Bab 9. Hadiah

1365 คำ
"Kamu enggak nonton Deva main bola?" tanya Aris pada Aca yang diam saja di kelas. Sabtu kemarin setelah menerima hasil nilai ulangan mingguan, Aris merasa sangat tidak bahagia karena tahu bahwa nama pertama masihlah Aca, dan nomor 2 masih Deva, sedangkan dia ada di nomor 7, hal yang terlalu jauh dari prediksinya. Terutama Justine yang membuatnya terkejut karena masuk 5 besar padahal dia jarang masuk kelas. Sepertinya dia terlalu meremehkan sekolahan ini, meskipun tidak sebaik sekolahnya dulu, tapi pelajarannya ternyata bahkan lebih sulit dari pada pelajaran yang dia terima di sekolahnya dulu. "Enggak, males aku ke lapangan soalnya mau revisi ulangan kemarin." Aca memang sedang mencocokkan jawabannya dengan kunci jawaban dari guru serta jawaban dari Justin. Ingin mengambil referensi paling bagus jika mendapatkan soal seperti itu lagi sehingga bisa menjawabnya dengan lebih baik. "Kenapa kamu mencocokkan dengan punya Justine?" tanya Aris merasa heran, bukankah seharusnya dia mencocokkan dengan Deva yang ada di nomor dua. Kenapa harus di cek dari nomor 5 saat ada nomor 3 dan 4 juga. "Karena dia yang paling bagus," jawab Aca dengan wajah menunduk masih ingin melihat di bagian mana dia salah. Aris merasa aneh, tapi dia malas bertanya lebih karena merasa Justine sepertinya hanya beruntung saja mendapatkan nilai bagus. Dia tidak percaya bahwa di dunia ini ada orang jenius yang tidak perlu belajar dan akan tetap bisa menjawab soal-soal yang rumit. "Oh, iya pulang sekolah kamu ada acara enggak?" tanya Aris kemudian. Aca yang tadi masih fokus ke lembar jawaban seketika mengernyit, dia lalu mendongak dan melihat ke arah Aris dengan tatapan menyelidik. "Kalau enggak kenapa? Kalau ada kenapa?" tanya Aca balik. "Kalau ada acara yang enggak apa-apa, tapi kalau enggak ke mana-mana bisa enggak aku minta tolong temani aku ke mall?" tanya Aris lagi. Aca mantap Aris dengan wajah tidak senang. "Kamu suka aku?" tanya Aca to the poin, merasa akhir-akhir ini Aris selalu berusaha dekat dengannya. Pas awal-awal dia masih maklum karena posisinya Aris sebagai anak baru dan dia wajib ramah sebagai teman sekelas, tapi kenapa hanya dengan dia, tidak dengan yang lain saja. "Eh!" Aris tidak pernah menyangka bahwa Aca akan menanyakannya secara langsung tanpa ada rasa malu jika ada yang mendengarnya. "Wajar sih kalau kamu suka aku, soalnya di sekolah ini memang aku yang paling cantik," ucap Aca dengan nada percaya diri. Karena memang di sekolah ini, selain jadi yang pertama, Aca juga menjadi yang tercantik dan merupakan primadona. Bahkan jika harus dibandingkan dengan Juliette, soal kecantikan wajah, Aca masih lebih yakin bahwa dia akan dinyatakan lebih cantik dari sepupunya itu, karena wajahnya lebih ke asia karena sepertinya gen ayahnya Alca lebih dominan sedangkan Juliette condong ke gen eropa dari kakek Marco dan neneknya Vanilla istri kakek Joe yang juga memiliki gen eropa. Padahal orang Indonesia kebanyakan lebih menyukai wajah Asia dari pada wajah dengan kontur Eropa. Jadi jelas di bagian ini, Aca adalah pemenangnya. "Ehem, harus aku akui bahwa kamu memang paling cantik, tapi sepertinya kamu salah paham. Aku suka kamu sebagai teman sekelas karena kamu memang cantik dan mempesona, namun untuk saat ini apa yang aku rasakan sekedar suka, bukan cinta seperti yang kamu khawatirkan." Bagaimanapun sebagai pria yang dulu menjadi idola di sekolahnya, Aris jika memiliki harga diri yang tinggi dan tidak ingin bersikap rendah bahkan di hadapan orang yang dia sukai. "Sebenarnya, aku sudah mendengar dari teman yang lain bahwa keluargamu memiliki pusat perbelanjaan yang besar dan sangat lengkap, jadi daripada aku bertanya pada yang lain, bukankah lebih baik jika aku bertanya padamu tentang produk-produk yang bagus di mall milikmu sendiri?" Aris memang ingin menggunakan alasan ini untuk mengajak-ajak jalan-jalan di mall miliknya, ingin melihat seberapa besar kekayaan yang dimiliki oleh keluarga calon kekasihnya itu. Jika memang seperti kata orang-orang bahwa Aca sangat kaya, bukankah itu akan bagus untuk keluarganya yang pasti akan mendapat bantuan pendanaan jika dia bisa menjadikan Aca sebagai kekasihnya. "Ya, kamu benar. Jadi, apa yang ingin kamu beli?" tanya Aca merasa sepertinya dia terlalu berprasangka buruk pada Aris. Bagaimanapun Aris pindahan dari sekolah luar negeri yang juga merupakan sekolah terbaik di Inggris dan pastinya pernah bertemu wanita-wanita yang lebih cantik daripada dirinya. "Itulah yang ingin aku minta tolong padamu, aku ingin mencari hadiah untuk pernikahan kakak sepupuku, menurut kamu apa yang bagus?" tanya Aris. "Logam mulia, amplop 100 juta, paket liburan ke luar negri, mobil, rumah?" Aca menyebutkan semua yang sering diberikan keluarganya ketika ada yang menikah. Mendengar itu Aris hampir terjengkang karena barang yang disebutkan oleh Aca semuanya di atas imajinasinya. Dia pikir paling akan menyebut tentang perhiasan atau mentok parfum dan jam tangan couple, bagaimana mungkin dia malah merekomendasikan semua itu, di mana jika Aris melakukan seperti yang dikatakan oleh Aca, maka jelas dia tidak akan mampu. Dipikir paket liburan dapat 20 juta apa, atau beli rumah cuma 100 juta. Aris merasa kesal tapi tetap tersenyum berusaha menahan diri. Bagaimanapun yang ada di hadapannya adalah calon pacar jadi dia harus memperlakukannya dengan baik. "Kayaknya hal-hal itu terlalu berlebihan, soalnya sepupuku bukan orang berada. Takutnya, saudara yang lain akan iri dan malah dikira aku pamer nanti." Aris berusaha menutupi ketidakmampuannya. "Owh, ya sudah kalau begitu nanti aku temani kamu ke Mall, tapi aku enggak sendirian ada Deva atau Dava yang mungkin akan ikut." Aca memberitahu. "Tidak masalah, semakin ramai semakin bagus sehingga lebih asik." Justru hal ini yang diinginkan oleh Aris, memperkenalkan Deva dengan sepupunya. "Oke." Aca mengangguk dan kembali fokus pada lembar jawaban di hadapannya. "Kalau begitu nanti aku hubungi sepulang sekolah, aku mau ke perpustakaan dulu." Setelah yakin sudah mendapatkan apa yang dia inginkan. Aris segera pergi untuk belajar, jangan sampai ulangan yang akan datang dia mendapatkan nilai yang lebih rendah dari Deva. Aca hanya bergumam dan masih fokus dengan kertas di depannya seolah tidak perduli. Namun, begitu Aris pergi, dia mengambil ponselnya untuk memberitahu Deva bahwa mereka akan mampir ke Mall setelah pulang sekolah. Deva yang masih ada di lapangan segera lari ke pinggiran ketika temannya ada yang memanggilnya. "Ada chat dari Aca," ucap temannya sambil memberikan ponsel Deva. Karena semua orang tahu Deva adalah bodyguard Aca, jadi ke manapun Deva pergi dan tiba-tiba mendapatkan chat dari Aca maka secara otomatis teman-temannya akan mengingatkan jika Deva sedang tidak memegang ponselnya. Karena tahu bahwa chat dari Aca adalah prioritas. "Thanks," ucap Deva sambil membuka ponselnya dan membaca chat dari Aca dan membalas dengan kata oke. Setelah membalas Aca, Deva mendengar teriakan lebih keras dan saat itulah dia mendongak di mana dia melihat Mahesa muncul dan menghampirinya. Pantas cewek-cewek menggila, ternyata ada Mahesa. Deva menatap Justine yang masih eksis di lapangan dan Mahesa yang baru muncul di dekatnya dengan menghela napas pasrah. Dahlah, kalau ada dua dedengkot itu dia enggak akan laku. "Tumben dateng ke sekolah?" tanya Deva. "Bosen di rumah sakit." Hampir seminggu kemarin dia melakukan oprasi setiap hari. Mahesa jadi bosan dan memilih libur seminggu untuk istirahat dan alasan paling masuk akal adalah pergi ke sekolah dari pada disuruh masuk ruang oprasi lagi. "Woe Mahesa sini ikut maen?" teriak Justine dari lapangan begitu melihat sepupunya muncul. "Oke." Mahesa langsung setuju. Meski kalau dilihat dari luar Mahesa seperti tinggi kurus, namun begitu jaket yang dia kenakan dilepas dan hanya menyisakan seragam lengan pendek di tubuhnya, maka otot-otot di lengannya seketika akan terlihat dan kesan kurus langsung menghilang. Karena meskipun semua cowok Cohza memiliki kegiatan masing-masing, namun setiap pagi mereka diwajibkan ikut olahraga untuk menjaga kesehatan dan bentuk tubuh agar tetap bugar. "Kamu gantiin aku deh." Deva segera mundur. "Kenapa?" tanya Mahesa. "Cape udah dari tadi." Deva memberi alasan. "Owh, beliin minum kalau gitu." Mahesa memerintah namun tidak ada nada paksaan. "Oke." Deva juga hanya menjawab singkat dan duduk menonton, dia sama sekali tidak berniat membelikan air minum untuk Mahesa. Lagipula, enggak perlu beli minum asal cewek-cewek tahu Mahesa di lapangan, pasti bakal banyak yang antri buat kasih air minum. Benar saja, begitu Mahesa masuk ke lapangan. Teriakan penyemangat seperti langsung menembus gendang telinganya saking riuhnya. Terutama cewek-cewek yang langsung menggila seperti fandom yang bertemu idolanya. Deva menatap dengan iri, namun juga kasian pada cewek-cewek yang memuja Mahesa. Coba yang mereka kejar-kejar adalah dirinya, pasti dia akan kasih kesempatan mereka pacaran dengannya secara bergantian. Enggak perlu nungguin Mahesa yang seperti biksu suci yang tidak pernah menyentuh lawan jenis. Bahkan Deva 100% yakin bahwa Mahesa masih perjaka.
อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม