Diintai Dari Dua Sudut

1119 Words
Lawrence Brickman telah kembali dari Kepulauan Karibia. Dia memperpendek waktu liburannya setelah mengetahui bahwa Chantal kesayangannya ditawan oleh Jordan Fremantle. Sungguh sebuah gangguan yang tak terduga dan kini dia bertekad untuk membebaskan puteri tunggalnya itu dari cengkeraman pengusaha tiran yang sempat ditipunya. Pria tua itu menyamar dengan penampilan yang sama sekali berbeda. Dia mengenakan kaca mata minus berbingkai kotak lebar dan mengecat rambutnya yang kelabu beruban menjadi warna cokelat tua segar yang membuat dirinya nampak jauh lebih muda. Namun, guratan di kulit wajahnya tak mampu menyembunyikan usia yang sebenarnya. Dia menerima pesan melalui surelnya dari Jordan bahwa pria muda kurang ajar itu akan menikahi Chantal siang nanti di balai kota Los Angeles. Lawrence sangat kesal karena setahunya Chantal menjalin hubungan kekasih dengan David Guilermo sejak 2 tahun lalu. Pemuda genius itu sangat sopan dan memuja puteri kecil kesayangannya. Lawrence pun merestui hubungan mereka. Sejak pagi Lawrence duduk-duduk menikmati kopi dan sarapan paginya yang bergizi di kedai seberang gedung balai kota. Dia tahu bahwa kedatangan rombongan Jordan akan nampak mencolok karena pengawalnya sangat banyak jumlahnya. Sementara itu di SEI Tower, tycoon tajir melintir yang berkuasa tersebut sedang mengamuk kepada anak buahnya. "Dasar bodoh! Apa saja kerjaan kalian?! Masa kalian yang telah kugaji besar kalah dengan hacker?" maki-maki Jordan dengan berkacak pinggang di hadapan selusin karyawannya yang berderet di ruangan CEO. "Maaf, Sir. Ini sudah di luar kemampuan kami, hacker itu mengirim virus yang mengacak-acak data base perusahaan. Data yang masih tersisa juga dibekukan sehingga tak dapat diakses. Listrik gedung masih belum menyala juga, kami mengalami kesulitan mengakses data tiap lantai SEI Tower," terang Melvin Keating yang menjadi koordinator tim IT perusahaan milik Jordan. Jordan menyugar rambutnya hingga acak-acakan dan menggeram sarat amarah. Dia mendekati Melvin sambil berkata, "Jangan hanya melaporkan ketidak kompetenanmu, Melvin. Cari solusi untuk segala kekacauan ini!" "Sebaiknya kita cari jasa konsultan IT terbaik di LA, Sir. Buena Vida Technology milik mentor saya bisa dipertimbangkan sebagai pilihan, bila Anda berkenan!" jawab Melvin mencoba bersabar menghadapi semburan kemarahan bosnya selama hampir satu jam terakhir ini nonstop. "Hmm ... hubungi perusahaan mentormu itu. Aku butuh sekarang juga kekacauan data ini dibereskan sebelum banyak komplain dari klien berdatangan. Usahakan arus listrik kembali mengalir di gedung SEI Tower secepatnya. Jangan sampai aku harus menuruni 65 lantai hingga ke lobi dengan berjalan kaki untuk meninggalkan tempat ini!" tutur Jordan dengan kesal. Dia merasa segalanya membuat harinya semakin buruk saja padahal dia merencanakan untuk menikah dengan Chantal. "Siap, Sir. Kami permisi kalau begitu!" sahut Melvin lalu membubarkan diri dari kantor Jordan bersama rekan-rekannya yang sedari tadi memilih untuk mencari aman dengan bungkam di hadapan bos mereka. Seolah langit sedang menghukumnya karena memaksa menikahi perawan tak bernoda itu hari ini. Namun, Jordan tetap bersikeras tetap menikahi Chantal apa pun rintangannya. Pukul 11.11 waktu Los Angeles aliran listrik mulai pulih di gedung SEI Tower. Tanpa membuang kesempatan, Jordan pun memanggil Donovan Bailey, "Ayo kita turun sekarang saja dengan lift, Don!" "Silakan, Master Jordan!" sahut Donovan lalu mengikuti bosnya masuk ke lift bersama 4 orang pengawal lainnya. Chantal yang telah selesai dirias oleh make up artist di penthouse pun turun dengan lift dikawal oleh 4 orang pengawal juga menuju ke lantai lobi untuk menemui Jordan. Terjadi perubahan rencana, kedua calon pengantin berangkat bersama-sama ke balai kota. Di sofa lantai lobi SEI Tower pria berpenampilan necis itu menunggu Chantal. Karena pengawalnya telah melaporkan dengan walkie talkie bahwa Chantal sedang turun dengan lift. "TING." Bunyi nyaring penanda lift sampai di lantai tujuan yaitu lantai lobi. Chantal pun dengan langkah anggun keluar dari lift. Dia mengedarkan pandangannya mencari sosok Jordan dan menemukannya dengan mudah karena pria dominan itu justru menghampirinya. "Pengantinku sangat cantik jelita. Kemarilah Chantal Sayang!" sambut Jordan merentangkan kedua lengannya lebar-lebar yang membuat Chantal mendengkus geli. "Apakah kita siap berangkat sekarang?" tanya Chantal yang tak tahu bagaimana membalas kemesraan calon suaminya. Dengan protektif lengan Jordan merangkul bahu Chantal. Dia menyahut, "Ohh, tentu. Kau pasti tak sabar untuk menjadi Nyonya Jordan Fremantle bukan?" Chantal memutar bola matanya tanpa ingin berdebat panjang dengan pria itu. Mereka akan menjadi tontonan publik bila berdebat seru sementara dia mengenakan pakaian pengantin lengkap dengan cadar putih tipis di puncak kepalanya yang samar menutupi wajahnya. Pasangan calon pengantin itu pun naik ke dalam limousine hitam mengkilat lalu mobil pun melaju menuju ke balai kota diikuti oleh beberapa Pajero Sport hitam yang mengangkut para pengawal Jordan. Hanya Donovan Bailey yang ikut duduk dalam limousine bersama bos mereka. "Apa papamu membalas pesanmu, Chant? Masa dia tidak menghadiri pernikahan puteri kesayangannya?" sindir Jordan dengan sengaja sembari menatap wajah Chantal di balik cadar tipis itu. "Aku mengirim email ke surel papa, tetapi dia tidak membalasnya," jawab Chantal sesuai kenyataan. Nomor ponsel Lawrence sama sekali tidak aktif, hanya email satu-satunya jalan untuk berkabar. Mendengar cerita Chantal, maka Jordan pun merutuk dalam hatinya betapa tidak berperasaannya papa wanita itu. Bahkan, dia telah menggertak bandot tua tersebut. Namun, hasilnya nihil tanpa balasan satu pun. "Mungkin Lawrence sudah mati membusuk di neraka hingga dia tak bisa mengetik dengan jemari keriputnya untuk membalas email darimu, Chantal Sayang!" ujar Jordan menyeringai dengan mata berkilat berbahaya kepada Chantal. Sepasang mata hijau bak zamrud Colombia itu seperti berkaca-kaca membalas tatapan Jordan. Dia pun menoleh ke arah sisi jendela menghindari percakapan dengan Jordan yang menyesakkan dadanya. Dari kaca jendela kedai seberang balai kota, Lawrence Brickman memerhatikan kedatangan rombongan mobil mewah yang dinantikan olehnya sedari pagi tadi. Dia pun melangkah keluar dari pintu kedai yang tak terlalu ramai pengunjung jelang jam makan siang itu. Papa Chantal menyeberangi jalan raya saat lampu lalu lintas berubah merah dan mobil-mobil berhenti. Tatapan matanya dari balik kaca mata yang dikenakannya masih awas mengikuti pergerakan rombongan pasangan calon pengantin itu. Lawrence menjaga jarak agar cukup aman dari jangkauan para pengawal Jordan. Dari sisi lain dalam gedung balai kota Los Angeles, David Guilermo berdiri di salah satu pilar membaca koran yang terentang di hadapannya sembari mengawasi rombongan Jordan dan Chantal yang mengantre giliran masuk ke ruang acara pengesahan pernikahan. Hatinya panas terbakar amarah serta cemburu buta, wanita yang dipacarinya selama dua tahun belakangan akan dinikahi pria yang entah sejak kapan ditemui Chantal. "Sialan, ingin sekali aku menembak Jordan seperti adegan di film-film mafia Holywood. Sayangnya aku tak punya pistol. Sejak kapan hacker bermain senjata api? Kurasa itu bukan gaya kami!" gerutu David lirih di balik lembaran korannya mengintip pasangan calon pengantin itu. "Panggilan untuk Tuan Jordan Fremantle dan Nona Chantal Brickman. Silakan masuk!" seru pria petugas catatan sipil berkulit hitam bertubuh subur di depan pintu ruang acara peresmian pernikahan secara legal. Baik Lawrence maupun David sama-sama penasaran. Namun, mereka tak punya alasan untuk ikut masuk ke dalam ruangan tertutup tersebut. Maka mereka pun menunggu dan bersabar di koridor balai kota. Menurut David, sebentar lagi Jordan akan mengamuk karena identitasnya yang telah ia ubah tadi pagi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD