Aku dan Jake sudah sampai di New York , kota New York yang dipenuhi dengan orang-orang pejalan kaki dan aku rasa aku akan menjadi warga asing di New York , aku menatap jalan lurus dan terdapat beberapa belokan blok-blok dijalanan.
Aku dan Jake dijemput dengan sebuah Bentley SUV silver .
Kami berdua sampai diPenthouse mewah milik Jake , resepsionist didalamnya sudah mengenali Jake ketika kami berdua masuk.
"Selamat siang tuan William"
"Selamat siang"
Ucap Jake berlalu , aku mengikuti dibelakangnaya berjalan.
Sampai dilantai 30, ruangan yang begitu mewah , sangat rapi, tidak berdebu sama sekali.
"Istirahatlah, kamarmu ada di kamar nomor dua, dokter Alaric akan tiba kesini nanti malam"
"Siapa itu?"
"Dokter yang akan menerapi-mu"
"Haruskah aku melalukan terapi?"
"Harus, karena sudah kukatakan padamu kau tanggung jawabku"
Aku tidak mengerti sebenarnya pada Jake , ada apa dengannya yang terlihat begitu perhatian padaku.
Aku pergi beristirahat kekamarku , mataku sudah sedikit perih menahan rasa ngantuk.
Tapi sebelum aku pergi aku menghentikan langkahku dan menatap Jake .
"Jake"
"Mmmm"
Jake bergumam, aku hanya ingin meminjam ponselnya saja kali ini aku benar-benar rindu pada Luke.
"Bolehkah aku..."
Belum selesai aku menyelesaikan permintaanku, Jake menyerahkan ponselnya.
"Aku tau kau mau menghubungi Luke, kan? Cobalah telpon dia jika dirinya mengangkatnya kau beruntung"
Fiuhhhh, aku menarik nafas lalu membuangnya, mau marah mendengar ucapan Jake tapi aku tidak bisa apa-apa.
"Aku akan terus mencobanya"
Aku tidak akan menyerah dan aku tidak akan percaya begitu saja pada Jake, aku masih yakin kalau Jake membohongiku.
Aku meraih ponsel Iphone 7 MateBlack milik Jake lalu menekan nomor telpon Luke.
"Bawalah kekamarmu, jika kau sudah bangun aku menunggumu disini"
"Thank you"
Untuk pertama kalinya aku mengucapkan terima kasih padanya , aku menunggu jawaban dari Luke, Luke tidak mengangkat telponku.
Sudah hampir lima puluh kali aku menelponnya tapi tetap saja tidak ada jawaban , akhirnya aku lelah dan jatuh tertidur.
___
"Bangunlah Emma, dr. Alaric sudah menunggumu"
Aku membuka mataku perlahan, aku masih merasa sangat ngantuk.
Jake duduk disisi ranjangku.
"Aku ngantuk"
"Bangunlah, kau sudah tidur lama dasar kau tukang tidur"
Aku memaksa mataku untuk terbuka tapi sulit, tiba-tiba tangan besar Jake mengangkat tubuhku , membawaku ke bathroom dan menyiram wajahku.
"Apa-apaan kau ini?"
"Agar kau mau membuka mata cantikmu itu"
"Kau penggoda sialan"
"Cepatlah dr.Alaric menunggumu"
"Keluarlah aku akan segera datang"
Jake meninggalkanku , aku menutup pintu kamar mandi dan mandi dengan cepat, aku memakai T-shirt putih ketat dan celana pendek biru tua , karena hanya ada baju itu yang kulihat didalam ruang ganti , rambut cokelatku kuikat tinggi sehingga melihatkan tengkuk leherku.
Aku melihat bekas lukaku dilenganku , sudah tidak terlalu sakit , mungkin obat yang diberikan sangat bagus , aku mengabaikan rasa sakitnya.
Aku masih terus memikirkan Luke, dimana dia , sedang apa dan bersama siapa dia sekarang , secepat itukah dirinya melupakanku bahkan kita sudah bertunangan.
____
Dr. Alaric pria yang mungkin sekitar empat puluhan, rambutnya pirang tak beruban, badannya tinggi terlihat sigap, mempunyai senyum yang menenangkan.
Aku tersenyum kearahnya dan menyapanya.
"Sorry i'm late to be here"
Dr. Alaric dan Jake menatapku , Jake berseringai menatapku dari atas sampai bawah diriku, aku yang lebih memilih bertelanjang kaki.
"Tidak apa-apa nona Steel, bisakah kita mulai sekarang"
"Yes sure"
Aku merasa gugup, duduk disofa ruang tamu Jake berwarna moca , dan duduk berhadapan dengan jendela kaca besar yang mempertontonkan seisi kota New York yang luas benar-benar pemandangan yang sangat indah.
"Baiklah nona, bisakah kau menceritakan masa lalu anda yang membuatmu ketakutan sampai sejauh ini?"
Aku terdiam, hatiku bertdetak kencang, aku melirik kearah Jake , tiba-tiba aku ketakutan melihatnya , aku mau teriak tapi kemauan itu kutahan, Jake menatapku penuh dengan kecemasan, Jake berdiri dan berjalan menuju kearahku.
"Jangan dekati aku"
Aku menutup mataku.
"Tenanglah nona, kah terlihat ketakutan melihat Jake apakah dia salah satu alasan dari masa lalumu?"
Dr. Alric terus saja bertanya , Jake menghentikan langkahnya.
"Jake memperkosaku dulu, aku membencinya"
Hanya itu yang bisa keluar dari mulutku, dr. Alaric menganggukkan kepalanya.
"Tuan Jake , apa yang ingin kau katakan pada Emma?"
"Kumohon Emma , maafkanlah diriku, aku akan menebus semua dosa-dosaku padamu, aku ingin kau sembuh , kumohon jangan takut padaku lagi"
Aku menatapnya tapi perasaan gugupku tetap sama , tetap takut melihatnya .
"Katakanlah padanya tuan Jake"
Apa yang ingin dikatakan Jake, aku penasaran , Jake mencari ancang-ancang untuk duduk didekatku.
Aku berusaha tenang untuk mendengarkannya.
"Aku mencintaimu"
Aku terdiam mendengar ucapan itu keluar dari mulutnya yang berbisa itu .
"Aku menginginkanmu sejak dulu, tapi aku tau kalau Luke juga menginginkamu, aku bertemu dengan Luke setelah dirinya terkenal , dan disaat itu aku iri pada kesuksesannya, aku frustasi aku benar-benar menginginkanmu dan karea itulah aku memperkosamu, tolong maafkanlah aku Emma, kutahu semua itu kesalahan terbesarku padamu, kau membenciku kau merasa jijik padaku tapi kumohon"
Mata Jake memerah, berkaca-kaca dan tak lama disusul oleh air matanya yang mengalir kerahangnya yang ditumbuhi dengan bulu tipis yang halus.
Aku menatapnya dan mulai menangis juga , tidak tau perasaanku hancur ketika mendengarnya berbicara.
"Tapi aku tidak percaya padamu"
"Kau memang tidak bisa percaya padaku secepat itu, tapi kau harus tau satu yang lebih penting"
"Apa itu?"
"Kumohon ikuti lah dulu terapi ini, jika kau sudah sembuh kau akan tau sesuatu hal"
Mata Jake memerah, benar-benar tak tahan dari perkataannya, Jake menangis juga perasaanku melemah ketika melihatnya menangis.
Dr. Alaric fokus mendengarkan.
"Aku akan berbicara berdua dengan Emma, jika kau tidak keberatan tinggalkan kami berdua dulu"
Pinta dr. Alaric sambil memandang Jake yang masih menangis, Jake cepat-cepat membersihkan wajahnya dan berdiri meninggalkan kami berdua.
"Baiklah nona Steel, apakah tidak ada sedikit perasaan belas kasihmu lagi untuk memaafkan tuan Jake?"
Aku tertunduk, ini tidak bisa secepat begitu saja.
"Aku akan mempertimbangkan semuanya dr. Alaric"
"Minggu depan aku akan datang lagi, ceritakan padamu apa yang kau rasakan setelah ini"
Sounds Good!!!! , batinku. Aku memang sedikit tidak nyaman dengan terapi itu, tapi aku akan mencobanya sebisaku.
___
Sudah tiga hari berlalu aku bersama Jake, Jake terlihat sedang bersiap-siap ingin pergi, dan waw , rambut tembaganya yang sangat cocok membingkai wajahnya, struktur wajahnya akan membuat pemahat menangis dengan sukacita,hidung sedikit seperti belati dan mata gelapnya yang memancarkan rasa panas dari sana, baunya sangat harum , Jake berpakaian rapi dengan setelan jas berwarna hitam.
"Apakah kau ingin pergi?"
"Aku akan mengerjakan suatu pekerjaan , kau ikut denganku"
"Apa? Aku tidak mau, tentu saja aku akan bosan karena menunggumu nanti"
"Kau tidak akan bosan, gantilah pakaianmu pergilah keruang ganti sekarang"
Baiklah aku akan pergi, sepertinya aku juga mulai bosan didalam penthouse milik Jake , aku butuh udara segar New York.
Sebuah dress abu-abu Satin licin , dadaku terlihat sedikit, sangat seksi , dress berbelah dibagian kanan pahaku, terlihat benar-benar pendek, high heels Louis Vuitton berwarna metalic sangat cantik.
Aku sudah siap, rambutku kubiarkan terurai karena aku lebih suka mengurai dan memperlihatkan indahnya rambut pirangku.
"Kau terlihat cantik"
"Aku akan selalu terlihat cantik"
Jawabku acuh, biasanya Luke yang berkata seperti itu tapi kenapa secepat ini, aku benar-benar merindukan Luke-ku.
____
JAKE HOUSE GARRITY
Aku mendongakkan kepalaku menatap deretan bangunan seluruhnya dari bawah sampai keatas langit ini mengesankan puncak menara ramping berkilauan seperti batu safir yang menembus awan , apakah ini milik Jake? Aku menatap Jake , Jake berseringai kearahku, mata gelapnya memancarkan sedikit cahaya.
Aku takjub melihat interior bangunan itu, dinding dengan lantai marmer keemasan, meja keamanan dan dilengkapi pintu putar.
Aku mengikuti langkah Jake masuk kedalam bangunan mewah itu.
"Selamat pagi Mr. William"
Seorang wanita berambut pirang , terlihat sudah menunggunya, menbawa beberapa map berwarna warni dipelukannya.
"Jam berapa rapat dimulai?"
"Setelah dua jam kedepan, ini beberapa dokumen yang harus anda pelajari dan ditanda tangani"
"Baiklah terimakasih"
"Apakah saya harus menyiapkan ruangan untuk wanita anda"
"Dia Ms. Steel, tidak perlu dia akan bersamaku"
Seorang karyawan berambut pirang itu mengangguk mengerti dan menbiarkan Jake melewatinya, akupun mengikuti langkah Jake, aku sambil berpikir apakah Jake masih sering membawa wanita ikut dengannya, sepertinya wanita berambut pirang itu sangat hapal jika Jake membawa wanita dengannya.
"Jangan berpikir macam-macam aku tidak pernah membawa wanita kesini"
Jake berbisik kearahku, kami menuju lift dan menunggu lift terbuka , aroma tubuh Jake tercium sangat khas.
"Tenang saja, itu bahkan bukan urusanku, aku tidak pernah memikirkan apa-apa tentangmu"
"Mulai sekarang aku akan menjadi urusanmu"
"Kau terlalu percaya diri Mr. Rude!"
Aku menekankan ucapanku saat berbicara padanya, pintu lift terbuka , kami masuk dan diikuti dengan wanita berambut pirang tadi, sepertinya aku diawasi dengan wanita itu.
____
Jake dan aku berada didalam satu ruangan luas , interior serba hitam lantai marmer bewarna gelap aku takjub melihatnya, Jake ternyata seorang CEO.
"Jangan terkejut, biasa saja"
"Siapa yang terkejut, aku memang biasa saja"
"Matamu berbicara, Emma"
Pipiku memerah, malu melihat Jake menatap kearahku, mata gelapnya bersinar.
Aku memilih duduk disofa hitam , didepan meja kerja Jake yang besar.
"Aku Bosan!!!"
"Aku tidak"
"Aku tidak menanyakan tentangmu, bolehkah aku pergi?"
"Tidak"
Tentu saja dia tidak mengizinkanku, aku berdiri menuju toilet yang ada diruangan Jake, merapikan dandananku, menatap wajahku di cermin, toiletnya luas.
Aku keluat dan membuka pintu toilet, aku melihat ada dua orang lelaki sekitar lima puluhan dan satunya lagi , ohhh ya ampun kalau aku tidak salah melihat "Tyler" batinku .
Mengapa Tyler bisa ada disini, bukankah dia di Seattle , tyler sangat rapi mengenakan setelan jas abu-abu, aku mengintip dari belakang pintu toilet.
'Sejak kapan Tyle mempunyai pekerjaan seperti ini?' Batinku , aku mulai bertanya-tanya dan akan mencari tau, sepertinya mereka berdua bekerja sama dalam suatu bisnis.
Aku memilih tidak keluar dari toilet , lagipula toilet yang ada diruangan Jake sangat nyaman, aku mengambil majalah yang bisa aku baca.
Satu jam kemudian, aku mendengar mereka selesai, aku mengintip dua orang lelaki itu berpamitan , ya ampun apa yang akan aku katakan padanya kalau Tyle tau aku disini, karena yang dia tau aku bersama Luke.
"Kau bekerja sama bersama Tyler, temanku?"
Aku keluar dari balik pintu toilet, Jake menatapku dan berseringai.
"Kau mengintip? Mengapa tidak keluar, kau ahli menjadi seorang penguntit atau crazy stalker"
Jake memiringkan senyumannya, gigi putihnya yang rapi terlihat.
"Aku tidak mengintip hanya saja aku malas keluar dan aku melihatnya, maka dari itu aku bertanya"
"Sudah berapa lama kau berteman dengannya?"
"Sejak kecil"
"Tapi kau tidak tahu kalau dia seorang CEO salah satu industri di New York?"
Aku terkejut mendengarnya aku hanya bisa menggelengkan kepalaku , aku benar-benar tidak tau.
"Benarkah?"
Jake mengangkat bahunya acuh, lalu kembali duduk kesofa hitam miliknya .
"Sudah berapa lama kau bekerja sama dengannya"
"Baru, aku hanya ingin tau siapa dia"
"Untuk apa"
"Kau akan tau nanti, diamlah , aku lelah mendnegar pertanyaanmu terus"
"Kau ini"
Jake berdiri kearahku, megang wajahku, aku menutup kedua mataku merasakan sentuhan tangannya, mencium aroma tubuhnya, ada apa denganku, aku tidak merasakan ketakutan lagi dengannya.
Aku tetap memejamkan mataku, aroma tubuhnya begitu menenangkan, dan sekarang kakiku melemah, badanku bergetar dan memanas, hanya karena dirinya menyentuh lenganku yang berbekas luka tembakan.
"Maafkan aku"
Jake mengecup dibagian pinggir bekas luka, aku terkejut dengannya.
"Kau selalu luka disaat bersamaku tapi ..."
Jake menghentikan ucapannya.
"Apa?"
Tanyaku dengan suara serak.
"Tidak ayo kita pergi"
___
"Aku lapar, kita makan disini"
Kami berhenti di Foxy John's Bar and Kitchen, restoran yang mewah, banyak terlihat warga New York sejati berjalan kaki , aku dan Jake memasuki restoran mewah itu.
Kami duduk dimeja menghadap keluar jalanan, memesan dua Coctail dan Cheeseburger dilengkapi dengan kentang goreng, perutku sudah mulai keroncongan.
Pelayan datang dengan cepat, aku dan Jake melahap makanan yang sudah disajikan sampai selesai.
"Aku lelah Jake, bisakah kau mengasihaniku aku ingin tidur"
Sepertinya setelah menghabiskan makananku aku merasa ngantuk, Jake berseringai memberi tanda setuju pada wajahnya.
"Baiklah, nanti malam aku ke Gym , ikut denganku"
"Ahhh Jake , aku tidak tertarik"
"Kau harus mau, tidak ada penolakan"
Aku hanya menarik nafas lalu membuangnya, Jake memanggil pelayan dan mengeluarkan kardu Visa miliknya untuk membayar makan kami, kami berdua berdiri meninggalkan meja lalu pergi .
___
Kami melewati jalan Central Park, terlihat banyak gerombolan warga didepan mobil kami, sebuah mobil Van besar berwarna putih.
"Ada apa lagi ini"
Jake berguman , melihat gerombolan yang memenuhi Central Park.
Aku hanya diam dan mengangkat bahuku wajah polosku acuh dengan keributan warga.
Tiba-tiba ada suara pukulan dari arah belakang Bentley SUV Jake, kami berdua sontak menghadap kebelakang melihat siapa yang memukul bentley milik Jake.
"f**k! What's happening here"
"Jake"
Aku tiba-tiba ketakutan, mataku memerah dan berkaca-kaca.
Jake menggenggam tanganku, tangannya berasa diatas pahaku, wajahnya terlihat menegang.
"Jangan takut, aku akan keluar melihat apa yang terjadi"
Aku terdiam, aku mau ikut tapi aku takut, aku membiarkan Jake meninggalkanku sendirian didalam mobil miliknya.
Jake keluar, tapi tiba-tiba pintuku terbuka , seseorang membukanya dengan kasar , aku berteriak.
"JACK!!!!"
Jack membalikkan badannya, aku disekap mulutku ditutup dengan lelaki itu, aku seperti mengenal aromanya.
Jake berlari kearahku, tapi lelaki itu menodongkan pistol kearahnya, Jake mengangkat kedua tangannya berjalan pelan.
"Kau mendekat, aku tak segan-segan menembakmu, dude"
Ada apa ini, suara itu , aku mengenalnya.
Aku mendongakkan kepalaku pelan-pelan mengarah kebelakang, mata itu, aku mengenalinya.
"Kenapa kau melakukan ini padaku"
Aku berguman pelan, sepertinya dia mendengarku.
"Karena kau tak pernah sadar"
Jake tetap berjaga-jaga, tapi aku mengalihkan perhatiannya aku terus mengajaknya berbicara pada Jake agar dia melepaskan pistolnya .
"Sadar untuk apa?"
"Kau begitu bodoh Emmo"
Aku tau, jika dia menatap mataku Tyle akan melemah, Tyle kenapa bisa menjadi seperti ini, aku merasakan dekapannya melemah.
Aku membalikkan badanku pelan-pelan, sehingga kami terlihat seperti berpelukan.
Aku menatap matanya, mata kami bertatapan, tangannya merangkul pinggulku.
"Aku memang bodoh, karena aku teman terbodohmu Ty"
"Aku men..."
Tyler tidak menyelesaikan ucapannya, Jake mengambil pistol dari tangannya dan menarikku kedalam pelukannya.
Ada apa dengan Tyler sebenarnya.
"Sekarang pergilah"
"Aku tidak akan pergi, lihat saja aku akan mendapatkan Emmoku kembali"
"Jangan berharap lebih"
Rahang Jake mengeras, tapi aku benar-benar merasakan ketenangan dengan Jake sekarang.
Aku dan Jake masuk kedalam Bentley SUV milik Jake , lalu pergi meninggalkan Tyler sendirian, mata Tyler penuh dengan kebencian.
___
Jake memberhentikan mobilnya ditepi Bow Lake, aku melihat air danau yang tenang dari dalam mobil dengan mempertontonkan bangunan-bangunan yang menjulang tinggi.
"Untuk apa kesini?"
Aku melirik kearah Jake, mataku menyipit tapi Jake hanya diam dan keluar dari mobil tanpa berbicara , membuatku sedikit kesal lalu menyusulnya keluar juga.
"Hey kau tidak sopan sama sekali, aku bertanya padamu tapi kau tidak menjawabku, malah kau pergi dasar kau Mr. Rude tidak sopan!!"
Gerutuku.
Jake membelakangiku, berdiri menatap danau aku mendengar suara tarikan nafasnya .
"Sudah saatnya harus kukatakan padamu"
"Apa?"
Aku tidak sabar menunggu jawaban dari Jake , dirinya terlihat sedikit menegang.
"Emma kumohon maafkan aku, tapi aku memang harus mengatakannya padamu"
Aku masih diam menatapnya dan menunggunya menyelesaikan percakapnnya.
"Apakah kau ingin bertemu dengan Luke?"
"Tentu saja , ada apa sebenarnya?"
Hatiku cemas, melihat ketegangan diwajah Jake membuatku gelisah ada apa dengan Luke.
Tapi Jake masih terdiam menegang , aku merasakan getar kecemasan yang luar biasa dari hatiku , aku tidak pernah melihat wajah Jake berubah menjadi tegang seperti yang terlihat sekarang.
"Luke mempunyai kelainan jantung sejak kecil"
Sengatan listrik sepertinya menyengat semua bagian tubuhku kakiku melemah mendengar perkataan Jake tentang Luke .
Aku ingin mengeluarkan suara tapi tidak bisa, mulutku tertahan mataku perih dan berkaca-kaca.
"Luke tidak bisa bertahan, dokter sudah memvonis dirinya tidak bisa bertahan lama sampai Luke berusia 8 tahun, tapi keajaiban datang padanya , dirinya masih bertahan bahkan sampai dirinya bisa bertemu denganmu, aku sangat mencintai Luke saudaraku, tidak ada saudara yang membenci saudara kandungnya sendiri, Emma. Tapi Mario membencinya, Mario merasa ibu dan Luke hanya akan membuat kesialan pada keluarga kami, itulah mengapa dirinya sangat ingin membunuh mereka, disaat kejadian dulu aku memang tidak ada disana, aku berpura-pura membenci Luke saudaraku didepan Mario, hingga akhirnya aku dan dirinya benar-benar terpisah, dan terakhir kalinya kami bertemu disaat Mario dan Caroline ibumu menikah, Luke pernah melihatmu, aku merasakan ada hal yang tidak biasa ketika Luke bertemu denganmu waktu dulu"
Aku mendengarkan dengan setia.
"Aku mengetahui Luke diadopsi , dari orang tua barunya Luke melakukan beberapa kali terapi untuk dirinya, untuk kesembuhannya, tapi itu hanya akan bersifat sementara dan tetap tidak mempunyai waktu lama, dirinya bertemu denganmu disuatu tempat yang tidak pernah direncanakan, ketika bertemu denganmu Luke mempunyai perasaan kuat , menginginkanmu lalu bertunangan denganmu, tapi keajaiban itu tidak bisa terus menerus menghampiri dirinya"
"Apa maksudmu? Dimana Luke sekarang Jake? Dimana"
Air mataku mengalir membasahi seluruh pipiku bahkan wajahku kakiku benar-benar melemah, Jake tetap mematung dihadapanku wajahnya benar-benar menegang frustasi.
"Luke dirumahnya, dirinya tidak menginginkan kau bertemu dengannya, tapi kuyakin dirinya sangat ingin bertemu denganmu"
"Bawa aku kesana Jake , kumohon"
Aku terjatuh, terduduk didepan Jake, Jake menangkapku, memelukku kepalaku terbenam didalam d**a bidang Jake, aku merasakan Luke pada diri Jake, menangis sejadi-jadinya, Jake menangis sambil mencium kepalaku menenangkanku.
____
Aku kembali ke Seattle dan sekarang aku berdiri dihadapan Luke.
"Luke"
Suara serakku karena menangis, aku berdiri di depan ranjang milik Luke, dadanya dipenuhi alat-alat ECG , matanya tertutup, wajahnya sangat tenang, kulit putihnya begitu bersih tapi kali ini sangat pucat, lelaki yang kucintai itu sedang terbaring lemah.
Aku mendekatkan tubuhku padanya, aku duduk disisi ranjangnya , memegang tangannya dengan lembut, menangis memandang wajah lembutnya, aku ingin melihat cahaya dari mata birunya lagi, aku merindukannya.
"Luke, bangunlah, mengapa kau tidak pernah katakan padaku kau..."
Aku tidak bisa melanjutkan kata-kataku, Jake duduk dibelakangku, memegang pundakku mencoba menenangkanku.
"Aku mencintaimu, aku benar-benar membutuhkan, kau lupa kau adalah sekarangku dan masa depanku"
Detakan jantung dimonitor ECG sehingga respirasinya tiba-tiba tidak stabil, aku menatap kearah Jake.
"Ada apa dengan Luke , Jake, detak jantungnya semakin melemah"
Dokter dan perawat segera datang, membantu merangsang detak jantung Luke dengan alat pemacu jantung, tidak ada hasil semua nihil, garis-garis yang awalanya berliku-liku dimonitor berubah menjadi garis lurus , tak ada harapan lagi.
Aku melemah benar-benar melemah dan terjatuh dipelukan Jake, Jake memelukku erat sangat erat detak jantung Jake berdetak sangat kencang.
Jake meneteskan air matanya , aku tidak percaya, dokter menatap kearah Jake dan kearahku.
Menatapku, menggelengkan kepalanya pelan.
"Maafkan aku tapi tuan Luke sudah tiada"
Aku menutup mulutku dengan kedua tanganku, menangis sejadi-jadinya , kenapa Luke meninggalkanku disaat aku datang, disaat aku menemuinya , Luke , tunanganku , dirinya pergi meninggalkanku.
Aku menangis didalam pelukan Jake , Jake menenangkanku, aku melepaskan pelukan itu dan pergi kearah Luke, memeluknya, memeluk tubuh seorang yang kucintai .
"Kau merubah keadaanku dengan cepat, lalu kau pergi dariku begitu saja"
"Kau pergi selamanya bagaimana jika aku membutuhkanmu Luke, bagaimana jika aku ingin memelukmu lagi, bagaimana jika aku ingin pergi bersamamu, bagaimana jika aku ingin makan masakanmu lagi, bagaimana.."
Jake memelukku, wajah Luke ditutupi dengan kain putih, Luke dikeluarkan dari kamar miliknya, hatiku sakit , hatiku terasa seperti diiris dengan belati yang sangat tajam ketika Luke dikeluarkan.
"Aku tidak bisa melihatnya lagi"
Aku ingin berlari tapi Jake menahanku.
"Emma, tenanglah, inilah yang terbaik untuk Luke, tenanglah Emma, i'm with you"
Suara Jake serak, aku merasakan sedikit ketenangan dari Jake, pelukan Jake membuatku tenang.
"I need Luke"
Aku tetap menangis didalam pelukan Jake.
___
Sudah dua hari kepergian Luke, tidak ada lagikah Luke Graham dihidupku, aku duduk mendekapkan kedua lututku, rambutku terurai berantakan, mataku sembab karena air mata yang sebentar-sebentar keluar dengan sendirinya jika mengingat hubunganku dengan Luke.
"Nona Steel, apakah anda mau makan sesuatu?"
Gail masuk kedalam kamarku, aku tidak melikriknya , hanya menatap jendela yang memperlihatkan pemandangan danau Redmond yang tenang setenang Luke yang sudah tidak bersamaku lagi.
Aku hanya menggelengkan kepalaku pada Gail, Terdengar tarikan nafas Gail kecewa karena aku tidak mau makan.
"Kalau begitu saya pergi, jika kau butuh sesuatu panggillah aku, kumohon makanlah nona"
Gail pergi meninggalkanku, baru saja sebentar aku kehilangan Caroline sudah disusul oleh kepergian Luke yang meninggalkanku selamanya .
"Sampai kapan kau tidak ingin makan sesuatu apapun, makanlah Emma jangan menyiksa dirimu, kumohon"
Suara Jake dari ambang pintu , terdengar dengan penuh kecemasan, yang bisa kulakukan hanyalah menangis terus menerus.
Jake memberikanku segelas cokelat panas, persis seperti yang dilakukan oleh Luke padaku dulu.
Aku mendongakkan kepalaku, menatap mug putih yang ada dihadapanku, Jake menyodorkannya kepadaku, aku menatap mata Jake yang gelap nan bersinar.
Aku tidak mengambilnya, Jake meraih lembut tanganku, menangkupkan kedua tanganku ke mug putih berisi cokelat panas, tanganku yang semula dingin menjadi hangat ketika aku memeluk mug itu.
"Minumlah,kumohon"
Jake berbisik, suaranya serak aku menarik mug putih itu lalu kuarahkan kumulutku, terasa sangat lezat , tubuhku terasa sedikit hangat setelah meminumnya.
"Jangan siksa dirimu Emma, kumohon kau masih ada aku"
Jake berbisik ditelingaku, lalu memelukku, tanganku masih menangkup mug itu aku terdiam, rasanya seperti aku memeluk Luke, aku menjadi sedikit tenang sekarang bersama Jake, Jake yang dulu merusakku bisa berubaah menjadi seorang yang bisa menenangkanku.
"Thank you"
Aku berbisik, mataku masih terus terasa perih dan ingin menangis.
"Don't say, sudah seharusnya aku berbuat ini padamu"
Jake meraih mug yang ada ditanganku, menaruhnya diatas meja sebelah ranjang besar milik Luke.
"Mandilah, kau terlihat sangat berantakan"
Aku menggelengkan kepalaku, tapi tiba-tiba tubuh Jake yang besar itu mengangkatku dan membawaku ke kamar mandi besar milik Luke.
"Jake lepaskan"
Aku menepuk-nepuk bahu Jake saat dirinya mengangkatku, Jake tidak peduli.
Jake menaruhku diatas tempat duduk yang ada didalam kamar mandi besar itu, lalu membantuku melepaskan pakaianku, aku menurut dengannya , seperti anak balita yang harus menurut ketika ingin dimandikan dengan orang tuanya.
Jake meraih shower disiramkannya padaku dan memberi sabun cair ke seluruh bagian tubuhku, aku sangat berantakan.
"Kau sangat indah"
Suaranya bergetar serak, aku sedikit bergetar mendengar perkataannya.
"Maafkan aku yang sudah merusak tubuh indahmu dulu"
Aku menatapnya, Jake masih tetap melanjutkan pekerjaannya untuk memandikanku.
Aku menggeleng kepadanya, pelan-pelan aku sudab mulai luluh padanya dan ingin melupakan kejadian pahit dimasalaluku.
"Bisakah kau bantu aku untuk melupakan semua itu?"
Jake berhenti menggerakkan tangannya, terkejut mendengar ucapanku, aku hanya saja ingin melupakan kisah pahit dihidupku.
"Sure Emma, tentu saja"
Mata Jake bercahaya, wajahnya tersenyum gigu putihnya yang rapi memperlihatkan senyumannya yang indah dan menenangkan sama seperti Luke.
"Thank you Jake"
"Sudah kewajibanku"
Aku sudah selesai dimandikan dengan Jake, aku sudah bersih sekarang, Jake memakaikanku T-Shirt hitam tak berlengan , belahan dadaku terlihat, aku memakai jeans biru tua, rambutku masih basah, Jake mengambilkan pengering rambut untuk mengeringkan rambutku.
Dia sangat lembut memperlakukanku, mataku kadang-kadang menatapnya, kami saling tatap dan melemparkan senyum satu sama lain.
Aku merasa tenang sekarang bersamanya.
____
"Nona Steel, ada yang mencari anda"
Gail mengejutkanku dari ambang pintu kamar, sudah hampir seminggu aku berada dirumah Luke.
"Siapa?"
Sepertinya tidak ada temanku yang tau rumah Luke, aku berdiri mendekati Gail.
"Katanya teman anda, seorang pria berpakaian rapi"
'Apakah Tyle' batinku bertanya-tanya, bagaimana ini bahkan Jake sedang tidak ada dirumah, aku akan mendatanginya, Tyle juga temanku.
Aku pergi dan menuruni anak tangga, menuju pintu luar.
Ternyata memang benar Tyler yang datang, memakai setelan kemeja linen abu-bau dan celana berwarna abu-abu tua seoadan teihat sangat rapi dan bukan Tyle seperti biasanya.
"Hey Tyle"
Aku berusaha bersikap tenang padanya.
Tyle menatapku tajam tanpa ada senyuman sedikitpun diraut wajahnya , Gail tetap berada disampingku, karena Jake berpesan padanya jika ada seseorang Gail harus menemaniku.
"Apakah kau tidak akan mempersilahkanku masuk Em?"
"Maafkan aku Tyle, tapi aku"
Aku mengingat pesan Jake , aku tidak boleh menerima siapapun masuk kedalam rumah, jika dirinya tidak ada, tapi aku kasihan pada Tyle, dia adalah teman kecilku juga.
"Aku tau Jake tidak mengizinkamu kan, aku tidak peduli"
Tyle masuk tanpa seizinku, aku mundur seketika dirinya masuk dan berjalan kearahku.
"Maaf tuan , sebaiknya anda tetap berdiri disana, tuan Jake sedang tidak dirumah"
Tyle menyunggingkan senyumannya , tidak peduli dengan ucapan Gail, Tyle tetap berjalan kearahku, aku mematung Tyle menangkap tanganku, matanya menyala-nyala saat menatapku.
Tyle mencoba menciumku, Gail berusaha menjauhkan tubuh Tyle dariku tapi Tyle menyikut Gail sehingga Gaik terjatuh mengenai ujung meja yang sedikit runcing.
"Gaiill"
Aku berteriak melihat Gail terjatuh dan berdarah dihidungnya, aku mencoba memberontak dari Tyle.
"Tyle lepaskan aku, kumohon menjauh dariku, apa yang kau inginkan sebenarnya, bicaralah padaku"
Tyle tetap menerjangku, Gail tidak menyerah begitu saja untuk menolongku tapi sayang kedua kalinya Tyle menjatuhkan Gail , Gail jatuh pingsan.
Aku ketakutan sekarang dengannya , apa yang akan dia lakukan padaku.
Tyle mendekapkan tangannya dimulutku, memaksa mencium pipiku, Tyle menamparku, Tyle merobek pakaianku, aku memakai kemeja putih dan sekarang pakaian dalamku terlihat semua.
"Kau begitu indah"
"A...apa yang kau lakukan padaku"
Aku gugup ditubuhnya.
"Aku menginginkanu"
Tangan Tyle menuju kepahaku, tiba-tiba masa laluku membayangiku, tapi aku tidak bisa berteriak, Tyle menjalankan tangannya disekujur tubuhku, nafasnya panas.
Aku melihat dirinya membuka kancing celananya , aku ketakutan tapi aku melemah.
"Duaaarrr" suara tembakan dari arah belakang Tyle, aku terkejut Tyle tertembak.
Jake menembak Tyle, aku membulatkan mataku menatap Jake sedang marah, benar-benar terlihat marah.
Jake berlari kearahku dan memelukku, aku memeluknya kembali.
"Kau baik-baik saja?"
"Aku takut"
"Tenang , aku ada bersamamu, tenanglah sekarang"
"Jangan tinggalkan aku"
Ucapan ini semua yang selalu aku ucapkan pada Luke dulu dan sekarang kuucapkan pada Jake.
___