Rumah Asuh Asih

1537 คำ
“A song is a loyal friend ever. Its voice doesn't hurt your distraught feelings. While your parents' voice of command is a song that hurts the most.” – Bisma Panduwono   **   Bisma kaget.   Tidak ada angin, tidak ada petir, tiba-tiba Indra menamparnya. Cukup keras sampai Bisma nyaris saja terjengkang dari ranjang.   “Kesurupan apa sih kamu, Ndra?” protes Bisma untuk kali kedua. Detik berikutnya Indra nyengir.   “Sorry, sorry,” ucap Indra dengan agak menyesal diselingi gumam tawa. “Nih,” lanjutnya sembari  menunjukkan bekas merah yang menempel di telapak tangan. Setitik darah yang pekat.   “Banyak banget nyamuk di kamarmu, Bis. Untung dia datang cuma buat mengisap darah, bukan menghisab amal baik dan buruk,” kata Indra sembari bangkit mengambil tebah kasur yang digantung di dinding di samping kalender. Menampilkan lembar bulan Maret tahun 2018.   Lagi-lagi Indra melontarkan candaan khasnya —dad jokes; candaan bapak-bapak. Bisma memutar kedua bola mata. Mulai deh, batinnya. Benar-benar tidak habis pikir dengan tingkah Indra yang random dan serba tiba-tiba itu. Kadang kangen juga bila Blue Java berkumpul tanpa kehadiran Indra. Serasa dunia kehilangan bapak. Pasti terasa ada yang kurang.   Bisma meyakini bahwa sebuah lagu adalah teman setia yang pernah ada. Suaranya tidak menyakiti perasaan putus asa di dalam diri seseorang. Seperti itulah sosok Indra di mata Bisma. Meski kadang Indra bertingkah random, tetapi jauh di dalam hati, Bisma menaruh rasa hormat pada Indra.   Sementara suara perintah dari orangtua adalah sebuah lagu yang paling menyakitkan menurut Bisma. Sejak kejadian empat tahun yang lalu, ketika pertama kali Bisma mengenal Indra, Bisma masih belum lupa bagaimana dulu Indra menyelamatkan kewarasannya dari keinginan paling gila —menutup usia, dengan masih menyimpan seribu tanda tanya di kepala. Penyebabnya masih sama. Juga soal wanita.   Pertemuan dan perpisahan adalah sekat yang tipis. Butuh menghabiskan banyak waktu untuk benar-benar memahami persamaan di antara keduanya. Sebab mereka sama-sama melahirkan pertanyaan "kenapa?"   Kenapa mencintainya kalau kamu harus menunggu lama demi bisa memiliki?   Kenapa melepaskannya kalau kamu masih menunggunya memilikimu?   Kamu bisa dikatakan benar-benar mencintai seseorang ketika kamu bersedia menunda pertanyaan "kenapa?" di dalam kepala. Dan saat kamu bersedia menepikan alasan-alasan demi menemukan jawaban, hatimu berkata bahwa tidak perlu lagi menjawab pertanyaan "kenapa?".   Hatimu tidak butuh alasan lain selain serius memperjuangkan semuanya.   Dan Bisma sudah pernah memperjuangkan seseorang empat tahun silam, namun dia belum mampu lepas dari keinginan untuk menjawab pertanyaan kenapa. Dan tidak ada yang memberitahunya untuk berhenti mempertanyakan pertanyaan itu. Sampai akhirnya Bisma bertemu dengan Indra.   “Bisma!” ulang Indra. Sudah tiga kali dia memanggil tetapi tidak ada sahutan. Seketika Bisma tersentak dari lamunan.   “Hm? Apa, Ndra?” Bisma gelagapan.   “Yeee … malah ngelamun nih bocah.” Indra menghampiri Bisma dan kembali duduk di tepi ranjang. Tiba-tiba raut mukanya berubah serius.   “Sebelumnya sorry, ini bukan nasihat dan silakan diabaikan kalau kamu ngerasa aku sok tahu tentang keputusanmu,” kata Indra. “Tapi coba sesekali percayalah sama suara hatimu. Karena kadang suara di dalam kepalamu justru menyesatkan.”     **     Kediri, Maret 2014   Bisma masih belum bosan mendengarkan suara wanita itu.   Duduk di sebuah bangku kayu, di atas panggung mini, ditonton puluhan anak-anak Rumah Asuh Asih beserta para perawat dan pengasuh yang bekerja di panti asuhan itu. Tangan wanita itu memegang lembaran kertas berisi teks cerita dongeng yang dia tulis sendiri. Setiap Sabtu, Bisma mengantar wanita itu ke tempat ini. Seorang wanita yang membuatnya rela menghabiskan jam istirahat malam untuk sekadar bertelepon sebelum terlelap.   “Konon, ada sebuah kota yang paling tidak ramah kepada pendatang baru.” Asih mengawali ceritanya.   “Kota itu menolak ditinggali setiap ada pria atau wanita yang ingin mendekat masuk. Bahkan semua pendatang tidak diizinkan untuk sekadar berkeliling melihat isinya. Kota menutup halamannya bahkan sebelum si pendatang sempat membaca situasi yang ada.   Sampai suatu ketika, ada seorang pria pendatang dari barat daya yang mencoba memasuki kota pada malam purnama saat para warga mulai mematikan penerang di rumah mereka untuk bersiap lelap.   Pria itu disambut oleh dua penjaga usia lanjut untuk ditanyai asal-usul.   Dari desa di wilayah barat daya, jawabnya.   Lantas tidak ada pertanyaan kedua. Kedua penjaga berhenti bertanya setelah melontarkan pertanyaan pertama.   Pria itu bernasib sama seperti pendatang lainnya: ditolak. Bahkan sebelum dia mengutarakan keinginannya untuk tinggal, kedua petugas telah lebih dulu menanggalkannya karena penampilan si pria yang kumal dan buruk rupa. Ironis sekali, pendatang sebelumnya dari kota seberang yang konon bagus rupa, berpenampilan menarik dan modis juga ditolak oleh kota. Lantas apa yang menjadi prasyarat untuk bisa masuk dan menetap?   Jauh setelah tujuh purnama berlalu, barulah terbongkar bahwa ternyata pria pendatang dari desa barat daya dan pria pendatang dari kota seberang adalah orang yang sama.   Pria itu bahkan sempat beberapa kali datang dengan menyamar sebagai wanita dengan maksud yang sama: diizinkan tinggal. Tetapi gagal.   Padahal dia datang dengan hati yang putih dan niat yang bersih. Tetapi tampaknya segala hal harus diukur dengan pamrih.   Kemudian, pria itu memutuskan untuk mengecat seluruh tubuhnya menggunakan cat yang warnanya senada dengan bata. Sampai akhirnya, dia diterima oleh kota dan diangkut memasuki gerbang oleh dua orang penjaga. Tetapi tiba-tiba, tubuh pria itu diletakkan di ujung gundukan tanah sebagai pengganti batu nisan.   Di dalam kota ternyata tidak ada manusia atau makhluk hidup lainnya. Rumah-rumah atau gedung pencakar awan telah dipasangi penerang pintar yang akan otomatis menyala dan mati bila sudah waktunya. Hanya ada patung batu bata di sepanjang jangkauan mata.   Dan pria itu harus berpura-pura menjadi batu untuk selamanya.   Dingin dan diam.   Bahkan rela mengesampingkan perasaan.”   Tepuk tangan meriah datang dari bangku penonton segera setelah Asih menutup pembacaan dongengnya. Bisma tersenyum mendapati Asih mengedarkan pandangan mencari di mana tempat duduk Bisma. Dan saat mata mereka bertemu, Asih mendadak ambruk.     **     Kediri, Maret 2018   Trisna tiba-tiba viral di media sosial setelah dia mengikuti acara seleksi pembacaan dongeng yang diadakan oleh Rumah Asuh Asih. Panti asuhan itu sedang mencari pendongeng untuk diberi kontrak kerja. Trisna ingin mencoba peruntungannya dengan mengikuti acara ini.   Di unggahan i********: Rumah Asuh Asih, Trisna terlihat sedang membacakan sebuah dongeng anak-anak. Banyak komentar yang mengatakan kalau ceritanya unik, karena Trisna menyelipkan sejarah di dalamnya. Seluruh staf Omah Lemper bangga dengan Trisna, termasuk juga Gusti. Trisna mendadak terkenal.   Di tempat lain, Bisma menggenggam ponselnya dengan posisi horizontal. Di sana sedang diputar video viral tentang Trisna.   “Konon sekitar tahun 1950, ada seorang imigran dari Jawa. Dia membawa resep kudapan tradisional khas daerahnya untuk kemudian memperkenalkan kudapan itu kepada seorang Belanda. Sebut saja nama imigrannya adalah Popon. Sedangkan nama orang Belandanya adalah Tuan Kle.” Trisna mengawali pembacaan dongeng yang dia karang sendiri.   “Suatu hari, Popon diminta oleh Tuan Kle untuk membuat hidangan sederhana untuk sebuah pesta perjamuan. Hidangan yang diminta oleh Tuan Kle tidak hanya harus enak tetapi sekaligus mampu membuat takjub para tamu undangan. Bila Popon berhasil, maka Tuan Kle berjanji akan memberi hadiah yang sangat mahal kepada Popon. Tentu saja Popon menyanggupi tantangan itu.   Keesokan paginya, pesta perjamuan pun dimulai. Di salah satu meja telah terhidang sepiring besar kudapan. Bentuknya bulat-bulat kecil berwarna hijau. Di atasnya seperti ditaburi salju.   "Apa yang terlihat seperti salju ini, Pon?" tanya Tuan Kle dengan mata berbinar. Di samping kanan-kirinya berdiri dua orang Madam yang jelita. Madam Moi dan Madam Selle merupakan rekan bisnis Tuan Kle.   "Daging buah kelapa yang diparut, Tuan," terang Popon.   Tuan Kle mempersilakan tamunya untuk mencicipi kudapan itu. Tangan kanan Tuan Kle meraih garpu di sebelah piring kecil. Popon membagi kudapan bulat itu ke beberapa piring kecil supaya bisa langsung dinikmati oleh para tamu. Saat Tuan Kle hendak menusuk kudapan bulat itu dengan garpu, Popon mencegahnya.   "Tunggu, Tuan!"   Tuan Kle melotot menatap Popon. Dia tersinggung. Kedua alisnya bertemu. Tuan Kle nyaris saja marah karena dilarang.   "Sebaiknya Tuan dan Nyonya tidak menggunakan garpu ketika menyantap kudapan ini," kata Popon.   "Lalu bagaimana?" kejar Madam Moi yang berdiri di sebelah kiri Tuan Kle.   "Dengan tangan kosong," jawab Popon sembari memberikan contoh. Dia mengambil satu bola kudapan berwarna hijau itu menggunakan tangan kanan. "Seperti ini, Nyonya. Dan tidak boleh digigit sedikit-sedikit. Satu bulatan untuk sekali suap."   Popon memasukkan seluruh badan kudapan ke dalam mulutnya dan mulai mengunyah dengan nikmat.   Tuan Kle dan Madam Moi saling pandang. Madam Moi memprotes dengan bahasa Belanda yang tidak dimengerti Popon. Tuan Kle menanggapinya dengan protes dalam bahasa yang dimengerti Popon.   "Kamu merusak etika makan milik kami!" hardik Tuan Kle kepada Popon.   "Benar! Bagaimana bisa kami makan tanpa sendok atau garpu? Sangat tidak higienis," timpal Madam Selle yang berdiri di sebelah kanan Tuan Kle.   "Kami tidak bisa mengikuti aturanmu. Kami punya etika sendiri saat makan. Dan tentunya lebih bersih dan lebih berkelas," bantah Madam Selle dengan angkuh.   Tuan Kle meraih kembali garpu di samping piring kudapan diikuti kedua Madam yang juga melakukan hal serupa. Tetapi tiba-tiba Madam Moi dan Madam Selle menjerit kecil karena kaget. Cairan berwarna cokelat muncrat dari dalam kudapan begitu keduanya menusuk salah satu bola kudapan menggunakan ujung garpu. Cairan manis itu jatuh mengenai gaun indah mereka tepat di bagian d**a. Seketika, keduanya menjadi pusat perhatian para tamu undangan. Madam Moi dan Madam Selle merasa diri mereka seperti sedang dipermalukan di depan umum.   Tuan Kle melotot ke arah Popon.   "Popon! Apa yang kamu lakukan dengan kudapannya?" protes Tuan Kle.   "Itu hanya gula merah, Tuan. Dan sudah saya sarankan cara makan yang benar, tapi Tuan tidak mau mendengar," ucap Popon ringan sembari mengangkat bahu.   **
อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม