5

1578 Words
Seorang pria tampan tengah menikmati pemandangan rintik hujan yang ada di hadapannya. Duduk di dalam kafe berkawan sepotong kue cokelat dan kopi pahit. Sempurna. Beberapa kali dia mendapat lirikan dari wanita yang mengharapkan perhatiannya, namun, semua wanita cantik itu tidak mampu mengalihkan pandangan pemuda itu dari rintik hujan.  Puas dengan derai air yang turun dari langit, dia pun mengambil buku yang ada dari dalam tas hitamnya. Tanpa ragu dia menuliskan: Hari ini aku mendengarnya lagi. Nyanyian sendu di antara rintik hujan. Desau angin yang mengantarkan hawa dingin di telingaku. Lalu, aku teringat tentang kita. Usang dan terlupakan. Di atas segalanya, dirimu adalah hal yang tak berubah. Ada dalam kotak harta karunku. Sengaja kusembunyikan hatiku di sana. Agar suatu saat kau menemukannya. Dan, jika kita dipertemukan lagi. Aku akan menganggap dirimu sebagai sesuatu yang konstan. Kemudian, suara dering ponsel mengalihkan perhatiannya. Dia menekan tombol penerima. ″Adrian,″ ucap suara di seberang. ″Lama sekali.″ ″Yes, Mom. I’ll be there.″ *** Risma bersemangat menyambut kedatangan putra tercintanya. Sudah dua tahun, anaknya itu menetap di negeri asing. Dan, sekarang saatnya dia merayakan pertemuannya. Perempuan itu tak bisa menahan semangat, sofa di ruang tamu pun terasa menyesakkan. Rima, sang asisten rumah tangga pun hanya bisa menggelengkan kepala menyaksikan ulah majikannya. Terdengar suara derap langkah kaki, Risma langsung mengomandokan Rima untuk membuka pintu. Adrian terlihat sumringah menerima penyambutan orangtuanya. Rima segera berinisiatif membawa koper Adrian, melihat itu, Adrian tersenyum dan mengucapkan rasa terima kasihnya. Rima mengangguk dan segera bergegas merapikan barang-barang Adrian, sesuai dengan arahan Risma. ″Darling!″ serunya. Risma memeluk Adrian dan menghujaninya dengan ciuman. ″Teganya membuat Mama menunggu.″ ″I’m sorry. Pemandangan di Jakarta selalu berhasil menarik perhatianku.″ Risma mendengus kesal. ″Pemandangan atau gadisnya?″ ″Ayolah, Mama tahu yang kumaksud.″ ″Paling-paling, mereka ngiler nglihatin kamu.″ Jika ada sesuatu yang dirindukan Adrian di Jakarta, sudah bisa dipastikan dia akan merindukan celoteh Risma. ″Mom, you are the best.″ ″Mandi dulu, baumu itu.″ Adrian mengecup singkat pipi Risma. ″Meski bau, aku tetap keren, kan?″ ″Sure, anak siapa dulu.″ Adrian terkekeh melihat sikap super percaya diri ibunya. Bagaimanapun juga, akhirnya dia bisa kembali ke Indonesia. Dan, kesempatan ini tak akan dia sia-siakan. *** Suasana kamar yang telah lama Adrian tinggalkan, kamar itu masih sama seperti sebelumnya—tidak ada yang berubah. Meja belajar yang sering dia gunakan untuk menulis puisi terlihat penuh dengan pigura foto, ada beberapa buku yang tertata rapi di atasnya. Lalu, ada dua lemari yang khusus Adrian isi dengan bermacam koleksi buku. Yah, sebenarnya Adrian memang senang membaca, buku apa pun.  Di rumah, ada sebuah ruangan yang difungsikan sebagai perpustakaan. Biasanya Adrian menyempatkan diri untuk membaca beberapa koleksi milik ayah atau ibunya. Biasanya Adrian menyempatkan diri untuk membaca selama dua puluh menit. Tapi bukan itu tujuannya pulang ke Indonesia. Ada sesuatu yang harus dipastikannya.  Adrian merebahkan diri ke ranjang dan menghela napas.  ″Andai saja semua bisa diselesaikan secara baik-baik,″ keluhnya. Apa yang harus diselesaikannya? Ah, Adrian .... Dia sendiri pun sebenarnya tidak ingin mengungkit sesuatu itu. Namun, tidak ada jalan lainnya. Dia harus segera menemuinya. *** Sejak Miranti berjumpa dengan Romeo, perlakuannya terhadap Venus berubah seratus delapan puluh derajat. Dia tidak lagi memaksa Venus untuk bertemu dengan pria dari biro jodoh. Miranti juga tidak lagi membandingkan Venus dengan adik perempuannya yang superpopuler. ″Mbak,″ ungkap Anggita yang sedari tadi memperhatikan Venus tengah sibuk menulis di ruang makan, ″apa mungkin Mama kesambet penunggu pohon asam yang ada di pertigaan jalan itu, ya?″ ″Hush, jangan ngawur.″ ″Tapi beneran, Mama aneh.″ Venus sebenarnya ingin mengiakan pendapat adiknya, namun dia tidak tega berlaku durhaka sedemikian rupa. ″Contohnya?″ ″Mama sering banget cengar-cengir sendirian.″ ″Kalau itu bukannya tiap hari begitu?″ ″Ish,″ tepis Anggita, ″terus uang sakuku ditambah, loh.″ Saat itu juga Venus langsung menghentikan kegiatan menulisnya.  Ditatapnya Anggita dengan tatapan yang bisa diartikan ″are you sure?″. Ibunya berubah menjadi seorang wanita yang murah hati? Rasanya, itu masih sulit untuk diterima. Venus paham benar cara ibunya mengelola keuangan. Jarang-jarang mereka berdua dimanja oleh Miranti. Sekalipun sang ibu tengah berbaik hati, ujung-ujungnya Venus ataupun Anggita pasti diminta untuk melakukan sesuatu. Venus tiba-tiba saja mendapat firasat buruk. Tidak sampai beberapa menit, Miranti menghampiri Venus dan Anggita dengan senyum cemerlang.  ″Kamu kapan ngundang si Ganteng itu ke sini?″ tanya sang ibu dengan nada genit yang dibuat-buat. Anggita hampir tersedak mendengar kakak perempuannya akan mengundang seorang cowok ke rumah. ″Si Ganteng?″ ucap Venus dengan nada geli. ″Maksud Mama abang bakso yang sering muter di kompleks itu?″ ″Ya bukanlah, yang tinggi itu, loh.″ ″Pohon kelapa,″ sahut Venus yang disambut dengan perengutan Miranti.  Anggita yang masih jengah dengan pembicaraan dua orang wanita yang ada di hadapannya pun mulai menyuarakan kebingungannya, ″Mbak Venus punya pacar?″ Dan untuk melengkapi rasa tidak percayanya, Anggita pun menambahkan, ″Ndak mungkin. Khilaf, pasti dia khilaf. Pacarnya maksudku″  Jika saja Anggita ini bukan adik semata wayang, Venus sudah pasti akan memberikan pukulan maut atas cerocos pedas itu. ″Nah, Ma. Dengar tuh, ndak mungkin.″ ″Cukup,″ ucap Miranti sambil memberikan komando kepada kedua putrinya untuk tenang. ″Kapan-kapan kamu undang ke sini, ya? Mama pengin ngenalin dia ke Papa.″ Mengajak Romeo ke rumahnya dan membiarkan Miranti memperkenalkan Romeo sebagai calon menantu? Venus sudah pasti tengah dalam keadaan kacau jika mengiakan permintaan Miranti. Tidak. Venus tidak ingin mengajak laki-laki mana pun. Sekali tidak, tetap tidak.  ″Kalo ndak sibuk, ya,″ ucap Venus ogah-ogahan. *** Entah, ini sudah kali ke berapa Nathan mengambil alih kamar Romeo. Adiknya itu dengan santainya berbaring di ranjang; membaca majalah sembari menikmati keripik kentang. Nathan sesekali ber-″aah″ atau ber-″ooh″ ketika menemukan artikel yang menurutnya menarik. Sang pemilik kamar hanya bisa menatap jengah si perusuh; Romeo duduk di kursi kerjanya, tangannya terlipat, dan dia merasa sangat terganggu. ″Nathan,″ katanya. ″Apa kamu tidak ingin kembali ke kamarmu sendiri?″ Nathan menggeleng. Tidak mau. Baiklah, Romeo harus bersabar.  ″Jadi, apa kamu ingin tidur di sini? Nathan, kamu sudah besar. Apa kamu tidak malu?″ ″Ih, Kakak. Lagi seru ini.″ ″Apanya yang seru? Kamu mengotori kamarku, tahu.″ ″Nih,″ ucap Nathan mengabaikan protes Romeo. ″Ada artikel yang bagus. Tahu tidak, ternyata cewek itu lebih suka cowok romantis. Mereka tidak suka dengan cowok yang urakan. Hm ... kayaknya, aku perlu mencoba saran yang ada di majalah ini. Kakak, gimana, berminat?″ Romeo mengerang. Jadi untuk itu Nathan membajak kamarnya? Ranjangnya? Waktunya yang berharga?  ″Astaga,″ seru Romeo. ″Jadi, kamu ke sini hanya untuk membahas artikel itu?″ Nathan menoleh ke arah Romeo. ″Aku hanya ingin menolong kakakku dari status jomblo. Ayolah, ideku tidak buruk, kan?″ ″Aku tidak percaya dengan apa pun yang dituliskan di sana.″ Romeo mengibaskan tangan. ″Teori dan lapangan. Keduanya berbeda. Saranku, buang jauh-jauh majalah itu dan mulailah dari hal dasar: bersosialisai.″ Alis Nathan menekuk. Kecewa. ″Katakan itu pada mata pelajaran sejarah dan ekonomi. Memangnya di sana menyebutkan untuk tidak mengindahkan teori?″ Romeo melipat tangan. Siap mendebat. ″Nathan, jika kamu terjun di bidang yang kutekuni. Di sana kamu akan mendapatkan berbagai hal yang simpang siur. Ya, teori penting. Ya, materi penting. Ya, membaca laporan penting. Namun, ada berbagai hal yang harus kita tilik dari sudut yang berbeda. Terkadang kebenaran datang dari celah yang berbeda. Dan, itulah yang ingin kukatakan padamu.″ ″Bahwa pekerjaanmu membosankan?″ Romeo mengerutkan dahi. ″Aku ingin bilang bahwa ... ah, sudahlah. Lupakan saja. Lagi pula, kenapa kamu masih di sini, sih?″ ″Karena aku kangen dengan kakakku yang masih jomblo ini.″ ″Nathan....″ Nathan kembali mengangkat majalah dan menunjuk sebuah artikel. ″Kak. Serius. Aku geregatan. Kenapa kakak nggak mau pacaran? Lihat, di sini dijelaskan bahwa seharusnya pria yang mapan dalam ekonomi itu lebih mudah mendapatkan pasangan.″ ″Kata siapa?″ ucap Romeo tidak setuju. ″Ya kata penulisnya dong. Yosh, aku akan menolongmu.″ Tidak tahan. Romeo mulai berkomentar, ″Nathan, kalau kamu punya waktu untuk menggangguku, bagaimana jika kamu memperbaiki nilai matematikamu yang merah itu?″ ″Ini nih, manusia yang tidak mau berterima kasih,″ ucap Nathan mengabaikan sindiran Romeo. ″Kak, meskipun jumlah cewek itu lebih banyak daripada cowok, bukan berarti kita bisa berleha-leha. Kak, serius, aku ingin tahu tipe Kakak yang seperti apa? Lemah lembut? Mandiri? Cerewet?″ ″Cukup sampai di sana,″ sela Romeo. ″Aku ada kerjaan penting. Dan kamu ... hush. Pergi.″ Nathan hanya bisa menepuk jidat. Kecewa.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD