Menawan Hatimu, Nona!

1076 Words
Bunyi anak kunci diputar dari dalam kamar mandi membuat Jordan menyeringai lebar. Ancamannya berhasil dengan efektif. Seraut wajah pucat pasi menatap dirinya dengan memelas hingga dia pun tak tega melakukan ancamannya. "Kucing kecilku rupanya menyembunyikan ekornya, hmm?" sindir Jordan menaikkan sebelah alisnya membalas tatapan Chantal. Wanita itu mengatupkan kedua telapak tangannya di depan dadanya. "Kumohon jangan sakiti aku—" "Aku ingin membawamu ke surga dunia bukannya mau melukaimu, apa salahku?" Jordan bersedekap seraya tertawa mengejek. "Sudah kukatakan tadi, aku tak mau!" tolak Chantal bersikukuh. "Kenapa?" tanya Jordan datar sekalipun dirinya penasaran. Toh dirinya diinginkan oleh banyak wanita selama ini tanpa harus mengejar-ngejar salah satu dari mereka hingga ke kamar mandi seperti saat ini. Chantal adalah satu-satunya yang berbeda. "Kau sangat kekanak-kanakan, Chant!" tukas Jordan seraya menyandarkan kedua tangannya di bingkai pintu kamar mandi di mana Chantal berdiri berhadapan dengannya Kedekatan fisik dengan pria itu membuat Chantal sesak napas, terlalu dominan. Dia pun mundur selangkah masuk ke kamar mandi diikuti oleh Jordan selangkah demi selangkah hingga punggungnya menubruk tepi meja wastafel dan tak dapat lagi mengelak dari kungkungan tubuh atletis pria bermata biru itu. "Hey, kau belum menjawab pertanyaanku tadi. Kenapa kau tak mau?" desak Jordan begitu dekat wajahnya dengan Chantal. "Aku hanya ingin memberikan mahkota kehormatanku sebagai seorang wanita hanya untuk suamiku," jawab Chantal jujur seraya melengos ke samping. Tawa Jordan membahana di dalam kamar mandi itu, dia berkata singkat, "Great! Kita menikah besok siang." "Sialan, aku tak mau menikah denganmu!" tolak Chantal sesaat sebelum dagunya dicengkeram kasar oleh tangan Jordan. "Apa aku nampak sedang memberimu tawaran? Tidak. Itu perintah, Chantal Brickman!" balas Jordan dengan nada berbahaya yang tak mungkin ditolak. Isakan tangis Chantal yang ketakutan membuat Jordan melepaskan cengkeraman tangannya. Dia merasa bahwa dirinya agak terlalu agresif dan kasar kepada wanita itu. Maka dia pun memeluk Chantal ke dalam dekapannya lalu membelai lembut punggungnya. "Maafkan aku terlalu kasar tadi kepadamu, Chant. Kau pasti takut—" sesal Jordan berusaha menenangkan tangisan Chantal. "Kenapa harus menawanku di sini?" ucap lirih wanita itu di sela isak tangisnya. Dengan gusar Jordan melepaskan pelukannya dari tubuh Chantal, dia teringat kembali kepada Lawrence Brickman yang membawa kabur 50 juta dolar uangnya. Dia memunggungi Chantal seraya berkata, "Itu kesalahan papa tercintamu!" Kemudian Jordan keluar dari kamar mandi dan melemparkan pakaiannya asal-asalan di lantai hingga tersisa celana boxer di panggulnya. Dia membanting badannya ke atas ranjang tanpa memedulikan dimana Chantal akan tidur malam ini. Perlahan Chantal keluar dari kamar mandi, dia masuk ke walk in closet untuk mencari baju ganti sebelum pergi tidur. Sebuah gaun tidur panjang semata kaki berbahan sutera warna silver menjadi pilihannya. Dia pun berganti pakaian di sana lalu mencari selimut. Setelah itu barulah Chantal berjalan ke sofa ruang tengah untuk membaringkan tubuhnya yang penat dan butuh istirahat. Tak butuh waktu lama baginya untuk jatuh terlelap ke alam mimpi. Saat tengah malam tiba, sosok berbadan besar itu berdiri di seberang sofa tempat Chantal tertidur nyenyak. Dia meraup tubuh ramping yang berbobot separuh dirinya ke gendongan lengan kokohnya. "Nona Chantal yang keras kepala, hmm!" gumamnya pelan agar tak membangunkan wajah damai itu. Dia membaringkan Chantal ke atas ranjang luasnya di sisi kanan dirinya lalu merebahkan badannya sendiri di samping wanita itu dan menyelimuti tubuh mereka berdua dengan bed cover tebal yang nyaman. Kehangatan yang menyelimuti tubuhnya membuat tidur Chantal makin lelap saja, dia tertidur seperti bayi dalam pelukan Jordan. Sisi lain diri Jordan yang protektif terbangkitkan oleh sosok wanita yang seharusnya dia benci karena Chantal adalah puteri dari pria yang membuatnya rugi besar. 'Sangat manis seperti gula-gula saat tertidur ... seandainya saat dia begini juga saat tersadar pastilah akan menyenangkan dan tidak membuatku naik darah setiap waktu!' batin Jordan memandangi wajah Chantal yang bibirnya melengkung ketika tidur seperti sedang bermimpi indah. Sebenarnya Jordan ingin mengecup bibir manis itu, tetapi ia takut akan membuat Chantal terbangun maka ia pun mengurungkan niatnya dan memejamkan saja matanya mencoba tidur. Napas yang teratur itu membuatnya jatuh terlelap menyusul Chantal ke alam mimpi. Ketika pagi tiba, teriakan histeris wanita yang membuat telinga Jordan berdenging membangunkannya. Dia hanya membuka sebelah kelopak matanya melirik partner ranjangnya semalam yang wajahnya pucat pasi syok. Kedua tangan Chantal berusaha mencakar-cakar wajah Jordan dengan agresif, tetapi pria itu menangkap pergelangan tangan ramping bertenaga kecil itu lalu membanting tubuh wanita itu kembali ke ranjang. Jordan segera menggunakan badan besarnya untuk menindih Chantal. "Seharusnya kau sapa aku dengan ucapan selamat pagi yang pantas, Chantal. Kenapa justru mencakar-cakar seperti kucing bengal begitu, hmm?!" ucap Jordan dengan nada malas menatap wajah kesal itu dari jarak beberapa cm saja. "Lepaskan, b******k! Aku benci kau, Jordan Fremantle—" "Jawaban yang salah, mungkin aku harus membungkam mulut pedas yang menyebalkan itu dengan bibir sexy tebalku!" balas Jordan seolah tak memedulikan rentetan sumpah serapah Chantal. Bibir tebal Jordan yang dikelilingi bulu-bulu gelap subur melumat ganas dan b*******h bibir merah muda Chantal. Bagian sensitifnya di bawah sana ikut terbangun dan mulai menekan ceruk di antara pangkal paha Chantal. Wanita itu merasakan tubuhnya melemas dan menutup sepasang mata hijaunya seakan pasrah. "Mulut berkata tidak dan badanmu berkata sebaliknya ... aku memiliki banyak stok fantasi yang menarik berkaitan dengan tubuhmu, Chant. Apa kau ingin mengetahuinya?" sindir Jordan usai menyudahi ciuman ganasnya. Namun, Chantal menahan lidahnya dan melengos tak ingin melihat mata biru yang berkilat nakal mengejeknya. Tangan Jordan menarik tangan kiri Chantal yang tidak mengalami hematoma untuk menyentuh bagian kebanggaannya sebagai seorang pria. Dia nyaris mengumpat sendiri dengan efek yang ditimbulkan oleh sentuhan telapak tangan wanita itu. Menegang parah hingga menjadi sangat ... sakit! "Ini adalah kelebihanmu, Chant. Tubuhku bereaksi keras dengan sentuhanmu. Baiklah, hari ini juga aku akan menikahimu. Tak ada protes yang kuterima. Bahkan, bila aku harus menyeretmu ke kantor pencatatan sipil maka biarlah itu yang terjadi!" ujar Jordan lalu bangkit dari tempat tidurnya meninggalkan Chantal yang bengong tak dapat berkata-kata. Setelah pria bertubuh besar itu melangkah menjauh dari ranjang, Chantal pun berkata, "Haruskah aku menikah tanpa didampingi keluargaku sama sekali?" Jordan membalikkan badannya menatap Chantal yang nampak berantakan penampilannya sekalipun tetap memesona. "Hubungi saudaramu agar datang ke balai kota. Akan jauh lebih baik lagi bila kau bisa menghubungi papamu itu agar dia menampakkan batang hidungnya dan memberikan restunya untuk kita, Darling!" jawab Jordan mengendikkan bahunya lalu melenggang masuk ke kamar mandi tanpa menutup pintunya. Namun, Chantal tak melakukan apa pun karena ponselnya disita oleh Jordan saat mereka kembali ke penthouse pria itu dari Malibu Beach. Sungguh mengesalkan! Dia berharap kekasihnya yang seorang hacker bisa melakukan sesuatu untuk membebaskannya dari megalomaniac yang memiliki tantrum mendominasi orang lain itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD