bc

Lima Tahun Setelah Berpisah

book_age18+
0
ติดตาม
1K
อ่าน
แนวดาร์ก
ครอบครัว
เย่อหยิ่ง
เจ้านาย
ดราม่า
โศกนาฏกรรม
ชายจีบหญิง
เมือง
ออฟฟิศ/ที่ทำงาน
ความลับ
affair
like
intro-logo
คำนิยม

Melihat Sagara Mandala Djiwa mendesahkan nama wanita lain di ranjang mereka menghancurkan hati Niskala Kirana Putri yang sedang memeluk alat tes kehamilan. Ia memilih pergi membawa rahasia besar itu. Lima tahun berlalu, Niskala kembali menjadi sekretaris Sagara. Mampukah Sagara menyadari ada darah dagingnya yang disembunyikan di balik sikap dingin wanita itu?

chap-preview
อ่านตัวอย่างฟรี
Bab 1
Malam itu badai besar di luar. Suara petir berulang kali terdengar keras, disusul angin kencang yang menghantam kaca jendela hunian kecil sederhana. Di dalam kamar yang hanya diterangi lampu tidur samar-samar, Niskala duduk di atas lantai sambil memeluk erat tubuh Lala. Air matanya mengalir deras melihat kondisi sang putri yang tiba-tiba bergetar hebat di dekapannya. Kedua tangan kecil Lala mengepal kaku dan matanya mendelik ke atas. "Lala! Sayang, dengar Ibu, Nak!" Niskala berteriak panik. Niskala langsung menyambar jaket di atas kasur, membungkus tubuh Lala seadanya, lalu menggendong bocah empat tahun itu ke dalam pelukannya. Dia berlari keluar kamar dengan tergesa-gesa. Saat melewati ruang tengah yang gelap, kakinya tersandung ujung meja kaca yang tajam. Bunyi benturan keras terdengar, disusul rasa perih yang menyengat kulitnya. Namun, Niskala mengabaikan rasa sakit itu. Dia terus berlari keluar apartemen menuju lift dan turun ke lobi. Di depan lobi, ada sebuah taksi yang baru saja menurunkan penumpang. Niskala langsung membuka pintu belakang dan masuk dengan napas memburu. "Pak, ke Rumah Sakit Pusat Kota sekarang! Anak saya kejang, Pak, tolong cepat!" seru Niskala pada sopir taksi. Sopir segera menginjak gas, membelah jalanan kota yang macet akibat banjir. Sepanjang perjalanan, Niskala tidak berhenti menangis sambil memeluk Lala yang perlahan mulai lemas dan tidak sadarkan diri. Taksi itu akhirnya berhenti di depan lobi instalasi gawat darurat. Karena antrean mobil yang mengular, taksi tidak bisa merapat sampai ke area yang beratap. Niskala tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Dia membayar ongkos, lalu membuka pintu mobil. Tanpa memedulikan hujan deras, Niskala langsung keluar sambil mendekap erat tubuh Lala di dadanya. Air hujan langsung membasahi tubuh mereka dalam sekejap. Niskala berlari sampai akhirnya berhasil menembus pintu kaca lobi rumah sakit. "Suster! Tolong anak saya, Sus! Dia habis kejang dan sekarang pingsan!" teriak Niskala dengan suara parau. Dua orang perawat segera berlari membawa kasur beroda. Niskala membaringkan tubuh Lala yang basah di atas kasur tersebut. Saat perawat mulai memeriksa kondisi Lala, seorang suster mendekati Niskala dengan wajah terkejut. "Ibu, kaki Ibu berdarah banyak sekali. Mari saya bantu bersihkan dulu," ujar suster itu sambil menunjuk ke arah kaki Niskala. Niskala menunduk, memandang kakinya sendiri dengan tatapan linglung. Dia baru sadar kalau daster dan kulit kakinya sudah berlumuran darah segar yang mengalir dari luka robek panjang di tulang keringnya akibat hantaman meja kaca tadi. Darah itu bahkan berceceran di lantai rumah sakit, bercampur dengan sisa air hujan yang menetes dari pakaiannya. Karena terlalu panik memikirkan Lala, Niskala sama sekali tidak merasakan sakitnya. "Saya nggak apa-apa, Sus. Yang penting anak saya, tolong periksa anak saya dulu, Sus, saya mohon," sahut Niskala dengan suara bergetar, menolak tangan suster yang ingin memegangnya. Dia tetap berdiri tegak di samping ranjang Lala, memegangi tangan kecil putrinya yang dingin. Dokter segera datang melakukan pemeriksaan awal pada Lala. Di tengah situasi itu, Niskala mundur selangkah, lalu meraba saku mantelnya untuk mengambil ponsel. Layarnya menyala, menampilkan sebuah pesan panggilan wawancara untuk posisi sekretaris pribadi di Santara Holding. Niskala menatap pesan itu dengan mata berkaca-kaca. Dia sangat membutuhkan pekerjaan ini karena belakangan dia tahu kalau Lala menderita penyakit langka yang membutuhkan banyak biaya pengobatan setiap bulannya. Dia tidak memiliki pengalaman kerja apa pun, selain pengalaman menjadi sekretaris sebelum dia menikah dulu. Niskala harus bisa diterima kerja besok demi kesembuhan putrinya. Lamunan Niskala buyar ketika suara alarm dari mesin di dekat ranjang Lala tiba-tiba berbunyi nyaring. Grafik di layar monitor itu mendadak turun drastis. Dokter yang sedang memeriksa Lala langsung menoleh ke arah perawat dengan wajah tegang. "Dok, detak jantungnya melemah, pasien berhenti napas!" seru perawat itu sambil mengambil alat bantu napas. Niskala membelalakkan matanya. Jantungnya seolah berhenti berdetak seketika saat melihat wajah anaknya mulai membiru. "Ibu, silakan tunggu di luar terlebih dahulu. Kondisi anak Ibu mendadak gawat kritis, kami harus melakukan tindakan darurat sekarang juga," ujar perawat sambil mendorong bahu Niskala menjauh dari ranjang. Niskala menggelengkan kepalanya dengan kuat, air matanya makin deras mengalir. Dia mencengkeram pinggiran tirai pembatas ruangan dengan erat, menolak untuk digeser mundur oleh perawat. "Nggak, Sus! Saya mau tetap di sini! Tolong jangan suruh saya keluar, anak saya butuh saya!" seru Niskala dengan suara melengking panik. Dia benar-benar takut. Ketakutan itu mencengkeram dadanya begitu kuat sampai dia merasa sesak. Melihat tubuh kecil Lala yang membiru dan dikelilingi oleh dokter serta perawat yang bergerak cepat membuat dunia Niskala seakan mau runtuh. Dia tidak sanggup jika harus kehilangan Lala, satu-satunya alasan dia bertahan hidup selama lima tahun ini. Suster yang tadi melihat luka di kaki Niskala kembali mendekat, kali ini memegang kedua pundak Niskala dengan lembut untuk menenangkannya. "Ibu, tolong tenang dulu. Dokter sedang berjuang menyelamatkan anak Ibu. Tapi Ibu tidak boleh ada di dalam ruangan ini sekarang, tindakan darurat ini butuh ruang gerak yang luas," kata suster itu dengan nada tegas namun penuh simpati. "Tapi saya ibunya, Sus! Lala pasti takut kalau saya nggak ada di sampingnya!" bantah Niskala lagi, pandangannya terus tertuju pada ranjang Lala yang kini terhalang oleh tubuh dokter. "Saya paham, Bu. Tapi kondisi anak Ibu sekarang sedang kritis gawat. Keberadaan Ibu di sini justru bisa mengganggu konsentrasi tim medis. Sebaiknya Ibu tunggu di luar saja. Mari, sekalian saya obati luka di kaki Ibu yang masih terus berdarah itu," bujuk suster tersebut sambil menunjuk ke arah daster Niskala yang makin merah oleh darah.

editor-pick
Dreame - ขวัญใจบรรณาธิการ

bc

Unscentable

read
1.9M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
735.7K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.6M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
969.8K
bc

A Warrior's Second Chance

read
353.9K
bc

Not just, the Beta

read
345.7K
bc

The Broken Wolf

read
1.1M

สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook