Bab 3

1231 Words
KINAN yang berada di ruangannya sedang menekuni pekerjaannya tiba-tiba suara telepon yang di meja berbunyi. “Ya, dengan Kinanty Arumi di sini.” “Kinan, bisa ke ruangan saya sekarang?” tanya seseorang dibalik telepon yang tak lain tak bukan Direktur Utama perusahaan tempat Kinan bekerja, Albert Pattison. “Baik Sir.” Setelah menutup telepon, Kinan langsung bergegas ke ruangan bossnya, Mr. Albert. Tok... Tok... Tok Setelah mendengar suara dari dalam mengatakan ‘masuk’. Kinan membuka pintu ruangan tersebut dan berjalan menuju ke meja Mr. Albert.  “Ada apa memanggil saya, Sir?” tanya Kinan. Mr. Albert tersenyum dan mempersilahkan Kinan duduk di depannya dengan menggunakan isyarat tangannya kemudian berkata maksudnya memanggil Kinan. “Saya memanggil kau ke sini, karena saya ingin meminta bantuanmu untuk mengunjungi klien kita yang ada di Indonesia. Untuk menggantikan saya membicarakan tentang kontrak kerjasama akan di perpanjang atau tidak,” jelas Mr. Albert.  Kinan menegang di tempat duduknya mendengar Indonesia, Negara kelahirannya. Negara yang di hindarinya selama tujuh tahun ini, Negara yang membuat dadanya sesak setiap kali mengingat ada seseorang di negara itu yang sangat Kinan cintai sampai sekarang yang ia tinggalkan demi kebahagian pria itu. Melihat Kinan diam Mr. Albert bersuara, “Bagaimana Kinan apa kau bersedia?” tanya Mr. Albert kembali. “Kenapa saya, Sir? Padahal ada Sir Jonathan selaku wakil dari Direktur Utama.” Mr. Albert tersenyum tipis. “Iya, dan kau saya menunjuk untuk mendampinginya karena selain itu kau juga harus membantu mendesign salah satu cabang di kantor klien kita itu selama kau di sana nanti.” “Berapa lama Sir, Saya di sana? Dan kapan saya berangkat?” tanya Kinan akhirnya mengalah karna dia harus profesional karena ini pekerjaannya. “Cuma dua minggu saja, kau dan Sir Jonathan akan berangkat besok.” “Baik Sir, saya akan menyiapkan semuanya. Kalau begitu saya permisi dulu Sir,” pamit Kinan sambil menghela nafas berat. Cuma dua minggu.  Mr. Albert Cuma menganggukkan kepalanya. “Silahkan.” Kinan berjalan kembali ke ruangannya, sepanjang berjalan ia tak henti-hentinya berpikir positif. Jakarta itu besar, jadi nggak mungkin kita bisa bertemu pastinya. Apalagi aku hanya Cuma dua minggu saja, batin Kinan.  ••• Sesampai di apartemennya Kinan langsung menuju ke dapur mengambil air dingin dan meminumnya. Dan betapa kagetnya ketika Kinan mendengar suara berat berasal dari belakangnya. “Baru pulang?” tanya seseorang pria yang ternyata Abi, sepupu dari Dira sahabat baik Kinan. Abi selama ini membantunya dari awal Kinan datang di negara ini sampai sekarang.  “Ah Mas Abi. Bikin kaget aja, aku kira siapa.” “Maaf, membuatmu kaget.” Abi mendekat pada Kinan dan mengelus pipinya dengan lembut. “Baru pulang?” mengulang pertanyaannya tadi. Kinan menatap Aaron dengan dengan lekat. “Iya, Mas, udah dari tadi di sini? Terus Aaron mana?” “Iya udah dari tadi siang Mas disini, dan Aaron udah tidur.” Abi menatap kinan gadis yang dicintainya dengan diam-diam. Ya, Abi tak bisa memungkiri kalau ia sudah jatuh cinta pada Kinan yang di kenalnya melalui sepupunya yang cerewet itu, Dira. Apalagi mendengar cerita hidup Kinan dari Dira, rasa simpati pada gadis itu muncul begitu saja. Dan setelah bertemu secara langsung sosok yang hanya ia tahu dari sepupunya itu, perasaan itu tumbuh begitu saja tanpa bisa ia hindari lagi.  “Mas, aku mau ngomong sesuatu sekaligus mau minta tolong.” Kinan teringat akan tugasnya Indonesia nanti, kebetulan Abi berada disini maka Kinan mengatakannya saja sekalian minta tolong menjaga Aaron selama ia pergi.  “Ada apa? Katakan saja Mas pasti akan bantu.” “Aku ada dinas keluar, dan aku mau minta tolong Mas Abi jagain Aaron selama aku pergi.” “Berapa lama dan ke mana?” “Hanya dua minggu saja, Mas. Dan... Aku tugasnya di Indonesia.” Abi langsung menatap Kinan dengan cemas, bagaimana tidak? Abi sangat tahu kisah sedih Kinan di Indonesia dan ia tahu kalau sekarang Kinan lagi takut karena sebentar lagi Kinan akan kembali ke Indonesia. “Kamu nggak apa-apa? Atau kamu mau ngebatalin aja dinasnya? Biar Mas yang ngomong sama Mr. Albert untuk orang lain saja yang mengantikan kamu?” tawar Abi. “Nggak usah, Mas, aku baik-baik saja kok. Biar aku yang berangkat kan cuma dua minggu ini.” “Kamu yakin?” tanya Abi ragu.  “Iya, Mas aku yakin, aku harus profesional. Kan lagipula aku belum tentu ketemu dia, Jakarta kan luas hehehe,” hibur Kinan sambil terkekeh pada Abi dan untuk dirinya juga. “Yaudah, kalau begitu aku akan jagain Aaron selama kamu pergi nanti, dan ingat kalau ada apa-apa hubungi aku secepatnya.” “Siap bos,” Kinan memberi hormat pada Abi. “Lagian kan ada Adira juga disana, gadis bar-bar itu akan menjagaku pastinya,” lanjut Kinan.  “Hahaha iya ya, kenapa aku bisa lupa sama gadis bar-bar itu.” Abi berkata sambil tertawa.  “Iya, oh ya, Mas udah makan? Mau aku masakin sesuatu?” “Nggak usah, Mas udah makan tadi sama Aaron. Kamu istirahat saja, ya, Mas pulang dulu.” “Oh yaudah kalau gitu Mas hati-hati ya, sekali lagi makasih,” kata Kinan.  sesampainya di depan pintu apartemennya mengantar Abi ke depan.  “Iya sama-sama, apa sih yang nggak buat kamu. Mas pamit dulu.” Abi tersenyum pada Kinan dan mencium kening Kinan lama sebelum Abi menghilang dari pintu meninggalkan Kinan sendirian dengan perasaan kacau, bagaimana tidak pria itu sangat baik padanya dan bukannya Kinan tidak tahu kalau Abi sangat mencintainya. Tapi Kinan belum bisa membuka hatinya pada Abi saat ini, karena jauh di lubuk hatinya yang paling dalam dia masih mencintai seseorang yang jauh di seberang belahan bumi lainnya yaitu ayah dari anaknya sekaligus sahabatnya. Jerryawan Kenzo. ••• Pagi harinya Kinan sudah siap untuk berangkat, sekarang Kinan sudah di Bandara bersama Jonathan, Abi dan Aaron yang akan mengantarnya. Sedari tadi Aaron tak mau melihat bundanya karena Aaron masih merajuk pada bundanya. Bagaimana tidak? Kinan tak pernah meninggalkan Aaron, kalau Kinan dinas keluar pasti Aaron akan ikut. Namun kali ini Aaron tidak dibawanya serta, selain alasan Aaron harus sekolah Kinan juga punya alasan lain yaitu Jerry. Kinan takut Aaron ketemu Jerry walaupun Kinan tahu itu Cuma kemungkinan kecil namun ia tak mau mengambil risiko. “Aaron,” panggil Kinan lembut, supaya dapat perhatian penuh dari sang anaknya. Namun sepertinya Aaron tetap dalam mode merajuknya.  Akhirnya Abi yang turun tangan ikut membujuk Aaron. “Bundanya mau berangkat Sayang. Apa kamu nggak mau ngucapin sesuatu pada Bunda,” bujuk Abi pada Aaron yang masih tak mau melihat bundanya. Aaron hanya menggelengkan kepalanya sambil melihat kearah lain. “Yaudah kalau Aaron nggak mau bicara sama Bunda, gak papa. Bunda pamit ya, kamu jangan nakal dan juga jangan menyusahkan Om Abi selama Bunda pergi,” kata Kinan sedih karena Aaron tak mau melihatnya. Kinan berbalik menatap Abi. “Mas, aku titip Aaron, ya.” “Iya, kamu nggak usah khawatir. Kamu jaga diri baik-baik di sana. Hati-hati ya.” Kata Abi sambil memeluk Kinan erat dan mencium kening Kinan. “Makasih ya Mas, aku pamit dulu.” Abi hanya tersenyum lembut dan menganggukkan kepalanya. Akhirnya Kinan berjalan dan langsung masuk ke pesawat dengan setengah hati, dan diikuti oleh Mr. Jonathan dari belakang. Pertama karena Kinan masih khawatir dengan anaknya, Aaron yang masih marah padanya. Dan yang kedua Kinan belum siap untuk bertemu dengan Jerry kembali saat sampai ke Indonesia, keyakinan yang kemarin ia sangat yakin akan hal itu namun mengapa sekarang ia jadi ragu. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD