Kontrak itu ditandatangani tanpa saksi. Hanya Tika, Arka, dan satu lembar kertas berisi pasal-pasal yang ditulis dengan bahasa dingin, tanpa emosi ataupun ruang tawar menawar lagi. Di sana tertulis, tidak ada komunikasi atau pengakuan apapun tentang anak itu, begitu Ia lahir. Sebagai gantinya, Tika akan “diamankan”, hidupnya dibiayai penuh. Identitasnya diganti. Ia akan dipindahkan ke tempat jauh yang cukup, bahkan kenangan tentang kota ini akan terasa seperti mimpi yang terlalu menyakitkan untuk diingat. “Ini demi kebaikan semua pihak,” kata Arka tanpa intonasi, seolah sedang membicarakan pemindahan aset. Tika membaca setiap baris dengan mata basah. Tangannya gemetar saat memegang pena. Ia benar-benar kalah telak. “Bagaimana dengan anakku?” tanyanya lirih. “Dia bukan anakmu la

