SEORANG pria dewasa sedang menikmati pemandangan dari gedung kantor yang terdapat di lantai dua puluh yang ada di ruangannya.
Pria tersebut terlihat sangat kacau sampai sekarang, bagaimana tidak? Ia kehilangan jejak dari sahabat sejatinya yang selalu menemani kemanapun dan ada di saat susah dan senangnya. Mereka selalu bersama berbagi cerita, mereka mulai terbiasa dari satu sama lainnya. Namun sahabatnya itu malah pergi sangat jauh dan tidak di ketahui keberadaannya, Kinanty Arumi.
Mobil Audi Suv hitam milik Jerry terparkir di depan rumah mungil dengan halaman cukup luas yang dipenuhi tanaman-tanaman yang indah. Hari ini Jerry akan mengunjungi sahabatnya, siapa lagi kalau bukan Kinan, akhir-akhir ini Jerry memang sibuk akibat kembalinya pacar dicintainya yang selama ini menghilang entah kemana dan itu membuatnya hampir gila.
Untung saja Sandra kembali padanya lagi dan tidak di sangkanya Jerry langsung melamar pacarnya tanpa berpikir panjang dengan alasan takut Sandra akan pergi lagi.
Setelah sampai di depan pintu rumah Kinan, Jerry mengetuknya dengan pelan. Tak lama akhirnya pintu terbuka dan memunculkan wanita paruh baya di depannya.
"Maaf, Mas, cari siapa, ya?"
"Cari Kinanty, Bu. Benar kan ini rumahnya? Maaf, kalau boleh tahu Ibu ini siapa ya?" Jerry agak terkejut karena ada wanita paruh baya asing yang berada di rumah sahabatnya, yang ia tahu Kinan itu tinggal sendirian sejak orangtuanya meninggal 4 tahun yang lalu.
"Oh Kinanty, iya yang punya rumah ini namanya Kinanty tapi yang punya rumah ini sudah pindah. Dan dia menyewakan rumah ini pada saya sekarang."
"Apaa? Ba-bagaimana mungkin. Apa Kinanty bilang dia pindah kemana, Bu?" tanya Jerry dengan wajah kagetnya akibat mendengar ucapan ibu ini. Bagaimana mungkin dia menyewakan rumah ini padahal dia tahu ini rumah kenangan orangtuanya satu-satunya.
"Ah kalau itu saya kurang tahu."
"Oh terima kasih atas informasinya, kalau begitu saya permisi dulu, Bu," pamit Jerry segera.
Setelah pamit Jerry langsung menghubungi Adira sahabat Kinan selain dirinya. Tapi sayangnya tidak di angkat oleh gadis itu sampai kesekian kalinya mencoba menghubungi tetapi hasilnya tetap sama. Akhirnya Jerry memutuskan mengubungi temannya yang kebetulan adalah pacar dari Adira, Dion.
"Halo, Yon, lo di mana?" tanya Jerry cepat begitu Dion mengangkat teleponnya.
"Gue ada di cafe pelangi nih, ada apa?"
"Adira sama lo nggak?"
"Iya, nih anaknya di samping gue. Mau bicara?" tawar Dion.
"Nggak usah, gue mau ketemu langsung aja. Tunggu gue ya?"
Klik..
Setelah mengetahui keberadaan Dion yang ternyata sedang bersama Dira, Jerry langsung menjalankan mobilnya ke sebuah cafe pelangi yang biasa ia nongkrong di daerah Jakarta barat, cafe pelangi. Sesampainya di sana Jerry langsung ke meja tempat Dion dan Dira berada.
"Hai, sorry ganggu kencannya," sapa Jerry pada kedua pasangan ini yang ditanggapi oleh Dion dengan senyuman sedangkan Dira dengan wajah jutek.
"Oh gak papa, bro, ada apa sih?" tanya Dion penasaran.
"Gue Cuma mau tanya soal keberadaan Kinan pada Adira," jawab Jerry.
"Oh silahkan bro."
"Ra, lo tahu nggak Kinan pindah ke mana dan kenapa dia pindah?" tanya Jerry pada Dira.
"Ngapain lo tanya gue?" tanya Dira dengan ketus tanpa menjawab pertanyaan Jerry.
"Kan lo sahabatnya pasti dia ceritalah ke lo kalau dia ada masalah atau apa gitu."
Dira tertawa sinis. "Lo kan juga sahabatnya bahkan jauh sebelum gue jadi sahabatnya."
Jerry tertohok mendengar perkataan Dira. "Iya, tapi dia nggak pernah cerita apa-apa ke gue kalau gue nggak tanya. Dan pasti dia lebih terbuka kalau sama lo kan kalian sama-sama perempuan yang pasti saling mengerti lah."
"Itu karena lo yang nggak pernah mau tahu sama keadaannya, lo egois. Cuma lo yang mau di dengar ceritanya tanpa lo tahu kalau dia punya masalah apa nggak, atau Lagi sedih apa nggak, Lo nggak akan pernah tahu." Dira mulai emosi sampai rahangnya mengeras. Dion yang melihat pacarnya mulai emosi langsung mengelus lengan Dira agar kembali tenang, daritadi Dion Cuma diam memerhatikan keduanya tanpa mau ikut campur.
Sedangkan Jerry hanya diam setelah mendengar perkataan Adira yang memang ada benarnya, selama ini Jerry memang tak pernah peka pada sahabatnya itu. Karena Kinan selalu tampak ceria dan tanpa beban, atau karena Kinan memang pintar menyimpan rasa sedihnya sendirian.
Melihat Dira yang sudah mulai emosi, akhirnya Jerry memilih mengalah saja. Maka dari itu ia langsung pergi dari cafe itu segera dan hanya mengangguk pada Dion saja.
Jerry pulang dengan hasil sia-sia tanpa tahu tentang kabar di mana keberadaan Kinan.
•••
Ketukan pintu dari luar ruangannya menyandarkan lamunannya pada tujuh tahun yang lalu, Indra asisten pribadi sekaligus sahabatnya dari kecil masuk dan mengakatakan sesuatu.
"Pak, yang lain sudah menunggu Bapak di ruang rapat."
"Baik, saya segera ke sana."
Jerry segera keluar dari ruangannya menuju ruang rapat, di mana seluruh manager setiap bagian sudah berkumpul di sana untuk mengadakan rapat laporan akhir bulan.
Suasana hening ketika Jerry masuk ke dalam, mengedarkan pandangan ke seluruh karyawan-karyawan yang hadir. Kemudian Jerry melangkah ke tempat duduk yang barada tepat paling ujung kursi di belakangnya berada jendela besar.
Jerry duduk dengan tenang. "Mari kita mulai rapatnya," sahut Jerry tegas.
•••
Jerry sudah berada dalam ruangannya kembali, setelah rapat selesai ia segera ke luar berjalan menuju lift di ikuti oleh Indra di belakangnya. Namun sejak sejam yang lalu asistennya sudah lebih dulu pulang sedangkan ia sedaritadi hanya diam di ruangannya tanpa berniat untuk pulang sama sekali.
Ia lebih betah berlama-lama di ruangannya yang sepi ketimbang di rumahnya, karena pasti Jerry akan di ceramahi oleh mamanya tentang pernikahan. Setelah kandasnya pertunangannya dengan Sandra akibat gadis itu meninggal dunia enam tahun yang lalu. Membuatnya benar-benar terpuruk di tambah dengan kehilangan sahabat tersayangnya, yang pergi entah ke mana.
Hal yang membuatnya kacau bukan karena meninggalnya Sandra, tetapi dengan kepergian Kinan tiba-tiba tanpa pamit padanya sama sekali. Bahkan sampai sekarang pun Dira masih menutup mulutnya setiap Jerry menanyakannya keberadaan Kinan.
Sambil terus menghela napas, Jerry terus menatap langit malam yang gelap tanpa bintang-bintang. Seperti hidup Jerry yang gelap tanpa Kinan di sisinya, ah rasanya Jerry sudah jadi sang pujangga akibat Kinan.
Seperti bukan dirinya saja.