PROLOG
***
Dia pintar ngegitar, kamu pintar berkawih. Kalian pasti cocok ngajar seni musik.
***
BRAK!
Jam setengah delapan, kenapa tidak ada yang memperingatkannya kalau hari sudah tinggi! Iif tergesa karena sudah terlambat. Namun, mendekap berkas-berkas sekolah di tangan, sudah pula menyampirkan ranselnya di bahu, bukan berarti dia sudah siap.
Anak tengah sang pemuka desa itu justru ribut mencari kantong yang muat dengan berkas-berkasnya.
“Umi! Ada tas kos---”
Tempelan tangan seseorang ke mulutnya memotong ucapannya. Iif menoleh, mendelik menatap Ahmad yang balas menatapnya malas.
“Hus, Umi sudah berangkat, Teh. Daritadi.”
“Ya terus kenapa ga ada yang bilangin aku di kamar mandi kalau hari sudah---”
“Sudaaaah,” Ahmad memotong lagi, “cuma Anda saja tidak dengar. Berkawih saja terus. Umi sampai bosan mengetuk pintu. Ada gramafon di telinga Teteh?”
Menanggapi sindiran itu Iif semakin mengeluh. Ia mendecak kesal pada Ahmad, tak menghiraukan. “Punya kantong buat,” saking paniknya, gadis itu tidak bisa melanjutkan ucapannya. Iif menunjuk berkas-berkas sekolah yang berupa tugas menggambar itu.
Jawabannya, dengan santai, Ahmad menariknya ke depan. “Ayo, aku antar saja.”
“Tapi kan kamu lagi sakit?”
“Lha, terus daripada telat? Yakin mau pakai sepeda Teh Fifi? Bawaan banyak gitu.”
Di ambang pintu rumah, Iif menghentikan langkah mereka, mencubit pipi adiknya dengan gemas. “Senang aku punya adek kayak kamu, Mad, Mad! Ayo, nanti telat!”
Hebring betul. Melihat tingkah kakak perempuannya, Ahmad mendengkus dan mengeluarkan motor dari garasi, mengantar si hebring bekerja sebagai guru piket di bekas sekolahnya dulu, MTs. PUI. Pengabdian, katanya.
Sementara deru motor itu terdengar lalu mulai menjauh, Abbas--suami Fifi--yang menggandeng Affin si sulung, menghela napas panjang menyadari kelakuan kedua adik iparnya itu.
“Baru aku mau titipkan Affin ke Ahmad ....”
*
Tak lama kemudian, Iif tiba di sekolah. Ia tak perlu berlama-lama karena pintu gerbang sudah ditutup. Jadi, begitu turun, Iif hanya berkata begini:
“Hati-hati pulangnya, ya! Makasih sudah diantar.”
“Hmm ….”
“Senyum, dong, biar makin ganteng!”
Ahmad tidak terlalu peduli ketika sepasang telunjuk Iif menarik sudut-sudut bibirnya. Dia menampakkan senyum palsu, lalu baru pergi saat sang kakak sudah di dalam gedung sekolah.
Iif melangkah cepat menuju kelas pertamanya hari ini. Sekarang memang masih jatahnya menggantikan Bu Euis, guru seni dan budaya itu, yang sedang memasuki masa akhirnya cuti melahirkan. Walaupun jadwalnya berkawih hari ini, tugas menggambar pertemuan yang lalu tetap harus dibagikan, itulah pesan Bu Euis.
Tak lama kemudian, Iif tiba di depan kelas yang dimaksud, kelas 3 MTs. Namun, tak seperti biasanya, ada Mar---sahabatnya sejak MTs---di pintu kelas yang terlihat habis mengantar seseorang. Murid barukah? Atau Bu Euis mengakhiri cutinya lebih cepat?
Tanpa disapa, Mar menyadari kehadirannya dan langsung menarik Iif untuk memperlihatkan siapa saja yang ada di dalam kelasnya.
“Ada siapa di dalam?” tanya Iif berbisik meski agak keras agar suaranya terdengar jelas.
“Namanya Karta. Dia temanku, pintar main musik. Dia bisa bantu kamu hari ini,” beritahu Mar.
“Aku gak perlu bantuan, Mar!” Iif langsung menolak---tapi lantas memperbaiki tata bahasa penolakannya agar lebih bisa diterima. “Ya, aku gak bisa main alat musik, tapi kan bisa saja cuma kelas bernyanyi? Gak usah pakai musik boleh, kok.”
Perkataan itu membuat teralihkan sejenak dari si teman yang sedang membuka jam pelajaran hari ini, masih memandang Iif dengan antusias, mungkin karena gegap bangganya melihat Karta berinteraksi dengan anak-anak itu.
“Ya, memang. Tapi nanti kalian akan kerja sama juga di Pramuka. Dia juga guru dan pembina, soalnya. Kan kamu tahu, sekolah kekurangan orang buat mengembangkan Pramuka. Mereka langsung setuju waktu aku saranin Karta bekerja di sini. Jadi, kenapa enggak dia bantu kelas kamu sekarang? Toh, cuma empat pertemuan---masing-masing satu di setiap caturwulan, kan.”
Dari semua penjelasan sahabatnya itu, yang Iif perhatikan nyatanya hanya, “Sejak kapan dia bekerja di sini?”
“Hari ini,” jawab Mar masih antusias. “Bersenang-senang, ya. Dia pintar ngegitar, kamu pintar berkawih. Kalian pasti cocok ngajar seni musik. Oke? Aku tinggal.”
Kalau sudah ceritanya seperti itu, Iif jelas tak bisa apa-apa. Percuma juga dia membujuk Mar supaya membawa temannya itu ke kelas lain. Guru seni di sekolah ini hanya Bu Euis, dan yang menjadi guru pengganti sementaranya adalah dia. Apa lagi yang bisa menjadi alasan Karta untuk batal mengajar di kelasnya?
Akhirnya, Iif melangkah masuk. Ia mengangguk pada Karta dan menyapa murid-muridnya. Kemudian, pembelajaran pun dimulai.
“Ayo, dibuka halaman 45, Mojang Priangan. A, mainkan gitarnya.”
BERSAMBUNG .....