"Mau ke mana?" tanya Aca begitu masuk ke kamar Deva dan melihatnya sudah selesai mandi, bahkan sudah dandan rapi dan juga trendi.
"Malam mingguan dong." Deva menjawab sembari menyemprotkan parfum ke bajunya, lalu membuka laci untuk memilih arloji sebelum mengambil dan memakainya.
"Sama Sarah?" tebak Aca, setelah beberapa hari lalu mereka kenalan, jelas Sarah langsung masuk jebakan Deva dan terbukti tidak butuh waktu lama mereka sudah jadian.
"Yup, siapa lagi." Kalau bukan gara-gara Justine yang tebar pesona di sekolah dan membuat cewek-cewek yang semula mengejarnya jadi berbalik mengejar Justine, enggak mungkin Deva nyari mangsa di tempat lain.
"Kebetulan aku juga mau keluar." Aca tersenyum manis. Tidak akan membiarkan Deva pergi sendiri.
"Please Ca, jangan malam ini ya? Kamu sama Dava dulu, oke!" Deva segera memasang ekspresi memohon. Tidak ingin acara kencannya gagal oleh Aca.
Deva butuh asupan, karena sejak putus terakhir kali dia sudah beberapa bulan tidak mendapatkan vitamin dari cewek-cewek.
"Justru kalau aku pergi sama Dava yang ada malah akan jadi aneh."
"Aneh di mana sih? Kan sudah biasa pergi sama Dava juga, lagian aku sudah janjian dari kemarin masa mau aku batalin sih? Enggak enak lho, soalnya ini pertama kali kami kencan please! Boleh ya Aca cantik!" Saat ingin kencan bukan orangtuanya yang wajib dia minta izin, tapi Aca. Karena sebagai bodyguard yang semua biaya sekolah dan uang jajan di tanggung oleh keluarga Aca, Deva benar-benar tidak berani membuat Aca marah kalau sampai tahu dia pergi kencan tanpa izin. Bahkan cewek-cewek yang menjadi pacarnya harus mendapatkan ACC dulu dari Aca, kalau tidak jangankan kencan baru pdkt sudah kabur kalau Aca enggak setuju.
"Yang bilang kamu suruh batal kencan siapa? Aku 'kan cuma bilang kalau aku mau keluar dan aku emang enggak bisa keluar sama Dava. Kamu lupa dia juga ada kencan dengan pacarnya?" Aca mengingatkan.
"Lha terus masa kamu mau ikut aku kencan? Kan enggak lucu Aca, jadi bola lampu itu enggak menyenangkan." Deva mengingatkan.
"Siapa bilang aku mau jadi bola lampu, kita bakal double date ya." Aca memberitahu.
"Double date? Kamu pacaran? Sama siapa? Kok aku enggak tahu? Anak mana? Ganteng enggak? Pinter enggak? Kaya enggak? Sama aku gantengan mana? Harusnya sih masih tetap ganteng aku 'kan ya?" Seketika Deva penasaran tingkat tinggi karena baru kali ini melihat Aca punya pacar.
"Gob/lok, aku enggak punya pacar. Kamu lupa Sarah itu sepupunya Aris, kamu kencan sama Sarah aku kencan sama Aris. Masa lupa, aku ada misi bikin dia jatuh cinta trus aku tinggalin." Aca tersenyum manis.
"Aku kira enggak jadi, ternyata masih diterusin? Janganlah Aca, bagaimanapun Aris sepupunya Sarah, nanti kalau kamu php dia, trus curhat sama Sarah dan Sarah yang notabenenya sekarang pacar aku bisa-bisa nanti malah tuduh aku sekongkol sama kamu buat kerjain si Aris." Deva ingin memiliki hubungan yang langgeng dengan pacarnya dan penuh kedamaian.
"Lah, bukannya emang begitu kenyataannya. Sudahlah kamu santai kenapa, bukankah kamu pandai merayu wanita, masa bujuk pacar ngambek enggak bisa."
"Bujuk sih bujuk, tapi ...."
"Sudah, tunggu sini aku mau siap-siap." Aca tidak menerima penolakan dan langsung keluar dari kamar Deva lalu naik ke lantai dua di mana kamarnya berada.
Deva menunduk dengan kaki menggambar lingkaran di lantai tanda pasrah, bagaimanapun kalau sang Raden ayu Artemis sudah bersabda, dia bisa apa selain menurutinya.
***
"Kamu enggak ada tempat kencan yang lebih romantis ya? Bisa-bisanya ngajak kencan cewek di taman hiburan? Jangankan ciuman kamu pegangan tangan bakal di tonton sama anak kecil." Aca tidak menyangka bahwa selera Deva dalam mengajak pacarnya kencan ternyata sangat tidak kreatif.
"Ini yang minta Sarah sendiri." Lagipula mana mungkin dia ngajak kencan di hotel dengan pacarnya saat ada Aca di sebelahnya, yang ada nanti dikira Tante Aurora dia ngajarin Aca melakukan hal yang enggak benar. Padahal Tante Aurora sudah berpesan, kalau mau enggak bener, enggak bener sendirian saja dan enggak perlu ngajak-ngajak Aca.
"Ck, pindah sana yuk, berisik banget di sini," protes Aca sambil melihat kemeriahan di depannya.
"Namanya juga taman hiburan, wajarlah kalau ramai, yang sepi kuburan Aca. Lagian, kapan kamu terkahir kali pergi ke taman hiburan? Kayaknya waktu masih kecil 'kan? Anggap saja kita lagi bernostalgia." Deva berusaha membujuk.
"Aca, Deva," suara sapaan membuat keduanya seketika menoleh.
"Maaf kami telat, kalian nunggu lama ya?" Sarah segera berlari kecil untuk menghampiri pacar barunya itu. Lebih tepatnya selingkuhannya itu.
Begitu dikenalkan dengan Deva dan tahu ternyata dia sangat tampan dan pintar, seketika Sarah merasa pacarnya yang sekarang sangat tidak menarik dan jauh jika dibandingkan dengan Deva.
Itulah kenapa sebenarnya Sarah ingin sekali putus dengan pacarnya yang sekarang agar bisa bersama Deva dengan lebih leluasa, sayangnya dia belum menemukan alasan yang pas agar pacarnya mau putus dari dirinya. Alhasil, beberapa hari ini dia harus menyembunyikan nama Deva di dalam kontak hp dengan nama salon langganan agar pacarnya tidak curiga saat ada chat masuk dan memanggil dia sayang, karena Sarah akan bilang yang kerja di salon emang laki tulang lunak yang suka bicara ala bences, sehingga kalau menyapa selalu pakai sayang, cinta atau cantik.
Untung saja pacarnya enggak curiga dan percaya-percaya saja sehingga aksi selingkuhnya dengan Deva berjalan sangat mulus.
"Enggak kok, kita juga baru sampai." Deva segera menjawab, tidak ingin pacarnya merasa tidak enak.
"Baguslah kalau begitu, ayo masuk. Kita mau main apa dulu ini?" Kali ini Aris yang bicara dan segera bertanya pada Aca apa yang ingin dia mainkan.
"Terserah," jawab Aca.
"Gimana kalau komidi putar?" Sarah menawarkan.
"Umur kamu berapa masih naik komidi putar? Enggak malu dilihat anak-anak kecil?" tanya Aca dengan d**a menahan rasa kesal karena begitu muncul Sarah langsung merangkul lengan Deva dengan mesra.
"Oh, gitu ya." Sarah seperti balon kempis dan segera terdiam.
"Enggak masalah, aku juga sudah lama enggak naik komidi putar, ayo naik sama aku saja." Deva menarik tangan Sarah dan ikut antri di sana. Tidak berapa lama kemudian Aca dan Aris juga mengikuti dibelakangnya.
"Katanya kayak anak kecil?" ledek Deva sambil tersenyum ke arah Aca.
Aca memutar bola matanya tanda kesal. "Ini demi kamu ya, kalau bukan karena kamu sepupu aku, ogah banget ngikutin kamu naik beginian." Aca melirik lengan Deva yang masih digelendoti oleh Sarah.
"Makasih Aca, baek banget deh!" Deva sama sekali tidak marah dan malah tertawa semakin meledek. Padahal di sebelahnya Aris dan Sarah merasa bahwa sikap Aca memang terlalu sombong dan mendominasi, tapi karena Deva tidak keberatan mereka tetap diam memendam.
Setelah naik komidi putar, mereka sempat naik bianglala juga dan selanjutnya berniat masuk ke dalam rumah hantu.
"Tapi aku takut." Sarah sudah mengetatkan pelukannya ke arah Deva.
"Tenang saja, ada aku di sini. Hantunya pasti takut sama aku." Deva menenangkan.
"Iyalah, kamu iblisnya." Aca menjawab.
"Bisa aja Aca." Aris tertawa, meski sebenarnya dia juga takut, tapi sebagai laki-laki dia tidak mau menunjukkan pada Aca karena tidak mau sampai malu.
"Sudah persiapannya, tiketnya sudah dapat ini ayo masuk, pegangan yang erat jangan sampai terlepas, kalau kamu takut tutup matamu." Deva menyerahkan tiket pada petugas sekaligus menenangkan pacar barunya.
Mereka masuk bersama-sama dan suasana gelap serta mistik segera melingkupi disertai suara musik yang memilukan menambah kesan angker.
"Deva itu apaan?" Sarah segera masuk ke dalam pelukannya Deva sambil melirik takut ke arah suatu tempat.
"Bukan apa-apa cuma kain putih di gantung." Deva menjawab enteng.
"Aaaa ... kenapa gerak-gerak?" Sarah terkejut dan kembali melompat ke pelukan pacarnya yang ternyata sangat kuat dan berotot, padahal dari luar tidak terlalu kelihatan.
"Ya karena ada yang gerakin, santai itu cuma boneka." Deva menepuk lengan pacarnya dan menghiburnya lagi.
Lalu mereka memasuki lorong di mana hanya ada jalur kecil yang hanya muat untuk satu orang.
"Biar aku yang duluan, kamu tepat di belakang aku ya. Tenang enggak ada apa-apa di sana, itu tangan manusia enggak bakalan nyakitin kamu." Deva menunduk ke arah tangan di sepanjang pinggiran yang melambai-lambai seolah jalur neraka.
"Tapi tetap pegangan." Sarah meminta.
"Iya." Deva langsung setuju.
"Ish, kelamaan kalian, biarkan aku yang duluan." Aca segera berjalan mendahului Deva dan dibelakangnya Deva juga segera menyusul lalu diikuti Sarah dan Aris.
"Aaaaaaa kakiku ditangkap." Aris yang ada diposisi belakang berteriak ketakutan dia segera melambaikan tangannya ke depan dan menarik Sarah sehingga ke duanya ikut jatuh. Deva berusaha mempertahankan Sarah dan menarik tangannya yang terlepas dan segera membawanya berjalan keluar dengan cepat karena khawatir pacarnya akan di tarik oleh Aris lagi, sedangkan Aris biar Aca yang menemani karena dia gebetannya.
"Akhirnya, sudah keluar. Aman 'kan? Apa aku bilang selama ada aku setanpun bakal takut." Deva menatap ke belakang di mana tangan mereka masih saling berpegangan. Namun, yang ada di sebelahnya buka Sarah melainkan Aca.
Aca menatap Deva dengan wajah datar namun senyum mengejek. "Apa?" tanya Aca hampir tertawa terbahak-bahak karena Deva salah menarik orang dan malah membawanya pergi, sementara Sarah dan Aris dibiarkan menghadapi ketakutan mereka sendiri di dalam sana.
"Kok kamu sih Aca? Trus Sarah ... Astaga ... dia penakut, gimana dong ini? " Deva menatap ke dalam rumah hantu dengan rasa khawatir.
"Tentu saja dia masih di dalam, berteriak-teriak minta tolong karena ketakutan. Eh tapi pacarnya kabur duluan." Aca kali ini benar-benar tertawa, karena di dalam sana kondisi gelap, jadi saat tangan mereka terlepas dengan sigap Aca mengganti dengan tangannya sendiri sembari mendorong Sarah agar semakin jatuh ke pinggir dan diterkam oleh setan buatan. Jadi, begitulah akhirnya, yang keluar dari rumah hantu bukan Deva dan Sarah tapi Aca dan Deva.