas Benji dengan segudang pengalamannya menghadapi ribuan penjahat selama ini.
Ronald mendesah pasrah. "Udahlah, ikhlasin aja, bulan depan aja gue daftar kuliah," kata Ronald yang langsung bangkit dan hendak berjalan ke arah kamarnya. Sepertinya dia butuh istirahat.
Benji terlihat mengutak atik ponselnya dengan cepat hingga belum sempat Ronald menghilang dari ruang tamu, Benji sudah lebih dulu berteriak.
"Gue udah transfer ke rekening lo, sepuluh juta, cukupkan buat daftar kuliah?"
Ronald pun mematung di ambang pintu ruang tamu.
Dia terharu.