Prolog
"Mbak, belnya bunyi tuh, Julian biar sama aku saja, kamu tolong buka pintunya dulu ya." Winnie sedang mengawasi putranya yang sedang makan buah sambil bermain Lego bersama baby sitter. Dia sendiri duduk dan mengerjakan tugas kuliahnya di dekat mereka.
"Baik, Bu." Baby sitter itu baru mau berdiri saat pembantu yang mendengar suara bel lebih dulu berjalan ke arah pintu dan membukanya.
"Sudah di buka sama mbak Ina, Bu." Suster kembali duduk dan mengambil piring buah untuk menyuapi anak majikannya.
Ada suara wanita yang sepertinya menyapa, Winnie tidak terlalu mendengar jelas. Namun segera menoleh ke arah ruang tamu ketika mendengar suara langkah kaki mendekat. Sayangnya dari ruang bermain dan ruang tamu ada belokan yang membuat Winnie tidak bisa melihat siapa tamunya.
"Bu, ada Nona Shu-Shu datang bersama temannya." Pembantu yang tadi membuka pintu segera memberitahu majikannya setelah terlebih dulu menyuruh tamunya duduk.
Shu-Shu adalah teman dari istri majikannya dan sudah beberapa kali datang ke rumah itu untuk bertamu. Jadi, pembantu di sana juga sudah mengenalnya.
"Oke, mbak." Winnie meletakkan penggaris untuk memberi tanda pada bukunya. Lalu menutup dan meletakkan di meja dengan rapi.
"Julian ikut ibu yuk, ada Tante Shu-Shu datang." Winnie menghampiri putranya yang berusia satu tahun. Namun, memiliki sikap seperti anak berusia lima tahun yang sudah lancar berkomunikasi.
Biasanya anak berusia satu tahun baru bisa berjalan dan bicara masih tidak jelas, bahkan baru bisa mengucapkan baba, mama sudah bisa dikategorikan pintar. Namun, gen Cohza memang sepertinya bukan hanya pintar, mereka sangat jenius karena Julian sendiri sudah berjalan di usia sembilan bulan dan bicara dengan lancar di usia sebelas bulan. Jadi, Winnie tidak memiliki pengalaman yang banyak dialami ibu-ibu lain, di mana anaknya mengatakan sesuatu yang tidak dimengerti ibunya hingga membuat anak mereka kesal dan menangis.
"Apa Tante Shu-Shu membawa Lego?" tanya Julian.
Mendengar itu Winnie tertawa, anaknya itu memiliki hobi yang sama dengan saudara kembar suaminya, yaitu mengoleksi Lego.
"Entahlah, mungkin bawa, mungkin juga tidak," jawab Winnie lalu mengulurkan tangan dan menggendong putranya yang terlihat seperti Justine sang ayah.
Memiliki wajah sangat tampan dan mata biru yang cantik dari keturunan Cavendis.
"Tapi, Tante Shu-Shu bilang akan membawakan aku Lego capung saat datang lagi." Julian yang juga mewarisi ingatan fotografis ayahnya langsung mengingat janji tersebut, dia bicara sambil memeluk leher ibunya.
"Baiklah, ayo kita tanya." Winnie membawa Julian ke arah ruang tamu, di mana sudah duduk dua wanita yang membelakangi dirinya.
"Tante Shu-Shu." Sebelum Winnie menyapa, Julian lebih dulu berteriak memanggil sehingga Shu-Shu dan wanita itu langsung menoleh ke arahnya.
Tapi, seketika tubuh Winnie terdiam kaku saat melihat siapa yang ada di sebelah Shu-Shu.
Wanita itu adalah ...
Wanita yang sudah setahun menghilang.
Wanita yang dulu memporak porandakan hidupnya.
Wanita yang mengaku sebagai teman, tapi menjadikan dirinya kambing hitam.
"Winnie, apa kabar?" sapa wanita itu dengan mata yang tidak tertuju ke arahnya tetapi malah tertuju pada anak dalam pelukannya.
"Z-Zze?" ucap Winnie sangat terkejut.
Bagaimana bisa?
Bagaimana bisa temannya ada di sini?
"Apakah ini ... anakku?" tanya Ze ingin mendekat ke arahnya, reflek Winnie mundur dan memeluk Julian lebih erat.
"Julian, pergi ke kamar," perintah Winnie dan langsung mendorong anaknya pergi dengan panik.
Untung Julian anak yang cerdas. Jadi, saat melihat wajah ibunya yang serius dia tidak membantah dan langsung berlari menuju kamar.
"Winnie, kenapa kamu begitu? Ze hanya ingin melihat anaknya sendiri." Sikap Winnie yang penuh penolakan pada Ze, membuat Shu-Shu tidak senang dan segera mengingatkan Winnie bahwa anak dalam pelukannya adalah anak kandung Ze.
"Anaknya?"
"Apakah dia pantas?" tanya Winnie dengan nada miris.
"Kamu kok ngomong begitu sih?" protes Shu-Shu.
"Kenapa? Tersinggung?" tanya Winnie dengan ketus.
"Winnie, Julian memang anakku." Ze bicara dengan lembut, seolah tidak mempermasalahkan nada kasar temannya itu.
"Anakmu?" Winnie tersenyum sinis.
"Apakah kamu masih berani bilang ini anakmu Ze? Setelah setahun yang lalu kamu menelantarkannya?" Winnie masih ingat dengan jelas pengalamannya setahun lalu yang sangat menakutkan.
"Winnie, aku minta maaf, saat itu aku benar-benar terdesak, aku khilaf dan mengaku salah." Ze memasang wajah sedih dan penuh penyesalan.
"Terdesak? Seberapa terdesak sampai kamu tega meninggalkan bayi yang baru berusia satu bulan?" tanya Winnie dengan rasa kecewa dan sakit hati.
"Tahukah kamu? Apa yang harus aku alami karena perbuatanmu?" tanya Winnie lagi, saat itu dia merasa panik, takut dan khawatir karena tiba-tiba harus merawat bayi yang bukan anaknya.
"Aku tahu itu hal yang sulit, tapi setahun ini juga bukan waktu yang mudah untukku, tolong maafkan aku karena aku hanya ingin kembali bersama anakku." Mohon Ze.
"Ayolah Winnie jangan mempersulit hal ini, Julian adalah anak kandung Ze dan dia yang hamil serta melahirkannya." Shu-Shu ikut bicara, terlihat khawatir kalau Winnie tidak akan mengizinkan Ze menemui anaknya.
Winnie diam dengan otak yang kacau, dia masih merasa shok dengan kedatangan tiba-tiba temannya itu, Winnie juga bingung dengan apa yang harus dia lakukan sekarang.
Di satu sisi, Julian memang anak kandung Ze dan sebagai ibu tiri dia tidak pantas mencegahnya bertemu, tetapi di sisi lain dia masih merasa sakit hati dengan perbuatan temannya itu.
"Winnie, asal kamu tahu ya, aku juga butuh usaha keras agar aku bisa kembali ke sini dan menemui anakku. Aku bahkan rela meninggalkan kehidupan yang nyaman demi menggantikanmu di sini." Ze mulai mendesak, seolah-olah memiliki tujuan tertentu.
"Ap-apa maksudmu? Menggantikanku?"
"Bukankah kamu bilang Justin menikahimu karena mengira kamu ibu dari Julian? Kamu juga bilang kamu tidak mencintainya. Jadi, Ze datang untuk menyelesaikan kesalahpahaman ini dan membebaskanmu." Shu-Shu ikut bicara.
"Membebaskan aku? Maksud kalian apa sih?" Winnie merasakan firasat buruk.
"Winnie, aku tahu kamu melakukan pernikahan ini karena terpaksa. Jadi, setelah aku berpikir dengan matang, aku bersedia mengambil posisi yang seharusnya menjadi milikku, yaitu menjadi istri dari Justine dan ibu dari Julian," ucap Ze tanpa rasa bersalah sama sekali.
Seolah-olah ada guntur di siang hari kata-kata Ze seperti menyambarnya dengan telak.
"Ap-apa?" Winnie tercengang, merasa tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
Apakah temannya bermaksud merebut suami dan anaknya?
"Kamu ... kamu!" Winnie sampai kehilangan kata-kata karena marah.
"Kamu hanya menikah kontrak 'kan? Jadi, setelah Justine mengetahui kebenaran bahwa aku ibu kandung Julian, dia pasti akan dengan sukarela menikahi aku dan kamu bisa bercerai dari Justine sesegera mungkin," ucap Ze ringan dan penuh percaya diri hingga mampu meruntuhkan dunia Winnie.
Jika itu dulu, Winnie akan dengan senang hati melepas Julian dan Justine tanpa beban. Namun, setelah setahun kebersamaan, apakah temannya itu menganggap dia tidak memiliki perasaan sama sekali?
Apakah menurut mereka, suami dan anak bisa ditukar sesuka hati?
"Kamu benar-benar egois." Winnie menunjuk dengan jari gemetar.
"Kamu sudah memilih pergi, kenapa sekarang kamu kembali?" tanya Winnie dengan rasa kecewa yang teramat sangat dan air mata seketika jatuh ke pipinya.
"Winnie, kamu boleh menyalahkan aku karena aku tahu aku salah, tapi sekarang aku sudah berubah, aku rasa ini yang terbaik untuk kita semua."
"Yang terbaik? Terbaik untukmu sendiri?" teriak Winnie dengan d**a semakin sesak.
"Tentu saja untuk anakku!" Ze membantah.
"Winnie, apakah kamu jatuh cinta pada Justine?" tanya Shu-Shu saat melihat penolakan keras dari Winnie, seketika dia merasa curiga.
Winnie tidak membantah karena menurutnya sangat wajar jika dia jatuh cinta pada suami yang setahun bersama dan setiap malam berbagi bantal dengannya.
"Winnie, keluarga Cohza sangat menghargai keturunannya. Jadi, mereka juga sangat menghargai menantunya, kamu hanya pengganti sementara Ze saat dia tidak ada, tapi sekarang dia kembali bahkan jika kamu tidak mau keluarga Cohza pasti akan lebih memilih ibu kandung Julian dari pada dirimu yang hanya menikah kontrak, bagaimanapun mereka keluarga kaya dan pasti tidak mau memiliki skandal yang buruk." Shu-Shu mengingatkan dan setiap kata benar-benar memojokkan Winnie hingga tidak memiliki celah untuk membalas.
"Pikirkanlah! Aku dan Shu-Shu pergi dulu dan akan datang lagi nanti." Ze seperti wanita penuh rasa toleran, dia tersenyum lalu menarik Shu-Shu pergi.
Meninggalkan Winnie yang berada dalam kehancuran.