Saat Jordan sedang mandi di bawah shower tiba-tiba lampu kamar mandi padam, lampu dari daya cadangan yang masih menyala redup di sudut langit-langit ruangan penthouse. "Damn, apa-apaan ini?! Kenapa bisa terjadi mati listrik sepagi ini?" rutuk pria itu segera menyelesaikan mandinya lalu mengeringkan tubuhnya dengan handuk.
Dengan pinggul berlilitkan handuk setengah basah, Jordan keluar dari kamar mandi dan menghampiri tempat tidurnya. "Kuharap kau tidak takut dengan gelap, Chant. Apa kau baik-baik saja?" tanya Jordan dengan sebersit nada kekuatiran.
"Aku baik-baik saja. Apa ada pemadaman listrik dari pusat?" balas Chantal karena jarang sekali mati listrik kecuali ada badai besar melanda kota.
Jordan mengendikkan bahunya seraya menjawab, "Entahlah, mungkin saja begitu. Aneh sekali karena ini masih pagi. Aku akan menanyakan ke pengelola gedung. Tunggu di sini saja, jangan kemana-mana!" Pria itu pun melangkah cepat menuju ke walk in closet miliknya untuk memilih pakaian kerjanya dengan pencahayaan remang-remang.
Seusai mengenakan setelan jas Armani berwarna hitam dengan dasi merah maroon di atas kemeja abu-abunya, Jordan pun menghampiri Chantal sambil membawa sepatu fantofel. Dia duduk di tepi ranjang sambil mengenakan sepatu di kakinya dan berkata, "Aku akan menelepon room service untuk menyiapkan sarapan pagi untukmu. Kuharap listriknya segera menyala."
"Terima kasih, Jordan," sahut Chantal lirih. Dia terkadang merasa bahwa pria itu begitu protektif di waktu-waktu tertentu kepadanya.
Belum sempat Jordan mengatakan hal lainnya, kedua ponselnya berdering nyaris bersamaan.Dia pun mengambil ponsel yang di atas nakas samping ranjang. "Halo. Jordan Fremantle speaking!" ujarnya.
"Halo, Sir. Saya Bernard Luciano, kepala pengelola gedung. Teknisi sudah memeriksa padam listrik di Sky Eternity Intercontinental Tower, tetapi mereka tidak dapat menemukan kerusakan sistemnya. Sepertinya ada faktor eksternal yang membuat sistemnya kacau," tutur pria berusia awal 40 tahun itu di telepon.
Sejenak Jordan kebingungan, alisnya tertaut kanan kiri di tengah. "Panggil teknisi listrik dari kantor resmi Perusahaan Listrik Negara, mungkin mereka lebih kompeten, Bernard. Aku tak mau tahu, listrik harus segera menyala kembali. Para klien yang menghuni tower ini akan terganggu dan komplain. Bila mereka mengakhiri sewa di gedungku maka akan besar kerugian yang kudapat!"
"Baik—baik, Sir. Segera saya kerjakan. Permisi!" sahut Bernard Luciano dengan nada cemas.
Dalam hatinya Chantal menebak bahwa ini bisa jadi ulah David Guilermo. Pacarnya itu jago melakukan hal yang berhubungan dengan meretas sistem, sangat genius bila dia menginginkannya. Namun, Chantal tetap bungkam tak mengatakan apa pun.
Jordan pun menghampiri meja kerjanya dan menjawab panggilan telepon ponselnya yang satunya lagi. "Halo, ada apa, Luke?" jawabnya tanpa basa-basi.
"Halo, Master Jordan. Maaf mengganggu Anda pagi-pagi begini. Data base klien di komputer kantor mendadak hilang sebagian. Apa Anda ada saran untuk mengatasi kekacauan ini?" ujar Lucas Whittaker, COO perusahaan Jordan yang terdengar panik.
Kenapa segalanya pagi ini begitu kacau hingga terasa langit menghukum dirinya? pikir Jordan. Tidak ada sebuah kebetulan yang sejanggal ini. Dia masih belum menemukan benang merah antara 2 kekacauan yang sedang terjadi pagi ini.
"Cari ahli IT untuk membereskan data yang korup itu. Kuharap data base klien dapat diselamatkan. Kau punya back up datanya bukan?" jawab Jordan dengan penuh perhitungan.
"Ohh ... Anda benar, ada back up data klien manual di bagian pemasaran. Saya harap data yang ada di komputer dapat dipulihkan nanti. Baiklah, saya akan cari ahli IT secepatnya, Sir. Permisi!" balas Lucas lalu menutup panggilan telepon dengan bosnya itu.
Kemudian Jordan mengatur pengiriman makan pagi untuk Chantal. Sebelum ia pergi meninggalkan penthouse pria itu berpesan, "Kenakan gaun yang pantas untuk mendaftarkan sebuah pernikahan, akan kukirim make up artist ke mari nanti. Kita bertemu di balai kota nanti, Chant!"
Ponsel milik Chantal yang dia simpan di tas kerjanya pun diserahkan kembali ke tangan wanita itu. "Hubungi keluargamu untuk menjadi saksi pernikahan kita, aku akan menjamu mereka di restoran gedung ini sepulang dari kantor catatan sipil," ujar Jordan tanpa mengharapkan jawaban dari Chantal karena itu sudah menjadi keputusannya. Tak ada seorang pun yang masih ingin hidup tenang yang berani menentang kehendaknya.
"See you later, Chantal!" pamit Jordan melambaikan tangannya lalu bergegas keluar dari penthouse sembari menenteng tas kerjanya.
Dia bertemu dengan Donovan Bailey di luar pintu penthouse. "Selamat pagi, Master Jordan!" sapa kepala pengawalnya yang tampak segar pagi itu.
Lampu di selasar penthouse redup dengan penerangan daya cadangan. Namun, lift jelas tidak beroperasi dan itu membuat Jordan meradang.
"AAARRGGHH! Sialan, benar-benar mengesalkan. Aku harus turun dengan tangga manual karena mati listrik. Donovan, selidiki tentang pemadaman listrik ini! Rasanya terlalu kebetulan segala kekacauan pagi ini terjadi bertubi-tubi," titah Jordan sembari melangkah cepat menuruni tangga darurat manual di pojok barat gedung pencakar langit miliknya.
Para pengawalnya mengikuti langkah majikan mereka dari belakang dengan terengah-engah. Kantor CEO ada di lantai 65 Sky Eternity Intercontinental Tower. Artinya mereka harus turun 14 lantai ke bawah berjalan kaki.
Sementara itu di gedung Cyprus Prudential Tower lantai 20, kekasih Chantal sedang tertawa riang menatap layar laptopnya yang menampilkan data-data coding bergerak cepat seperti sekumpulan semut sibuk.
"HA-HA-HA. Mampus kau, Jordan! Tak semudah itu menghinaku di depan umum apalagi ingin merebut pacarku. Dasar k*****t dungu!" rutuk David Guilermo duduk bersandar di kursi bersandaran punggung tinggi sambil memutar-mutarnya ke kiri kanan.
Sebuah pesan masuk ke inbox ponselnya, David membacanya. Ternyata itu dari Chantal. 'Hai, Dave. Apa kau yang membuat kerumitan untuk Jordan pagi ini? Oya, siang nanti aku harus menikahinya di balai kota, maaf aku tak bisa menolak di bawah ancamannya.'
"WHAT THE HELL!" teriak David putus asa setelah selesai membaca pesan Chantal. Dia terdiam dan berpikir cepat menyusun rencana. Rupanya kekacauan yang dikirimkannya kepada Jordan masih belum bisa mencegah pernikahan paksa yang harus dijalani oleh Chantal.
Maka dia pun mencoba melakukan keahlian hackernya sekali lagi. David meretas data identitas penduduk milik Jordan di data base Pemerintah Kota Los Angeles. Dengan seringai puas di wajahnya, David mengubah status pernikahan Jordan Fremantle menjadi 'menikah'. Itu akan mencegah pria itu menikahi Chantal, negara mereka tidak mengizinkan pernikahan ganda yang tercatat legal.
"Coba bereskan hal ini, Jordan! Sementara kau gusar di sana. Aku akan menambahkan dosis siksaan neraka ke pusat data base perusahaanmu. Selamat menikmati kesengsaraanmu, Jordan Fremantle!" ujar David sembari tertawa menyeramkan sendirian di ruangan rahasia di unit apartment miliknya.
Karyawan Fremantle Development Centre Inc. kalang kabut hari ini karena kekacauan begitu banyak data perusahaan tempat mereka bekerja.
"Ohh Gosh, sepertinya kita diserang hacker licik. Data perusahaan mengalami eror seperti terserang virus komputer ganas. Melvin, kita harus melapor ke Mister Jordan secepatnya!" ujar Kendrick Riverstone panik melihat layar monitor komputernya nampak kacau tampilannya.
Melvin Keating pun menyahut rekannya, "Kau benar, kita butuh bantuan tenaga IT profesional dan berpengalaman. Aku menyerah!"