Ternyata Dia CEO ku

1372 Words
Julia masih tidak bisa berpikir jernih hari ini, sepanjang perjalanan menuju kantor ia memikirkan pria yang semalam mengajaknya berkencan. Dari mana pria itu mengetahui namanya padahal Julia belum memberitahunya. Dan juga, pria itu bertindak sangat lembut padanya padahal itu adalah hari pertama mereka bertemu. “Julia,” suara Taddeo memecah keheningan, pria itu sedang berangkat kerja bersama Julia karena gadis itu baru saja di terima di kantor yang sama dengannya. Julia menoleh pada sang kakak, kemudian tidak lama mobil pun berhenti dan mereka tiba di sebuah kantor besar. Gedungnya menjulang tinggi, seperti gedung pencakar langit. “Nah, Julia, jangan sampai orang-orang tahu kalau kamu adalah adikku, karena kamu melamar ke tempat ini dengan usahamu sendiri,” ucap Taddeo. Gadis itu mengangguk dengan penuh keyakinan, “tentu saja, lagi pula tidak akan ada yang percaya meskipun kita bilang, kita kan saudara tiri jadi tidak mirip.” Ucapan Julia memang apa adanya, tapi Taddeo kesal mendengarnya. Bagaimana pun, mereka hanya memiliki satu sama lain sekarang karena kedua orang tua mereka sudah tiada, Taddeo sendiri sudah menganggap Julia ini adik kandungnya sejak dulu. Gadis itu tersenyum kecil pada kakaknya sebelum turun dari mobil, ia di turunkan sedikit berjarak dari pintu depan agar tidak ada yang menyadari kalau mereka berangkat bersama. Dengan langkah mantap, Julia masuk ke lobi kantor, ia sudah menggunakan id card dan juga Taddeo sudah memberitahu dimana letak ruangannya, lalu siapa yang harus ia temui sebelum datang ke divisinya. Begitu selesai melakukan tap menggunakan id cardnya, langkah Julia terhenti di depan lift. Matanya membeku, seorang pria tinggi dengan wajah tampan itu berada di hadapannya sekarang. Pria yang mengajaknya berkencan semalam, Ravi Jovian, sedang berdiri di hadapannya sambil menanti lift, keadaan sepi hanya ada mereka berdua. Julia merasa ingin mengubur dirinya sekarang, pria itu menggunakan setelan yang sangat rapi lalu tidak mengenakan id card. Julia berdiri di depan lift juga namun ia berusaha tidak menunjukkan wajahnya pada Ravi yang tidak menyadari keberadaannya. Begitu pintu lift terbuka, Julia menunggu agar Ravi masuk lebih dulu barulah ia masuk ke dalam. Ravi melirik ke arahnya namun Julia merasa beruntung karena pria itu berada di belakangnya sehingga pria itu pasti belum melihat wajahnya. Pintu lift tertutup, lalu naik satu lantai dan berhenti kembali. Julia menghela napasnya, ia sedikit gugup. Pintu lift terbuka kembali, kemudian ada beberapa karyawan yang akan naik, termasuk Taddeo. “Selamat Pagi, Pak!” ucap semua karyawan dengan kompak sebelum masuk ke dalam lift membuat Julia kembali menegang. “Pagi, ayo masuk jangan sungkan,” ucap Ravi kepada mereka. Taddeo bersikap seakan tidak mengenal Julia, tanpa sadar Julia terdorong ke belakang saking banyaknya orang yang masuk ke dalam lift. Hingga akhirnya posisi gadis itu tersudut dan tanpa sengaja berhadapan dengan Ravi yang entah sejak kapan sudah berada di depannya sementara ia terkukung pada ujung lift. Julia menelan ludahnya dengan berat, ia enggan menatap Ravi namun pria itu terus menatap ke arahnya. “Mau sampai kapan pura-pura tidak kenal aku, Julia?” bisikan Ravi membuat mata Julia terbelalak, pria itu berbisik sangat dekat hingga membuat jantung Julia rasanya akan meledak saking gugupnya. Ravi sedikit menyeringai, “jangan tegang begitu, santai saja.” Lanjutnya. Julia hanya mampu menyunggingkan senyumnya, dalam hati ia menjerit, mengapa ia bisa bertemu dengan pria itu di sini? “Selamat datang di kantorku, Julia, aku Ravi, CEO mu.” Kalimat itu seakan membuat Julia semakin diam seribu bahasa, entah ini kabar baik atau kesialan baginya. Orang yang mengajaknya berkencan sekarang adalah CEO nya. Lift kembali terbuka, posisi Ravi jadi semakin dekat dengan Julia, gadis itu semakin terpojok karena orang-orang terus masuk. Taddeo melihat Julia dan Ravi sangat dekat namun ia tidak bisa melakukan apapun, ia hanya bisa memperhatikan adiknya dengan pasrah. “A-aku tidak tau kalau kau adalah bos ku, Jadi karena ini kamu tau namaku?” tanya Julia, suaranya pelan namun Ravi mampu mendengarnya. “Hm, tebak saja, mana yang menurutmu paling masuk akal,” jawab Ravi. Pintu lift terbuka, beberapa karyawan keluar dan hanya menyisakan Ravi, Julia dan Taddeo. Suasana menjadi lebih canggung sekarang. “Julia, luangkan waktumu untuk bicara denganku hari ini,” ucap Ravi pada gadis itu secara terang-terangan di depan Taddeo. Pintu lift terbuka lagi, inilah lantai yang menjadi tujuan mereka bertiga, Ravi melangkah lebih dulu meninggalkan kedua kakak adik itu. “Kamu kenal dengan CEO?” tanya Taddeo yang penasaran dan juga merasa sedikit kesal. Julia meringis, “bukan begitu Kak, tapi dia adalah orang yang semalam mengajakku berkencan di pesta itu, dia ternyata pria yang aku ceritakan.” “Apa?!” ….. Julia menarik napas panjang, ia memutuskan untuk istirahat sendirian di lantai atas kantornya, berbekal minuman dingin dan juga bekal makanan yang di siapkan Taddeo sejak subuh, ia makan dengan tenang di sana karena pikirannya masih terasa kacau. Ini hari ketiga ia berpisah dengan Seano, hatinya masih terasa sakit namun ia sedikit terhibur dengan kantor barunya yang memiliki suasana hangat, hari pertamanya bekerja di sini cukup mengesankan meskipun ia harus bertemu kembali dengan Ravi. Pria yang memiliki banyak teka-teki, membuatnya penasaran sekaligus heran. Terdengar suara langkah kaki mendekatinya, membuat Julia segera menoleh ke sumber suara, betapa terkejut nya Julia melihat Ravi sudah berada tepat di belakangnya. Pria itu tersenyum padanya. “Akhirnya aku menemukanmu, Julia,” ucap Ravi seraya duduk di samping Julia. “Kok Bapak bisa tau aku di sini?” tanya Julia, matanya terpaku menatap pria itu. Pria itu tergelak, merasa kesal mendengar Julia memanggilnya bapak. Terkesan seperti pria tua, padahal usia mereka mungkin hanya terpaut jarak enam tahun. “Ravi,” pria itu mengoreksi ucapan Julia. Julia hanya mengangguk pelan, ia masih menatap pria di sampingnya itu. “Mencarimu di tempat lain tidak ada, lalu aku menebak kalau kamu pasti sedang menyendiri di sini,” jawab Ravi. Julia mengernyitkan alisnya heran, “iya, aku tau, tapi kenapa kamu bisa berpikir aku sedang sendirian di sini?” Ravi menghela napasnya sejenak, kemudian ia kembali menatap Julia, “Kamu bilang sedang patah hati kemarin malam. Lalu di sini, tempat paling enak untuk menggalau.” Akhirnya tatapan Julia jatuh kebawah, Ravi bertindak seakan sudah mengenalnya sejak lama. Sikap pria itu tidak sungkan sama sekali sejak pertama kali mereka bertemu. “Aku nggak galau tuh, jangan sok tau.” Sahut Julia, ucapannya tidak menggambarkan realita yang tengah ia alami. “Ceritalah, kurasa itu akan membuatmu lebih baik,” ucap Ravi kemudian. “Aku pendengar yang baik.” Julia menoleh padanya, ia ragu untuk bercerita namun ucapan Ravi seakan memberinya pondasi kepercayaan kalau pria itu tidak akan membuatnya tambah sedih. “Kenapa kamu bersikap seperti ini? Kita bahkan baru bertemu pertama kali, baru saling mengenal juga,” tanya Julia pada Ravi. Ravi hanya mengulas senyum kecil, kemudian ia menjawab, “karena aku suka kamu, itu juga menjadi alasanku mengajakmu berkencan.” Julia mendecih pelan, “mana mungkin! Jangan bohong hanya untuk menghiburku.” Ravi menaikkan alisnya sebelah, “tentu saja mungkin, buktinya aku masih mencoba mendekatimu sekarang meski kamu kayanya nggak suka.” Julia terdiam untuk sesaat, mempertimbangkan ucapan Ravi. Kemudian ia mengadah, menatap langit yang sedang teduh karena awan menghalangi matahari yang tengah bersinar. “Kapan aku bilang nggak suka?” sahut Julia, matanya sedikit menatap Ravi dengan kesal, pria itu jadi tersenyum mendengarnya. “Jadi kamu juga suka?” goda Ravi padanya, Julia segera berpaling ke arah lain. “Aku sudah berpacaran selama hampir empat tahun dengan seorang pria berambut cokelat dengan mata hazel yang indah, namanya Seano. Tapi dua hari yang lalu dia mengajakku putus, katanya aku membosankan.” Ucap Julia, ia tiba-tiba bercerita, membuat Ravi menoleh padanya. “Apa kamu yakin masih ingin bersama gadis yang di sebut membosankan ini? Lalu aku ini ternyata karyawanmu, kan?” Ravi menatapnya dengan serius, Julia bisa merasakan kalau pria itu tak akan goyah meski ia menceritakan hal menyedihkan tersebut. “Dia yang bilang kamu membosankan, bukan aku, Julia. Lalu kemarin kan kamu belum jadi karyawanku, aku bilang suka ke kamunya juga dari kemarin.” Jawab Ravi. Mata Julia sedikit berbinar karena penasaran, ia pun tidak menduga jawaban itu yang akan keluar dari mulut Ravi untuknya. “Aku akan menghiburmu dan membuatmu melupakannya, Julia.” Ucapan itu terdengar seperti janji yang akan di tepati oleh Ravi, membuat hati Julia sedikit tersentuh. “Jadi, apakah aku masih bisa mengajakmu berpacaran, Julia?” “Tentu saja, Pak CEO.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD