Seorang gadis berjalan beriringan dengan seorang lelaki di sebuah gang sempit. Mereka membuka masker di wajahnya, setelah memastikan kalau daerah sekitar telah aman.
Segepok uang dikeluarkan dari dalam saku jaket lepis sang gadis. Dia menyeringai dengan senyuman lebar.
"Wah... Menang banyak kita Bang, malem ini! Nggak nyangka gue, ganteng-ganteng tapi bego banget tuh cowok! Hahaha..." ucap sang gadis sembari membagi dua hasil begal mereka malam ini.
"Tapi tadi gue sempet ngeper, Joy! Tuh bocah kuat banget tenaganya! Untung lu cepet dateng," balas Bang Rojak. Seorang supir metromini yang jadi partner begal Joyce. "Nggak lagi-lagi deh gue kayak gini!" lanjutnya kapok saat menerima uang dari Joyce.
"Ah payah lu bang!"
"Btw, lu kagak takut apa kerja kayak begini?" tanya Rojak sambil melanjutkan langkah mereka. "Terus itu, lu dapet senjata dari mana lagi?"
Joyce tercengir remeh. "Ini senjata mainan kali Bang!" ucap Joyce sambil membuang senjata mainannya yang dia gunakan untuk melakukan aksi begal tadi.
"Ah masa? Berat begitu tuh senjata," pekik Rojak tak percaya.
Joyce tidak menanggapi. Dia masih sibuk menghitung uangnya.
"Lah, lu ngapain ikutin gue Bang?" tanya Joyce saat menyadari Rojak terus mengiringi langkahnya menuju rusun.
"Gue ada janji sama temen gue. Dia baru pindahan hari ini, tinggal di lantai tujuh rusun lu," jawab Rojak.
"Siapa? Kok gue nggak tahu kalo ada yang baru pindahan?" tanya Joyce dengan kening yang berkerut samar.
"Ah, gue sebutin namanya juga lu kagak bakal kenal," balas Rojak.
Joyce menanggapinya acuh, dia menyimpan uangnya kembali ke dalam saku jaketnya. Lumayan, dua setengah juta. Pikirnya senang dalam hati.
Saat tangannya meraba saku jaket lepisnya itu, Joyce menemukan sesuatu dalam genggaman tangannya, dia mengeluarkan benda itu dari saku jaketnya dan memperlihatkannya ke Rojak.
"Eh Bang, liat deh, ini giok asli bukan Bang?" tanya Joyce.
Rojak memperhatikan Giok itu dengan seksama. Sebuah batu giok yang dikemas dalam bentuk gantungan kunci.
"Ini gantungan kunci punya laki-laki tadikan?" tanya Rojak.
Joyce mengangguk. "Iya, lo kan tau, gue kolektor gantungan kunci, tadi gue liat ini keselip di kantong celana tuh cowok, terus gue pinta deh, gue bilang aja, buat kenang-kenangan, hahaah..."
"Bego lo! Inikan bisa jadi barang bukti kalo sampe ketauan," omel Rojak. "Ini batu giok asli, Joy. Nggak ada di Indonesia kayaknya, pasti harganya mahal banget deh," tambahnya.
"Masa sih? Serius lu bang?"
"Yaelah ngapain gue bohong,"
"Yaudah lu bawa gih, lu jual aja kalo gitu bang, entar hasilnya bagi dua,"
"Bener nggak apa-apa nih kalo gue jual? Katanya mau lo koleksi,"
"Kalo bisa jadi duit buat apa gue koleksi," balas Joyce.
"Oke deh, besok gue jual," ucap Rojak sembari mengantongi batu giok itu ke dalam saku jaket kulitnya.
"Yaudah, Lo duluan deh kalo mau ke rusun. Gue mau beli martabak dulu buat tetangga gue, sekalian cari makan," ucap Joyce pada Rojak hingga akhirnya mereka pun berpisah di persimpangan jalan menuju rusun.
*****
Joyce melangkah riang dengan setenteng belanjaan di tangan kirinya.
Dia menaiki tangga rusun dan sesekali menyapa para bocah kecil yang sedang berlarian naik turun tangga.
Sifat Joyce yang ramah dan sopan menjadikan dirinya cukup di kenal oleh para penghuni rusun. Berbeda halnya dengan Jovan yang kerap memasang tampang jutek dan galak saat dirinya berjalan di tengah kerumunan ibu-ibu penggosip di rusun tempat tinggalnya.
Joyce mengetuk pintu rusun yang ditempati Mia.
Dia membelikan sebungkus martabak telor kesukaan Calista. Bagi Joyce, Mia itu bukan sekedar tetangga, tapi sudah seperti keluarganya sendiri.
"Eh, Joyce, baru pulang kuliah? Tumben malem banget pulangnya?" tanya Mia pada Joyce. "Ayo masuk,"
"Nggak usah, Mba. Aku cuma mau kasih ini buat Calista, martabak telor," Joyce menyerahkan buah tangannya pada Mia.
"Loh, punya uang dari mana kamu? Emang kamu kerja sekarang? Repot-repot pake beliin kayak beginian. Kamu itu harus hemat-hemat, Joy, nanti kalau ketahuan Jovan, pasti kamu dimarahin," Mia dengan segenap kedewasaannya langsung menceramahi Joyce yang sudah dia anggap seperti adiknya sendiri.
"Yeee... Emang Jovan doang yang bisa cari uang? Heehhe... Aku juga bisa cari uang, Mba. El udah tidur, Mba?"
"Belum, El masih mainan tuh di dalem. Emang kamu kerja apa sekarang? Cerita dong sama Mba,"
"Ada dehhh... Kepo ya? Hahahaa... Salam aja deh buat El. Aku ngantuk, mau bobo cantik dulu, besok ada kuliah pagi soalnya. Bye Ibu guru Mia yang cantik..." Joyce berdadah dengan gayanya yang ceria. Dia berjalan ke arah rusun sebelah. Rusun bernomor 55 yang dia tempati bersama Jovan.
Mia hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah tengil Joyce yang kekanak-kanakan. Hingga akhirnya dia menutup pintu rusunnya.
Mia menyantap martabak itu bersama Calista dan El.
"Besok, Calista harus bilang terima kasih sama Tante Joyce ya?"
"Iya, Tante,"
"Mau lagi, Mamah," ucap El dengan logat cadelnya. Mia menyuapi El martabak itu dengan cuilan tangannya.
Mereka masih menikmati makanan mereka saat tiba-tiba dering ponsel Mia mengalihkan perhatian wanita cantik itu.
Sebuah nomor yang di privat tampak di layar ponsel Mia.
Untuk sejenak, Mia mengerutkan kening, merasa heran.
Siapa orang iseng meneleponnya malam-malam begini dengan nomor yang di privat. Pikir Mia membatin, hingga akhirnya dia pun memilih untuk mengabaikan telepon itu.
Beberapa kali telepon itu dia rijeck namun terus menerus memanggil lagi.
Hingga akhirnya Mia pun mengangkatnya juga.
"Halo, siapa ini?" tanyanya setengah kesal.
"Hai, Tessa? Apa kabar?" sahut sebuah suara dari seberang.
Tubuh Mia menegang saat mendengar si penelepon itu memanggilnya dengan nama Tessa.
"Kenapa diam, Tessa? Tidak usah terkejut. Aku meneleponmu untuk menyampaikan kabar gembira," lanjut si penelepon.
Mia dapat mendengar suara tawa si penelepon itu yang terdengar begitu lepas. Mia masih belum bisa berkata-kata. Dia masih sangat syok.
"Aku ingin menawarkan kerjasama denganmu..."
"Maaf, sepertinya anda salah orang, saya Mia, bukan Tessa," potong Mia cepat, sebelum si penelepon misterius itu menuntaskan kalimatnya.
Klik!
Mia menutup sambungan telepon itu dan langsung beralih ke komputernya.
Setelah begitu lama Mia berhasil meninggalkan lembah hitam nan kelam kehidupan masa lalunya, kini, dia harus kembali dihadapkan dengan ketakutan bahwa identitasnya akan terbongkar.
Dengan kemampuan intelnya, Mia berhasil melacak lokasi sinyal telepon yang baru saja menghubungi ponselnya.
Sialnya, sinyal itu berasal dari sekitar rusun yang dia tempati saat ini.