Sarah menangis sesenggukan sedang Deva di sebelahnya memberikan tisu sambil menghiburnya. "Maaf sayang Aku beneran nggak tahu kalau ternyata aku salah narik tangan orang."
Sarah tidak menjawab dan memeluk selingkuhannya dengan penuh rasa keluhan, di dalam rumah hantu dia begitu ketakutan hingga hampir pingsan, sedangkan saudara sepupunya Aris sama-sama ketakutan dan sama sekali tidak bisa diandalkan.
Mereka terus berteriak dan saling memeluk di sepanjang jalan, bahkan saking takutnya ada masa di mana keduanya hanya bisa berdiri sambil gemetar dan berpelukan karena setan yang menakuti mereka malah menghadang jalan.
Menurut perkataan Aca, mereka mengalami itu sebenarnya hanya sekitar 10 menit, tapi bagi mereka itu seperti berjam-jam saking takutnya. Bahkan setelah ini Sarah yakin dia tidak akan pernah masuk rumah hantu untuk seumur hidup. Dia benar-benar kapok.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Aca melihat bagian belakang baju Aris yang basah oleh keringat seperti habis dikejar hantu. Bukan seperti, tapi mereka berdua memang sedang dikejar-kejar hantu di dalam sana. Meski hantu hanya bohongan, namun Aca merasa sangat bahagia begitu melihat mereka berdua keluar dengan wajah pucat dan kuyu.
Siapa suruh berani mengenalkan Sarah pada Deva dan membuat mereka jadinya, ini sih belum seberapa. Sebentar lagi Aca akan membuat semuanya lebih kacau lagi.
"Deva mending bawa Sarah ke warung dulu, dia butuh minum dan istirahat sejenak." Aca menyarankan seah ikut khawatir.
"Itu benar, ayo sayang kita ke warung dulu biar kamu enggak usah jongkok di tengah jalan." Deva segera memeluk bahu pacarnya dan membimbingnya agar ikut menuju ke sebuah warung.
"Teh hangat ya mbak, sama milkshake strawberi." Deva segera memesan untuk Sarah dan Aca.
"Aku kopi hitam kalau kamu apaa Aris?" tanya Deva.
"Aku air mineral dingin saja." Dia sangat haus karena habis berteriak-teriak dikejar hantu.
"Sudah, hantu itu bohongan, Mereka cuma manusia yang nyamar kamu nggak usah takut." Deva masih berusaha menghibur pacarnya yang sekarang sudah lumayan tenang daripada saat baru keluar tadi.
"Kamunya bohong, katanya bakal terus pegang tanganku kenapa malah dilepas? Aku ketakutan banget tahu." Sarah memasang wajah cemberut, meski air matanya sudah tidak jatuh lagi namun meninggalkan kesan sembab sehingga semakin terlihat menyedihkan.
"Iya maaf, sebagai tanda permintaan maaf kamu mau apa aku turutin deh." Deva membujuk.
"Beneran?"
"Iya."
"Kalau gitu main tembak boneka, aku mau Bonek lumba-lumba yang paling besar." Sarah meminta, sudah bukan rahasia umum lagi bahwa tembak boneka di taman bermain sangat sulit, jangankan menjatuhkan lumba-lumba yang paling besar untuk menjatuhkan kucing yang paling mungil saja pasti pelurunya tidak akan mampu. Jadi, mendapatkan lumba-lumba sangatlah mustahil. Tapi, karena Sarah sedang kesal dengan Deva, dia ingin membalas kekesalannya itu.
"Oke, aku pasti akan mendapatkan lumba-lumba paling besar untukmu." Janji Deva dan segera memberikan teh hangat yang dia pesan tadi begitu sudah datang.
"Kalau gagal bagaimana?"
"Enggak mungkin, seorang Deva tidak pernah gagal," ucap Deva dengan ada percaya diri.
"Tadi aja kamu gagal jagain pacarmu." Aca mengingatkan.
"Itukan kecelakaan, enggak sengaja Aca. Sudah, jangan bikin Sarah inget lagi. Minum milkshake kamu nih." Deva menyodorkan minumannya.
Aca menerima dengan senang masih merasa bahagia saat pengingat ekspresi ketakutan Sarah tadi, sehingga perhatian Deva pada Sarah kali ini tidak membuat suasana hatinya buruk dan bahkan tidak cemburu saking senang karena berhasil mengerjainya.
"Mau makan sekalian enggak?" tanya Deva karena sudah terlanjur ada di warung.
"Kamu yakin ngajak aku makan di tempat seperti ini?" tanya Aca. Dia bisa makan di warung pinggir jalan tapi harus jelas bahwa warung itu memiliki tingkat kebersihan yang sesuai dengan standard darinya, sedang warung ini terlalu ramai dan dia tidak tahu seperti apa kebersihannya bahkan milkshake yang dipesan Deva hanya dia minum sedikit.
Mendengar jawaban Aca, Deva seketika melihat sekeliling di mana orang-orang yang makan memang suka membuang sampah sembarang. "Ya sudah kita makan kalau sambil pulang nanti." Deva setuju dan mereka akhirnya menuju ke tempat di mana tembak boneka berada.
"5 tembakan 20 ribu, 15 tembakan 50 ribu." Ucap pemilik kios.
"Oke." Deva segera mengeluarkan uang 50 ribu untuk 15 tembakan.
"Aku mau coba dulu boleh?" Sarah tidak mau ketinggalan.
"Boleh dong sayang." Deva segera memberikan alat tembak pada Sarah agar mencoba pertama.
"Buat aku mana?" Aca minta dari Deve.
"Sebentar Aca, gantian." Deva menjawab.
"Ini buat kamu." Aris yang sigap segera membayar juga dan memberikan pistol pada Aca.
"Yah ... aku gak dapat semua, jadi mendingan kamu saja deh yang nembak." Setelah 5 tembakan dan semuanya gagal Sarah akhirnya menyerah.
"Biar gue dulu." Aca mengambil alih dan dari 5 tembakan berhasil menjatuhkan 2, meskipun boneka yang jatuh kecil-kecil, namun itu sudah luar biasa. Sebenarnya semua tembakan Aca mengenai sasaran tapi entah mengapa sasaran yang kena tidak mau jatuh karena sepertinya pelurunya tidak kuat untuk menjatuhkannya.
"Wow, Aca hebat banget." Sarah merasa iri dengan kehebatan Aca.
"Biasa aja," jawab Aca tidak merasa bangga atau senang karena dipuji oleh saingan cintanya.
"Biar aku mencoba." Aris tidak mau kalah, tapi seperti Sarah 5 tembakan darinya tidak ada satupun yang mengenai sasaran. Bahkan karena penasaran dia akhirnya mengambil 5 tembakan yang seharusnya milik Deva dan akhirnya berhasil menjatuhkan 1 kura-kura.
Meski begitu, Aris tidak puas karena butuh 10 tembakan untuk 1 boneka sedang Aca hanya butuh 5 tembakan untuk 2 boneka. Merasa harga dirinya sebagai laki-laki terluka.
"Sudah, biar aku saja." Deva mengambil alih.
"Kamu tadi mau yang mana? Lumba-lumba ya?" tanya Deva memastikan. Dia tahu bahwa satu tembakan dan satu peluru tidak akan mampu menjatuhkan lumba-lumba itu. Jadi, dia harus bisa menembak 5 peluru berurutan secepat mungkin agar peluru di belakang bisa mendorong peluru depan menjatuhkan boneka itu.
"Iya, yang warna biru." Sarah bersemangat, meskipun dia tahu bahwa kemungkinan Deva bisa mendapatkan boneka itu sangat kecil namun dia tetap senang karena diperjuangkan.
"Oke." Deva segera membidik dan rentetan tembakan yang terjadi begitu cepat sehingga saat boneka di bagian paling atas etalase tiba-tiba jatuh banyak orang yang tidak percaya, namun sekejap kemudian terdengar sorak sorai dan tepuk tangan karena ada yang berhasil menjatuhkan boneka terbesar di kios itu.
Pemilik kios jika tidak menyangka bahwa setelah membuka setan di sana selama hampir 2 tahun. Akhirnya benar-benar ada yang bisa menjatuhkan bonekanya yang paling besar. Sepertinya dia harus memperkuat bagian bawah agar ke depannya tidak bisa di dapat oleh orang dengan mudah. Namun, karena sekarang sudah jelas dijatuhkan oleh orang itu, sang pemilik kios juga harus dengan rela melepaskan maskotnya. Apalagi setelah sang maskot jatuh, malah banyak orang datang ingin mencoba, jadi kehilangan satu boneka besar seperti tidak masalah baginya karena mendatangkan keuntungan.
"Selamat ya." Pemilik kios menyerahkan boneka seukuran 1 meter tersebut.
"Terima kasih." Sarah memeluk boneka itu dengan rasa senang yang sangat luar biasa. Merasa tidak percaya Deva bisa mendapatkannya.
"Sama-sama sayang, asal kamu bahagia," ucap Deva dan mendapatkan sorakan dari orang sekitar yang mendengarnya.
"Sudah? Mau ke mana lagi kita?" tanya Deva, siap menghadapi tantangan kekasihnya.
"Kayaknya pulang sajalah, ini sudah jam 9 malam." Aca yang menjawab sambil membawa 3 boneka kecil yang didapatkan olehnya dan Aris.
"Oke." Deva juga setuju karena kalau sampai Aca pulang lebih dari jam 10.00 malam bisa-bisa dia karena ceramah dari Tante Aurora.
Mereka berjalan menuju tempat parkir bersama-sama dan untungnya mobil mereka tidak berada di lokasi yang berjauhan.
"Oh, ternyata gara-gara ini kamu jadi asing? Sok sibuk, sok enggak ada waktu. Ternyata sudah dapat pacar baru!" Tiba-tiba suara seorang pemuda membuat mereka berempat menoleh di mana ada 5 pemuda berjalan bersama dengan wajah marah menghampiri mereka.
Sarah yang melihat pacarnya datang seketika melotot tidak percaya. Kenapa dia sial sekali, baru juga selingkuh sudah ketahuan.
"Kalian siapa?" tanya Deva saat melihat bahwa semua orang seperti menatap pacar barunya dengan kemarahan.
"Aku siapa? Aku pacarnya Sarah! Kamu yang siapa? Selingkuhan ya? Pantas saja akhir-akhir ini Sarah seperti menjauh dariku ternyata dia selingkuh sama kamu!"
"Sarah? Dia beneran pacar kamu?" tanya Deva. Meski dia playboy tapi Deva memegang prinsip bahwa dia tidak akan merebut pacar orang lain.
"Bukan, dia cuma teman sekelas aku!" Sarah segera menolak. Dia tidak mau mengakuinya karena merasa bahwa ini adalah kesempatan yang bagus untuk putus dengan pacarnya dan tetap bersama Deva. Bagaimanapun dilihat dari segala sisi Deva lebih baik dari pacarnya saat ini.
"What? Sialan, kita sudah pacaran hampir 1 tahun dan sekarang kamu dengan entengnya bilang Kita cuman teman sekelas? Terus ini apa?" Pacar Sarah menunjukkan foto ciuman mereka.
"Itu ...itu enggak benar. Kamu salah! Itu pasti editan." Sarah segera membela diri dia berusaha mendekat ke arah Deva tapi Deva segera melepaskannya.
"Maaf bang, aku enggak tahu dia sudah punya pacar. Kalau sudah tahu aku tentu enggak bakal mau." Meski jika terjadi perkelahian Dewa yakin bahwa dia tetap akan menang, namun mengambil yang harus diprioritaskan keselamatannya.
"Halah bacot, pasti kamu sudah tahu dan ngincar lama."
"Kamu Deva anak SMA Cavendish'kan? Dasar playboy." Tiba-tiba salah satu dari pemuda item maju dan menyerangnya tentu saja Deva tidak diam saja dan langsung menangkis mereka.
Tidak butuh waktu lama bagi desa untuk menyelesaikan perkelahian ini karena jelas dia menang telak dan semua pemuda itu hanya bisa tergeletak sambil merintih karena kesakitan.
"Deva?" Sarah menatap Deva.
"Kita putus," ucap Deva dan langsung mengambil kembali boneka di dalam pelukan sara lalu menyerahkannya kepada Aca.
Aca tersenyum menang dan masuk ke mobil bersama Deva. sudah mengira bahkan untuk kali ini dia berhasil lagi.