Ningsih terkekeh mendengar perkataan Wisnu.
" Panggil saja mas atau apalah asal jangan bapak.. "
"Kalo begitu kakek saja"
"Ya gak itu juga kali... "
"Ya sudah panggil aku mas saja. "
"Baiklah"
Mereka berdua pun tersenyum bahagia.
Dari situ Ningsih merasakan kebahagiaan ada getaran aneh saat itu.
"Aku mau bicara serius... " Lanjut Wisnu kali ini matanya serius. Ningsih pun mulai merasakan hal aneh.
"Aku mau melamar mu... "
Ningsih terdiam ia bingung sebab bagaimana menjelaskan asal usul dirinya. Apakah ia akan di Terima di keluarga Wisnu?
"Hey kok bengong? "
Ningsih tersenyum lalu mengangguk mantap.
Tuhan aku memang bukan manusia yang begitu dekat dengan Mu tapi aku percaya Engkau Maha Penyayang... Aku hanya ingin bahagia tanpa merasakan hidup sendiri...
Angin semilir berhembus, mentari seolah malu-malu menampakan sinarnya di balik pohon mangga yang rindang.
Ningsih merasakan sesuatu yang aneh desiran bahagia begitu terasa di hatinya. Kini hatinya tidak merasa kosong dan hampa. Kebahagiaan yang di damba itu kan tiba.
Bunga bunga di pinggir jalan yang tumbuh liar tampak indah meliak liuk di terpa angin.
"Mah ijinkan Wisnu memperistri Ningsih... " Kata Wisnu saat meminta ijin, Ningsih menuunduk tak berani menatap kedua orang tua beserta adik Wisnu.
"Mamah ijin Nu, mama suka pada Ningsih, " Ada binar bahagia di mata ibunya Wisnu. Pun dengan ayahnya menangguk mantap.
Pernikahan berlangsung mewah pasangan cantik dan tampan membuat iri para pendatang, tapi tidak dengan Chelsea teman dekat Wildan adiknya Wisnu, sejak lama ia menyukai Wisnu, mencuri pandang tiap hari bermain kerumahnya hanya untuk mencari perhatian keluarga Wisnu, Chelsea merasakan angin segar ia sangat yakin bahwa ia akan menjadi bagian dari keluarga itu ah nyatanya tidak. Ningsih perempuan kampung yang tak jelas asal usulnya ternyata yang menjadi bagian keluarga konglomerat itu, padahal mengenalnya sangat singkat.
Chelsea menyimpan dendam ia tak bisa menerima takdir ini, karena ia yang lebih pantas mendapat kan Wisnu.
Pasangan pengantin itu tampak bahagia. Sang ibu melepaskan putra sulungnya berumah tangga berharap cucu yang lucu yang akan menemani hari tuanya.
Kebahagiaan itu dapat di rasakan semua orang tampak syahdu dan tenang.
Kini mereka resmi menjadi suami istri betapa bahagianya hati Wisnu, sungguh Ningsih adalah pujaan hatinya yang akan ia jaga dengan penuh kasih, kecup kening Ningsih getaran cinta itu semakin menggebu.
"Aku mencintaimu, sungguh, akau akan selalu mencintai mu setiap detik. Seperti ini... " Lalu kedua tangan Wisnu didekat kan jemari di bikin jembatan dengan jari tengah jari yang lainnya menempel sagu sama lain.
"Ini lambang cintaku pada kedua orang tua ku... " Jari jempol yang di satukan dan di pisah...
"Namanya anak sama orang tua pasti akan menjalani hidupnya masing masing ketika dewasa. "
Lalu jari telunjuk di satukan dan di pisah juga.
"Nah ini cinta dan kasih sayang sama sodara sodara kita sama ketika dewasa akan menjalani hidupnya masing masing.. Sedangkan ini jari tengah yang menjadi jembatan merupakan jalan hidup dan takdir yang harus kita jalani dengan ikhlas. "
Ningsih terdiam memperhatikan dengan serius.
"Nah ini jari manis coba kamu berusaha untuk memisahkan nya pasti gak bisa... Coba sekuat kamu"
Kali ini Ningsih tampak kesulitan dan berusaha untuk memisahkan jari manisnya tak bisa.
"Nah sepeti itulah cintaku tak bisa melepaskan... " Senyumnya melebar, Ningsih pipinya memerah.
"Jari kelingking adalah kasih sayang kita pada semua makhluk-Nya... "
Lalu Ningsih bersender pada bahu Wisnu yang bidang. Ia merasa sesuatu yang tak pernah ia rasakan sebelum nya. Kebahagiaan kehangatan kenyamanan.
Setelah pernikahan itu kebahagiaan semakin lengkap saat kedua orang tua Wisnu sangat menyangi Ningsih.
Semua berjalan lancar setahun dua tahun belum juga di karuniakan anak.
Ibu Wisnu sangat mengharapkan kehadiran cucu. Namun belum ia dapatkan. Ini menjadi kesempatan Chelsea untuk menghasut bu Raya agar membenci Ningsih dan mengusir nya lalu menikah Wisnu dengannya.
"Ningsih asal usulnya tak jelas loh mom, dia itu bisa jadi terlahir anak haram, mungkin juga mandul"
"Hush jangan begitu chel.. Mama yakin Ningsih adalah wanita baik. "
"Tapi beneran mom... mom harus selidiki juga siapa tau Ningsih mandul. "
"Sudahlah jangan gosip terus"
Ya namanya manusia jika tiap hari di hasut terus sebaik apapun jika si penghasut nya gak nyerah pasti bakal percaya juga dan itu yang di rasakan bu Raya terhadap Ningsih ia mulai bersikap beda hingga puncaknya saat...
Saat Chelsea bercerita bahwa Ningsih tengah dekat dengan pegawai nya. Dari situ bu Raya mulai percaya saat Ningsih tengah berduaan dengan pegawai barunya. Dan membenarkan perkataan Chelsea.
"Bu, selidiki lah istrimu, jika ia berbuat serong betapa kurang ajarnya dia... " Suatu hari bu Raya berkata pada anaknya dengan nada benci.
"Kenapa mama ngomong seperti itu? Bukankah mama tau sendiri kalo Ningsih anak yang baik. Aku percaya pahala ma.. "
"Kamu ini keras kepala, susah di bilangin. "
Wisnu percaya tak mungkin Ningsih seperti itu.
"Kamu liat foto ini Nu... "
Raya memperlihatkan ponsel yang di dalamnya ada gambar foto Ningsih dengan lelaki. Wisnu tertawa..
" Ya ampun mam.. Itu pekerja Ningsih yang sudah di anggap tantangan adik, dia itu anaknya bu Retno.. Sudah lah mam.. Kenapa mama jadi seperti ini.. "
Raya malah semakin jengkel..ia merasa putra sulungnya berubah sejak nikah sama Ningsih.
"Ini ma keripik coklat kesukaan mama Ning taro disini ya... " Ningsih menyimpan keripik coklatnya di dalam toples di atas meja depan kamar mertuanya.
"Taro situ aja... "
Akhir akhir ini mama mertuanya terasa berbeda apa yang di perbuatanya salah, selalu ketus saat di tanya..
Bu Raya makin hari makin dekat pula dengan Chelsea.. Namun Ningsih tak ingin berprasangka buruk pada ibu mertuanya. Ia berusaha memahami mertuanya itu lebih dari ibu kandung nya.
Karena sejak kecil Ningsih tak pernah merasakan belaian seorang ibu.
Keadaan rumah sangat sepi, Wisnu di kantor, Ningsih agar tak bosan ia pergi ke toko keripik pisang coklat nya, sedangkan bu Raya dan suaminya sedang pergi ke kerabatnya, adiknya Wisnu, Wildan tengah sibuk mempersiapkan berkas berkas untuk melanjutkan studinya di Eropa.
Saat itu kesempatan emas bagi Chelsea untuk memfitnah Ningsih ia tengah mencampurkan sesuatu pada keripik pisang coklat milik bu Raya.
"Mungkin ini satu satunya cara agar Wisnu mau menikahi ku. "
Tak perlu waktu lama saat bisa Raya pulang ia langsung ngemil kesukaan nya itu, namun setelah makan itu tiba-tiba pandangannya kabur lalu pingsan.
Saat itu Wildan baru pulang dan melihat ibunya tergeletak di sofa dengan toples keripik coklat tak jauh darinya.
Wildan panik dan terkejut melihat ibunya seperti itu..
"Bu, ibu kenapa? "
Dengan panik Wildan membawa ibunya ke rumah sakit setelah di tangani rupanya bu Raya mengalami gejala struk yang mengakibatkan ia tak bisa berjalan.
"Mom tau siapa penyebab semua ini, ya itu Ningsih, ia tak hanya ingin merebut bang Wisnu tapi juga harta mom... "
"Benarkah itu chelsea?, jika benar keterlaluan sekali si Ningsih itu... "
"Tentu saja Dan.. Bukankah momi Raya pingsan setelah makan keripik pisang coklat nya Ningsih? "
"Ya memang benar... Gak bisa di biarkan... "
Bagi Ningsih baru sebentar mendapatkan kebahagiaan itu kini telah sirna dalam sekejap saja keluarga Wisnu membencinya. Ia rela jika Wisnu akan meninggalkanya.
"Itu tidak benar mam... Gak mungkin Ningsih melakukan nya... " Wisnu tetap mengelak seburuk apapun Ningsih kata mereka, Wisnu percaya istrinya tidak seperti itu.
"Kamu lebih percaya wanita itu ketimbang mama yang telah melahirkan kamu Wisnu..."
"Bukan begitu mam... Tapi Ningsih tidak seperti itu.. "
"Ya sudahlah... Mama kecewa sama kamu... Jika kamu pilih mama kamu nikah dengan Chelsea tapi jika kamu masih memilih wanita yang tidak tau asal usulnya itu pergilah kamu dari rumah... Mama kecewa sungguh... "
Ucap bu Raya ada getaran pedih di hatinya saat mengatakan itu. Sungguh ia tak rela jika Wisnu pergi menjauh dari kehidupan nya.
"Tidak mam, bagaimana mungkin Wisnu meninggalkan keluarga Wisnu sendiri.. Wisnu cinta kalian. "
Kali ini Wisnu benar benar frustasi, tapi namanya kehidupan ia menjalaninya dengan ikhlas.
Ia percaya mamanya hanya salah faham aja. Lambat laun Ningsih akan kembali merebut hati mama.
Namun yang terjadi bu Raya semakin enggan melihat Ningsih apalagi melihat betapa sangat mencintai nya Wisnu pada Ningsih...
Marah kecewa semua bersatu menjadi sebuah kebencian, sindiran-sindiran yang menyakiti hati Ningsih namun tak goyah Ningsih membencinya ia tetap hormat dan mencintai keluarga suaminya itu..
Wisnu semakin tak tega melihat perlakuan keluarga nya pada Ningsih, ia tak tahan melihat Ningsih harus di hina setiap saat, sedikitpun Ningsih tak pernah meminta buat pergi dari rumah namun Wisnu memahami keadaannya ia harus pergi...
Membina keluarga kecilnya. Ya pada akhirnya Wisnu mengalah.
sejak saat ini keluarga Wisnu menjauh.
Wisnu merantau dengan keuangan seadanya. namun berbekal ilmu dan pengetahuan juga keahlian nya di bidang pekerjaan nya Wisnu melesat naik jabatan tinggi di kantornya, hidupnya semakin membaik.
Ningsih tak lagi berjualan keripik pisang coklat ia harus istirahat di rumah, setiap minggu jalan jalan, ya mereka hidup bahagia.
dan kebahagiaan itu melipat tatkala Ningsih hamil, betapa bahagianya pasangan kekasih itu. terutama Wisnu ia akan menjadi seorang ayah kebahagiaan nya sungguh melipat, memang ia sangat rindu pada orang tuanya dan ia akan pulang setelah anak mereka lahir siapa tahu setelah melihat anak itu hati kedua orang tuanya akan luruh.
saat Wisnu menghadiahkan pada mobil, dan mereka mencobanya mobil mereka menabrak pohon, penyebab nya tak di ketahui dan saat itu penderitaan Ningsih bermula.
kejadian mobil itu sungguh di luar dugaannya.
kini Ningsih meratap sendiri...
betapa suaminya sangat mencintai nya, ini kesalahan nya sendiri yang ngotot ingin mencoba mobil barunya. andai ia nurut mungkin kejadiannya tak seperti ini..
di sudut petak kecil ini Ningsih menangis tersedu, ia tak bisa memaafkan dirinya sendiri. ia memang mengeluh kecewa dan marah pada Tuhan, mengapa semua ini terjadi..
ah ia lupa membuka pesan suaminya kotak yang berisi berlian di bawah lemari paling sudut.
tidak saat ini ia hanya ingin menangis. sungguh sesak rasanya kembali sebatang kara tak memiliki siapapun di dunia ini selain suaminya yang selalu memuliakan dirinya selama ini.
"Tuhan maafkan aku... beri aku kesempatan untuk bertemu mas Wisnu,, aku ingin abdikan diriku padanya... aku ingin menjadi wanita yang sholih. "