Sebuah Lexus Hitam melesat menerobos lampu hijau yang hendak berubah merah. Seorang bocah kecil perempuan berjingkrak-jingkrak kegirangan saat sang Papah melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata. Sementara sang Ibunda di depan terus menerus beristihgfar dalam hati, saking takut dengan kegilaan suami dan anaknya.
"Ayo, terus Pah, yang kenceng lagi, yang kenceng lagi! Yeeeeaayy..." teriak Nayna kegirangan.
Diteriaki seperti itu Benji pun semakin menggila di jalanan.
"Mas! Udah dong! Jangan ikutin kemauannya Nayna... Mas!" Omel Ajeng dengan wajah ketakutan. Kedua tangan wanita itu berpegangan erat pada sisi jok mobil.
Mobil itu benar-benar melaju bak anak panah yang melesat dari busurnya. Membelah jalanan ibukota dan meliuk-liuk di antara kendaraan lain yang berlalu lalang.
Beberapa klakson mobil sempat dinyalakan untuk menyuarai aksi protes para pengguna jalan terhadap si pengendara mobil Sport hitam itu.
Tapi Benji tidak perduli.
Baginya ini mengasyikan, terlebih saat dia mendapat dukungan si kecil Nayna yang jelas membuat seorang Benji lebih tertantang.
Sebuah Marcedes Benz hitam yang melaju santai di depan mobilnya membuat Benji sedikit frustasi. Dia tekan klakson berulang-ulang agar si pemilik mobil itu menepikan mobilnya.
"Bego! Kalau nggak mau ngebut jalan aja di kiri! Ngapain mutus jalan orang ambil kanan! g****k!" Umpat Benji saat berhasil mendahului Marcedes Benz itu.
Ajeng hanya geleng-geleng kepala mendengar caci maki kasar yang keluar dari mulut suaminya itu.
"Kalau bicara itu nggak harus pake emosi apalagi kata-kata kasar bisa nggak sih Mas? Ada Nayna di belakang," Ajeng jadi ngoceh lagi. Dia benar-benar dibuat jengkel oleh kelakuan suaminya yang sok-sokan ngebut di jalanan.
Benji terkekeh. "Sorry sayang, lupa! Kebiasaan! Hehehe... Ya abis salah tuh orang, ngapainkan ambil kanan tapi jalan udah kayak kura-kura! Bikin emosi tau," ucap Benji membela diri.
Ajeng mendengkus. "Ya kamunya juga, ngapain ngebut-ngebut bawa mobil?"
"Kan disuruh Nayna tadi, iyakan Nay?" Benji mengerlingkan sebelah matanya ke arah sang bidadari paling energik yang pernah dia temui, Nayna. Putri kecilnya yang akhir-akhir ini semakin nempel dengannya.
"Iya, asik tau Bun ngebut, huuu... Bunda sih Payah!" Ejek Nayna pada Ajeng.
Ajeng melotot geram. "Oh, jadi sekarang kalian udah berkomplot mau bikin jantung Bunda berhenti dadakan ya?" umpat Ajeng setengah kesal. Bibirnya cemberut.
"Bundamu lebay Nay, masa cuma naik mobil ngebut segini aja takut. Liat dong Nayna, diajak naik motor sama Ronald aja dia ketagihan,"
"Iya Bun. Asik deh Bun naik motor sama Om Ronald, berasa kayak naik roller coaster, Bun," sela Nayna cepat dengan wajah penuh antusias.
Ajeng jadi geleng-geleng kepala lagi. Dia menepuk jidatnya yang mendadak pening.
Naik mobil bersama Benji saja Ajeng serasa mau muntah dan dia tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya kalau dia harus naik motor bersama Ronald.
"Makasih deh! Di bayar satu milyar juga aku ogah!" ucap Ajeng dengan gelengan kepala mengingat betapa begajulannya Ronald di jalanan.
Dan Ajeng kapok naik kendaraan dengan ke dua kakak beradik itu.
"Nggak kakak nggak adik sama aja! Sama-sama gila! Hadehh..."
Benji dan Nayna hanya tertawa melihat ekspresi lucu Ajeng.
*****
Taman kanak-kanak Tadika Husada menjadi sepuluh daftar taman kanak-kanak terbaik di Jakarta.
TK Tadika memiliki halaman bermain yang sangat luas dan sejuk karena penghijauan di sana benar-benar diutamakan.
Hanya guru-guru dengan kualifikasi terbaik yang bisa mengajar di sekolah ini. Selain halamannya yang luas lingkungan sekolah juga cukup aman dengan penjagaan yang sangat ketat oleh pihak security.
Jadi, bersekolah di TK Tadika sangat terjamin keamanannya, karena para Guru dan Security di sana diwajibkan mengenal satu persatu orang tua murid dari masing-masing anak didiknya. Hal ini dilakukan demi menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Sebab rata-rata anak yang bersekolah di TK ini adalah anak-anak dari kalangan orang-orang terpandang.
Sebuah Lexus hitam milik Benji sudah terparkir cantik di depan pintu gerbang sekolah itu.
Ajeng turun bersama Nayna setelah berpamitan dengan sang Suami.
"Nanti kalau udah pulang, langsung hubungi aku biar aku jemput," teriak Benji dari dalam mobil.
"Iya Mas," sahut Ajeng.
Karena ini hari pertama Nayna sekolah Ajeng berniat untuk menunggui Nayna di sekolah sampai tiba waktunya pulang.
Belum sempat kendaraan Benji pergi sebuah klakson terdengar berbunyi dari belakang mobil Lexus itu.
Benji melirik dari kaca spionnya, sebuah Marcedes Benz hitam bertengger di belakang mobilnya, sepertinya mobil itu hendak masuk. Benji pun melajukan mobilnya menjauhi pintu gerbang, memberikan akses pada mobil itu untuk memasuki halaman parkir TK Tadika.
Saat itu Ajeng dan Nayna sudah masuk ke dalam TK.
Benji sempat menepikan Lexusnya karena dia berniat untuk memutar kemudi. Tapi belum sempat Benji memparkir mobilnya, sebuah panggilan telepon di ponsel khusus yang dia miliki sebagai agen rahasia berdering.
Satu-satunya orang yang bisa menghubungi Benji di ponsel itu hanyalah komandannya di BIN. Karena semua akses data pribadi seorang agen rahasia negara hanya ada pada sang Komandan. Bahkan sesama prajurit lain yang juga bekerja sebagai agen rahasia, Benji sama sekali tak tahu menahu. Sejauh ini, dirinya hanya terhubung dengan sang Komandan yang biasanya akan menghubunginya jika beliau hendak memberikan tugas khusus pada anak buahnya.
"Halo, Pagi Komandan? Ada apa?" tanya Benji dengan suara hormat.
"Wisnu meninggal, Ben..." sahut sang Komandan dengan suaranya yang terdengar lemah.
Benji menggertakkan rahangnya. Dicengkramnya kuat-kuat setir mobil dihadapannya.
Kabar buruk apalagi ini? Pikirnya frustasi.
"Pihak lapas mengatakan, Wisnu menyuntik mati dirinya dengan cairan potassium chloride," ucap sang Komandan lagi.
Benji masih diam dalam pikirannya yang kian berkecamuk. Kasus yang kini sedang ditanganinya termasuk dalam kasus berat, di mana Wisnu adalah satu-satunya saksi yang bisa dia jadikan umpan untuk memancing siapa dalang yang telah menculik Gayatri.
Kini, Wisnu telah tiada, sementara keadaan Gayatri di rumah sakit tak kunjung ada perubahan.
Wisnu dan Gayatri adalah sepasang suami istri yang memegang peran penting dalam lingkup kepemerintahan Indonesia.
Sebelumnya, Wisnu adalah mantan komandan Benji di BIN sementara Gayatri adalah seorang ilmuwan cerdas yang penemuannya menjadi incaran banyak pihak.
Komandan Wisnu dan istrinya ditugaskan oleh pemerintah Indonesia untuk menyelidiki pembuatan senjata ilegal yang kabarnya lebih berbahaya dari senjata kimia atau pun bahan peledak. Sebuah senjata pemusnah yang tengah diproduksi oleh sebuah perusahaan asing yang bertempat di daerah pelosok Sulawesi.
Perusahaan itu adalah perusahaan kecil di mana para pekerjanya adalah para ilmuwan cerdas yang berasal dari luar negeri. Mereka dibayar dengan harga yang sangat fantastis oleh sebuah perusahaan terkemuka, di mana nanti hasil penemuan itu akan digunakan untuk hal-hal kriminal yang bisa menguntungkan bagi perusahaan tersebut. Belum lagi jika senjata itu di produksi dalam jumlah banyak dan jatuh ke tangan manusia-manusia yang tidak bertanggung jawab, maka pemerintahan Indonesia bisa-bisa dituduh sebagai penebar teror dan kekacauan.
Untuk itulah, Gayatri dan Wisnu menyamar menjadi salah satu penanam saham di perusahaan itu.
Mereka hanya ingin mencari tahu, siapa sebenarnya perusahaan besar yang mendanai terciptanya perusahaan ilegal itu.
Meski, belum sempat misi mereka itu berhasil, nyatanya, ada pihak lain yang juga tengah tergiur dengan dahsyatnya kemampuan senjata itu.
Sebuah senjata yang disinyalir dapat melakukan pembunuhan dari jarak jauh tanpa sedikit pun meninggalkan jejak bagi si pelaku.
Selain mencari tahu siapa pemodal utama pada perusahaan itu, Gayatri dan Wisnu juga bertugas untuk mencuri sampel senjata tersebut untuk diteliti dan mencari tahu siapa saja ilmuwan-ilmuwan yang terkait penciptaan senjata itu, untuk kemudian mengamankan mereka.
Wisnu dan Gayatri berhasil memusnahkan semua dokumen penting dan seluruh sampel senjata yang telah berhasil diciptakan dengan membuat sebuah konspirasi seolah-olah gudang penyimpanan senjata itu meledak akibat kerusakan sistem.
Tapi sayangnya, pekerjaan mereka tak melulu berjalan mulus.
Identitas mereka terbongkar sebelum perusahaan itu benar-benar dimusnahkan sampai ke akar-akarnya.
Hingga akhirnya, Wisnu dan Gayatri di amankan sejenak dengan dikirim keluar negeri, yaitu Amerika.
Tanpa pernah ada siapapun yang tahu bahwa salah seorang dari mereka tengah berubah menjadi pembelot.
Usai masa pengasingannya di Amerika, Wisnu dan Gayatri kembali ke Indonesia, namun saat itu Gayatri harus menerima kenyataan pahit ketika suaminya dituduh telah berkhianat oleh pemerintah Indonesia.
Wisnu ditahan. Sementara Gayatri yang kecewa pada pemerintahannya sendiri memilih mengundurkan diri dari pekerjaannya sebagai Ilmuwan negara.
Sejak saat itulah Gayatri berusaha untuk mendapatkan keadilan bagi suaminya. Padahal saat itu, Jenderal Brahma Wijaya, telah mengatakan dan menjelaskan semua kebenarannya pada Gayatri bahwa Wisnu telah berkhianat pada negaranya sendiri. Tapi sayangnya, Gayatri tidak percaya. Dia justru menuduh pihak pemerintah telah memanfaatkan keahlian dirinya dengan suaminya demi merebut senjata itu untuk digunakan sebagai senjata perang bagi anggota militer Indonesia.
Namun siapa sangka, Gayatri lebih pintar dari siapapun. Dia menggandakan sampel pembuatan senjata itu dan membuat senjata itu sendiri di laboraturium miliknya. Hingga akhirnya, Gayatri berhasil menciptakan sendiri senjata itu untuk kemudian dia jual pada sebuah perusahaan terkemuka di Indonesia.
Yakni perusahaan Syailendra.
Namun, dari semua bukti-bukti yang berhasil dikumpulkan oleh Benji atas aksi pembelotan Gayatri, transaksi jual beli atas senjata berbahaya itu belum sempat dilakukan oleh Gayatri dengan perusahaan Syailendra hingga akhirnya, Gayatri pun menghilang.
Gayatri diculik oleh sekelompok orang tak dikenal enam bulan yang lalu, dia di temukan satu bulan kemudian dalam keadaan yang cukup mengenaskan di tengah hutan alas purwo, Banyuwangi. Salah satu hutan angker di Indonesia.
Tubuhnya sudah babak belur. Bahkan beberapa tulang anggota geraknya patah. Jari-jarinya hancur, seperti diremukkan oleh benda tumpul. Dia ditemukan oleh para pemburu yang sedang memburu sarang burung walet di hutan itu.
Setelah mendapat perawatan intensif di rumah sakit, Gayatri perlahan pulih dan sadar dari koma.
Namun sayangnya, Gayatri mengalami kelumpuhan otak. Dia tidak mengingat siapapun termasuk anggota keluarganya sendiri, baik itu suaminya Wisnu, atau keluarganya yang lain.
Demi keamanan Gayatri, pihak pemerintah sengaja memalsukan kematian Gayatri.
Meski setelahnya, Gayatri justru malah berusaha mengakhiri hidupnya sendiri. Dia bertingkah laku seperti orang gila bahkan sempat beberapa kali hampir membunuh tetangga di sekitar tempat tinggalnya.
Sampai akhirnya, Gayatri didapati melakukan percobaan bunuh diri dengan menabrakkan tubuhnya ke salah satu truk pasir yang sedang melaju kencang di jalan raya hingga tubuh Gayatri terseret beberapa meter di aspal dan mengalami pecah pembuluh darah otak.
Gayatri kembali koma dan belum sadarkan diri hingga saat ini.
Semua ini semakin menyulitkan usaha Benji dan rekan-rekan sesama anggota BIN lainnya yang juga menangani kasus ini untuk mencari tahu siapa pihak yang telah melakukan penculikan atas diri Gayatri, dan di mana senjata berbahaya buatan Gayatri itu kini berada beserta dokumen-dokumen pembuatannya, jika kini Wisnu justru malah tewas.
Dari data-data yang berhasil diretas oleh Benji, Gayatri dan Wisnu memiliki dua orang anak dari hasil pernikahan mereka, meski keberadaan anak-anak itu sampai detik ini tidak ada seorang pun yang tahu.
Dari data-data yang berhasil dia kumpulkan itu, Benji mengetahui bahwa anak Gayatri dan Wisnu adalah dua orang anak perempuan yang kembar identik, bernama Alkanza dan Elrumi.
"Halo Ben? Kamu masih di situ?" teriakan sang Komandan dari seberang membuyarkan lamunan Benji.
Lelaki berkemeja abu-abu itu pun menyahut. "Iya. Maaf Komandan, saya melamun. Saya benar-benar syok mendengar berita tentang tewasnya Komandan Wisnu," ucap Benji terbata.
"Aku juga sama syoknya denganmu. Justru, aku berpikir, kematian Wisnu ini memang disengaja. Sepertinya, Wisnu tak ingin pihak pemerintah tahu siapa sebenarnya dalang dibalik semua kejadian ini. Atau bisa jadi, bunuh diri ini dia lakukan karena perasaan bersalahnya terhadap anak dan istrinya,"
Benji mengangguk. "Iya, ada kemungkinan seperti itu, Komandan,"
"Lalu bagaimana keadaan Gayatri? Apa sudah ada perkembangan?" tanya sang Komandan selanjutnya.
"Belum, dia masih koma. Tapi, saya baru mendapat kabar terbaru tentang salah satu anak kembar Gayatri dan Wisnu yang bernama Alkanza," beritahu Benji kemudian.
"Oh ya? Lalu bagaimana? Apa benar senjata itu kini ada di tangan anak-anak itu?" tanya sang Komandan terdengar antusias.
"Saya belum bisa memastikan. Tapi dari informasi yang saya dapatkan, Alkanza dan El Rumi saat ini tinggal di rusun Blok S dengan identitas berbeda,"
"Aku ingin kamu secepatnya menemukan mereka dan mendapatkan senjata itu, Ben," perintah sang Komandan.
"Baik Komandan. Rencananya, siang ini saya akan mendatangi rusun itu untuk mencari tahu,"
"Oke, baiklah. Aku percayakan kasus ini padamu,"
Dan pembicaraan itu pun berakhir.
Saat itu, Benji hendak melajukan mobilnya meninggalkan TK Tadika Husada, ketika dia menyadari bahwa bekal sekolah Nayna tertinggal di jok belakang.