Melisa terbaring lemah di atas tanah. Zerk tampak puas dengan apa yang dilakukannya pada manusia yang berani menipunya. Kedua matanya nampak nanar akibat pertempuran sebelumnya dengan kawannya. Dia berhasil membinasakan kawan yang selama bertahun-tahun telah menemaninya. Meski begitu, wajahnya sama sekali tidak memperlihatkan rasa penyesalan.
Hari ini Zerk telah menghilangkan nyawa Pert yang setia menjadi kawannya. Zerk berencana menambah Melisa ke dalam daftar makhluk yang akan ia binasakan.
″Dasar bocah!″ ucapnya kasar. ″Beraninya menipuku!″
Zerk hendak mengayunkan ujung tombak yang runcing ke arah Melisa, namun sesuatu menghalanginya.
″Aww!″ teriaknya kesakitan. Zerk merasa sakit di belakang kepalanya.
″Kurang ajar! Siapa yang berani menggangguku?″ bentaknya geram.
Terdengar suara tawa yang terkesan menghina. Zerk sangat tidak suka ketika ada makhluk yang meremehkannya. Dari dulu ia ingin membuktikan kepada makhluk yang ukurannya lebih besar darinya. Bahwa ketangguhannya tak kalah besarnya dari makhluk yang dua kali lipat ukurannya. Dia berjuang melawan rasa lapar dengan kekuatan kemandirian yang telah lama ia pupuk dalam batinnya.
″Iya, aku keluar.″
Sosok pemuda berambut perak keluar dari sela-sela pepohonan. Kedua tangannya diangkat, wajahnya tampak puas. Jelas sekali si pemuda sengaja melakukan hal yang membuat Zerk kesal.
Zerk terdiam di tempat. Sementara si pemuda menampilkan senyum cemerlang. ″Apa aku mengganggu acara bersantapmu?″
Miris. Zerk mengenal sosok yang mengganggunya. Sosok yang paling tidak ingin dijumpai oleh Zerk. Memang Zerk tidak pernah merasa gentar pada apa pun. Namun, dia sangat tidak menyukai bangsa fairy. Ada aura yang membuatnya merasa mual. Aura yang menciutkan nyalinya. Zerk sadar benar dengan nasib mahluk kegelapan sepertinya jika bertemu dengan bangsa fairy.
″Kenapa diam?″ tanya si pemuda. ″Bukankah kau ingin melihatku?″
Gugup. Zerk mulai membalikkan badan dan berlari sejauh mungkin dari bangsa fairy yang dijumpainya. Namun terlambat, fairy itu tampak tidak ingin memberikan pengampunan pada kurcaci yang dijumpainya hari ini. Sebuah mantra terucap, rune mulai muncul di sekeliling tubuh Zerk. Kedua tangannya mencakar-cakar udara hampa. Kulitnya mulai berpendar ungu sebelum akhirnya dia berubah menjadi abu.
Pemuda fairy berjalan mendekati Melisa yang terbaring lemah, dan tersenyum hambar.
″Kau beruntung sekali.″
***
Dingin dan sakit. Melisa bisa merasakan keduanya. Tetapi, sebenarnya yang paling diinginkannya adalah bangun dari mimpi buruk.
″Bangun.″
Suara lembut membelai telinga Melisa. Dia berusaha membuka kedua kelopak mata yang terasa berat. Samar-samar Melisa mulai melihat sosok yang muncul di hadapannya. Awalnya dia menduga sosok itu adalah mamanya, namun Melisa ragu dan mulai berpikir bahwa dirinya mungkin sudah berada di surga.
″Hei! Bangun!″ teriak si pemuda sambil mengguncang-guncang lengan Melisa.
Dia berhasil menarik Melisa dengan kasar dari zona kebingungan menuju zona kehidupan nyata. Saat kedua mata Melisa terbuka dengan sempurna, jelaslah sosok yang membangunkan.
Si pemuda tersenyum. ″Nah, seperti itu. Buka kedua matamu.″
Melisa tak pernah menjumpai pemuda yang begitu tampan. Tak ada kata yang lebih pantas selain ″sempurna″. Raut wajahnya memperlihatkan sosok pemuda berusia awal dua puluh. Rambutnya berwarna putih dengan bulu mata berwarna perak. Si pemuda mengenakan baju lengan panjang lengkap dengan rompi berwarna merah maroon yang dipadukan dengan celana kain berwarna gelap. Terlihat jelas pula sepatu hitam yang terbuat dari kulit membungkus kedua kakinya. Dari sekian pesona yang dimilikinya, ada satu yang membuat Melisa makin takjub. Warna kornea mata si pemuda seperti langit mendung, pada bagian tengah irisnya terdapat lingkaran berwarna ungu. Pemuda itu membuat Melisa terpana.
Sadar sedang diperhatikan oleh Melisa, dia pun mulai berdeham, ″Rasanya tidak sopan melihat lawan jenis dengan pandangan seperti ingin melahap.″
Rasa malu langsung menjalar ke seluruh tubuh Melisa. Spontan, Melisa pun berkilah, ″Bukan begitu, hanya saja kau aneh.″
″Aneh?″ ucapnya sambil tersenyum. ″Bicara tentang aneh, kurasa itu lebih sesuai ditujukan padamu. Kau beruntung, tidak dilahap oleh mempis.″
Kini Melisa ingat. Dia hampir menjadi santapan sahabat Putri Salju. Melisa langsung merasa lega masih bisa menghirup napas di hari ini. ″Aku selamat.″ Diusapnya bagian kepala yang dihantam oleh Zerk. Sudah tidak berdarah namun dia masih merasa pusing.
″Aku tidak pernah melihat manusia sebodoh dirimu. Kenapa kau sendirian? Seharusnya tidak ada manusia yang datang kemari. Lalu kenapa pakaianmu aneh sekali? Apakah kau seorang penyihir? Pitarah?″
Melisa diberondong dengan pertanyaan yang harus dengan cara seperti apa pula Melisa menjawabnya? Melisa kesulitan memahami kejadian yang menimpanya. Melisa tidak percaya pada keberadaan sosok penyihir dan pitarah. Semua hal yang berbau paranormal itu baginya kurang menarik dan tidak realistis.
Melisa merasa perlu mencoba menghantamkan kepala ke batu yang paling keras untuk bangun. Dia tidak percaya bahwa semua ini nyata. ″Maaf, tapi aku sama sekali tidak mengerti.″
″Kau, tidak sedang bercanda bukan?″ Pemuda itu mengarahkan sorot mata kelabunya pada Melisa. ″Tidak ada manusia yang berani memasuki hutan kegelapan. Jika dirimu bukan termasuk manusia yang memiliki kemampuan sihir. Kau tidak mungkin berani serta-merta masuk tanpa berpikir kemungkinan keluar dari sini dalam keadaan utuh. Atau—″ Kini dia mulai meraih gagang pedang. ″Mungkinkah kau salah satu dari kelompok bodoh yang menginginkan darah unicorn untuk keabadian?″
Ketika kata terakhir keluar dari mulutnya. Pemuda itu langsung mengarahkan ujung pedangnya ke leher Melisa. Tatapan ramahnya berganti dengan kebencian.
″Dengar.″ Si pemuda berambut perak mulai menekankan ujung pedangnya di atas kulit leher Melisa. ″Jika benar, aku sangat menyesal telah menyelamatkanmu dari mempis, seharusnya kubiarkan mereka memangsamu.″
Melisa berada pada posisi yang tidak menguntungkan. Entah bagaimana dirinya menjadi seorang tertuduh. Sejujurnya, Melisa sendiri bahkan tidak paham dengan apa yang tengah pemuda itu bicarakan.
″Apa maksudmu? Aku bahkan tidak tahu di mana aku berada sekarang dan apa yang terjadi padaku. Beraninya kau menuduhku,″ jelas Melisa.
Si pemuda semakin menekankan ujung pedangnya. Akibat ujung tajam bilah perak, darah mulai mengalir turun di atas kulit Melisa. ″Aku tidak percaya.″
″Bung! Coba lihat pakaianku.″
Kedua mata si pemuda mulai memperhatikan Melisa dari ujung kaki ke ujung kepala lalu berkata, ″Tadi aku sempat berkata bahwa kau aneh, termasuk cara berpakaianmu.″
Mendengar komentar si pemuda, Melisa ingin sekali menepuk jidatnya.
″Begini,″ ungkap Melisa menjelaskan situasi, ″mungkin aku akan disebut gila jika mengatakan kejadian yang kualami. Singkatnya aku bukan berasal dari sini, lebih tepatnya bukan dari alam ini. Mengingat dua manusia kerdil yang tidak mungkin ada di duniaku.″
Pemuda yang sempat menjadi penolong Melisa terlihat masih tak percaya. Alhasil dia hanya mengerutkan dahi. Seolah Melisa orang gila yang tidak ingin ditemuinya. ″Kau tahu. Berbohong di saat seperti ini akan berakibat buruk.″
″Terserah!″ bentak Melisa. ″Jika ingin menebas kepalaku. Silahkan. Tebas!″ Dengan berani Melisa menggenggam ujung pedang tanpa peduli tepinya yang menggores. ″Namun, kau akan sangat menyesal karena telah melenyapkan nyawa makhluk tidak berdosa. Lagi pula, aku bahkan tidak tahu unicorn si kuda bertanduk itu ada di dunia. Terlebih lagi, untuk apa aku butuh keabadian? Percayalah, kau pasti tidak ingin menjadi diriku selama sehari. Terutama hari ini. Ditindas oleh senior, dibenci oleh sepupu, dan hampir dimakan kurcaci buluk. Lalu sekarang kau!″ Melisa mengarahkan jari telunjuknya. ″Sebenarnya berniat menolong atau tidak?″
Selama sesaat mereka berdua terdiam dan saling memandang.
″Apa boleh buat.″ Akhirnya si pemuda bersedia menyarungkan kembali senjata yang membuat Melisa merasa kerdil. ″Kau terlalu bodoh untuk ukuran manusia. Sungguh, aku tidak pernah bertemu dengan manusia senekat dirimu. Seharusnya kau memohon padaku untuk dibebaskan. Jika kau berkata demikian, aku pasti akan melepaskanmu.″
Melisa merasa tengah dipermainkan oleh si pemuda. Terlebih lagi, dia sempat menyebut Melisa dengan kata ″bodoh″ yang membuat Melisa meradang.
″Jadi, kau bukan berasal dari sini?″ tanyanya sambil membersihkan darah di telapak tangan Melisa menggunakan sapu tangan. Melisa bahkan baru sadar bahwa tangannya terluka. ″Maafkan kekasaranku. Aku hanya ingin memastikan kau bukan orang jahat.″
″Tidak masalah. Semua orang di sekitarku juga berperilaku sama sepertimu,″ sindir Melisa.
Terlepas dari semua kejadian buruk yang menimpa Melisa. Dia masih penasaran dengan kotak musik yang membawanya kemari. Jika saja Melisa tidak membuka kotak dan mematuhi nasihat si pemilik toko, tentunya dia tidak harus mengalami semua kejadian ini.
″Ini akan membuatmu lebih baik.″ Si pemuda mengoleskan cairan berwarna hijau di belakang kepala Melisa yang dihantam Zerk. Begitu menempel di kulit, cairan itu terasa dingin dan menyejukkan. ″Siapa namamu?″
″Melisa. Dan tolong jangan sentuh wanita sesukamu. Aku bisa mengobati diriku sendiri.″
Semburat rona merah muncul di kedua pipi si pemuda. ″Lakukan sesukamu,″ ucapnya sambil menuangkan cairan hijau di atas telapak tangan Melisa. ″Rufus bukan kau.″
″Terima kasih.″
″Lis. Kau berasal dari dunia seperti apa?″ tanya Rufus sambil memperhatikan Melisa yang tengah mengoleskan cairan hijau ke lehernya.
Melisa merasa risi ketika Rufus memanggilnya Lis. Cara Rufus mengucapkan nama Melisa terdengar aneh baginya. Rufus nampaknya memiliki rasa ingin tahu yang besar, sementara Melisa sama sekali tidak tertarik mengajukan pertanyan selain yang berkaitan dengan cara memulangkannya.
″Aku datang dari dunia yang dipenuhi dengan mesin dan bangunan pencakar langit. Di sana penuh dengan manusia yang saling mencurigai. Bukan tempat ramah yang bisa dikunjungi untuk berlibur.″
Mendengar jawaban Melisa, Rufus hanya mengerutkan alis dan berkata bahwa Melisa tengah berbohong.
Melisa pun mulai bercerita mengenai runtutan kejadian yang dialaminya. Dimulai dari kegiatan seusai ospek hingga saat di mana Bety mengajaknya ke sebuah toko barang antik. Tempat di mana Melisa menemukan sebuah kotak musik yang ternyata bukan benda biasa. Kotak yang melemparnya ke dunia gelap, pekam, dan dipenuhi dengan makhluk-makhluk aneh. Melisa juga menceritakan pertemuannya dengan dua kurcaci aneh bernama Pert dan Zerk. Rufus tertawa mendengar cara Melisa mengelabui kedua sahabat itu. Rufus tidak pernah menyangka cara yang dipakai oleh Melisa ternyata bisa membuat dua sahabat saling membunuh, dan dari situlah Melisa mengetahui bagaimana Rufus menyelamatkannya.
″Pada saat itu aku merasakan sesuatu yang janggal dan memutuskan berkeliling mencari sumber kekuatan yang membuatku resah. Seperti ada medan kekuatan yang mulai muncul. Mungkin itu karena kehadiranmu yang memicu anomali energi dalam hutan.″ Melisa sebenarnya tidak paham dengan anomali energi, namun dia hanya mengangguk-angguk seolah mengerti dengan apa yang diceritakan Rufus. ″Untung saja aku berhasil menemukanmu tepat waktu. Jika terlambat sedetik saja, mungkin kau sudah berakhir di dalam perut si kurcaci.″
″Sekali lagi terima kasih. Jadi, siapa kau?″
″Aku adalah seorang guardinal, fairy dari kelas kesatria.″ Mendengar kata ″fairy″ bahu Melisa langsung merosot. Bertambah satu lagi mahluk bukan manusia yang Melisa jumpai. ″Sebenarnya masih ada penjaga lainnya. Berminat menjumpai salah satu dari mereka?″
Melisa menggeleng, ″Tidak berminat.″
Penjelasan yang sebenarnya tidak ingin didengar oleh Melisa semakin bertambah. Melisa masih tidak ingin mengakui fakta yang diberikan Rufus sebagai sebuah kenyataan. Melisa berharap semua ini hanyalah mimpi buruk.
″Sepertinya aku tidak ingin berkunjung ke duniamu. Jika memang duniamu begitu buruk, mengapa kau masih ingin kembali ke sana?″ tanya Rufus.
Melisa langsung cemberut mendengar komentar Rufus. ″Bagaimana bisa kau sebut duniaku dengan kata ′buruk′?″
″Tahukah kau,″ katanya, ″banyak manusia yang kujumpai namun tidak pernah sesuram ceritamu. Mereka tetap berjuang meskipun keberadaan mereka jauh dari bahagia. Seharusnya kau mencontoh semangat mereka, berjuang melawan kemalangan. Hidup manusia itu singkat.″
Manusia memiliki hidup yang singkat. Melisa seperti merasakan tikaman berat di jantung. Seakan ada sesuatu yang seharusnya tidak dilakukannya. ″Lalu, kau sendiri?″
″Aku sangat menghargai setiap kesempatan yang ada. Bukan berarti aku selalu bahagia dengan hidupku. Aku hanya tidak ingin satu kejadian buruk berhasil mempengarui setiap hal yang berhasil kuperoleh hingga sejauh ini.″
Seperti ada angin sejuk yang berembus di sekitar Melisa ketika mendengar Rufus berucap demikian. Ketampanan Rufus semakin membuat Melisa terpana. Tanpa disadari oleh Melisa, kedua pipinya sudah memerah sempurna.
″Yup, sepertinya kita harus segera pergi.″ Rufus bangkit dari duduknya dan datang menghampiri Melisa untuk menawarkan tangannya. Tanpa ragu, Melisa langsung menyambut tangan Rufus.
***
Rufus dan Melisa mulai berjalan menyisiri hutan. Melisa merasa jauh lebih tenang berada di hutan seram bersama seseorang. Perlahan-lahan Melisa mulai beradaptasi dengan dunia baru. Dia mulai bisa menerima kenyataan bahwa dirinya telah berteleportasi sejauh ribuan cahaya dari tempat asalnya.
Di sepanjang perjalanan Rufus menjelaskan pada Melisa mengenai dunia yang disebut sebagai Grimmountainous. Dunia yang sekarang dikunjungi Melisa. Rufus bercerita mengenai persekutuan manusia dengan demon yang mengakibatkan peperangan. Melisa sebenarnya tidak tertarik dengan penjelasan Rufus mengenai iblis dan peperangan. Dia lebih tertarik dengan cara pulang ke rumahnya.
″Rufus. Apa kau yakin aku bisa pulang?″
Rufus menjawab dengan penuh percaya diri. ″Ya. Aku rasa kau bisa pulang ke tempat asalmu jika kita bertemu dengan para pengintip waktu. Mereka mungkin cukup membantu.″
Melisa tidak suka dengan kata ″mungkin″, dia lebih senang jika Rufus menjawab dengan kata ″pasti″.
Melisa memutar mata. ″Oh sungguh beruntungnya diriku.″
″Hei!″
″Sungguh, kau ingin menolongku?″
Sambil mengedikkan bahu Rufus tersenyum dan tidak menjawab pertanyaan yang diajukan Melisa.