"Kamu harus cepat kasih tahu Bang Nata, sebelum keputusanmu goyah. Dan aku pun lebih mendukung keputusanmu yang ini." Divya menatap Mirna dengan sorot penuh rasa terima kasih. Dia kemudian meraih ponsel yaang tergeletak tak jauh dari jangkauan tangannya. Senyum terbit di bibir tipisnya. Jemarinya bergerak mantap untuk mengetik nomor ponsel Nata yang sudah sangat dia hafal. Dering pertama, sambungan telpon itu dijawab. Meski pun rasanya saat ini jantungnya seperti sedang melakukan parade sebelum perang terjadi dan membuat huru-hara pada sekujur tubuhnya. Divya mantap untuk memberitahukan keputusannya kepada Nata. Dia butuh bantuan kakaknya itu untuk menyelamatkan kembali rumah tangganya. "Bang...," panggil Divya pelan begitu Nata mengatakan halo dari seberang sana. "Ya, Div.. .kamu baik

