Bab 10. Akrab

1346 คำ
"Hallo." Aca mengangkat ponselnya begitu ada panggilan masuk. "Aca, kamu di mana? Aku sudah sampai di Mall," tanya Aris yang sudah menunggu setengah jam namun Aca tak kunjung kelihatan. Padahal mereka kaluar kelas barengan dan ke parkir juga bareng, tapi gara-gara Deva yang katanya tasnya ketinggalan, pada akhirnya mereka berangkat sendiri-sendiri dan berakhir dengan Aris yang sampai duluan dan nunggu Aca setengah jam. "Aku ada di parkiran, sebentar baru mau masuk Mall." Aca memberitahu sambil keluar dari mobil di mana pintunya sudah dibuka oleh Deva. "Oh, aku ada di lantai 2, di cafe Coni." Aris sengaja duduk menunggu di cabang cafe milik Deva agar mereka lebih mudah menemukannya karena pasti segera tahu lokasinya dari pada jika dia menunggu di tempat lain. "Oke, tunggu 5 menit." Aca menjawab dan menutup panggilannya lalu menoleh ke arah Deva yang ada dibelakangnya dan segera memencet tombol lift. "Dia ada di cafe Coni," ucap Aca memberitahu dan Deva segera memencet tombol lift yang menuju ke lantai dua. "Mau kamu apain sih itu cowok?" tanya Deva tiba-tiba. "Ha? Apaan sih?" "Ck, enggak usah pura-pura di depan aku Aca," tegur Deva. "Kenapa? Penasaran?" tanya Aca dengan senyum lebar. "Astaga, kenapa sih suka banget PHP cowok, kenapa enggak jadian aja?" tanya Deva merasa heran karena Aca yang suka sekali kasih harapan pada cowok yang naksir dirinya tapi tidak pernah ada satupun yang diajak jadian olehnya. "Soalnya dia itu lucu, jelas-jelas naksir aku tapi sok jual mahal. Mana dari tatapannya kek meremehkan aku, dikira dengan muka standartnya itu aku bakal gampang dirayu kali ya." Aca mencibir, masih ingat waktu pertama kali Aris masuk ke kelas dan melihat semua teman sekelasnya dengan tatapan sombong, seolah-olah menginjakkan kaki di sekolahan mereka adalah anugrah bagi SMA Cavendish. "Tapi, enggak usah lama-lama, bentar lagi ujian kenaikan kelas. Nanti kalau kamu kebanyakan main-main trus nilaimu berkurang 0,5 bisa-bisa aku ikut diprotes sama Tante Aurora." Deva mengingatkan. "Ish, ujian masih tiga bulan lagi elah, lagian nilai yang lain itu enggak bakal bisa ngalahin aku, kalau perlu aku tendang Justine biar balik ke Cavendish saat ujian biar aku tetap rangking satu." Aca merasa yakin dengan kemampuannya. "Tapi bagaimanapun si Aris itu pindahan dari sekolah internasional yang lumayan ternama loh, karena baru di sini berapa minggu saja dia sudah bisa masuk 10 besar, gimana kalau ternyata dalam waktu 3 bulan dia bisa bersaing denganmu?" tanya Deva menakuti. "Enggak mungkin, aku sudah belajar berkali-kali bersama dengannya dan lumayan tahu sampai mana kemampuan belajarnya, dia masih jauh lebih rendah dibandingkan kamu, jadi nggak mungkin dia bisa saingan sama aku." "Pokoknya kamu tenang saja, aku cuma mau godain Aris sebentar buat hiburan, bosen kalau belajar terus," ucap Aca lalu keluar dari lift begitu pintunya terbuka. "Asal jangan kebablasan saja ya? Nanti bilangnya main-main, eh ternyata jatuh cinta beneran." Deva mengingatkan, karena tidak rela kalau Aca jadian dengan Aris yang biasa-biasa saja karena menurut Deva, Aca itu cocoknya cowok yang minimal punya banyak duit kayak bapak nya Alca atau paling enggak punya status tinggi kayak si Justine. "Itu enggak mungkin banget, Aris itu jauh dari level gue," ucap Aca sombong dan segera membuat Deva lega karena dia masih mengetahui levelnya sendiri. Aca melambaikan tangan ke arah Aris saat baru masuk ke Cafe Coni dan segera melihat ke arahnya. "Maaf ya lama, si Deva memang lemot." Deva segera menarik kursi untuk Aca agar Aca bisa duduk di depan Aris dan Deva di sebelahnya. "Mau makan minum dulu apa langsung belanja?" tanya Aris dengan ramah. "Jus strawberry." Deva mengambil jus dari nampan pelayan dan memberikan pada Aca bahkan sebelum Aca sempat menjawab pertanyaan Aris. Deva sudah memesankan jus untuk Aca sedari masuk tadi dan karena karyawan di sana sudah hapal dengan kesukaan Aca maka jus itu dibuat dengan segera. "Terima kasih." Aca meminum jus kesukaannya dengan senang. "Betewe, sambil nunggu enggak keberatan 'kan kalau ada satu orang tambahan? Soalnya adik sepupu aku bilang dia juga ada di Mall ini buat beli kado, sama seperti aku." Aris pura-pura bermain ponsel, padahal saat ini adik sepupunya sudah ada di lantai dua juga. "Enggak masalah kalau dia juga mau." Aca setuju dan Deva tidak keberatan. Jadi satu menit kemudian Sarah ikut masuk ke dalam cafe dan langsung duduk di sebelah Aris. "Kenalin ini adik sepupu aku Sarah, ini teman sekelas aku Aca dan Deva." Aris memperkenalkan mereka. "Salam kenal." Sarah tersenyum manis. "Hallo." Aca menyapa dengan ramah. "Hai, kamu sekolah di mana? Kayaknya ko familiar ya?" tanya Deva merasa cewek di depannya lumayan cakep buat ngisi waktu luang. "Aku di SMA negri yang sebelum SMA Cavendish." Sarah menjawab. "Oh, pantes kek pernah lihat, soalnya kadang SMA kita suka ada pertandingan olahraga persahabatan." Meski baru ke sana sekali, Deva juga sempat memiliki pacar dari SMA negeri. Tapi, karena jadwal yang suka bentrok akhirnya mereka putus setelah sebulan jadian. "Mungkin juga sih, tapi aku belum pernah lihat kayaknya," ucap Sarah. "Lho, emang kamu kelas berapa?" tanya Deva lagi. "Kelas 1." "Oh, pantes belum lihat, soalnya biasanya pertandingan persahabatan akan dilakukan waktu kenaikan kelas." Deva memberitahu. "Bagus dong, berarti pas pertandingan nanti kita bisa saling berkunjung ke SMA masing-masing." Aris tidak mau ketinggalan obrolan. Sedang Aca sedari tadi hanya diam saat melihat interaksi Sarah dan Deva, jelas bahwa pria yang dia cintai sedang menebar jaring di hadapannya. "Berarti sekarang kamu baru 16 tahun dong?" tanya Deva merasa sedikit kecewa karena enggak mungkin pacarin anak di bawah umur. "Kebetulan Minggu kemarin aku sudah 17 tahun." Sarah memberitahu dengan wajah malu-malu. Berusaha membuat wajahnya terlihat imut agar Deva tertarik. "Wih, selamat kalau begitu, sudah dewasa sekarang." Mendengar itu seketika Deva bersemangat dan segera menggeser kursinya agar lebih dekat dengan Sarah. "Betewe mau minum apa? Kebetulan ini cafe aku, sebagai salam perkenalan semua yang kalian pesan aku bakal kasih geratis." Deva berusaha membuat Sarah terkesan. "Benarkah?" tanya Aris merasa curiga, meski baru kenal beberapa Minggu, tapi selama ini ke manapun Aris pergi dan bersama Aca, dia selalu melihat Deva menjadi pihak yang di traktir. Jadi, saat dia bilang mau kasih mereka geratis, rasanya Aris seperti tidak percaya. "Iyalah, masa aku bohong, 'kan sudah aku bilang kalau ini sebagai salam perkenalan." Deva tersenyum ke arah Sarah. "Sudahlah, makan minumnya nanti saja, ayo kita belanja, nanti keburu malam." Aca meletakkan jus strawberry yang baru diminum sedikit dan segera berdiri. Merasa cemburu melihat Deva yang cepat akrab dengan sepupunya Aris itu. Dasar buaya, pergi ke manapun mencari mangsa. Aca kesal tapi tetap tidak bisa membuat cintanya pada Deva berkurang apalagi hilang, justru semakin membuat Aca semakin penasaran, bagaimana rasanya jika dia bisa mendapatkan Deva? "Oke, kita mau ke mana dulu?" tanya Aris segera setuju. "Kamu punya dana berapa?" tanya Aca sambil berjalan dan di sebelahnya Aris segera mengikuti, sedang Deva dan Sarah tepat di belakangnya. "Bukan enggak mampu beli yang mahal, tapi aku enggak bisa beli yang terlalu wah, jadi mungkin kisaran 10 jutaan yang agak sedang untuk ukuran mereka." Aris memberitahu. "Kalau begitu tas pasangan atau arloji pasangan bisa aku rekomendasikan dari toko di lantai 3." Aca hafal semua produk di mall miliknya. "Tapi, Aku mau cari bad cover saja. Bagaimanapun budget punyaku tidak sebesar milik kak Aris." Mendengar kata 10 juta saja sudah membuat Sarah menelan ludah. Orang kaya memang beda, uang 10 juta cuma seperti daun yang dibagi dan dipakai belanja dengan enteng. "Oh, kalau gitu biar lebih cepat gimana kalau Aca sama Aris ke lantai 3, aku bakal temani Sarah ke lantai satu buat cari bedcover." Deva segera mengusulkan. Merasa aman karena Mall ini wilayah Aca dan banyak keamanan dari Save Security yang bertugas di sana. "Aku setuju sih, nanti kalau sudah selesai kita ketemuan lagi di cafe Coni." Aris sangat senang karena Deva mengambil umpan darinya. "Terserah!" Aca yang sudah badmood segera berbalik dan menuju lift, semakin kesal karena Deva tidak menyadari kekesalannya dan bahkan dengan akrab langsung merangkul Sarah untuk berjalan ke arah eskalator untuk turun ke lantai satu. Dia pergi bersama Aris dengan niat membuat Deva sedikit tertarik dan mungkin bisa cemburu kalau dia dekat dengan cowok lain, tapi kenapa malah jadi dia yang dibuat kebakaran jenggot. Aca sangat kesal hingga ingin menyiram Aris dengan lemak bhabi karena berani membawa Sarah ke mulut buaya.
อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม