episode hidup Ningsih

1420 Words
Bayangkan saja saat tertidur karena sangat lelah, lalu tiba-tiba disiram air dengan cara di hempaskan dan itu membuat rasa sakit. Ningsih terbangun lalu menajamkan pandangannya pada sosok wanita cantik berkaki jenjang yang sedang melototinya. "Loe siapa? Maling? Tidur sembarangan " Tanyanya sambil bertolak pinggang. "Saya Ningsih teh, saya yang mencuci dan menyetrika baju atas ijin bu Sandra " Jawab Ningsih dengan gugup. "Ouh bunda yang nyuruh lo?! Ya sudah sorry.. " Lalu ia melangkah ke kamar tanpa memperdulikan Ningsih tanpa rasa sesal dan tanpa rasa malu. Ningsih segera bergegas pamit pada bu Sandra tapi seperti nya bu Sandra belum pulang. Yang ia tahu di rumah ini sepi bu Sandra tadi pagi buru buru lalu siangnya ada anak muda trus ada perempuan yang belum ia tahu. Lebih baik ia pamit dan izin saja pada yang ia temui di rumah. Biar besok kembali lagi. "Lo mau putusin gue?!! " Prakkk Di kamar yang tak jauh dari Ningsih terdengar kegaduhan. Seperti nya perempuan tadi. "Lo selalu buat gue ilfil, hal sepele bisa jadi besar. Males gue ngadepin sikap lo yang kayak anak i***t" Jawab lelaki datar tanpa mempedulikan si wanita. "Kurang ajar! " "Argghh" Lalu yang terakhir terdengar adalah sebuah erangan kesakitan, Ningsih bingung, ia tak ingin ikut campur tapi bagaimana, seperti nya ada butuh bantuan. "Rasakan! " Tak lama wanita berpakaian warna merah itu berlalu dengan rasa puas. "Minggir! " Wanita tersebut berlalu setelah mendorong Ningsih yang sedang berdiri mematung. Lalu suara kesakitan itu tak terdengar lagi. "Astagfirullah " Ningsih terkejut saat mendapati lelaki bertubuh besar itu terbaring dengan darah yang mengalir di bagian kening, serta serakan vas bunga beling juga darah berceceran. Ningsih segera membantu lelaki itu sebisanya ia bingung akan mengabari siapa. Lalu ia meninggalkan lelaki itu di teras rumah dan mencari bantuan. Namun saat Ningsih akan berlalu bu Sandra datang. "Adzriel.... " Teriaknya kaget mendapati anak lelakinya bersimbah darah. "Apa yang terjadi Ningsih? " Ningsih tak kalah kaget ia bingung jawab apa. "Lebih baik cari bantuan saja bu. Saya bingung menjelaskannya " "Kurang ajar kamu?! " Tetiba saja bu Sandra menampar Ningsih. "Apa yang kamu lakukan terhadap anak saya hah? " "Sa.. Saya tidak tahu bu" Ningsih menangis ia membela diri pun percuma. Namun Ningsih meninggalkan bu Sandra, dia meminta pertolongan tetangga. Tak lama dua lelaki muda mendatangi bu Sandra disertai Ningsih di belakang nya. "Tolong anak saya pak.. " "Baik bu... " Lalu mereka membawa lelaki bernama Adzriel kerumah sakit. "Kau tak perlu ikut Ningsih... Urusan kita belum selesai..!" Ningsih menunduk ia pulang tanpa membawa uang pun makanan, ia bingung masalah apalagi yang akan ia hadapi. Suaminya pasti belum makan. Perutnya pun sangat perih karena menahan lapar, wajah cantiknya tanpa muram, tak ada cahaya ataupun kebahagiaan. Setibanya dirumah Ningsih di kagetkan entah dimana suaminya berada. "Jangan cari aku, mungkin aku telah tiada. Kau berhak bahagia. Di kotak itu ada berlian peninggalan kakekku dulu sengaja kusimpan sebab amanah kakek berlian itu tak boleh di jual kecuali keadaan mendesak kotak itam itu ada di bawah lemari paling dalam. Itu untukmu istriku. Aku selalu mencintai mu. Aku ridho padamu. Jika aku masih panjang umur aku hanya ingin melihat mu bahagia. " Secarik kertas tergeletak di atas meja. Manik mata Ningsih menangis. Ia merasa bersalah. Ah ujian ini begitu berat. Tuhan kapan aku bahagia... Ningsih terduduk entah ia harus bahagia atau sedih yang pasti hatinya kosong,hampa. Entah apa yang menjadi tumpuan hidup saat ini. Rasanya ia ingin pergi ke alam lain. Sejak kecil ia merasa kesepian sendiri tanpa teman. Ia tipe wanita yang kaku, dingin pada siapa saja. Ningsih di temukan bunda Arini pengasuh panti saat ia berusia lima tahun. Seperti biasa hidup di panti selalu mengharapkan kebaikan dari para dermawan yang hartanya banyak. Teman-teman Ningsih selalu bahagia saat mendapat apapun, namun ia bersikap biasa saja, tidak bahagia dan tidak sedih. Saat menginjak remaja ia nekat pergi dari panti mencari kehidupan baru. Masuk sekolah SMP daftar sendiri. Apapun ia lakukan untuk mendapatkan uang. Dari mulai mencuci baju menyetrika mencari barang bekas apapun yang menghasilkan uang ia kerjakan. Baju sekolah, Buku-buku ia beli sendiri dengan uangnya. Uangnya ia tabung untuk makan sehari hari seadanya. Banyak yang ingin mengangkat Ningsih sebagai anak, karena selain memiliki paras yang cantik juga rajin. Namun Ningsih menolak ia tak ingin hidup di kasihani. Ia ingin mandiri. Sebenarnya dalam hatinya ia ingin seperti yang lain seperti teman teman pada umumnya. Bermanja sama orang tua, apa yang di kasih orang tua pelukan perhatian. Sungguh Ningsih ingin merasakannya. Namun ia menyadari bahwa Tuhan punya rencana, ia bisa tegar dan kuat menghadapi kehidupan ini. Hatinya tak mudah rapuh. Ningsih juga selalu mendapat juara satu di sekolahnya. Entah di berikan pada siapa prestasi nya itu. Ia pun tak tahu merasa hampa. Pulang dari sekolah ia bekerja cuci gosok pada tetangga. Uangnya sebagian ia tabung. Ia juga dagang kecil kecilan. Sehari selalu membawa cimol seratus bungkus dan itu selalu habis. Tabungannya mulai banyak. "Nak Asih ini ada pisang, kebetulan suami ibu sedang panen. Bu Retno langganan Ningsih memberinya setundun pisang mentah. Ningsih menerima nya dengan senyuman. Oh iya jika di tanya dimana Ningsih tinggal. Ia tinggal di sebuah perumahan yang ramai penduduk nya. Ia di beri ruangan kecil beserta kamar mandi untuk di tinggali Ningsih dari bu Retno. Dulu tempat ini adalah kontrakan namun karena belum di renov sebagaian tempatnya banyak yang rusak maka di biarkan begitu saja. Hari itu Ningsih di tawari bu Retno sebagai anak angkat namun Ningsih menolak nya dengan halus ia ingin hidup tanpa bergantung pada orang lain. Karena Ningsih tak ingin di ajak tinggal bersama maka ia meminta ijin agar ia bisa tinggal di tempat yang sudah tidak terpakai... Bu Retno pun mengijinkannya. Di berinya alas tidur, peralatan dapur untuk sehari hari Ningsih, namun Ningsih membayar nya dengan kerja yang rajin di rumah bu Retno. Ningsih mulai bangkit bermula disini. Pisang itu ia goreng menjadi keripik. Di goreng lalu ditiriskan agar minyak gak terlalu banyak menempel. Dengan uang tabungan nya ia gunakan untuk modal jualan. Keripik pisang coklat lumer. Ia membeli peralatan masaknya, plastik, coklat batang, gula halus juga bungkus nya Mika kotak yang cantik. Ningsih tak ingin memberikan yang murah untuk jualan nya ia ingin memberikan kualitas terbaik. Siapa sangka ternyata pisang coklatnya laku keras di sekolah juga tetangganya pada suka. Usaha nya mulai maju banyak tetangga yang jadi pekerja nya. Rangking di sekolah nya mulai turun karena kesibukan, ya di usia sekolah Ningsih sudah memiliki karyawan 10 orang. Saat menginjak SMA pesanannya meningkat pesat sebab sekolah SMA yang ia pilih adalah SMA paporit dimana siswanya kebanyakan adalah orang orang kaya. Suatu hari pertemuan dengan Wisnu bermula. Bu Raya adalah ibunya Wisnu ia sangat senang dengan keripik pisang coklat lumernya Ningsih. Saat itu Ningsih sendiri yang mengantarkannya ke rumah bu Raya sebab kurir pengantar nya sedang sibuk mengantarkan pesanannya ke pelanggan yang lain. Ningsih menyupiri sendiri mobilnya saat itu berpapasan dengan Wisnu yang terburu-buru. " Maaf " Ucapnya kala itu. Pesanan bu Raya pun berjatuhan. Ningsih merapikan keripik pisang nya Wisnu segera masuk ke dalam rumah. "Laptop Wisnu ketinggalan ma, " Katanya sambil berlalu namun kali ini tatapan nya tertuju pada Ningsih yang mengenakan jilbab merah marun. " Maaf bu ini pesanan nya tadi sempet terjatuh di depan. " Ningsih segera mengalihkan pandangan nya "Ouh iya tak apa Ningsih. Sini pesanan ibu. " Ya bu Raya selalu mengetik cemilan keripik pisang Ningsih seminggu sekali. "Maaf ma, tadi Wisnu gak sengaja yang nyenggol pesanan mama itu. " "Makanya lain kali hati hati, loh bukannya tadi terburu-buru? Kok sekarang malah merebut cemilan mama. " Wisnu hanya nyengir lalu berlalu. "Ini uangnya Ningsih. "Bu Raya menyerahkan lembaran uang. " Loh ini lebih bu" "Tidak apa saya puas dengan keripik pisang kamu " "Tidak bu, maaf saya tidak bisa menerima lebihnya bu. " Tolak Ningsih halus. Sambil memberi kelebihan uangnya.. Ya pertemuan pertama kali dengan Wisnu memang unik. Bahkan Ningsih merasakan biasa saja tak ada yang aneh. Namun semua begitu cepat, Wisnu selalu yang mengambil pesanan ibu nya bahkan tak jarang Wisnu lebih banyak menghabiskan waktunya di sana. Saat itu Ningsih baru lulus SMA. Ya sejak SMA memang banyak lelaki yang mendekati Ningsih namun ia tolak halus ia lebih fokus pada usahanya. Ia sekarang faham tujuan hidupnya adalah untuk bermanfaat minimal bagi masyarakat. Semakin hari Wisnu semakin kagum pada kepribadian Ningsih. Ia jatuh cinta sungguh wisnu merasakan ketenangan kenyamanan saat membersamai Ningsih. "Ning, boleh aku jujur..." "Silahkan pak" "Kenapa kamu masih memanggil ku bapak, emang aku terlihat tua atau seperti bapak bapak?" "Ya tidak pak, maaf, kan bapak usianya lebih tua dari saya." "Ya gak usah panggil bapak juga, panggil saja mas
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD