Dipaksa Menikahi Jordan

1288 Words
Ponsel Chantal yang dipasangi GPS oleh Jordan membuat gadis itu diketahui keberadaannya. Itu satu hal yang tak disadari oleh kedua pria yang membantunya kabur dari balai kota siang tadi. Hari telah senja ketika apartment David Guilermo disergap oleh segerombolan pengawal Jordan. Bukan hal yang sulit bagi pria sekelas Jordan untuk mendapatkan akses masuk ke salah satu unit apartment di kota Los Angeles. Semua pengusaha di sana mengenal Jordan dengan baik dan dengan senang hati memberikan bantuan mereka. "Angkat tangan! Jangan coba-coba kabur dari sini, Guys!" seru Donovan Bailey yang memimpin penyergapan tersebut seraya mengacungkan senjata apinya ke arah kedua pria beda generasi yang berdiri di dekat Chantal. Dengan langkah arogan Jordan melenggang masuk di antara para pengawalnya yang semuanya mengarahkan senjata api mereka ke David dan Lawrence. "Sekali tepuk dua lalat mati! HA-HA-HA. Pepatah bagus untuk situasi yang terjadi di antara kita saat ini, Gentlemen," sindir Jordan congkak sembari menatap tajam kepada David serta Lawrence bergantian. "Halo, Jordan! Lama kita tak bertemu, bersikap ramahlah kepadaku. Bagaimana kabarmu, Nak?" sapa Lawrence Brickman sok akrab yang membuat Jordan berdecih jijik menanggapinya. "Pak Tua, kembalikan 50 juta dolarku kalau kau masih sayang nyawamu!" sahut Jordan bernada keras. Lawrence merasakan keringat membanjiri tubuh rentanya, dia tak ingin kehilangan uang 50 juta dolar untuk pensiunnya yang nyaman. Namun, dengan kepungan senjata api para pengawal Jordan, rasanya hal tersebut sulit untuk dipecahkan solusinya. "Ohh—easy ... easy, Jordan. Uangmu aman, kita bisa bicarakan megaproyek itu lebih lanjut. Aku pergi hanya untuk melakukan survey dari dekat ke lokasi yang akan kita bangun nanti," ujar Lawrence berusaha membohongi Jordan dengan tipu muslihatnya. "Bohong. Dasar penipu licik!" desis Jordan. Dia tak mau lagi dikadali oleh pria tua bangka tersebut sekali lagi. Dia pun bertitah, "Don, suruh anak buahmu mengikat kedua tangan penipu itu dan juga pacar—MANTAN pacar Chantal. Kita akan serahkan mereka berdua ke polisi LAPD." "Siap, Master Jordan!" sahut Donovan sigap lalu mengomando rekan-rekannya untuk meringkus kedua pria di dekat Chantal. Kini hanya tersisa Chantal dan Jordan saja berdua di ruang apartment mewah milik David Guilermo. Pria arogan itu melangkah pelan dengan tatapan lapar berbahaya menghampiri Chantal. "Satu urusan telah selesai dan kuharap kita pun bisa secepatnya menyelesaikan our unfinished business, Darling!" ucap Jordan dengan nada malas. Dia memaksa Chantal mundur selangkah demi selangkah hingga punggung wanita itu menubruk dinding. Tak ada lagi jalan kabur untuk Chantal dari kungkungan badan besar Jordan yang tingginya nyaris 2 meter itu. Dia mendongak menatap sepasang mata biru cemerlang yang begitu dekat ke wajahnya. Napasnya terengah karena panik. Sebuah lumatan bibir yang mendominasi membuat Chantal hanya bisa pasrah bergelanyut di d**a pria itu. Isapan bibir yang kuat dan mendominasi diikuti sapuan lidah yang menggoda lidah gadis itu membuatnya limbung. Dia pun merasakan bagian pribadi milik Jordan menekan keras perutnya menandakan gairah terlarang Jordan bangkit. Ketika ciuman panas itu usai, Jordan berkata dengan suara beratnya, "Sekarang aku menginginkanmu. Kau bilang hanya ingin menyerahkan keperawananmu kepada suamimu. Niatku tadinya baik untuk menikahimu terlebih dahulu lalu menikmati malam pengantin setelahnya. Namun, kau—kau yang membuatku kecewa, Chantal Cantik!" "Aku tidak mencintaimu, aku juga bukan kekasihmu. Uang modalmu akan kembali bukan setelah berhasil menangkap papaku. Jadi biarkan aku pergi dan menjalani kehidupanku sendiri, Jordan!" debat Chantal menolak kehendak pria dominan tersebut. "Hohoho. Tak segampang itu, Chantal Brickman. Sayangnya aku pun menginginkanmu secara seksual. Tubuhmu membuatku hidup dan bergelora di dalam sini. Rasakan betapa kuat hasratku kepadamu!" Jordan menggesekkan bukti gairahnya ke tubuh Chantal tanpa malu dan mendesah di tepi daun telinga wanita itu. Kedua telapak tangan Chantal mendorong d**a bidang Jordan. "Menjauhlah dariku, aku jijik disentuh olehmu. Dasar pria b******k!" Mulut Jordan membentuk kata 'NO' tanpa suara di hadapan wajah Chantal seraya menyeringai seram. "Ikut aku kembali ke penthouse, kau hingga kapanpun tetap milikku, Chantal Brickman. Jangan harap aku akan membiarkanmu bersama pacar bodohmu itu!" Pria itu menggendong Chantal di dadanya meninggalkan unit apartment David. "Turunkan aku atau aku akan berteriak!" ancam Chantal sambil meronta liar di gendongan Jordan. Sayang sekali lengan kokoh pria itu tetap bergeming membawa tubuh ringan Chantal yang masih mengenakan gaun pengantin putih menuju ke lift. Pengawalnya menekan tombol lift untuk turun. "Silakan, Sir!" ucap pengawal itu mempersilaka Jordan masuk duluan ke lift lalu barulah dia menyusul bersama dua pengawal lainnya. "Jangan berisik, Darling. Simpan tenagamu untuk malam pertama kita nanti. Ini adalah hari pernikahan kita, aku menyuruh Mister Antonio Baldwin membawakan berkas pernikahan untuk kita tanda tangani di SEI Tower," tutur Jordan yang menghentikan rontaan Chantal. "Tak akan kutanda tangani berkas itu!" tolak Chantal spontan. Jordan menatap tajam ke dalam sepasang mata beriris hijau itu. "Akan kubunuh tua bangka itu kalau kau menolak pernikahan kita," ancam Jordan dengan nada datar yang berbahaya. "Ohh ... jadi sekarang begitu caramu bermain, Jordan! Kau mau main kasar?" ucap Chantal kesal dan putus asa. Lift itu sampai di lantai lobi dan Jordan melangkah cepat melintasi lobi apartment elite milik kompetitornya hingga ke pintu keluar. Sopir pribadinya membukakan pintu mobil dan segera saja Jordan memasukkan Chantal duluan ke dalam sana lalu segera mendekapnya erat agar tidak kabur. "Kau milikku. Terima saja takdirmu. Percuma saja kau kabur karena aku pasti akan menemukanmu, Chant!" tutur Jordan lalu dia menghujani wajah dan leher Chantal hingga turun ke bulatan kembar nan empuk di d**a wanita itu dengan ciuman bibirnya. Chantal terisak-isak tak berdaya melawan tenaga Jordan. Kedua lengannya ditahan oleh tangan Jordan di kursi mobil. "Lepaskan aku! Please ... jangan begini, Jordan. Aku tak mau—" "Tak ada pilihan lain. Aku akan jadi suami sahmu sebentar lagi. Tubuhmu itu milikku, layani aku hingga puas, Chantal!" paksa Jordan lalu memagut bibir Chantal hingga bengkak. "Kalau begitu lepaskan papaku. Jangan mengancamku terus menerus, aku bisa kehilangan kewarasanku lama kelamaan, Jordan!" seru Chantal memukul-mukul tubuh besar pria itu dengan kepalan tangannya. Maka Jordan pun menarik tubuh ramping itu ke pangkuannya dan melingkarinya dengan kedua lengan kokohnya hingga Chantal tak berkutik. "Aku suka semangatmu, Baby. Rasanya tak sabar menunggu limousineku sampai di SEI Tower," ucap Jordan lalu menghujani wajah Chantal dengan kecupan-kecupan isengnya. "Aku membencimu!" sembur Chantal dengan wajah cemberut. "Apa aku peduli?" balas Jordan tanpa tersinggung. Akhirnya limousine tersebut berhenti di depan pintu masuk gedung pencakar langit berlantai 80 itu dan pengawal Jordan dengan sigap membukakan pintu mobil untuk majikannya. Jordan turun sembari menggendong Chantal melintasi lobi luas diiringi tatapan beratus pasang mata di sana. Para pengawalnya mengiringi mereka berdua dan menekan tombol lift untuk naik ke puncak bangunan tersebut. Pria itu bersenandung nada Wedding March dengan ceria, sedangkan Chantal memutar bola matanya dengan tampang kesal. "Katakan di mana David dan papaku, Jordan?" tanya Chantal untuk menghentikan keisengan pria itu. Dengan asal-asalan Jordan menjawab, "Mungkin di neraka. Tempat mereka yang seharusnya!" Dia pun melangkah masuk ke dalam lift masih sambil menggendong Chantal tanpa merasa lelah sedikit pun, dia menyukai aroma dan kelembutan tubuh wanita itu. Sepertinya percuma saja bertanya kepada pria itu, pikir Chantal. Dia merasa dirinya berputar-putar dalam lingkaran setan yang menyiksa jiwanya. 'Papa, Dave, kuharap kalian baik-baik saja di mana saja kalian saat ini berada!' batin Chantal dalam diamnya. Petugas catatan sipil yang tadi siang bertemu dengan mereka berdua telah menunggu di dalam penthouse milik Jordan. Antonio Baldwin berdiri dari sofa ketika melihat pasangan mempelai yang seharusnya ia nikahkan tadi siang. Dia pun berkata, "Selamat petang. Saya harap belum terlalu terlambat untuk menikahkan kalian berdua. Mari!" Jordan menggandeng lengan calon istrinya menuju ke meja sofa dan dia tanpa ragu menanda tangani berkas-berkas pernikahan itu terlebih dahulu. Setelahnya dia menyerahkan pena ke Chantal. "Darling, giliranmu—" Dengan wajah galau Chantal bergeming menatap Jordan. "Aku—aaku," ucapnya terbata ingin menolak. Namun, tatapan keras mata biru pria itu membuatnya seakan tak berdaya. "Tanda tangani, Chant. Kita akan bersama tak terpisahkan selamanya," bujuk Jordan dengan senyuman tampannya yang bagi Chantal bagaikan iblis yang akan memenjarakan jiwanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD