Bab 13. Koleksi

1166 คำ
Aca melirik Deva di dalam mobil yang suaranya terasa hening mencekam. Dia merasa sangat lega karena rencananya berjalan dengan mulus. Saat tahu Aris memperkenalkan Sarah pada Deva dan mereka mulai dekat, Aca sudah menyelidiki terlebih dahulu siapa Sarah sebagai antisipasi jika dia keganjenan pada Deva dan akhirnya jadian. Benar saja, Sarah sudah memiliki pacar di sekolahnya dan dengan berani malah pacaran dengan Deva karena Aca yakin begitu Sarah melihat Deva pasti dia membandingkan Deva dengan kekasihnya yang tidak seberapa itu, tentu saja mau dilihat dari segi manapun Deva adalah pemenang dan akhirnya Deva benar-benar jadian sesuai prediksinya. Awalnya dia ingin sedikit main-main, tapi saat dia tahu bahwa pacar Sarah adalah berandalan di sekolahnya, Aca tidak mau ambil resiko dan langsung menghubungi serta memberitahu pacarnya bahwa kekasihnya saat ini sedang selingkuh dengan Deva di sebuah taman hiburan. Benar saja, tidak butuh waktu lama pacar Sarah datang dengan gerombolannya, untung saja Aca tahu bahwa Deva tidak mungkin dikalahkan oleh para pecundang seperti itu. Jadi, dia tetap tenang saat mereka datang mengeroyok Deva. Dan untung saja, tempat di mana mereka bertengkar dilokasi parkir yang sepi, kalau tidak maka akan menimbulkan kerusuhan, sedangkan Aca malas berurusan dengan polisi. Deva menghela napas dan menghentikan mobil di pinggir jalan lalu melihat ke arah Aca. "Mau ketawa 'kan kamu? Ketawa aja enggak usah ditahan." Deva cemberut karena sejak meninggalkan taman hiburan dia bisa melihat Aca yang menahan senyum. Kali ini Aca benar-benar langsung tertawa terbahak-bahak. "Sialan, b*****t lah!" Deva memaki tapi bukan ditujukan pada Aca dan Aca juga tahu itu. "Astaga Dev, sebegitu enggak lakunya 'kah kamu sampai jadi selingkuhan?" Aca bicara masih sambil tertawa. "Aku 'kan enggak tahu Aca." Kalau Deva tahu cewek itu sudah punya pacar mana sudi Deva kencan dengannya. "Deva, Deva, makanya lain kali kalau lihat cewek cantik cek dulu beneran single atau ada yang punya. Jadi malu sendiri 'kan jadinya?" Aca masih tertawa. "Terus, ledekin terus sampai kamu puas." Deva ingin mengeluarkan rokok dan menghisapnya untuk meredakan amarah, tapi Aca yang ada di sampingnya langsung merebut rokok itu. "Berapa kali aku bilang, jangan merokok!" tegur Aca dengan wajah galak, paling anti dengan yang namanya rokok. "Yaelah Aca, cuma sesekali ini. Biarlah aku menghibur diri." Deva meminta rokoknya kembali namun langsung ditolak oleh Aca. "Enggak, kalau dibiarkan dari sesekali jadi tiap hari. Trus jadi kecanduan." Aca membuka jendela mobil, kebetulan melihat ada tong sampah tak jauh dari sana dan langsung melemparkannya dan masuk dengan tepat sasaran. Melihat itu Deva juga tidak bisa marah pada sepupunya yang memang selalu mendominasi. Apalagi rokok itupun belinya juga duit dari ayah Aca. "Ya sudah ayo makan kalau begitu, laper aku." Lagi jengkel, lagi kesal malah enggak dapat pelampiasan karena hiburannya dibuang sama Aca, akhirnya Deva yang memang belum makan memilih mengalihkan rasa kesalnya ke arah restoran bintang 5 dan makan makanan mahal dengan Aca yang membayar karena membuat moodnya makin jelek. Aca tidak keberatan karena meskipun Deva pengawalnya dan setiap hari makan bersama, namun jarang bagi Deva dibayarin Aca karena dia sudah dapat dana dari ayahnya sendiri saat pergi ke manapun bersama Aca. "Udah mendingan?" tanya Aca begitu mereka selesai makan. Jelas Deva sepertinya sudah lebih baik dari sebelumnya. "Jangan bilang siapa pun!" Deva memperingatkan karena kalau sampai yang lain tahu dia dijadikan selingkuhan, pasti dia akan jadi bahan tertawaan keluarga besar. Deva tidak kecewa atau sakit hati karena ternyata Sarah sudah punya kekasih, dia lebih marah dan malu karena seorang Deva dijadikan selingkuhan. Apa kabar dunia persilatan kalau sampai ada yang tahu Deva cuma dijadikan cadangan. "Enggak janji." Aca tersenyum bahagia. Merasa ekspresi kempis Deva benar-benar sangat menghibur. "Artemis cantik ... aku janji akan lakuin apapun yang kamu mau tapi please jangan kasih tau siapapun ya?" Mohon Deva. "Please Aca." Melihatnya Aca mana mungkin tahan. "Em ... oke kalau begitu." Aca tersenyum puas. Dia sudah memikirkan banyak hal yang bisa dia lakukan bersama Deva. Deva merasa lega, meski Aca sering nyebelin namun jika dia sudah mengatakan iya itu pasti akan ditepati DNA dia tidak perlu khawatir lagi. Akhirnya mereka kembali tepat jam 10 malam di mana Alca sudah menunggu di pintu. "Telat 2 menit!" Alca mengingatkan. "Yang 2 menit 'kan dipakai buat parkir Om." Deva segera menjawab. "Aku pulang dulu." Deva pamitan. "Dih, anak Alxi gitu aja ngambek, sini masuk ngapain pulang." Alca mempersilahkan. "Enggak Om, emang lagi pengen pulang. Duluan ya Om, Aca." Mood Deva masih tidak bagus jadi dia mau pulang saja dan ngerusuhin adik-adiknya untuk dijadikan pelampiasan. "Oke." Aca melambaikan tangan dan masuk dengan ke 4 boneka yang berhasil dia dapatkan di taman hiburan.. "Kenapa si Deva tumben baperan?" tanya Alca pada putrinya. "Habis putus dari pacarnya." Aca memberitahu. "Owalah, pantesan gitu aja ngambek." Alca masuk diikuti oleh putrinya. "Tumben beli boneka?" tanya Alca karena dari dulu memang tidak pernah melihat anaknya membeli boneka. Biasanya putrinya malah lebih suka beli baju atau perhiasan yang bisa mempercantik dirinya. "Hadiah dari tembak boneka di taman hiburan." Aca menjawab. "Kok ke taman liburan nggak ngajakin papa sama mama sih?" "Orang dadakan, teman Aca tadi yang ngajakin." Aca menjawab. "Owh, ya sudah sana istirahat." Alca belum tidur karena memang menunggu anaknya pulang, Jadi begitu melihat Aca sudah kembali di rumah, dia segera naik ke lantai 2 untuk tidur dengan istri tercintanya. Sudah semangat berjuang untuk memuaskan sang istri karena obat kuat dari Jovan telah dikirim. "Selamat malam papa." "Selamat malam juga anak papa yang paling cantik." Alca menjawab. Aca tersenyum dan masuk ke kamarnya. Meletakkan 4 bonekanya dan segera masuk kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah berganti dengan piyama, Aca tidak langsung tidur tapi malah menggeser foto yang ada di dinding di mana ternyata di balik dinding ada tombol kode seperti brangkas. Aca menekannya dan ada suara klik tanda terbuka. Aca mendorong dinding di dekat lemari yang ternyata sebuah pintu, di mana dibaliknya ada sebuah ruangan besar yang berisi berbagai macam barang. Mulai dari hal sepele seperti jepit rambut, karet gelang bahkan bolpoin sampai barang lumayan mahal seperti tas branded hingga perhiasan. Semua ini adalah koleksi milik Aca yang tidak ada satupun orang tahu. Karena, semua barang ini bukan dibeli oleh Aca sendiri ataupun hadiah dari orang lain yang diperuntukkan untuknya. Tapi, semua ini adalah barang-barang dari Deva untuk semua mantan pacarnya. Aca berhasil mendapatkannya satu persatu karena tidak rela Deva membelikan wanita lain hadiah bahkan jika itu hanya iseng belaka. Bahkan badcover yang seharusnya di bawa Sarah juga sudah berhasil dia dapatkan. Semua ini terjadi karena di kamar papa dan mamanya ada sebuah foto yang di pigura dengan indah, isinya ternyata hanya screenshot yang berisi chat pertama mamanya Aurora pada Alca, lalu di ruang tamu di tembok dinding ada gelas berisi jus jeruk yang sudah diawetkan dan dilapisi kaca sehingga orang yang melihat akan mengira itu hanya pajangan unik, padahal menurut keterangan dari sang ayah, itu adalah jus jeruk pertama yang dibuatkan Aurora untuk papanya. Seromantis itu Alca. Sehingga membuat Aca akhirnya juga ingin mengoleksi semua barang dari Deva. Maka terbentuklah ruangan ini, ruangan khusus untuk koleksi semua barang yang pernah dibeli oleh Deva, entah itu memang untuknya atau untuk wanita lain.
อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม