13 # Kunjungan Kirana

1140 คำ
“Mbak Rana yakin sudah betul-betul pulih? Kalau belum mending jangan dipaksain kunjungan inspeksi ke kafe deh,” kata Windhy dari kursi kemudi. Kirana membawa serta Kima dalam gendongan. “Mbak nggak apa-apa, Win. Lagipula udah lama juga Mbak nggak mengecek keadaan kafe secara langsung. Mas Willy pesan ke Mbak supaya menyempatkan waktu buat ngurus kafe itu. Dia nggak mau kerja kerasnya selama ini sia-sia.” Kirana duduk di sebelah Windhy, kemudian mengenakan sabuk pengaman. “Mas Willy itu yang seharusnya sering-sering datang buat mengecek keadaan Mbak Rana, bukan malah melulu khawatir soal bisnis. Kima juga butuh kasih sayang dari bapaknya, kan, Mbak? Kapan sih, Mbak, dia pulang ke Indonesia?” gerutu Windhy sembari menjalankan mobil. Windhy mengomel sepanjang jalan. Kirana mencoba menenangkan Windhy. Mengajaknya bersabar. Sementara Windhy seperti masih belum terima jika kakak iparnya yang sekarang ada di Paris itu mengabaikan Kirana. Padahal Kirana baru saja melahirkan anak pertama mereka. Tetapi sampai hari ini tidak ada tanda-tanda dari Willy bahwa dia berniat pulang barang sebentar untuk sekadar menjenguk bayinya atau melepas kerinduan bersama Kirana. Bahkan memberi nama bayinya saja enggan. Kirana seperti menikah dengan sebuah mesin penghasil uang menurut Windhy. “Selamat siang, Ibu Kirana,” sapa salah seorang pegawai kafe diikuti yang lain. Dari luar terpajang besar-besar tulisan Tuesday Café di dekat pintu masuk. Begitu memasuki kafe, telinga Kirana tersentak. Dia menangkap sebuah lagu instrumental klasik favoritnya. Chopin - Nocturne Op.9 No.2. Alunan musik pada siang itu begitu lembut dan menenangkan. Kirana menyukainya. Begitupun dengan Bisma yang juga menyukai lagu yang sama. Kirana masih ingat ketika pertama kali dia mendengar instrumental piano klasik itu, Bisma duduk di sampingnya dan menyodori Kirana earphone miliknya. Penyuara telinga sebelah kiri Bisma sodorkan untuk Kirana, sementara Bisma memasang yang sebelah kanan di telinganya sendiri. Mendadak desiran aneh membuncah dari dalam diri Kirana. Dia bisa tiba-tiba merindukan Bisma di saat seperti ini. Salah seorang pramusaji mempersilakan Kirana duduk. Sebuah meja eksklusif di salah satu sudut telah mereka persiapkan khusus untuk menyambut istri direktur. Beberapa hidangan dengan aroma sedap, yang mampu membuat perut siapapun memberontak tiba-tiba, telah ditata sedemikian rupa di atas meja. Meja itu dibungkus dengan taplak cantik berwarna daun mint. Mulai dari pasta, steak, salad, aneka olahan ikan laut, hingga makanan penutup, semuanya terhidang di sana. Aroma manis seketika menguar ketika Kirana mengambil salah satu pudding di hadapannya. Kima terlelap dalam gendongan Kirana. Terlihat tenang sekali bayi itu. Apalagi didukung dengan suasana kafe yang tidak terlalu ramai pengunjung. Lagu Nocturne dari Chopin yang masih mengalun memenuhi seluruh ruangan membuat Kima semakin nyenyak. Musik klasik memang bagus untuk perkembangan otak bayi. Kirana, dibantu Windhy, mulai mengecek makanan yang telah tersaji satu per satu. Pramusaji membantu keduanya mengambil hidangan untuk diletakkan di piring kecil. Supaya lebih mudah dinikmati. Tentu saja Kirana tidak mungkin menyantap semua hidangan yang telah disediakan di meja. Dia hanya akan melakukan inspeksi kecil soal rasa makanan, bagaimana kebersihan dari proses memasaknya berikut cara koki menyajikan makanan serta minuman yang ada. Sembari mencicipi satu per satu hidangan, Kirana mengedarkan pandangan ke seluruh sudut kafe. Awalnya dia berniat mengamati interior yang ada. Memilah mana yang patut dipertahankan dan mana yang seharunya diganti dengan yang lebih baik. Mata Kirana berhenti di salah satu meja pengunjung. Ada dua orang yang mengisi meja itu. Sekilas terlihat seperti sepasang kekasih. Namun setelah Kirana memperhatikan keduanya lebih lama, sontak Kirana tersadar siapa laki-laki yang sedang mengobrol dengan pacarnya atau siapapun itu. Tetapi kurang puas rasanya jika Kirana tidak mendekat untuk memastikan penglihatannya. Apakah yang baru saja dia lihat adalah orang yang benar Kirana kenal atau bisa jadi matanya salah menduga. Kirana perlu memastikannya sekarang juga. Sendok yang Kirana pegang digeletakkan begitu saja di dekat piring makan. Kirana meminta Windhy untuk menggendong Kima sebentar saja. Kirana pura-pura ingin ke toilet ketika Windhy bertanya hendak ke mana Kirana pergi. Windhy mengangguk. Dalam hitungan detik, Kima telah berpindah dalam gendongan Windhy. Kirana bergegas berjalan menuju meja itu. Meja yang diisi oleh sepasang kekasih atau apapun itu. Meja yang terletak di dekat dinding kaca, sebelah pintu masuk. Entah kenapa sewaktu Kirana memasuki kafe, dia tidak menyadari sosok laki-laki yang duduk di situ. Dari sudut pandangnya saat ini, Kirana menebak bahwa apa yang dilihatnya tidak keliru. Kirana mengenali laki-laki itu. Dan dia tidak menduga akan bertemu dengan orang itu di sini. Orang yang selama ini dia pikirkan dalam sadar dan tidurnya. Seseorang yang pernah ada namun dalam beberapa tahun menghilang. Orang yang Kirana rindukan suaranya. Orang yang membuat Kirana mengesampingkan harga diri dan bahkan membuatnya nekat mengirim surat kepada orang itu melalui tangan Windhy. “Bisma?” tanya Kirana ketika dia sudah sampai di meja dekat dinding kaca. Sontak laki-laki yang dipanggil, menoleh. Betapa terkejutnya laki-laki itu begitu melihat Kirana. Dia mendadak berdiri dengan raut muka bingung bercampur kaget. Sementara Kirana belum menyadari siapa perempuan yang kini sedang bersama Bisma. “Mbak Rana ya?” sapa perempuan yang duduk dengan Bisma sembari tersenyum ramah menyambut Kirana. “Kamu kenal sama Mbak Rana?” Kali ini perempuan itu bertanya pada Bisma. Kirana terkejut mendapati siapa yang ada bersama Bisma saat ini, “Trisna? Ngapain kamu ada di sini?” Kirana tidak marah. Justru nada bicaranya dibuat girang ketika bertanya. Lebih tepatnya Kirana berusaha menutupi perasaan cemburu yang sedang meluap-luap. Trisna tersenyum karena senang sekali bertemu Kirana di kafe ini. Sungguh tidak menyangka. Trisna mempersilakan Kirana untuk bergabung dan duduk bersama mereka, namun Kirana bergeming. Dia masih tidak percaya bahwa Bisma ada di sini saat ini. Bisma benar-benar di sini. Dia ada dan nyata di sini saat ini. Nyata-nyata berdiri di hadapan Kirana! Kirana ingin marah dan melampiaskan semuanya di hadapan laki-laki itu. Termasuk melampiaskan kerinduan Kirana untuk Bisma. Tetapi Kirana berusaha keras menahan semua itu. Jika saja Trisna tidak sedang bersama Bisma, pasti saat ini Kirana sudah memaki Bisma habis-habisan karena tidak mengangkat telepon darinya beberapa hari yang lalu. Padahal Kirana sudah menjatuhkan harga diri demi sepucuk surat yang khusus dia alamatkan untuk Bisma. Kirana bahkan sudah menuliskan sederet nomor telepon di surat itu dan meminta Bisma menghubunginya. Kirana kecewa. Bisma bahkan tanpa ba-bi-bu enggan menjawab panggilan telepon dari Kirana. Menelepon balikpun tidak. Ditambah lagi, Bisma terang-terangan tidak membalas pesan w******p dari Kirana. Kalau dipikir-pikir, apa bedanya Bisma dengan Willy, suami Kirana? Dan apa yang Kirana lihat hari ini, sudah jelas menjawab seluruh kegelisahannya beberapa minggu terakhir. Bisma tiba-tiba ada di kota Kediri siang ini. Jauh-jauh dari Surabaya ke Kediri untuk duduk di kafe dan berkencan dengan perempuan yang Kirana kenal. Kirana tidak terima diperlakukan tidak adil seperti ini. Walau pada akhirnya dia menyadari bahwa prioritas Bisma telah lama berubah sejak lama. Dia sudah tidak berhak atas Bisma. Harusnya Kirana tidak cemburu melihat kedekatan Bisma dengan perempuan lain. Seharusnya Kirana senang melihat Bisma berbahagia dengan pacarnya atau bahkan jika Trisna adalah tunangan Bisma, seharusnya Kirana turut bergembira menyambut kabar itu. Tetapi Kirana hanya manusia biasa dengan segudang rasa cemburu dalam hatinya.
อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม