bc

Pilihan Kedua Mr. Ray

book_age16+
0
ติดตาม
1K
อ่าน
love-triangle
แต่งงานตามสัญญา
ครอบครัว
รักเพื่อน
ผู้สืบทอด
ดราม่า
สาสมใจ
ใจถึง
เมือง
การโกหก
affair
like
intro-logo
คำนิยม

Valerie memang pernah diduakan, tapi bukan berarti dia mau dijadikan yang kedua.

Pernikahan kontrak yang ia jalani semata-mata hanya untuk mengambil warisan miliknya yang dikelola oleh sang ayah.

Tidak tebayangkan sebelumnya oleh Valerie bahwa dia akan menikah dan menjadi pikihan kedua dari suaminya yang merupakan lelaki simpanan wanita bersuami.

chap-preview
อ่านตัวอย่างฟรี
Chapter 1: Mendengar atau Tidak, Apa Bedanya?
Red dress, natural make-up, heels 8 cm, perawakan tinggi khas seorang model dengan pinggang ramping, Valerie Olsen tampak seperti bidadari yang turun dari khayangan. Menghadiri acara anniversary merupakan kegiatan rutinnya, baik formal maupun non-formal, setidaknya dia akan menerima undangan sebulan sekali. Kali ini, dia menghadiri acara anniversary sebuah bisnis butik seorang designer ternama di Asia. Pintu mobil dibuka dari luar saat mobil yang ditumpangi Valerie berhenti di depan gedung acara. Gedung bernuansa semi-finish menambah kesan natural seperti tema pesta hari ini. Valerie menginjakkan kakinya lagi di Jakarta setelah tiga tahun. Itu artinya, dia tidak pernah mengunjungi ayah dan keluargnya selama tiga tahun. “Selamat datang, Nona Valerie Olsen,” seorang greeter menyambut Valerie di pintu masuk. Dia juga tidak menyangka akan ada banyak kamera yang meliput. “Mari saya antar ke dalam.” “Terima kasih.” Valerie mengangguk, lalu mengikuti langkah sang greeter yang berjalan beberapa langkah di depannya. Sepanjang perjalanan, Valerie dibuat kagum oleh desain bangunan itu sendiri terlebih dari dekorasi yang dibuat oleh pembuat acara. Bunga-bunga bertebaran di seluruh koridor sampai ke aula utama. Valerie memasuki aula dan langsung bertemu dengan sang designer yang sibuk menyambut para tamunya. “Valerie.” Wanita perawakan Italia itu disambut suka cita oleh Gladys, sang designer. Mereka berpelukan dan bercepika-cepiki tanpa menyentuh pipi takut make-up mereka smaa-sama luntur, biasa, namanya juga perempuan. “Ibu Gladys, selamat atas satu dekade berkarir. Aku selalu bangga dan mendukungmu, Bu,” ucap Valerie kepada Gladys dengan penuh perasaan, rasa bangga, hangat, semua bercampur menjadi satu. Karena mereka sudah kenal begitu lama, Valerie dan Gladys sudah dekat selayaknya ibu dan anak. Mereka dijuluki ‘The Duo’ dalam dunia fashion, Gladys yang membuat pakaian indah dan Valerie yang menunjukkan dengan menawan. “Terima kasih, sayangku.” Gladys menoleh ke kanan dan kirim seperti sedang mencari seseorang. “Kau datang sendiri? Dimana adik tampanmu, sayang?” “Dia sedang ada tugas sekolah, Ibu. Jadi, dia tidak bisa ikut, aku sudah mengajaknya dan dia sebenarnya sangat ingin ikut. Tapi, pendidikan adalah yang terpenting untuknya sekarang,” balas Valerie penuh penyesalan. “Tentu saja, pendidikan adalah yang utama. Baguslah jika adikmu itu fokus pada sekolahnya.” Gladys menganggukkan kepalanya mengerti. Lalu, dia mengajak Valerie untuk duduk di kursi bersama yang lain. Sementara dirinya kembali menyambut tamu undangannya yang lumayan banyak, hampir lebih dari lima ratus undangan yang ia sebar. Melelahkan, tapi juga sangat menyenangkan di saat yang bersamaan. Valerie menoleh saat ada seseorang yang duduk di kursi sebelah kirinya. Dia mengerutkan keningnya. “Harpina, long time no see,” sambut Valerie. Ternyata bukan hanya para selebriti atau public figure saja yang diundang oleh Gladys, ibu rumah tangga pun juga ia undang, pikir Valerie dalam hati. “Valerie Olsen?” jawab Harpina ragu. Dia menatap Valerie lekat-lekat. Rasanya, dia lupa dengan orang di depannya, dia hanya ingat samar-samar. “The one and only,” sahut Valerie dengan senyum kecil. “Dimana Ricky Dylan? Tidak ikut denganmu?” Sebenarnya Valerie juga tidak terlalu mengenal wanita di depannya ini, yang ia kenal adalah suaminya, Ricky Dylan. Seorang pebisnis internasional di kalangan multimedia. “Dia sedang ada pekerjaan di luar negri,” Harpina menjawab. “Tentu, Ricky Dylan adalah pria yang sibuk, itu bisa dimengerti.” Valerie mengangguk, lalu terdiam sejenak, menimbang-nimbang ucapan yang akan dikatakan selanjutnya. “Dia lebih sering menetap di Singapore, ya?” Valerie meliriknya. “Kamu tidak ikut dengannya?” “Anakku memiliki kegiatan di sini dan dia lebih suka di Indonesia. Biasa anak-anak, lebih suka bermain dengan teman-temannya,” Harpina membalas dengan santai meskipun dia sebenarnya tidak bisa diam di tempat duduknya, merasa tidak nyaman dengan pertanyaan-pertanyaan yang dilemparkan oleh Valerie. Dia ingat sekarang dengan Valerie Olsen, dia adalah salah satu rekan kerja sang suami yang sering dia temui. Dia tidak bisa bertingkah sembarangan di depannya atau akan menjadi senjata makan tuan. “Tentu, anak-anak,” gumam Valerie acuh tak acuh. Kemudian, tidak ada lagi percakapan di antara mereka karena acara sudah dimulai. Valerie fokus menyaksikan sambutan dari Gladys, mendengarkan dengan seksama tentang sejarah perjalanan karirnya. Dia tidak melewatkannya satupun. “Dan saya juga ingin berterima kasih kepada Valerie Olsen, model dan juga sahabat kita sekalian.” Valerie yang merasa namanya disebut memberi penghormatan dan terima kasih kepada Gladys karena sudah menganggapnya begitu dekat. Setelah pemotongan kue, para tamu dibiarkan menikmati acara sampai selesai. Valerie sendiri mengobrol sana sini dengan banyak orang di sana. Dia baru mengundurkan diri setelah merasa panggilan alam menjemputnya. Dia berjalan keluar dari aula utama dan menyusuri lorong besar yang bertabur bunga. Valerie sangat suka melihatnya sampai dia lupa kemana tujuannya. Sampai di ujung lorong Valerie baru berhenti dan berputar untuk mencari arah toilet. Untuk desain gedung yang terlihat semi-finish, toiletnya sangatlah modern dan nyaman, tertutup, juga komplit. Valerie sekalian membenarkan riasan wajahnya sebelum keluar dari toilet, dia ingin selalu terlihat sempurna di depan publik sebagaimana citranya selama ini. Valerie memelankan jalan dan ketukan heels saat mendengar suara percakapan yang cukup menarik pendengarannya. Telinganya bergerak-gerak, gatal ingin mendengarkan. Perlu diingat, bahwa Valerie Olsen bukan orang yang suka mengurusi hidup orang lain. Tapi kali ini rasanya berbeda, ada keinginan yang datang untuk menguping layaknya berita yang wajib didengar. Hanya ada pembatas tembok tipis yang menjadi penghalang, dan itu cukup untuk menutupi tubuh jangkung Valerie. Mereka cukup berada di tempat yang tersembunyi dan itu sudah menandakan bahwa ‘mereka’ adalah sebuah rahasia. “Aku takut sekali, Ray. Valerie Olsen tadi sempat menanyakan tentang Ricky, dia mengenalnya dan juga aku. Aku takut dia mengatakan sesuatu kepada Ricky.” Suara Harpina begitu Valerie kenali karena belum lama tadi mendengarnya. Dia bisa konfirmasi bahwa wanita itu adalah Harpina, istri dari Ricky Dylan. “Mengatakan apa? Dia hanya bertemu denganmu dan tidak ada yang lain. Apa yang kau takutkan, Pina.? Tenanglah, kau mau aku antar pulang sekarang?” Suara pria itu jelas baru pertama kali ia dengar. Pria bernama Ray ini nampaknya sangat dekat dengan Harpina. Valerie belum mencurigai apapun karena percakapan terdengar normal-normal saja. “Apa kita bisa singgah ke rumahmu dulu? Setelah itu kita menjemput Mila di tempat bermainnya,” kata Harpina. “Sepertinya aku tidak bisa, Pina. Aku masih banyak urusan di sini. Setidaknya, aku harus menggaet satu investor agar bisa terus menjalankan bisnis ini. Biaya operasional gedung sangatlah tinggi dan akhir-akhir ini bisnisku berjalan merangkak.” “Sayang,” panggil Harpina manja. Valerie tidak mengeluarkan ekspresi terkejut, dia hanya menaikkan alisnya dalam bertanya. “Pina, mengertilah. Jika bisnisku bangkrut, kita bisa apa? Aku tidak ingin membuatmu kesusahan. Aku akan menemuimu malam ini di rumah. Suamimu tidak ada di Jakarta, kan?” “Tidak, datanglah. Aku akan menunggumu,” sahut Harpina yang terdengar dibuat menggoda. Jadi, mereka memiliki hubungan gelap, pikir Valerie dalam hati. Dia mengangguk-angguk, menyimpan informasi itu dengan baik di dalam otaknya. Lalu, Valerie mendengar suara kecupan ringan sebelum salah satu dari mereka pergi. Karena hanya bisa mendengar suara sepatunya saja, dia pikir bahwa yang pergi lebih dulu adalah sang pria. Sedangkan Harpina bergerak untuk memasuki toilet, dan betapa terkejutnya dia saat berpapasan dengan Valerie di pintu masuk toilet. Harpina berjengit terkejut bukan main mendapati Valerie berdiri di depannya. Wajahnya sudah pucat pasti, berbeda dengan Valerie yang terlihat santai. “Hati-hati, Harpina. Kamu hampir saja tersandung,” ucap Valerie, memegangi lengan harpina untuk menjaganya agar tidak terjatuh. “Ka—kau sudah lama di sini?” Harpina bertanya dengan gagap, keringat mulai membasahi pelipisnya. “Aku baru saja keluar dari toilet, aku hampir tersasar tadi,” Valerie terkekeh kecil dan terdengar sekali dibuat-buatnya. Hanya saja, Harpina tidak memperhatikan. Pikirannya berkeliaran jauh untuk memperhatikan detail kecil di sekitarnya. “Kau tidak mendengar apapun?” Dia bertanya lagi dengan jantung yang berdegup dua kali lebih cepat dari biasanya. Berdegup kencang seperti sedang ditunggangi, tapi kali ini bukan karena kesenangan melainkan ketakutan. Valerie tersenyum miring dan menggelengkan kepalanya. Lalu, dia melepas lengan Harpina dan berlalu begitu saja tanpa sepatah kata lagi.

editor-pick
Dreame - ขวัญใจบรรณาธิการ

bc

30 Days to Freedom: Abandoned Luna is Secret Shadow King

read
317.7K
bc

Too Late for Regret

read
350.1K
bc

Just One Kiss, before divorcing me

read
1.8M
bc

Alpha's Regret: the Luna is Secret Heiress!

read
1.3M
bc

The Warrior's Broken Mate

read
148.7K
bc

The Lost Pack

read
461.8K
bc

Revenge, served in a black dress

read
157.4K

สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook