13. BENJI VS REYMOND

1301 Words
Begitu Reymond selesai memarkirkan mobilnya di lahan parkir TK Tadika Husada, Mia pun hendak keluar, meski gerakannya ditahan oleh Reymond. Reymond yang langsung keluar dari dalam mobil itu lebih dulu dan membukakan pintu mobil untuk Mia. "Ya ampun Pak, nggak usah berlebihan," ucap Mia dengan wajah sungkan. Terlebih saat salah seorang guru rekan Mia berada di sana. Dia Mutia, guru biang gosip tapi paling care dengan Mia. Mutia adalah sosok sahabat yang baik bagi Mia di lingkungan sekolah. Saat itu, Mutia terlihat baru saja memarkirkan motor maticnya tak jauh dari tempat mobil Reymond terparkir. Mia sempat melihat wajah Mutia yang cengar-cengir tidak jelas sebelum akhirnya guru bawel itu berlalu dari parkiran. Calista dan Ruby sudah lebih dulu berlari ke dalam kelas mereka, sementara Reymond masih mengajak Mia mengobrol di depan kelas. Saat itu, Mia diminta untuk mendatangi ruang kepala sekolah, alhasil Mia terpaksa meminta Reymond untuk menjaga El sebentar. Awalnya El menolak, tapi saat Reymond mengiming-iminginya lolipop, El langsung mau digendong oleh Reymond. Reymond membawa El ke lapangan bermain. El terlihat senang saat Reymond mengajaknya bermain ayunan. "Aduh, Nay... Ayo kita ke kelas dulu, mainnya nanti," ucap sebuah suara wanita yang terlihat kepayahan mengejar anak perempuannya yang begitu hyperaktif. Reymond pun menoleh ke arah suara, dan jadi cukup kaget saat melihat siapa wanita yang berteriak itu. Dia Ajeng. Mantan istri Almarhum Bagas, adiknya. "Ajeng?" sapa Reymond, dia menghampiri Ajeng sambil menggendong El. Kening Ajeng terlihat berkerut saat dilihatnya seorang lelaki menyapanya di taman bermain. Namun, saat dia memperhatikan lebih seksama siapa lelaki itu, kedua mata wanita itu pun terbelalak kaget. "Mas Reymond?" ucapnya dengan senyum yang terkembang. Mereka bersalaman sejenak. "Apa kabar? Kamu tinggal di Jakarta sekarang?" tanya Reymond pada Ajeng. "Aku baik, Mas. Iya sekarang aku tinggal di Jakarta, akukan sudah menikah lagi. Aku sudah mengundang Mas dan keluarga besar Mas Bagas ke acara pernikahanku dua minggu yang lalu, tapi nggak ada satu pun yang datang, termasuk kamu. Memang, undangannya nggak sampai ya?" ucap Ajeng menyampaikan kekecewaannya. "Masa sih? Kok aku nggak tahu? Nggak ada yang kasih tahu loh, serius?" ungkap Reymond yang jadi tidak enak hati. Ajeng tersenyum masam. Sejak kematian Bagas, hubungan Ajeng dengan keluarga Bagas memang menjadi sangat renggang. Terlebih dengan kedua orang tua Bagas yang memang sejak awal tidak setuju jika Bagas menikahi Ajeng. Keluarga Bagas berasal dari keluarga terpandang, mereka terlalu sombong untuk menerima Ajeng sebagai menantu mereka hanya karena Ajeng anak dari seorang pensiunan TNI. * "Bagas, kamu itu kalo cari istri yang bagusan dikit kek latar belakang keluarganya, cewek kampung begitu kok dijadikan istri!" * "Pokoknya Ibu nggak mau tahu ya, kamu harus kasih Ibu cucu laki-laki! Kalau nggak, jangan harap kamu bakal dapet bagian dari hartanya Bagas!" * "Nayna itu bukan cucu saya! Saya cuma mau cucu laki-laki! Jadi nggak usah deh, sok-sok ngaku kalau dia itu keturunan Syailendra! Lagian, Bagas udah meninggal! Kalian nggak usah cari-cari celah untuk mencari keuntungan dengan mengemis hartanya Bagas!" * "Pasti Bagas itu meninggal karena ketularan sialnya Ajeng!" * Semua kalimat-kalimat menyakitkan yang pernah diucapkan mantan Ibu mertuanya itu kini masih terangkum dalam memori Ajeng. Menjadi sebuah kenangan pahit yang entah sampai kapan bisa dia lupakan. Semua terlalu menyakitkan bagi Ajeng. Mungkin, jika hanya dirinya yang dihina, Ajeng masih maklum, tapi mereka bahkan tak mau menganggap Nayna cucu mereka. Itu hal yang paling membuat hati Ajeng tersakiti, sampai detik ini. "Yaudah nggak apa-apa Mas," ucap Ajeng berusaha maklum. "Loh, ini anak kamu Mas? Lucu banget," tanya Ajeng saat dilihatnya El dalam gendongan Reymond. Ajeng sempat mencubit gemas pipi El. Reymond terkekeh. "Calon," ungkapnya dengan pipi yang merona. "Calon?" "Iya, calon anak, hehehe..." Ajeng masih belum mengerti tapi penjelasan Reymond berikutnya membuat Ajeng pun mengerti. "Ini anak Ibu Gurunya Ruby, calon istri masa depanku, masih ikhtiar nih," Ajeng manggut-manggut sambil ber-oh. "Ya, semoga lancar ikhtiarnya ya Mas, siapa nama Gurunya?" "Ibu guru Mia namanya. Mia Prameswari," jawab Reymond. Ajeng tertegun sejenak saat mendengar kata 'Prameswari' meski setelahnya dia berusaha untuk menepis perasaan buruknya itu. "Oh, Ibu guru Mia? Itukan Ibu Gurunya Nayna juga nanti, aku sempet ketemu sama dia kemarin pas daftar sekolah Nayna," beritahu Ajeng. "Iya sih, Ibu Guru Mia itu katanya guru paling cantik di sini, iyakan?" Reymond tertawa renyah. Kedatangan seorang lelaki dari arah pintu gerbang membuat percakapan itu terhenti sejenak. Ajeng melihat suaminya masuk dengan kotak makanan di tangannya. "Loh Mas, kamu masih di sini?" ucap Ajeng menyapa suaminya. "Bekal Nayna ketinggalan, kumat nih pikunnya," omel Benji pada istrinya. "Ya ampun, pasti Nayna lupa bawa deh, tadikan bekalnya dia yang pegang," sahut Ajeng sembari menerima kotak bekal dari tangan Benji. Tatapan Benji sempat tertuju pada laki-laki dihadapan Ajeng yang saat itu sedang menggendong seorang bocah laki-laki yang begitu tampan. Sebelum terjadi kesalahpahaman, Reymond pun langsung memperkenalkan diri. "Saya Reymond, Kakaknya Bagas, mantan suami Ajeng," beritahu Reymond dengan uluran tangan kanannya ke arah Benji. Benji menyambut uluran tangan itu dengan sebuah senyuman tipis. "Benji, suami Ajeng," tegasnya dengan penuh penekanan. "Mamah... Mamah..." ucap El sambil menunjuk-nunjuk ke arah TK. Ke tiga manusia dewasa itu menoleh secara bersamaan ke arah jari telunjuk El tertuju, meski setelahnya mereka tak mendapati keberadaan sang Ibunda El di sana. "Duh, kayaknya El mau sama Mamahnya nih, aku ke dalam dulu ya, Jeng. Mari Pak Ben," pamit Reymond kemudian. Saat itu, tatapan Benji tak lepas dari sosok bocah laki-laki digendongan Reymond. Sejauh ini, Benji tahu dirinya itu bukan tipe laki-laki yang menyukai anak kecil. Namun, tatapan bocah itu seolah menggugah hatinya, membuat dirinya terhipnotis oleh wajah tampan bocah mungil nan menggemaskan itu. Melihat wajah bocah itu, sekelebat bayangan wajah seseorang yang pernah hadir di masa lalu Benji sempat melintas meski Benji dengan cepat menepisnya. Entahlah, Benji sendiri tidak mengerti dengan apa yang dia rasakan saat ini. Atau mungkin saja ini hanya refleksi dari keinginannya yang memang benar-benar sedang mendambakan sosok jagoan kecil hadir di tengah-tengah keluarga kecilnya bersama istri tercintanya saat ini. Ya, Benji memang sudah tidak sabar menanti saat-saat bahagia itu. Di mana dirinya dan Ajeng akan dikaruniai seorang anak dari hasil buah cinta mereka. Reymond baru saja selesai memberikan El kepada sang Mamah yang saat itu terlihat baru keluar dari dalam toilet. Laki-laki berusia 35 tahun itu pun mohon pamit pada Mia dan anaknya Ruby di kelas, karena saat itu jam pelajaran sudah hampir dimulai. Reymond keluar dari kelas Ruby hendak menuju parkiran, tapi langkah Reymond terhenti saat dia mendengar sebuah suara yang memanggil namanya di parkiran itu. Dia, Benji. Suami Ajeng, sang mantan adik ipar. "Ya, ada apa, Pak Ben?" sahut Reymond dengan senyumnya yang terkesan ramah. Meski dalam hati, Reymond sangat tidak menyukai situasi ini. "Anda ini, Reymond Syailendra bukan?" tanya Benji pada Reymond. "Iya, Pak, benar," "Wah, sebuah kehormatan saya bisa bertemu anda di sini," ucap Benji lagi. "Oh ya, Pak Reymond, bagaimana kabar istri anda?" Dalam sekejap raut wajah Reymond berubah drastis. Tatapannya berubah menjadi sedingin es di kutub. "Semua orang tahu, kalau istri saya sudah meninggal, Pak Ben. Untuk apa anda bertanya hal itu lagi?" "Tidak apa-apa, saya cuma sekedar memastikan saja, Pak. Pasti, anda sangat kehilangan ya?" "Ahk, tidak juga. Wanita di dunia ini masih banyak, Pak Ben. Mati satu tumbuh seribukan?" jawab Reymond dengan wajah santai tapi terlihat begitu mengerikan. Reymond tidak bodoh, dia jelas paham betul maksud dibalik pertanyaan sang youtuber kondang dihadapannya itu. Hingga setelahnya, Benji pun tertawa hambar. Merasa lucu mendengar kalimat Reymond. "Satu hal yang perlu anda tahu Pak Ben, kematian istri saya itu bukan sebuah lelucon, jadi tolong jaga sikap anda! Jangan sampai, anda merasakan kehilangan seperti apa yang pernah saya rasakan sebelumnya," Skak mat! Senyum di wajah Benji meredup. Dia tak mampu berkata apapun setelahnya. Bahkan saat mobil Reymond telah menghilang dari pandangannya. Benji tersenyum sinis dengan tatapan sarat kebencian. Lo pikir gue takut sama anceman receh lo itu? Dasar penjilat! Maki Benji dalam hati, sebelum akhirnya laki-laki itu pun hengkang dari TK Tadika Husada.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD