BAB 44 Sudah hari ke lima, Vania tinggal di tempat Umi Masitoh. Siang itu, Umi Masitoh merasa kurang enak badan. Karenanya dia meminta Azzam mengantar Vania ke pasar. Dia tetap harus berjualan, katanya kasihan yang pada mencari sarapan. Sudah biasa berlangganan nasi uduknya. “Maaf ya, Nia. Ini uangnya … ini catatan belanjanya.” “Iya, Umi. Gak apa. Aku juga bosen sebetulnya di rumah terus.” Azzam meraih kunci motor dan jaketnya. Lalu dia memegang dahi Umi Masitoh. “Demamnya belum reda, Umi. Paracetamolnya masih?” “Iya, Zam. Habis. Beli sekalian, ya.” “Iya, Umi. Paling pulangnya nanti. Sekarang masih shubuh. Belum pada buka apoteknya.” Waktu memang baru menunjukkan pukul empat lewat empat puluh lima menit. Beberapa menit lalu baru saja mereka menyelesaikan ibadah dua rakaat. Azzam p

