"Jordan, jangan seret aku seperti ini!" teriak Chantal bernada kesal karena tangan kirinya lagi-lagi ditarik dan dia dipaksa mengikuti langkah cepat pria setinggi nyaris 2 meter itu.
Sekalipun Jordan hanya berjalan biasa, tetapi jangkauan langkahnya sangat lebar dan termasuk cepat bagi Chantal yang tubuhnya lebih mungil. Pria itu mendadak berhenti melangkah hingga Chantal menubruk tubuh bagaikan Tembok Raksasa China yang kokoh itu.
Sebelum wanita cerewet itu benjol mencium lantai Jordan pun segera menangkap tubuh berlekuk sexy itu ke dalam pelukannya. "Hey, kau aman. Bukalah matamu, Chant!" ujar Jordan terkekeh menatap wajah Chantal yang sedang memejamkan matanya rapat-rapat karena mengira dia akan jatuh ke lantai.
Sepasang mata hijau bak Zamrud Colombia itu pun terbuka menatap lurus ke mata biru Jordan. Dia merasa limbung dan tak tahu harus berkata apa terhanyut dalam tatapan mata sebiru langit cerah di hadapannya.
"Mungkin kau lelah, mari kugendong saja kembali ke penthouseku di lantai 80," putus Jordan lalu meraup tubuh Chantal ke depan dadanya.
Rasa ringan kakinya melayang meninggalkan permukaan bumi itu seolah membuat jantung Chantal seolah melorot ke perutnya. Dia tidak memprotes lagi, dekapan pria galak dan congkak itu ternyata nyaman dan membuatnya rileks hingga mulai mengantuk. Chantal menahan kuapnya dengan telapak tangannya.
Namun, lift yang membawa mereka berdua ke lantai teratas gedung pencakar langit itu terasa lambat bergerak. Chantal pun tak mampu menahan dirinya jatuh terlelap di gendongan Jordan.
Tadinya Jordan hanya memerhatikan layar penunjuk lantai lift yang berubah-ubah angkanya sesuai posisi ketinggiannya. Namun, karena tak ada suara sama sekali dari Chantal. Maka ia pun menunduk memeriksanya. Ternyata perempuan itu sedang tertidur dalam gendongannya.
Ketika sedang tidur Chantal nampak lebih memesona seperti puteri dari kerajaan dongeng. Jordan hanya terdiam mengaguminya. Setelah beberapa saat, lift yang melaju naik itu pun terhenti dan berbunyi 'ting' yang mengejutkan Jordan dan lamunannya memandangi wajah cantik nan damai tersebut.
Dia pun melangkah keluar meninggalkan lift menuju ke bagian pemindai retina yang ada di dinding samping pintu penthouse miliknya. Kemudian Donovan membukakan pintu untuk bosnya yang sedang menggendong Chantal.
"Don, tinggalkan saja kami. Aku butuh pengawalanmu lagi besok pagi sekitar pukul 09.00. Beristirahatlah!" ujar Jordan berdiri berhadapan kepala pengawalnya di dekat pintu.
"Baik, Master Jordan. Saya permisi kalau begitu," balas Donovan sopan lalu keluar dari penthouse dan menutup pintu rapat-rapat dari luar. Dia pun bertitah ke anak buahnya, "kalian jaga tempat ini bergantian shift seperti biasa. Jangan lengah!"
"Siap, Sir!" jawab kedua anak buahnya dengan sikap siaga.
Pria berkepala plontos bermata cokelat itu pun berjalan menuju ke lift untuk turun ke mess karyawan di lantai 70.
Sementara itu di dalam penthouse di lantai 80 gedung pencakar langit yang sama, Jordan membaringkan Chantal di atas ranjang. Sepatu high heels 12 cm di kedua kaki wanita itu dilepaskan oleh Jordan. Sejenak ia memandangi kuku-kuku kaki bercat pink elektrik itu dan tersenyum geli. Dia berpikir bahwa wanita cantik yang sedang terlelap itu memiliki kepribadian unik seperti pelangi yang cerah berwarna-warni.
Tatapan mata Jordan menelusuri tubuh berlekuk Chantal yang terbalut gaun sequin merah, dia sangat menyukai aura sexy puteri dari Lawrence Brickman itu. Godaan gairah dari dalam dirinya mulai mendesak keluar hingga dia pun mendekati wajah wanita tersebut untuk dicium bibirnya.
Lenguhan pelan meluncur dari bibir Chantal, "Dave ... I want you!"
'Damn it!' rutuk Jordan tak terima dirinya disalah artikan sebagai pacar bodoh Chantal. "Ini Jordan, Darling. Kekasih barumu!" geram pria itu di tepi daun telinga Chantal yang kemudian digigitinya pelan.
Rasa geli di daun telinganya membuat Chantal terpaksa terbangun dari tidurnya. "Uhmm ... stop it!" protesnya dengan suara serak sexy khas bangun tidur.
"Apa kau masih perawan, Chant?" tanya Jordan dengan wajah terpaut sehasta dari Chantal.
Alis yang melengkung bak bulan sabit itu berkerut sengit mendengar pertanyaan Jordan yang tak sopan. Dia mendorong d**a pria itu agar menjauhinya. Namun, Jordan bergeming dari posisinya bahkan justru wajahnya semakin mendekati Chantal.
"Kita bisa menghabiskan malam yang penuh gairah berdua sekarang juga, Baby. Apa kau berminat?" bujuk Jordan dengan tatapan berbahayanya.
"Tolong, aku tak mau ... jangan sentuh aku! Jawaban pertanyaanmu tadi adalah ... ya, aku masih perawan. Jadi aku tidak ingin tidur dengan sembarang pria!" jawab Chantal dengan jantung yang berdetak kencang dan napas pendek-pendek yang membuat dadanya naik turun dengan cepat.
Mendengar jawaban Chantal, pria itu mendengkus kesal bercampur geli. Dia bertanya, "Kenapa kau menjaga dirimu begitu suci di tengah kota penuh selebritis yang berkubang dosa ini, Chant?"
"Itu pilihanku dan sama sekali bukan urusanmu. Hanya tolong jangan nodai aku!" balas Chantal dengan teguh hati menatap tajam ke dalam sepasang mata biru cobalt yang menyala oleh gairah.
Dalam hati Jordan semakin terobsesi untuk memiliki wanita cantik bermata hijau dalam dekapannya itu. Perawan sangatlah berharga untuk dimiliki terlebih lagi yang penampilannya begitu menggoda iman seperti Chantal. Dia merasakan gejolak birahi yang pekat di dalam aliran darahnya.
"Jadilah milikku kalau begitu, kau ingin pernikahan bukan? Maka kau akan mendapatkannya. Tentunya dengan perjanjian pranikah yang menjauhkanku dari kerugian secara materi," tutur Jordan dengan nada yang tak ingin dibantah oleh lawan bicaranya.
Dia pun menindih tubuh Chantal sekali lagi. Ujung bawah gaun sequin semata kaki itu disingkapkan ke atas oleh Jordan hingga kulit putih mulus paha wanita itu nampak di depan matanya. Hasratnya bertambah mengeras seketika hingga terasa begitu mendesak.
"Chant, layani aku malam ini. Please ...," desah Jordan terbakar gairah terlarangnya atas perawan yang tergolek tak berdaya di bawah badan kekarnya.
Gelengan kuat kepala Chantal diikuti oleh teriakannya, "TIDAKKK! LEPASKAN AKU! AKU TAK MAU, PLEASE DON'T!" Tubuh Chantal meronta-ronta liar berusaha melepaskan dirinya dari d******i pria kejam bermoral rendah itu.
Akhirnya dengan seluruh kekuatannya Chantal berhasil membuat Jordan terguling ke lantai samping ranjang dan menimbulkan bunyi berdebum kencang akibat bobot tubuh pria itu.
"Dasar wanita bodoh! Kau berani-beraninya mendorongku hingga jatuh!" Jordan beranjak bangun dari lantai penthousenya yang dingin sembari menunjuk-nunjuk wajah Chantal.
Namun, wanita itu justru segera bangkit dan kabur ke kamar mandi lalu mengunci diri di dalam sana. Jordan yang tak sempat menghentikan tindakan Chantal segera menggedor-gedor pintu kamar mandi yang tertutup rapat itu.
"BAMM BAMM BAMM!"
"Buka pintunya, Chantal Brickman!" teriak Jordan diwarnai amarah yang jelas.
Dari dalam kamar mandi Chantal yang duduk di atas kloset tertutup berteriak balik, "Aku mau tidur di kamar mandi malam ini. Tinggalkan aku sendiri, Jordan!"
"Dasar perempuan sialan!" Jordan menendang keras pintu kamar mandi yang tertutup itu. Dia lalu mengancam Chantal, "aku bisa mendobraknya asal kau tahu saja. Dan bila kau tetap keras kepala maka lihat saja nanti, aku pasti akan membuatmu menyesal pernah dilahirkan!"
Mendengar ancaman mengerikan itu mendadak hati Chantal galau ketakutan. Dia tak tahu harus bagaimana melepaskan dirinya dari cengkeraman pria keji itu. Haruskah dia menyerah dan membukakan pintu untuk Jordan?