Bab 1

784 Words
Tujuh Tahun Kemudian..  "BUNDAA," teriak seorang anak laki-laki yang berumur 6 tahun dengan seragam Taman kanak-kanaknya.  "Hai Sayang, gimana sekolahnya hari ini?" tanya Kinan pada anaknya. Saat ini ia sedang menunggu anaknya keluar dari sekolahnya. Kebiasaannya yang menjemput anaknya kalau ia lagi di luar kantor habis bertemu dengan kliennya.  "Sangat menyenangkan Bun." Aaron antusias. "Ohya, Aaron lapar. Kita akan makan siang bersama kan, Bun?" tanya Aaron dengan wajah penuh harap. Biasanya yang menjemput Aaron di sekolah adalah tetangganya di sebelah apartemen yang kebetulan satu sekolah dengan Aaron, namun karena Kinan ada di luar kantor jadi ia bisa menjemput anaknya. Itu sudah kesepakatan yang Kinan buat dengan sang anak.  "Iya Sayang, kita akan makan siang bersama hari ini." Pernyataan Kinan sontak membuat mata Aaron berbinar bahagia.  "Yey.. horeeeee," teriak Aaron sambil lompat-lompat kegirangan.  Mereka berjalan ke mobil Kinan yang terparkir di depan gerbang sekolah Aaron.  Aaroneo Garazia nama anak Kinan yang lahir enam tahun lalu di kota Paris, Prancis. Tempat ia menimba ilmu setelah mendapatkan beasiswa tujuh tahun yang lalu dan sekarang ia bekerja di salah satu perusahaan lumayan besar di kota Paris.  Kehidupanya di kota ini sangat bahagia, ia bisa sedikit melupakan sakit hatinya di Indonesia.  Mobilnya melaju ke salah satu restoran cepat saji yang berada tak jauh dari sekolah Aaron. Dia memilih tempat dekat jendela dan memesan makanan untuk Aaron yang sudah kelaparan sejak tadi.  "Kamu mau makan apa, Sayang?" tanya Kinan dengan serius membaca buku menu yang ada di tangannya.  "Aaron mau makan yang kemarin Om Abi bawakan untuk kita Bun." Kinan mengerutkan kening tanda bingung tak mengerti maksud makanan yang Aaron inginkan.  "Makanan apa, Sayang?"  "Itu Bun, makanan udang yang di bungkus tepung. Itu sangat enak, Bun." Kinan tersenyum seketika mengingat makanan yang dimaksud oleh anaknya.  "Sayang, makanan yang kayak gitu nggak ada di sini. Pesan yang lain aja, ya?" tawar Kinan kepada anaknya sebab makanan yang diinginkan oleh Aaron itu makanan Jepang sedangkan sekarang mereka sedang ada di restoran cepat saji.  "Yaudah deh, Bun. Terserah Bunda aja," desah Aaron kecewa.  "Baiklah kita makan ayam goreng crispy aja, ya? Ini kan juga makanan kesukaan Aaron?" Kinan mencoba mengalihkan perhatian Aaron tentang udang tepung yang Aaron inginkan.  Begitu mendengar ayam goreng crispy mata Aaron sontak berbinar-binar senang.  "Oke Bunda, Aaron mau makan ayam aja." Kinan menghembuskan nafas lega setelah mendengar jawaban Aaron.  Kinan memanggil salah satu pelayan yang lewat dan memesan ayam goreng crispy untuk Aaron sedangkan Kinan memesan steak daging asap beserta dua gelas minuman jeruk yang dingin dan satu air mineral untuk Aaron.  Setelah pelayan pergi dari meja Kinan dan Aaron, Kinan kemudian seperti biasa bertanya tentang bagaimana Aaron di sekolah hari ini.  "Bagaimana sekolahnya hari ini?"  "Kan Bunda udah tanya tadi?" Bukannya menjawab Aaron malah balik bertanya.  Kinan tertawa kecil, "Maaf Sayang, maksud Bunda. Apa aja kegiatan kamu di sekolah hari ini?"  "Tadi di kelas Aaron menggambar sebuah rumah Bunda terus di dalamnya Aaron gambar ada Bunda dan Aaron. Lalu Miss Janet bertanya kenapa cuma ada Bunda dan Aaron. Ya Aaron jawab sebab di rumah emang hanya ada Bunda dan Aaron yang tinggal. Terus Miss Janet kembali bertanya di mana Ayahnya, Aaron jawab nggak ada. Emang Ayah apa, Bunda?"  Kinan menegang saat mendengar cerita Aaron, apalagi ketika Aaron bertanya soal ayahnya. Aaron memang tak mengenal ayahnya selama ini sebab Kinan tak pernah menceritakan apa-apa pada Aaron. Lagian Aaron tidak pernah bertanya soal ayahnya dan ini adalah pertanyaan pertama Aaron tentang ayahnya.  Kinan yang masih diam tak bergerak sebelum Aaron menyadarkan Kinan dengan menyentuh tangan bundanya, Kinan tersentak kemudian tersenyum canggung menutupi senyum getir di depan anaknya.  "Ayah itu kepala keluarga dalam rumah, pimpinan bagi istri dan anak-anaknya. Ayah yang bekerja untuk membahagiakan anak dan istrinya" Kinan menjelaskan dengan hati-hati dan dengan mudah di pahami anak seusia Aaron.  "Seperti Om Damar ya, Bun?" tanya Aaron dengan antusias. Damar itu teman kantor Abi di kota ini, mereka selalu weekend bersama setiap ada kesempatan dan Aaron cukup dekat dengan anaknya Damar yang bernama Tiara, sebab Aaron hanya beda setahun dengan Tiara yang berusia lima tahun.  Kinan tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Kemudian Aaron kembali bertanya. "Terus Ayah Aaron sekarang di mana?" Senyum yang tadi Kinan perlihatkan kini menghilang begitu mendengar pertanyaan Aaron, pertanyaan ini yang Kinan takutkan keluar dari bibir anaknya.  Dengan tenang Kinan kembali menjawab. "Ada kok, Ayah Aaron ada di suatu tempat yang sangat jauh. Kalau tiba saatnya Aaron akan bertemu dengan Ayah."  "Benar Bunda? Janji?" Aaron meminta Kinan berjanji dengan senyuman polosnya yang pasti akan membuat Kinan luluh.  "Iya, Bunda janji." Kinan membalas uluran tangan Aaron di depannya sambil tersenyum lembut.  Bunda nggak bisa janji sayang, Ayah kamu akan senang melihatmu nanti. Tapi apapun itu Bunda berjanji kamu gak akan pernah merasakan sakit akibat penolakan Ayah kamu, batin Kinan sedih. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD