Sabian duduk didepan keluarga mantan tunangannya sambil memasang wajah datar. Ia tampak menghela nafas. Perlu mengumpulkan niat yang besar untuk dirinya bisa sampai kesini demi membatalkan pemutusan kerja sama perusahaan mereka. Tentu bukan keinginannya. Semata-mata ini karena Ezra. Pria yang entah kenapa dan sejak kapan bisa mengenal Freya sampai sedekat itu. Ia saja tidak bisa merayu mantan tunangannya itu apalagi sampai tidur bersama. Lantas kenapa Ezra bisa dengan mudahnya? Memang dasar wanita picik. Dia tau mana yang bos besar dan kekayaan berlimpah. Ternyata dia tidak sepolos yang kukira. Sabian membatin. “Ada apalagi kamu kesini?” tanya Bernard dengan nada datar. Walau ia mencemaskan pemutusan kerjasama dengan perusahaan mantan calon menantunya itu, tak ayal ia juga merasa direnda

