Author Pov.
Letisha dan Devan menjalani hari hari mereka bukan layaknya pasangan suami istri, sudah sebulan mereka menikah namun Devan memilih untuk tinggal di apartemen milik perusahaan daripada dia harus pulang kerumahnya, kejadian waktu Letisha menghancurkan laptopnya itu mampu membuat Devan lebih memilih untuk tinggal di apartemen kantor dari pada dirumahnya, agar kerjaannya aman dari Letisha.
Letisha yang kesepian di rumah yang cukup besar jika dia tinggali sendiri memilih untuk menyibukan dirinya diluar, mulai dari kumpul dengan teman temannya yang tinggal di Jakarta, clubing, shoping, Devan seolah tidak perduli dengan apa yang dilakukan Letisha, membuat Letisha semakin menjadi, Letisha hanya butuh orang yang menemaninya, Letisha hanya butuh orang yang memperhatikannya, Letisha awalnya merasa beruntung bisa menikah dengan Devan namun ternyata saat ini dia salah, Devan tidak ada bedanya dengan Keenan, mereka sama sama tidak memperdulikan dirinya, mereka hanya menganggap Letisha pajangan.
Bahkan Bi Laila dan semua pelayan di rumah ini sama sekali tidak ada yang memperdulikan Letisha, terserah Letisha berbuat apa, mereka sama sekali tidak perduli.
***
Hari ini Letisha memilih untuk dirumah, sepertinya sesekali dia menikmati fasilitas di rumah ini, ada kolam renangnya, walau tidak terlalu luas tapi cukuplah untuk dirinya berenang, segera Letisha mengganti bajunya dengan baju renang namun setelah dia mencari cari hanya ada bikini, tidak mungkin dia menggunakan bikini kan di rumah ini, akhirnya Letisha menggunakan kaus oblong, dan hotpant kain yang biasa dia gunakan untuk tidur, setidaknya ini cukup sopan dari pada menggunakan bikini.
Letisha selesai berenang, dia ingin membuat teh hangat atau s**u hangat, tadi sebenarnya dia sudah meminta pelayan untuk membuatkannya namun hingga dia selesai berenang tidak ada minuman di meja dekat kolam renang, sudah biasa batin Letisha.
“Ehhhh,,, dengar denger ya, Nona Letisha itu dulu calon istrinya Raden Keenan Wiryanagara pewaris utama Kesultanan Yogyakarta, Cuma enggak tau kenapa pernikahan itu dibatalkan, dan infonya Nona Letisha merebut Keenan dari kekasihnya, beruntung sih pernikahannya batal, tapi sekarang kasihan Tuan Devan, padahal Tuan Devan baik banget, tapi kenapa dapat istri kaya Nona Letisha, Sukanya mabuk mabukan, hura hura, bahkan tidak ingat waktu kalau pergi, sering dini hari Nona Letisha pulang bau alcohol, iiihhh amit amit jabang bayi, moga jangan sampai nanti kita punya pasangan seperti itu.” Letisha baru saja sampai didepan pintu dapur, dia menghentikan langkahnya ketika mendengar pelayan yang tidak tau apa apa menggosipkan dirinya.
“Iya, gimana mau jadi istrinya Keenan, kalau kelakuannya aja kaya gitu, mabuk mabukan, clubing tiap hari, tapi ya kenapa sih Tuan Devan mau mau aja nikah sama Nona Letisha, padahal ya dikantor Tuan Devan banyak banget karyawan yang cantik. Terus lagi di Amerika kan banyak cewek cewek bule yang lebih cantik, lebih baik, ahhh lebih segelanya dari Nona Letisha, kenapa ya malah Tuan Devan menikahi Nona Letisha yang buruk seperti itu,” Air mata Letisha tanpa bisa dia tahan meluncur dengan bebas di pipinya.
“Dasar pelakor,, beruntungnya Keenan bisa kembali bersama kekasihnya, tapi kasihan banget Tuan Devan, beruntung sih Tuan Devan jarang di rumah, bahkan kalau pulang kerumah hanya sebentar tidak lama, mungkin enggak tahan juga dengan Nona Letisha yang kaya gitu,” Letisha yang tidak tahan dengan perkataan pelayannya segera naik ke lantai dua, dia bahkan tidak memperdulikan berpapasan dengan Bi Laila di ruang keluarga, bahkan saking buru burunya Letisha sampai tersandung di tangga, luka di kakinya tidak sebanding dengan sakit hatinya, siapa mereka, bahkan mereka tidak tau apa apa.
Letisha berjalan ke kamar mandi, menyalakan showernya, menangis dalam tetesan shower, mampu menyamarkan air matanya yang menetes tanpa mau berhenti, apa sehina itukah dirinya, sehingga tidak ada satupun orang yang benar benar perduli dengannya.
Entah berapa lama Letisha di kamar mandi namun saat dia keluar dari kamar mandi langit sudah cukup gelap, bahkan suara azan maghrib terdengar saut menyahut mengajak orang untuk sholat.
***
Bi Laila mengantarkan makan malam ke kamar Letisha sesuai permintaan Letisha beberapa waktu yang lalu, namun dia baru menyadari jika ada tetesan darah dari pertengahan tangga hingga kekamar Letisha, ada apa sebenarnya dengan Nonanya itu?.
Bi Laila meletakkan nampan berisi nasi, cha brokoli daging sapi, ayam panggang, buah potong, dan s**u cokelat yang Letisha minta. Letisha baru saja selesai membersihkan tetesan darah di lantai dengan handuk di kamar mandi, tohh handuk di kamar mandi cukup banyak, tidak papa dong satu di ambil untuk membersihkan noda darah ini.
“Non, Nona Letisha baik baik saja?.” Tanya Bi Laila ketika melihat kaki Letisha yang sudah dibalut asal dengan kain kasa.
“Baik baik aja kok Bi,” Jawab Letisha, padahal kakinya cukup nyeri jika dibuat berjalan.
“Non, Nona tadi jatuh atau gimana?, apa perlu kerumah sakit Non?.” Tanya Bi Laila pada Letisha, hanya Bi Laila yang sering mengajak Letisha berbicara namun Letisha membatasi diri, letisha tidak tau seperti apa Bi Laila, Letisha terbiasa menjaga jarak dengan orang orang disekitarnya, agar mereka tidak tau kesakitan apa yang Letisha rasakan.
“Hanya tidak berhati hati saja, aku baik baik saja, tidak perlu ke rumah sakit,” Balas Letisha, lagian ini hanya tersandung mungkin dua atau tiga hari lukanya sudah mengering.
“Ini Non, makan malamnya, Bibi taruh di meja,” Bi Laila menaruh nampan berisi makan malam untuk Letisha.
“Bi Laila, jangan katakan apapun yang terjadi di rumah hari ini,” Baru saja Bi Laila ingin keluar dari kamar Letisha untuk melapor pada Devan namun Letisha sudah lebih dulu mengetahui niat Bi Laila.
“Tidak Non, Bibi tidak akan memberi tau Tuan Devan,” Letisha mengangguk, dia segera duduk di sofa, menyantap makan malamnya, walau ini baru jam setengah tujuh malam namun Letisha memang biasa makan malam sebelum jam tujuh malam untuk menjaga tubuhnya agar tidak gemuk.
Bi Laila meminta Indah pelayan yang bekerja di rumah Devan untuk membersihkan ceceran darah dari pertengahan tangga hingga depan kamar Letisha.
Letisha membaringkan tubuhnya ketika dia selesai makan malam, hanya sedikit yang dia makan, pertama Letisha tidak nafsu makan karena perkataan pelayan tadi sore masih terngiang ngiang di fikirannya, dan juga kepalanya yang cukup pusing, mungkin efek kelamaan dia berada di bawah shower tadi, jadi Letisha segera membaringkan tubuhnya ke sofa sambil menonton televisi, bahkan dia tidak tau apa yang sedang dia tonton, fikirannya entah berkelana kemana.
Satu jam setelah mengantar makan malam untuk Letisha, Bi Laila datang kembali ke kamar Letisha untuk mengambil piring kotor.
Bi Laila mendengar suara televisi menyala, namun Letisha sudah terlelap di sofa, apa tidak sakit tubuh Letihsa berbaring di sofa, walau sofanya memang cukup empuk dan luas namun ada kasur yang lebih enak, mungkin Nonanya itu ketiduran.
Bi Laila mengambilkan selimut lalu menyelimuti tubuh Letisha, dari dekat Bi Laila bisa melihat ada air mata yang mengering di pipi Letisha, dan juga di bantal, Bi Laila mematikan televisinya, karena Letisha sudah tidur, tidak lupa membawa piring kotornya dan mematikan lampu utama, menyisakan lampu temaram di pojok kamar.
***
Devan baru saja kembali dari kantor, selama ini sebelum dia menikah memang dia tinggal di apartemen kantor karena jaraknya cukup dekat dengan kantor, Devan sendiri sebenarnya ingin kembali ke rumahnya, rumah dimana Letisha berada, namun karena banyaknya pekerjaan dari Xander, takutnya Letisha mengacau lagi, jadi Devan lebih memilih untuk tinggal di apartemen kantor, namun tiap waktu Bi Laila selalu mengirim pesan padanya apa saja yang dilakukan Letisha di rumah.
Devan cukup heran dengan Letisha hari ini, pasalnya Letisha sama sekali tidak keluar dari rumah, seharian dirinya dirumah apa mungkin dia baik baik saja?, lebih baik Devan menghubungi Bi Laila.
“Halo, selamat malam Tuan Devan.” Sapa Bi Laila,
“Bi, dimana Letisha?.” Tanya Devan,
“Nona sudah tidur Tuan, lima belas menit yang lalu Bibi baru saja dari kamar Nona Letisha, Nona sudah tidur.” Jawab Bi Lila, walau dirinya merasa bersalah karena berbohong pada Devan.
“Bi, Bibi enggak lupakan di rumah terpasang cctv, jika Bibi bohong demi Letisha saya tidak ada ampun untuk Bibi.” Tekan Xander pada Bi Laila, membuat Bi Laila menegang.
“Maaf Tuan,,, saya akan bicara., tadi sore setelah Nona Letisha berenang, sepertinya Nona Letisha jatuh di tangga, saya melihat ceceran darah dari tangga hingga kekamar Nona Letisha, tapi Nona Letisha menolak untuk di obati, dan Nona meminta saya untuk tidak melapor pada anda Tuan Devan. Saya minta maaf Tuan Devan.” Dari suara Bi Laila yang terdengar gugup Devan tau jika Bi Laila masih segan padanya.
“Hanya itu Bi?.” Tanya Devan lagi.
“Iya Tuan, hanya itu, Nona Letisha berada di kamar.” Jawab Bi Laila,
“Baiklah, dalam waktu lima belas menit saya akan sampai rumah, jangan katakana apapun pada Letisha, dan pelayan yang berjaga jika saya pulang.” Devan langsung mematikan sambungan telefonnya.
Lima belas menit kemudian Devan sampai di rumahnya, memang selama satu bulan ini Devan hanya beberapa kali pulang ke rumah ini, biasanya mengecek keadaan Letisha, apakah dirinya di rumah ini atau sedang kelayapan di luar.
Devan segera naik ke lantai dua, mengabaikan para pelayan yang heran melihat Devan kembali ke rumah malam malam begini.
Devan membuka pintu kamar Letisha, berjalan kedalam kamar Letisha, ternyata Bi Laila membohonginya, jika memang Letisha benar benar tidur, tempat tidur kenapa masih sangat rapi. Devan ingin memanggil Bi Laila ketika mendengar suara deringan ponsel di meja depan sofa, mau tidak mau Devan melihat ponsel Letisha yang berdering itu, tapi Devan bukannya mengambil ponsel yang masih berdering, fokusnya malam pada seorang wanita yang tidur nyenyak di sofa, dengan wajah sedikit pucat, apa Letisha sakit?.
Devan medekat pada Letisha, dia berjongkok di depan Letisha, menyingkirkan rambut Letisha yang menutupi wajahnya, sungguh sebenarnya Letisha ini sangat cantik, dengan wajah ayunya khas wanita jawa, rambut hitam sebahu yang bergelombang, bulu mata lentik, Devan mengecup kening Letisha, namun dia menyadari jika Letisha demam, Bi Laila bilang jika Letisha berenang tadi sore, tapi masa iya bisa menyebabkan demam, sepertinya ada yang tidak beres nih..
Devan menyingkap selimut di tubuh Letisha, lalu menggendong tubuh Letisha ke tempat tidur, membaringkan Letisha dengan pelan, setelah merasa Letisha cukup nyaman Devan kembali mengambil selimut yang berada di sofa, menyelimuti tubuh Letisha, Devan juga mengambil thermometer untuk mengecek berapa suhu tubuh Letisha.
Setelah mengecek suhu tubuh Letisha Devan mengkompres kening Kezia dengan handuk, Devan pergi keruang kerjanya, dia ingin melihat apa saja kegiatan Letisha hari ini hingga Letisha bisa demam.
Awalnya tidak ada yang aneh hingga sore hari semuanya berjalan cukup normal, namun ketika Devan melihat cctv di dapur sore tadi, sepertinya para pelayan sedang memicarakan Kezia, dari cctv yang lain Letisha berada di pintu penghubung dapur dan kolam renang.
Tidak lama Letisha naik ke lantai dua dengan berlari, Devan bahkan melihat Letisha terjatuh di tangga. Kamar mandi, Devan tidak tau apa yang Letisha lakukan di kamar mandi selama dua jam, tapi bisa jadi itu yang memicu Letisha demam, mungkin nanti Devan akan memasang cctv di kamar mandi, agar dia bisa tau apa yang dilakukan Letisha di kamar mandi selama itu, karena ini bukan pertama Letisha berada di kamar mandi cukup lama.