Rania tidak pernah bergerak saat emosi masih panas. Ia menunggu. Taktik ini ia pahami dari suaminya. Caranya bereaksi dan mencari informasi. Ia lebih dulu membiarkan amarah mendingin dengan kecemasan yang mengendap. Pagi itu, setelah Arka berangkat lebih awal dari biasanya, Rania duduk sendirian di ruang kerja kecil yang jarang ia gunakan. Jendela tertutup dengan tirai ditarik setengah. Cahaya cukup untuk membaca, tapi tidak cukup untuk menarik perhatian dari luar. Ia menekan tombol panggil di ponselnya. “Laras,” ucapnya pelan. Tidak sampai lima menit, pintu diketuk dua kali, kode yang hanya mereka berdua gunakan. Laras masuk dengan langkah ringan. Perempuan itu berusia awal tiga puluhan, berpakaian sederhana, wajahnya tenang dan nyaris tanpa ekspresi berlebihan. Rambutnya diikat

