Gudang sampah terbesar yang ada di rumahnya adalah batinnya sendiri. Batin Kirana telah penuh dengan timbunan luka yang telah membusuk. Bila semua itu bisa diolah menjadi kompos, mungkin sekarang sudah tumbuh hutan lebat di dalam batin Kirana.
Jelas Kirana marah.
Lebih tepatnya, dia marah kepada dirinya sendiri yang sekarang menyesal telah memilih pria yang bukan Bisma. Lebih tepatnya Kirana telah begitu saja membiarkan Willy memasuki perasaan dan kehidupan Kirana sebagai seorang suami. Kini Kirana menyesali kebusukannya sendiri.
Risiko mengajarkan Kirana tentang banyak hal. Termasuk melepaskan seseorang yang dulu pernah dia cintai namun ternyata perkara merelakan tidak sebercanda itu. Tiap pilihan pasti ada risiko yang menyertai. Seolah sekarang ini Kirana sedang menikmati hukuman semesta yang telah dijatuhkan khusus untuknya. Kirana dipaksa menerima hukuman ini.
Kirana terkesiap dari lamunan karena tiba-tiba dia mendengar suara yang khas. Suara yang setiap malam selalu dia dengar bersamaan dengan dentang ketiga dari jam lonceng tua raksasa yang ada di ruang tengah rumah Soecitro.
Kima.
Trisna dan Bisma seketika ikut menoleh ke arah sumber suara. Tangisan bayi itu kencang sekali. Kirana melihat Windhy yang sedang berusaha menenangkan Kima, namun gagal. Kirana masih bergeming di tempatnya berdiri saat ini. Seperti sedang mengendalikan dirinya sendiri karena distraksi dari Kima. Kirana hanya tidak ingin terlihat gugup di hadapan Bisma. Kirana tidak ingin buru-buru menghampiri Kima. Untuk sementara, Kirana tidak ingin Bisma mengetahui bahwa bayi itu adalah bayi yang baru beberapa hari lalu dia lahirkan.
Darah dagingnya.
Kirana baru saja menyadari tentang ikatan batin yang terlalu kuat antara dirinya dan Kima. Seolah Kima bisa membaca lonjakan emosi yang dipancarkan Kirana. Sehingga energi itu menular kepada Kima dan mengganggu tidur lelapnya. Kima yang tampak tenang bisa tiba-tiba menangis kencang. Saat emosi Kirana tidak stabil, begitupun yang terjadi dengan Kima. Bayi itu merasakan emosi ibunya. Perasaan hancur yang Kirana rasakan saat ini diekspresikan oleh Kima dengan begitu lugas.
Bisma masih berdiri seperti orang bodoh. Isi kepalanya mendadak kosong. Bahkan dia lupa untuk sekadar berbasa-basi untuk mempersilakan Kirana duduk.
“Oh ya, selamat ya, Mbak Rana, atas kelahiran anak pertamanya. Maaf ya, Mbak, aku telat ngucapinnya. Ngomong-ngomong, namanya siapa, Mbak?” celetuk Trisna tiba-tiba. Bisma sontak menoleh ke arah Trisna untuk kemudian kembali bertatapan dengan mata Kirana yang kini tampak gusar menatap mata Bisma.
Sontak Kirana melotot atas kalimat yang baru saja Trisna lontarkan. Dia melupakan satu hal penting sebelum berniat menyembunyikan identitas bayinya dari Bisma, yaitu keberadaan Trisna. Tentu saja Trisna mengetahui kabar kelahiran bayinya dari Gusti. Pasti kabar terbaru apapun soal keluarga Soecitro akan langsung menjadi buah bibir di antara staf Omah Lemper.
Bisma dan Kirana saling pandang, kemudian keduanya bergantian menatap Trisna. Kirana jadi tampak salah tingkah. Bisma ingin mengatakan sesuatu namun kalimatnya seolah tersangkut di kerongkongan. Bisma terbatuk.
“Maaf, mungkin lain kali aku ngobrol bareng kalian. Dia sangat membutuhkan ibunya sekarang.” Kirana menunjuk Kima dengan memberi isyarat tunjuk menggunakan dagunya. “Aku permisi dulu,” kata Kirana seraya bergantian menatap Bisma dan Trisna. Sebelum berlalu, Kirana menghampiri Trisna kemudian mendekatkan mulutnya ke daun telinga Trisna.
“Trisna, tolong jaga rahasia ini dari Gusti ya. Saya nggak mau Gusti tahu tentang pertemuan kita bertiga,” bisik Kirana di telinga Trisna. Walau bingung karena penasaran bercampur takut menanyakan alasannya, Trisna mengangguk sebagai balasan. Kemudian Kirana berlalu tanpa menoleh sesentipun ke arah Bisma.
Dari arah berlawanan, tiba-tiba Windhy berlari tergopoh-gopoh membawa serta Kima dalam gendongan. Alih-alih menghampiri Kirana yang telah menjulurkan lengannya untuk menerima Kima, Windhy berlari melewati Kirana untuk kemudian menghampiri meja Bisma dan Trisna.
Ajaib!
Tangis Kima mendadak berhenti. Bayi itu bisa tiba-tiba kembali tenang seperti semula. Entahlah, Kirana sampai heran dibuatnya. Sementara itu, Windhy tidak menyadari perubahan perilaku Kima.
“Kak Bisma ya? Ya ampun, ternyata bener. Kebetulan banget bisa ketemu Kak Bisma di sini.” Windhy spontan menjulurkan tangan kanannya kepada Bisma, sementara lengan satunya masih dia gunakan untuk menopang Kima. “Halo, saya Windhy, Kak. Masih ingat nggak? Menejer Omah Lemper. Ingat, kan?”
Bisma menjabat tangan Windhy dengan pandangan bingung. Bukan karena dia tidak ingat dengan Windhy, tetapi karena Bisma tidak menyangka bahwa dia akan mendapat jackpot sekaligus kesialan beruntun karena bertemu dengan orang-orang yang sangat ingin dia hindari, baik di sambungan telepon maupun di dunia nyata.
Ironis.
Windhy yang beberapa hari lalu sempat mengalami kesulitan menghubungi Bisma, kini tanpa disangka-sangka Windhy bertemu dengan Bisma secara kebetulan di kafe ini. Sementara itu, Bisma yang beberapa hari lalu berlagak sudah bisa pulih dari patah hati dan menolak sambungan telepon dari Kirana, bahkan enggan membalas chat dari Kirana di aplikasi w******p, kini tanpa disangka-sangka Bisma bertemu dengan Kirana secara kebetulan di sini. Ditambah lagi, Bisma yang sedang merindukan Kirana tetapi hatinya begitu keras dan selalu ingin melarikan diri dari fakta itu. Padahal Bisma sangat berharap bisa bertemu sekali lagi dengan mantan kekasihnya. Siapa lagi? Kirana.
Dan sekarang apa yang terjadi? Sebenarnya harapan siapa yang sudah dikabulkan oleh Tuhan?
“Ingat kok. Terakhir kali kita ketemu di stasiun Kediri ya, kalau nggak salah? Oh, ngomong-ngomong maaf ya, yang tempo hari. Saya nggak bisa angkat telepon dari kamu karena lagi bed rest. Nggak pengen diganggu sama dering telepon. Saya diberi tahu Indra, katanya kamu menghubungi Indra ya, karena gagal menelepon saya?” kata Bisma agak panjang menanggapi Windhy.
Kirana merasa diabaikan karena Bisma hanya minta maaf kepada Windhy saja sementara ucapan maaf Bisma tidak termasuk untuk Kirana juga. Padahal Kirana menelepon Bisma berulang kali sampai dia kesal ingin membanting ponselnya. Tetapi sekarang, apa yang Kirana dapat? Sama saja diabaikan seperti puluhan panggilan yang tidak terjawab tempo hari. Di satu sisi Kirana sebal dengan Bisma namun di sisi lain dia iba setelah mengetahui bahwa tempo hari ternyata Bisma sedang sakit dan butuh istirahat total.
Kirana mencoba mengambil alih Kima dalam gendongan Windhy namun Windhy mencegahnya dengan isyarat tangan. Dia khawatir Kima terbangun dan kembali menangis jika ada gerakan mendadak. Kirana mengerti. Dia membiarkan Windhy menggendong Kima untuk sementara.
Trisna mengajak semuanya duduk karena sepertinya obrolan ini akan terasa panjang dan butuh dilanjutkan. Sementara Bisma sama sekali tidak peka akan hal itu. Bisma masih bingung dengan keberadaan Kirana di tempat ini. Dia masih lumayan shock.
“Oh, mending kita duduk di meja sebelah sana aja, Tris, sekalian kami melanjutkan inspeksi. Mari silakan, Kak Bisma,” ajak Windhy kepada Bisma dan Trisna. Windhy melirik Kirana. “Boleh, kan, Mbak? Sayang banget, tuh, makanannya masih banyak.”
Kirana melotot mendengar ide Windhy. Namun akhirnya Kirana menyetujuinya karena dia seperti tidak diberi ruang untuk memilih.