Padang lavendel membentang mengelilingi anak sungai, menutupi bukit dan menyebarkan harum. Rufus berdiri di samping seorang wanita bergaun putih. Rambut pirangnya mengombak anggun. Tiara mungil bertengger di kepalanya. Kerlipan cahaya warna-warni berpendar mengelilingi sosoknya. Kedua mata sebiru kristalnya menatap Rufus, anaknya yang untuk saat ini tidak lebih tinggi dari lututnya. Dia bisa menerawang rupa putranya di masa depan, Rufus akan lebih tinggi darinya dan berubah menjadi sosok pemuda rupawan.
″Ibunda,″ kata Rufus.
″Ya,″ jawabnya dengan suara merdu.
″Mengapa ada kegelapan jika hidup dengan cahaya saja sudah cukup?″
Bibirnya tersenyum mendengar pertanyaan polos Rufus. ″Rufus, katakan padaku. Mengapa berpikir seperti itu?″
Rufus diam sejenak. Dia mencoba memahami pertanyaan sang ibunda. Kedua mata bulatnya menerawang mencari jawaban. ″Bukankah lebih baik jika hanya ada satu?″
″Rufus,″ katanya. ″Dunia tidak sesederhana pemikiranmu.″
″Mengapa?″ tanya Rufus tidak puas dengan reaksi sang ibunda.
″Dunia sudah memiliki kegelapan dan terangnya. Kau tak bisa meminta salah satunya untuk lenyap. Karena gelap dan terang adalah satu. Cahaya berarti ketika kegelapan datang. Meskipun kau tidak ingin mengakui sisi yang terlihat tandus itu ada.″
″Jadi, jika terang berjaya, apakah itu disebut sebagai dosa karena telah menenggelamkan kegelapan?″
″Bukankah karena ada kegelapan maka terang lebih berarti? Anakku dunia bukanlah tempat bagi keadilan yang bersifat satu sisi. Mungkin aku sudah terlalu tua untuk masa seperti ini. Bukan begitu, Rufus?″
Sebagai seorang anak, Rufus masih belum sanggup memahami jalan pikiran ibunya. Gerangan apa yang sebenarnya ingin disampaikan padanya? Walau dia berusaha menyerap setiap jengkal isyarat yang mungkin tertoreh di raut wajah ibundanya yang selalu memperlihatkan ketenangan.
Rufus tidak bisa menemukan jawaban yang dicarinya.
Seolah paham dengan apa yang dicari anaknya sang ibu berkata, ″Ah anakku, mungkin akan datang masa di mana kau memahami jalan pikiranku. Keabadian hampir mematikan indra perasaku. Dan mungkin, kau juga akan berjalan di atas jalan yang sama denganku. Sampai saat itu tiba, hiduplah dengan apa yang kau percayai.″
***
Rufus tersentak dari lamunannya. Entah mengapa dia teringat dengan nasihat ibunya. Hingga kini Rufus masih berusaha untuk memahami maksud dari ucapan ibunya. Tidak. Dia sama sekali tidak bisa memahami ucapan ibunya.
Suasana di luar hutan sangat menyenangkan. Tidak gelap, tidak suram, dan tidak ada mahluk yang ingin mencabik. Hanya ada cahaya matahari hangat dan ilalang setinggi lutut. Jika Melisa yang berumur sepuluh tahun melihat hamparan ilalang seindah ini. Mungkin dia sudah langsung berlari menghambur masuk ke dalam dan berusaha bersembunyi. Menunggu sambil menahan tawa di antara ilalang, lalu keluar untuk mengejutkan orang.
Rufus mulai membentangkan kedua tangannya menghadap hamparan padang ilalang. ″Akhirnya, bukankah sinar matahari lebih cocok untukku?″
″Benar,″ ucap Melisa menyetujui.
Rufus mulai mendahului Melisa memasuki padang ilalang. Tanpa ragu, Melisa langsung mengekor di belakangnya. Dari belakang Rufus terlihat begitu tinggi dan gagah. Melisa tak bisa mengalihkan pandangannya dari Rufus. Ada sesuatu yang mulai menggelitik hati Melisa, namun dia tidak berani mengakui perasaan aneh yang tiba-tiba datang. Tentang bagaimana Rufus terlihat begitu menawan. Rambut putihnya yang terlihat keperakan terkena paparan matahari.
″Rufus,″ panggil Melisa. ″Kenapa kau menolongku?″
Tanpa menoleh ke belakang, Rufus terus berjalan membelah padang ilalang. Melisa tidak tahu ekspresi apa yang tengah dibuat Rufus. Karena dari tempatnya, Melisa hanya bisa melihat punggung Rufus.
″Apakah dibutuhkan sebuah alasan untuk menolong di tempatmu?″ tanya Rufus balik.
″Aku hanya penasaran,″ ucap Melisa malu. Melisa merasakan sentakan hebat. Tidak menduga Rufus akan menjawab pertanyaan dengan pertanyaan. ″Lupakan saja. Anggap saja aku tidak pernah bertanya.″
″Baiklah. Sesuai keinginanmu,″ ucap Rufus sambil menyingkirkan ilalang yang mulai mengusik langkahnya.
Sebuah alasan untuk berbuat kebaikan.
Tentu saja Melisa tidak bisa menjawab pertanyaan semacam itu. Sebuah pertanyaan yang sebenarnya tidak membutuhkan jawaban. Melisa tidak harus menjawab pertanyaan Rufus. Menolong atau ditolong? Melisa bahkan tidak pernah berpikir mengenai menolong orang lain tanpa sebab khusus. Mamanya sering berkata untuk menolong orang yang membutuhkan. Dan kini Melisa jauh darinya. Melisa takut tidak bisa pulang dan membuat orangtuanya khawatir. Pastinya mamanya akan menghubungi polisi untuk mencari tahu keberadaan Melisa. Dan karena kini dia berada di tempat yang tidak terjamah oleh manusia, para polisi itu tidak akan menemukan Melisa. Lalu bagaimana jadinya orangtuanya tanpa Melisa?
Lagi-lagi Melisa merasakan lubang menganga di dalam d**a.
Ilalang menari-nari tertiup angin. Rufus tampak tidak terganggu dengan hamparan ilalang yang dilewatinya. Melisa masih penasaran mengenai alasan Rufus membantu. Padahal mereka baru pertama kali bertemu. Tidak ada hubungan saudara bahkan teman, namun Rufus dengan senang hati memberikan pertolongan. Anehnya, Melisa merasa janggal dengan kebaikan Rufus.
″Lis!″ panggil Rufus dari seberang ilalang.
Satu lagi kebiasaan buruk Melisa. Ketika dia sedang berpikir keras, tanpa sadar jalannya jadi melambat dan saat tersadar, Rufus sudah berada tepat di seberang sana. Ternyata Rufus sudah lebih dahulu keluar dari padang ilalang.
″Sejak kapan kau di sana?″ tanya Melisa.
″Kau yang terlalu pelan!″ teriak Rufus.
Akhirnya Melisa berhasil menyusul Rufus, meskipun dia mendapatkan ceramah dari Rufus perihal cara berjalan Melisa yang mirip siput. Melisa tidak pernah mendapat perhatian selain dari orangtuanya. Perhatian mereka bahkan masih bisa dirasakan oleh Melisa, walau sesamar angin di musim gugur. Melisa masih bisa mengingat berkas-berkas kasih sayang orangtuanya.
″Lis! Kau melamun lagi?″ Rufus duduk berjongkok di hadapan Melisa dengan wajah cemberut.
″Aku tidak melamun,″ jawab Melisa. Kali ini Melisa mulai melangkah maju melewati Rufus. Tanpa perlu membalikkan badan Melisa sudah bisa memastikan Rufus tengah mengikutinya.
″Hei! Memangnya kau tahu jalan?″
″Tidak.″ Melisa berhenti berjalan. ″Tapi aku yakin kaulah yang pertama menawarkan bantuan.″
Rufus mulai memperhatikan keadaan sekitar. Lalu kemudian dia menunjuk ke depan. ″Lihatlah.″
Melisa mengikuti arah yang ditunjuk Rufus. Pemandangan yang dilihat Melisa membuatnya tertegun. Setelah melewati padang ilalang, mereka berdua tidak langsung mendapati pedesaan ataupun jalan setapak. Mereka malah dihadapkan dengan perbukitan hijau menjulang.
Hutan kegelapan dikelilingi oleh hamparan ilalalang dan perbukitan sebagai benteng alam. Fungsinya adalah sebagai pelindung dari mahluk berbahaya yang ada di dalam sana.
Semangat yang berkobar dalam diri Melisa langsung padam seketika.
Rufus menatap Melisa dengan pandangan mengejek. ″Kau masih kuat bukan?″
″Apakah kau tidak bisa memunculkan kuda atau semacamnya? Melakukan hal-hal ajaib,″ kata Melisa dengan nada penuh semangat.
″Tidak bisa,″ jawab Rufus.
Kekecewaan langsung tergambar jelas di wajah Melisa. Jalan pulang ke rumah baginya masih sangat jauh dan berbukit. Benar-benar berbukit. ″Jadi kita harus berjalan melawati perbukitan hijau yang menjulang tingginya?″
″Tidak juga,″ jawab Rufus.
Rufus bersiul.
Melisa menahan diri untuk tidak mengomentari tindakan Rufus. Selama beberapa menit mereka berdua hanya diam di tempat. Lama-lama rasa suntuk mulai menghampiri Melisa.
″Kau sedang apa?″ tanya Melisa penasaran.
″Menunggu sahabatku.″
Mendengar jawaban Rufus, Melisa langsung mengerutkan dahi. ″Apakah dia yang akan menjemput kita berdua?″
Lagi-lagi dengan nada datar Rufus menjawab, ″Yah, kurang lebih begitu.″
Akhirnya Melisa memutuskan untuk tidak bertanya lagi. Melisa duduk berjongkok sambil mencabuti rumput untuk menghilangkan bosan. Entahlah, sudah berapa banyak rumput yang dicabutnya sebelum akhirnya terasa embusan angin kencang disertai bunyi suara lengkingan. Melisa mulai bangkit dan melihat Rufus yang nampak senang.
″Dia sudah datang.″
***
″Aku ingin segera pulang ke rumah,″ rintih Melisa.
Rufus menghela napas mendengar omelan Melisa. ″Sudah berapa kali kau berkata ingin pulang ke rumah?″
″Aku sepertinya harus pergi ke rumah sakit. Seluruh tubuhku rasanya rontok, dan perutku terasa teraduk-aduk.″ Melisa terkapar di atas tanah dengan kondisi pucat pasi. Tidak perlu menggunakan cermin untuk melihat warna wajah Melisa sekarang. Dia sudah bisa memastikan cahaya kehidupan di wajahnya berangsur-angsur memutih. ″Aku tidak bisa menoleransi semua hal aneh yang ada di sini.″
″Bagaimana, luar biasa menyenangkan bukan?″ tanya Rufus dengan mata berbinar penuh semangat.
Melisa mulai berpikir untuk menarik pendapatnya mengenai Rufus yang seperti malaikat. Dia meragukan niat Rufus untuk menolong. Melisa sungguh tidak menduga jemputan Rufus akan begitu luar biasa menakjubkan. Kalau saja Melisa tahu yang dimaksud oleh Rufus adalah seekor burung raksaksa berwarna putih, Melisa pasti tidak akan pernah menyetujui ide Rufus.
″Yang benar saja!″ Badan Melisa sudah bisa diajak bernegosiasi. Berdiri bukan lagi menjadi masalah berat, namun berbicara dengan Rufus jauh lebih sulit dibandingkan menyembuhkan rasa takut Melisa pada ketinggian yang semakin akut. ″Setidaknya pikirkan tentang keselamatan penumpang selain dirimu.″
Rasa puas tampak jelas tergambar di wajah Rufus. ″Ayolah, kau pasti tidak akan pernah menemui jemputan sekeren ini di mana pun juga.″
Terbang di atas perbukitan dengan bantuan seekor burung putih raksasa tanpa satu pun alat keselamatan? Melisa bahkan tidak bisa berhenti memikirkan risiko jatuh mengingat ketinggian yang mampu meremukkan tulang. ″Aku tidak mau naik kendaraan yang seperti itu lagi.″
″Blitz bukan kendaraan. Dia sahabatku,″ ucap Rufus sambil mengelus-elus si burung putih raksasa. ″Terima kasih atas pertolonganmu kawan.″
Setelah berucap demikian si burung pun terbang dan menghilang dari pandangan mereka berdua. Rasanya Melisa masih enggan untuk bangkit, seluruh tubuhnya gemetar. Melisa memiliki musuh besar selain Ella, yaitu ketinggian. Dia bahkan tidak pernah berani masuk ke dalam lift, dan menurutnya yang paling seram di antara semua hal yang berbau ketinggian adalah eskalator. Sebenarnya Melisa sudah berusaha menyembuhkan rasa takutnya pada ketinggian, entah kenapa fobianya tak kunjung menampakkan tanda-tanda membaik. Ditambah hari ini terbang bersama burung raksasa tanpa pengaman, rasanya keinginan Melisa menyembuhkan rasa takutnya sama sulitnya dengan memecahkan rumus fisika.
″Asal tahu saja, aku sedikit bermasalah dengan ketinggian.″
Rufus memperlihatkan wajah kaget yang dibuat-buat. Dia mulai menutup mulut seolah-olah dia menyesal telah memaksa Melisa naik. ″Kenapa kau tidak mengatakannya lebih awal?″
″Kau menarikku paksa!″ bentak Melisa. ″Lagi pula, kau bahkan terlihat sangat menikmati penderitaanku.″
Rufus mengusap-usap kepala Melisa sambil tersenyum. ″Seharusnya tadi kau lihat ekspresi wajahmu.″
Melisa menepis tangan Rufus. Tadinya Melisa ingin memaki atau melakukan tindakan buruk pada Rufus, berhubung hanya Rufus satu-satunya kunci yang akan mengantarnya pulang, akhirnya Melisa cuma bisa menghela napas.
″Baiklah, maafkan aku. Setidaknya kita sudah sampai tujuan.″
Rufus benar, mereka berdua sudah sampai.
Sejak datang ke Grimmountainous, Melisa merasa semua tempat memiliki aura tersembunyi. Seperti hutan kegelapan—selain dipenuhi dengan aroma lumut dan jamur—di sana terasa kelam dan membuat pikiran tidak bisa tenang. Ketika di hutan kegelapan, Melisa selalu merasa resah dan gelisah. Belum lagi makhluk yang mendiaminya. Melisa tidak ingin tahu apa saja yang ada di dalam sana.
″Emm, Rufus. Sebenarnya kita ada di mana?″
″Tempat para pengintip waktu,″ jawab Rufus. ″Polyanthus.″
Melisa masih tidak paham dengan tempat bagi para pengintip waktu. Tidak ada satu gambaran yang mampu ditangkap. Awalnya Melisa hanya melihat sekumpulan kabut, namun lama-lama jumlah kabut yang ada semakin menipis. Hingga akhirnya Melisa bisa melihat wujud yang disembunyikan kabut. Gerbang raksaksa. Gerbang yang terdiri dari beberapa kayu yang saling melilit. Tanaman merambat serta rotan nampak di setiap batangan kayu. Mulut Melisa sampai menganga lebar karena takjub.
″Bukannya bermaksud tidak sopan. Tapi, mau sampai kapan mulutmu seperti itu?″ sindir Rufus.
Secara otomatis Melisa langsung mengatupkan bibir. Rufus melangkah maju, dia mulai meraba-raba gerbang. Beberapa detik kemudian terjadi sesuatu dengan gerbang. Jalinan-jalinan rotan mulai bergerak meliuk-liuk seperti ular. Sedangkan batangan kayu yang dijalinnya mulai memudar dan hilang. Apa yang ada di balik gerbang lebih menakjubkan hingga tanpa sadar Melisa mengatakan ″wow″ dengan mulut menganga lebar, dan untuk kesekian kalinya Rufus berkata, ″Lis, mulutmu.″
Dua gadis kembar sudah menyambut tepat di hadapan mereka. ″Selamat datang di Polyanthus. Nava Primrose sudah menunggu.″