Sinyal S.O.S

1318 คำ
  Lidah Bisma tanpa sengaja tergigit saat dia mengunyah. Dia mengaduh.   Gawat! Berdarah.   “Enggak. Aku nggak akan minta bubur hambarmu kali. Santai dong makannya,” kata Indra yang duduk di tepi ranjang Bisma. Tiga hari ini, Indra menginap di kontrakan Bisma. Dia tidak tega membiarkan Bisma sendiri dengan kondisinya yang sekarang.   “Bahkan rasa darahku pahit-pahit hambar buat lidahku sendiri, Ndra,” jawab Bisma sembari meletakkan mangkuk berisi bubur di atas nampan. Kemudian meneguk sedikit air putih. “Air putih juga nggak punya rasa,” gerutunya. Bisma mendadak melankolis.   “Namanya orang sakit, Bis, pasti lidah kerasa pahit. Kalau air putihnya punya rasa ke kamu, palingan udah kamu kawinin dari dulu,” canda Indra. “Yang namanya air putih dari zaman Jahiliyah sampai lahirnya generasi-Z kayak sekarang nih, Bis, rasanya masih sama. Tawar, Boskyuuu. Kalau ada air putih yang rasanya manis, itu cuma ada satu di bumi. Tahu apa?” Indra sengaja mengajak Bisma bercanda sambil berpikir. Walau menurut Bisma tingkah Indra terasa agak menyebalkan tetapi Bisma sangat terbantu selama Indra menginap di kontrakannya tiga hari ini. Yang paling penting, Bisma jadi merasa tidak kesepian.   “Apa?” tanya Bisma pura-pura ketus. Jutek seperti cowok yang sedang berada di masa IMS atau Irritable Male Syndrome. Dia kembali menyendok buburnya yang baru tandas separuh.   “Tebak dulu. Ayo, coba tebak,” pancing Bisma sembari tergelak.   “Males, ah,” balas Bisma masih dengan nada bicara yang sama ketusnya dengan tadi. “Udah sana pulang. Kalau kamu kelamaan nginep di sini, yang ada bukannya sembuh, malah tambah sakit aku, Ndra.”   “Yeee, jangan ngomong gitu kali, Boskyu.” Indra menoyor bahu Bisma yang sedang menyendok bubur. Sesuap bubur nyaris saja tumpah ketika ujung sendok sudah dekat dengan mulut Bisma.   “Air putih yang rasanya manis itu air putih yang mengandung laktosa, Boskyu,” jawab Indra antusias. Kedua matanya berbinar seperti mendadak muncul gambar hati di sana.   “Maksudnya?” kejar Bisma sembari menaikkan sebelah alis. Otaknya tiba-tiba berada di mode sleep. Bisma benar-benar belum ngeh dengan maksud Indra.   “Ah, nggak usah pasang mode pura-pura blo’on gitulah, Bisma Pandowo.”   “Yeee … Pandowo! Sejak kapan namaku berubah jadi Pandowo?” protes Bisma tidak terima, namun intonasinya tidak menunjukkan bahwa dia tersinggung. Justru sebaliknya, Bisma mulai menikmati ‘candaan bapak-bapak’ yang Indra lemparkan kepadanya. “Panduwono kali, bukan Pandowo,” ralatnya kemudian.   “Dalam pewayangan, Bisma itu termasuk anggota keluarganya Pandowo bukan? Termasuk, kan?” sanggah Indra bersikeras.   “Yeee … nggak gitu juga kali. Dasar, Indra Lestari!” balas Bisma dengan nada bercanda.   “Lestari, Lestari.” Kali ini nada protes asalnya dari mulut Indra. Dia tidak terima nama belakangnya dinistakan sebagai nama perempuan. “Lesmono!” ralatnya ketus.   “Ntar aku kasih dual sound deh biar bisa stereo juga, nggak mono terus.” Bisma mencoba mengimbangi candaan bapak-bapak ala Indra. Bisma bercanda menggunakan nama belakang Indra yang mengandung kata ‘mono’.   “Hahaha, lucu, hahaha,” kata Indra dengan intonasi dan ekspresi wajah datar. Hal itu sontak mengundang gelak tawa Bisma.   “Indra Lestereo, hahaha, kedengaran lebih keren tuh, Ndra,” ejek Bisma dengan gelak tawa yang masih tersisa. Indra senang akhirnya Bisma bisa tertawa lepas. Jarang-jarang Bisma seperti ini. Sejak dua tahun belakangan.   Indra sudah hendak buka suara untuk membalas ejekan Bisma tetapi mendadak ponselnya berdering. Indra merogoh kantong jeans sebelah kiri. Sebuah ponsel pintar keluaran terbaru keluar dari sana.   “Halo?”   Terdengar suara dari seberang telepon. Sayup-sayup Bisma bisa mendengar suara perempuan dari seberang telepon karena jarak duduk Indra dengan Bisma yang terbilang cukup dekat.   “Oh, iya, Mbak. Gimana?” Indra tidak berniat untuk beranjak dari duduknya lantas menerima panggilan itu secara privat. Sesekali matanya melirik Bisma yang saat ini fokus dengan bubur. Seolah Indra ingin Bisma menyimak percakapannya dengan si penelepon. Kemudian ibu jarinya menekan tombol loudspeaker supaya Bisma juga mendengarkan.   “Jadi gini, Kak. Aku kesulitan menghubungi Kak Bisma untuk kontrak manggung yang udah kita bicarakan kemarin. Mungkin nomornya salah kali ya? Boleh minta nomor Kak Bisma yang bisa dihubungi nggak, Kak?”   Indra melirik Bisma untuk meminta persetujuan. Ketika Bisma menggeleng, Indra paham apa yang harus dia lakukan. Tangan Indra menyambar kantong plastik bekas bungkus bubur kemudian mendekatkannya ke lubang pengeras suara pada ponsel. Sembari diremas-remas supaya menimbulkan suara yang mengganggu.   “Err … apa, Mbak? Halo? Mbak Windhy? Maaf, suaranya putus-putus, Mbak. Halo?” Indra menjauhkan badan ponsel dari jangkauan mulutnya ketika mengatakan itu. Masih terdengar suara Windhy dari seberang yang juga mengulang kata ‘halo?’ beberapa kali. Kemudian sambungan diputus begitu saja oleh Indra.   “Keren,” komentar Bisma sembari meletakkan mangkuk buburnya di atas nampan. Isinya telah tandas. Kemudian tangan Bisma meraih kaplet-kaplet aneka warna di samping gelas air putih.   Indra mengangkat bahu dengan raut muka bangga ketika mendapat pujian dari Bisma atas kepiawaiannya menghilang tiba-tiba di sambungan telepon. “Kamu bener-bener nggak ada niatan buat bales panggilan telepon dari mereka?” Tiba-tiba wajah Indra berubah sendu. Dia prihatin pada sikap Bisma.   “Mereka siapa?”   “Siapa lagi kalau bukan Windhy …” Indra memberi jeda sejenak sebelum pada akhirnya melanjutkan maksudnya, “… dan Kirana.”   Sontak Bisma terbatuk ketika meneguk air putih. Untung saja obatnya sudah tertelan. Bahkan setelah dua tahun berlalu, nama Kirana masih membuat Bisma gugup dan salah tingkah sampai sekarang.   “Aku sengaja mematikan ponselku sejak tiga hari yang lalu,” aku Bisma pada akhirnya.   “Untuk menghindari telepon dari Kirana?” terka Indra.   Bisma menggeleng ragu-ragu. Seperti ingin berkata iya tetapi terhalang harga diri. “Panggilan terakhir yang aku terima tiga hari lalu, cuma dari kamu. Habis itu udah, aku nggak mau diganggu. Capek, Ndra. Pengen bed rest.”    “Aku ngerti, kok. Kamu cuma belum siap buat menghadapi Kirana lagi, setelah dua tahun kalian nggak saling kontak.”   “Nggak usah sok tahu.” Bisma menggumam lirih sembari membuang muka. Nada bicaranya tidak marah, tetapi juga tidak menolak empati yang coba diberikan Indra.   “Terus apa alasanmu nolak telepon dari Kirana? Bukannya kamu kangen sama dia? Aku kira dia juga kangen sama kamu, Bis. Buktinya surat itu. Dia sampai nyempatin waktu buat nulis surat itu buat kamu.”   Bisma tidak tahu harus memulai ceritanya dari mana. Dia menghela napas panjang. “Aku bingung, Ndra. Jujur aku bingung sama sikap Kirana yang kayak gitu. Apa coba maksud dia? Meminta aku menghubunginya lagi setelah dua tahun kami nggak pernah kontak. Dan lagi, ketika sekarang dia udah bersuami. Apa coba maksudnya? Apa dia menginginkan aku buat jadi selingkuhannya gitu? Aku nggak mau merusak hubungan orang lain, Ndra.”   Baru kali ini Bisma terlihat nyaman melepaskan emosinya. Matanya berembun karena titik air mata yang mendesak keluar namun berusaha keras dia tahan.   “Ya, aku paham banget soal itu. Tapi, Bis, kalau kamu mau sedikit peka sama sinyal-sinyal yang coba Kirana sampaikan, mungkin saat ini dia lagi mencoba ngasih tahu ke kamu kalau dia minta diselamatkan. Entah dari apapun itu, aku yakin kamu yang lebih tahu sebagai orang yang pernah spesial di mata Kirana, bahkan bisa jadi sampai sekarang kamu masih dianggap seperti itu sama Kirana. Dia semacam ngirim sinyal S.O.S ke kamu. Aku yakin Kirana juga sama tertekannya seperti kamu selama dua tahun terakhir.”   Bisma diam. Dia seperti sedang berpikir. Mencoba mencerna dan menimbang-nimbang nasihat Indra.   “Save Our Soul, Bis. Seolah kayak Kirana tuh pengen ngomong gitu ke kamu. Selamatkan jiwa kalian berdua. Apa kamu udah yakin nggak mau menemui Kirana sekali lagi?”   Bisma tersentak. Dia menangkap tatap mata Indra yang begitu prihatin dengan keadaannya saat ini. Kemudian lagi-lagi, menggeleng ragu sebagai jawaban.   PLAK!   Suara yang ditimbulkan ketika mendadak tangan Indra menampar wajah Bisma. Bukan reflek Bisma yang buruk sehingga tidak bisa menghidari serangan yang tiba-tiba, tetapi karena gerakan Indra yang seolah tidak bisa terbaca.   Cepat, senyap dan tiba-tiba.   Cukup keras Indra mengayunkan tangannya sampai muncul bekas merah yang samar di wajah Bisma dan telapaknya. Bisma nyaris oleng.   “Apa-apaan sih!” bentak Bisma.   [ ]
อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม