Author Pov.
Devan langsung kembali ke apartemennya setelah memecat pelayan yang tadi sore menggosipkan Letisha, karena ini juga bukan pertama kali mereka bicara yang tidak tidak tentang Letisha. Tentu saja Devan tau, dirumah ini dilengkapi dengan cctv dan penyadap suara, Devan tidak ingin terjadi hal hal yang tidak di inginkan seperti saat ini, jika tidak terpasang cctv mungkin Devan tidak akan tau apa yang sebenarnya terjadi, karena manusia pandai membuat alasan yang menguntungkan dirinya.
****
Pagi ini Bi Laila sudah berada di kamar Letisha dengan membawa sup dan bubur untuk Letisha, Devan berpesan untuk mengecek kondisi Letisha, dan jangan sampai Letisha tau jika dirinya datang ke rumah tadi malam. Beruntung Letisha semalam tidak demam tinggi, hanya meriang, dan paginya sudah membaik.
Letsiha sudah bangun sebelum Bi Laila datang ke kamarnya, namun dia masih malas untuk bangkit dari tempat tidur alias mager.
“Pagi Non, Bibi bawakan sup dan bubur agar tubuh Non Letisha enakan.” Bi Laila menaruh nampan yang dia bawa ke meja depan sofa.
“Makasih Bi,” Balas Letisha, Letisha segera bangkit, mau tidak mau dia harus mandi, dia bukan tipikal orang yang bangun tidur langsung makan, dan Letisha juga sudah biasa mandi pagi sebelum beraktifitas.
Bi Laila membereskan kamar Letisha, sambil menunggu Letisha, padahl Bi Laila di rumah ini tugasnya hanya masak dan urusan dapur, untuk beres beres rumah ada Indah dan Nining, dan beberapa pelayan yang dipecat Devan tadi malam, mumpung Bi Laila di kamar Letisha lebih baik dirinya yang membereskan kamar Letisha yang sebenarnya tidak berantakan, hanya tempat tidur saja yang di rapikan.
Letisha keluar dari kamar mandi sudah rapi dengan baju santainya, kepalanya masih pusing walau tidak pusing pusing banget, jadi hari ini dia ingin di kamar aja.
Letisha segera menghabiskan makanannya, masakan Bi Laila memang enak, bahkan sangat enak, entah mengapa bisa pas di lidah Letisha.
Bi Laila membawa piring tempat makan, Letisha juga berpesan pada Bi Laila jika dia tidak ingin di ganggu.
Letisha yang awalnya ingin berada dirumah karena pusing, tapi lama lama suntuk juga, akhirnya dia memilih untuk keluar, mungkin nongkrong bareng teman temannya bisa mengatasi rasa pusing di kepalanya, asal jangan sampai mabuk lagi, mobil Devan saja masih di bengkel gara gara tiga hari yang lalu dia tabrakin di trotoar, beruntung dirinya baik baik saja, tapi kemarahan Devan pas tau mobilnya harus masuk bengkel gara gara Letisha membuat Devan mengambil kartu kreditnya lagi, padahal baru diberikan pada Letisha dua minggu yang lalu bersama mobilnya, beruntung Letisha masih punya tabungan di atmnya sendiri tanpa sepengetahuan Devan.
Letisha sudah siap dengan dres selutut tanpa lengan, namun Letisha tetap membawa jaket denim jika dia nanti pulang malam dia tidak takut kedinginan.
Bi Laila sendiri kaget melihat Letisha sudah rapi, sepertinya Nonanya ini ingin pergi lagi, namun Bi Laila mencoba pura pura tidak tau jika Letisha pergi.
***
Letisha sampai di sebuah restoran hotel Mulia Jakarta, teman temannya sudah berada disana mungkin mereka baru datang, karena belum ada makanan ataupun minuman di meja mereka, Letisha langsung cipika cipiki dengan teman temannya itu.
Karena waktunya makan siang, restoran ini cukup ramai, terbukti banyak sekali orang orang sedang menyantap makanan ada juga yang masih menunggu.
“Lo kemana aja dua hari gak ada kabar?.” Tanya Rena, teman tongkrongan Letisha.
“Gue sibuk, biasalah urusan rumah..” Jelas Letisha, padahal dia sedang gak mood untuk pergi keluar, gara gara omelan Devan, padahal biaya benerin mobilnya enggak seberapa, namun tetep aja Devan marah padanya, sebenarnya Devan lebih perduli dengan mobilnya atau dirinya sih?.
“Iya dehhh yang udah nikah, kapan kapan kenalin dong suami lo.” Ivana menyaut, mereka sebenarnya penasaran juga dengan suami Letisha karena mereka semua tau jika pernikahan Letisha dengan Keenan batal, tapi Letisha sudah menikah berarti bukan dengan Keenan.
“Kapan kapan aja suami gue gak akan mau gue ajak nongkrong kaya gini,” Jawab Letisha, jelas tidak mungkin Letisha mengenalkan mereka pada Devan dan sebaliknya, karena Letisha tau, Devan bukan tipe orang yang mau duduk duduk santai di café sambil bercengkrama, Devan lebih suka mengerjakan pekerjaannya di kantor daripada membuang waktu untuk hal hal tidak berguna seperti itu.
Pesanan mereka sudah datang, begitu pelayan menaruh makanannya di meja Letisha segera mengambil makanannya, tadi pagi makan bubur membuat perutnya kelaparan, saat ini dia memesan sup tum yum seafood, daging sapi asam manis,nasi putih, salad mangga, dan juga orange juss kesukaannya.
“Gila pesenan lo paling banyak Sha, laper lo?.” Tanya Ivana heran dengan porsi makan Letisha.
“Banget, tadi pagi Cuma makan bubur aja, makannya laper banget,” Jawab Letisha, bahkan dia sudah mencicipi sup tum yumnya, sungguh nikmat sekali.
****
Devan sedang berada di dalam ruang kerja Xander, tadi Xander mengatakan jika Kezia akan yang mengantar makan siang untuk mereka karena Xander yakin Letisha tidak akan mengatar makan siang untuk Devan jadi dia meminta Keiza untuk menyiapkan makan siang untuk mereka bertiga. Kezia yang melihat Devan murung pun menyapanya sepertinya memang Devan sedang dalam masalah.
“Kenapa Devan?,” Tanya Kezia pada Devan.
“Entahlah Nona Kezia,, banyak sekali yang di fikir sampai anda datang saja saya tidak tau.” Jawab Devan. Kezia tidak melihat keberadaan Xander, hanya Devan yang berada di ruangan Xander.
“Dimana Xander?,” Tanya Kezia pada Devan, kini Kezia duduk di sofa, perutnya sudah membuncit, bahkan untuk berdiri saja dia susah.
“Tuan Xander sedang ke toilet, nahhh itu dia..” Xander keluar dari kamarnya, memang Xander memiliki kamar di kantor ini untuk istirahat jika dia sedang lelah.
“Kenapa?.” Tanya Xander, ikut bergabung denggan Kezia dan Devan di sofa.
“Enggak, aku Cuma tanya sama Devan kamu kemana, soalnya pas aku masuk hanya ada Devan.” Jawab Kezia, Kezia sudah bersender pada bahu Xander, sedangkan tangan Xander sudah mengusap usap perut Kezia yang membuncit, bahkan janin dalam kandungan Kezia merespon usapan tangan Xander dengan tendangan kecilnya membuat Xander takjub, padahal bukan sekali ini Xander merasakan tendangan calon anaknya, namun entah kenapa rasanya sungguh sungguh membuatnya takjub.
Devan lagi lagi hanya diam, dia bahkan tidak memperhatikan jika bossnya itu sudah mesra mesraan didepannya bersama istrinya.
“Devan kamu kenapa sih?,” Tanya Kezia yang risih melihat Devan yang melamun.
“Saya tidak apa apa kok, apa saya boleh makan siang?,” Jawab Devan mengalihkan pembicaraannya, tapi sejujurnya memang Devan lapar sih.
“Makanlah, kasihan sekali kamu menikah tapi serasa masih lajang,” Goda Xander, walau begitu Xander cukup tau apa yang terjadi pada rumah tangga Devan dan Letisha namun Xander tidak memiliki hak untuk bicara jika Devan tidak menceritakan padanya.
“Tuan Xander bisa aja, beruntung sekali Tuan mendapatkan wanita sebaik Nona Kezia, bahkan Nona masih mau mengantarkan makan siang untuk saya.” Ucap Devan membuat Kezia tertawa, namun berbada dengan Xander yang menatapnya dengan tatapan tidak suka.
“Saya bercanda Tuan jangan marah,” Devan langsung melanjutkan makannya takut takut dia di hajar Xander gara gara menggoda istrinya.
Selesai makan siang bersama Devan kembali undur diri namun Xander memberikan dua buah tiket pesawat untuk Devan.
“Pergilah berlibur, kamu ku liburkan satu minggu, mulai besok.” Devan melihat kembali tiket pesawat yang di berikan Xander, Jakarta-Kendari yang benar saja, tidak mungkin kan Xander menyuruhnya liburan selama satu minggu?.
“Tuan tapi ini,,” Devan tidak tau apa maksud Xander, mana mungkin Xander memberikan tiket cuma cuma untuknya.
“Pergilah berlibur dengan istrimu, kalian perlu pengenalan, Kendari cukup bagus kok tempatnya.” Kali ini Kezia yang bicara, Devan mengangguk pamit undur diri, walau sebenarnya dia tidak yakin dengan Letisha namun mau bagaimana lagi, sayang tiket dan segalanya jika Devan membatalkan liburannya di Kendari.
***
Setelah selesai makan siang Letisha dan teman temannya asik ngobrol, entah apa saja mereka obrolak hingga tidak terasa hari semakin beranjak sore, bahkan Letisha sudah menambah lagi untuk camilan, Letisha memesan lagi salad buah sedangkan kedua temannya juga ikut memesan pudding.
Devan kini sedang kewalahan mencari keberadaan Letisha, Devan baru menyadari jika tiket liburannya berangkat jam tujuh malam, Devan fikir tiket pesawatnya besok pagi, namun setelah dia lihat kembali ternyata jam tujuh malam ini.
“Tuan Devan, kami sudah menemukan keberadaan Nona Letisha, dia berada di restoran Hotel Mulia, kami segera kesana, apa Tuan ingin ikut atau melanjutkan perjalanan ke bandara?,” Tanya pengawal yang dia sewa dari SS untuk menjaga Letisha dari jauh.
“Aku yang akan menjemputnya, kalian berjaga saja kalau dia berontak maka kalian bisa melakukan kekerasan padanya.” Pengawalnya hanya mengangguk lalu mobil yang ditumpangi Devan segera megarah ke Hotel Mulia, padahal jarak Devan dengan hotel itu cukup jauh namun mau bagaimana lagi, Letisha harus dia sendiri yang menjemputnya.
***
Devan melihat Letisha sedang berbincang dengan dua wanita, sepertinya mereka teman teman Letisha.
“Woow,, siapa laki laki itu keren banget, udah ada pasangannya belum ya?,” Tanya Ivana yang duduk menghadap Letisha, Devan berjalan menghampiri meja mereka, Letisha tidak menyadari karena membelakangi Devan.
“Lihat dia datang kemari, wahhh wahhhh,,,” Kali ini giliran Rena, Letisha yang duduk di hadapan Letisha sok sok membenarkan rambut dan tersenyum ketika Devan sudah dekat dengan meja mereka. Letisha bahkan tidak perduli dengan teman temannya, yang mengagumi laki laki tampan, baginya semua laki laki sama semua, b******k…
“Letisha pulang, sekarang..” Letisha sedang minum orange juss langsung tersedak mendengar suara Devan, apa mungkin Devan ada disini?. Tidak mungkin sama sekali, namun saat Letisha menoleh Devan memang sudah berada disampingnya.
“Devan kamu,,?.” Devan yang tidak sabar langsung menarik tangan Letisha secara paksa, hingga mau tidak mau Letisha bangkit dari duduknya dan mengikuti langkah Devan keluar dari restoran ini. Letisha tidak tau mau dibawa kemana, yang pasti dia tidak bisa berkutik saat ini, Devan membawa beberapa pengawalnya, kalau dia melawan pasti pengawal Devan yang akan mengurusnya, walau mereka memang tidak terang terangan berada di belakang Devan, namun Letisha cukup tau jika sedari tadi gerak geriknya sudah diawasi pengawal Devan, jadinya dia hanya bisa nurut kemana Devan akan membawanya.