
Kana sudah lama menyukai Fahri — bahkan sebelum pria itu datang ke rumah mereka dan melamar kakaknya. Perasaan itu ia simpan sendiri, tanpa pernah berharap apa pun. Baginya, cukup bisa melihat Fahri dari dekat saja sudah lebih dari cukup.
Namun suatu malam, Fahri pulang dalam keadaan mabuk. Batas yang seharusnya tidak pernah dilewati justru runtuh begitu saja. Keesokan harinya, Fahri diliputi rasa bersalah dan berniat menganggap semuanya sebagai kesalahan yang harus dilupakan.
Kana tidak menangis. Ia juga tidak menuntut.
Ia hanya mengatakan satu hal yang membuat Fahri tak bisa berkata apa-apa.
“Kalau merasa bersalah… jadikan aku simpananmu. Dengan begitu, semua ini tetap jadi rahasia kita berdua.”
