Bab 14. Selingkuhan

1243 คำ
"Ish, telat 'kan kita," gerutu Aca saat keluar dari mobil dan melihat semua kelas sudah di mulai dan lorong sekolah terlihat sepi. "Yang suruh aku beli pembalut dulu siapa tadi?" Deva menjawab, mana pas sampai minimarket bingung karena pilihannya yang terlalu banyak. Ada yang anti bakteri berasa sabun mandi, ada yang tahan bocor seperti aquaproof, ada yang setipis harapanku padanya, ada yang bersayap tapi bukan burung, bahkan ada yang bisa dipakai khusus malam. Deva sampai mikir, kenapa enggak ada yang anti radiasi dan anti mantan yang ngajak balikan. "Lagian kamu ngapain sih beli pembalut yang harusnya cuma butuh waktu 5 menit malah hampir setengah jam baru balik?" "Kan aku enggak tahu merk yang kamu pakai Aca." Deva menjawab lagi. "Makanya kalau aku ngomong biar selesai dulu, jangan main tutup telfon dan pergi-pergi aja." Biasanya keperluan rumah tangga termasuk pembalut sudah disediakan oleh Art yang bertugas, tapi entah kenapa untuk bulan ini malah pembalut yang seharusnya dia pakai tidak ada. Alhasil dia langsung telfon Deva untuk beli di minimarket terdekat agar lebih cepat, namun dia belum selesai menyebut merk Deva malah sudah memutuskan panggilan telpon dan berangkat. "Ya maaf, mana aku tahu kalau pembalut ternyata banyak variasi." Deva akhirnya meminta maaf karena kata Daddynya, cewek pms itu paling emosian. Lagipula ini efek kebiasaan dirinya yang selalu cepat tanggap saya Aca butuh sesuatu. Misal, Aca minta jus, secara otomatis dia akan beli jus strawberry, karena itu yang dia suka, jadi saat Aca bilang dia butuh pembalut, dengan cepat Deva berangkat, beli yang gambar strawberry lalu pulang. Ternyata pembalut tidak sesederhana jus strawberry yang sudah biasa dia beli untuk Aca. "Sudahlah, sana parkir kamu. Aku masuk duluan." Seperti dugaan Deva begitu dia meminta maaf dengan segera Aca berhenti menyalahkan dirinya, meski wajahnya masih terlihat jutek tapi jelas sudah enggak marah padanya lagi. Deva menghela napas lega dan segera memarkirkan mobil ke tempat biasa di mana tempat itu tidak ada yang berani parkir karena sudah pada tahu bahwa Deva yang selalu memarkir mobilnya di sana. "Ow ... selingkuhan, baru datang juga kau?" Deva baru keluar dari mobil ketika mendengar suara Justine dan menatap dengan bingung. "Ngapain lihat kanan dan kiri? Aku ngomong sama kamu Deva." Justine menghampiri. "Kamu tadi ngomong apa?" tanya Deva memastikan. "Apa? Selingkuhan? Ck, aku tahu kamu kalah pamor sama aku tapi enggak usah jadi selingkuhan juga kali Deva. Tahu enggak sih, kamu yang jadi selingkuhan kita sebagai squad Cohza yang ikut malu. Kek enggak ada cewek lain aja sampai rebut pacar orang." Justine membuka pintu mobilnya dan hendak masuk. Deva masih tercengang mendengarnya. "Kok kamu bisa tahu?" tanya Deva. "Tahulah, semua juga tahu, 'kan ada di grup. Dah, aku nyusul Dewa dulu." Justine menutup pintu mobil dan menjalankan keluar dari lokasi sekolah. Deva masih diam, lalu melihat ke ponselnya di mana grup squad Cohza barada. "Anjir, Deva jadi selingkuhan." Ini adalah chat dari Dava kakaknya. "Kak Deva? Beneran kamu selingkuh sama cewek namanya Sarah?" Kali ini adiknya Dika yang bertanya. "Dia dari sekolah negeri sebelah." Dewa tidak mau kalah dan ikut nimbrung. "Deva jadi selingkuhan!!!" Chat dari Mahesa meski singkat namun Deva bisa menebak ekspresinya yang pasti mengejek itu. "Kak, jangan malu-maluin napa, kalau kekurangan cewek teman sekelas Della banyak yang cantik ini." Ini juga, adiknya yang masih SD si Della ngapain masuk squad cowok. "Woe ... serius? Deva beneran jadi selingkuhan? Aku mau ketemu cewek yang bisa bikin Deva jadi selingkuhan." Ini chat dari Justine yang baru dikirim semenit lalu. Jadi, saat ketemu Deva tadi Justine yang pergi naik mobil berencana pergi ke sekolah negeri di sebelah untuk memastikan. "Sialan." Deva segera menutup chat di ponselnya, merasa sangat malu dan tahu pasti tahun-tahun yang akan datang hal ini akan jadi bahan ejekan di keluarganya. "Siapa sih yang ngasih tahu?" Deva merasa marah. Saat itu yang tahu bahwa Deva pacaran dengan Sarah hanya Aca dan Aris serta pacar Sarah. Pacar Sarah habis dia pukuli dan babak belur, pasti enggak bakal bikin masalah dan Sarah enggak mungkin karena dia pihak yang selingkuh. Aris, juga tidak mungkin karena dia tidak mengetahui nomor saudara-saudaranya. Hanya tinggal Aca. Deva enggak mau nuduh, tapi mau dilihat dari sudut manapun, hanya Aca yang memiliki kemungkinan paling besar untuk membocorkan rahasia itu. Pertama, karena jelas chat pertama dari kakaknya. Sedang sepagi ini selain dari rumah kakaknya belum ke mana-mana yang artinya berita itu didapatkan dari orang sekitar rumah. Ke dua, Aca kalau marah semua yang ada dia sekitarnya suka kena imbasnya. Tadi pagi, jelas Aca marah karena dia lama membelikan pembalut sehingga membuat Aca telat masuk kelas, jadi dia membalas dengan memberitahukan ke saudaranya bahwa dia menjadi selingkuhan. Untuk kenakalan dan keisengan Aca sebelumnya, Deva selalu menutup mata. Tapi, ini adalah harga diri seorang pria dan Deva merasa sangat kecewa karena Aca malah memberitahu orang lain tentang aibnya. Deva berjalan ke arah kelas mereka, masuk dan langsung duduk di sebelah Aca dengan wajah dingin dan semakin marah karena ternyata guru belum hadir yang artinya mereka sama sekali tidak terlambat. "Untung gurunya belum masuk." Seolah menegaskan apa yang terjadi, Aca bicara dengan Deva masih dengan nada juteknya. "Dan kamu enggak telat, tapi tetap melakukan itu?" Deva menoleh ke arah Aca dengan rasa kecewa. "Ya iyalah, ini kita beruntung saja karena gurunya juga telat." Aca tidak menyangkal. "Tapi ini enggak lucu Aca! Bener-bener enggak lucu sama sekali." Deva merasa semakin kesal. Namun, tidak mungkin melampiaskan ke Aca. "Kalau aku sampai telat itu juga enggak lucu Deva, bisa-bisa mama Aurora nanya kenapa hari ini poin kehadiran di kelas jadi minus." "Kamu 'kan tinggal bilang sama tante Aurora kalau kamu telat gara-gara aku dan aku tidak akan membantah hal itu, enggak perlu pakai acara kasih tahu Dava dan yang lain juga kalau aku kemarin sempat jadi selingkuhan Sarah!" Meski Deva ingin berteriak namun dia masih memahami lokasi di mana mereka berada dan hanya bisa berbisik dengan mulut terkatup menahan rasa kesal. "What?" Aca terdiam, jadi maksud Deva adalah anak-anak tahu dia jadi selingkuhan dan nuduh dia yang bocorin hal itu? "Aku malu Aca, ini tentang harga diri cowok. Kali ini kamu udah keterlaluan banget sama aku dan aku kecewa." Deva menatap Aca yang hanya diam dengan wajah tidak bersalah. "Enggak salah?" tanya Aca pada Deva? Ingin memastikan bahwa Deva tidak salah menuduh. Mendengar tanggapan Aca, Deva jadi semakin kesal. "Bagimu mungkin bukan masalah besar, tapi bagiku ini benar-benar sesuatu yang enggak bisa dijadiin Bercandaan." "Hari ini kamu pulang dengan Dava saja." tanpa menunggu jawaban dari Aca, Deva segera beranjak pergi berniat pergi ke cafenya untuk sementara dan tidak bertemu Aca beberapa hari untuk menenangkan diri. Aca menatap kepergian Deva dengan wajah tidak percaya. Campuran antara kesal, marah sekaligus kecewa karena dituduh melakukan sesuatu yang tidak pernah dia lakukan. "Bagaimana mungkin dia nuduh aku seperti itu?" gumam Aca pada dirinya sendiri masih dengan napas naik turun menahan amarah. Namun, dia juga merasa ingin menangis karena orang yang dia cintai dan kenal sedari bayi bahkan tidak mendengar jawabnya dulu sebelum pergi. Apa kepercayaan Deva padanya memang serendah itu? Setidak bisa diandalkan kah dia? Sampai Deva semudah itu tidak percaya padanya? Aca ingin menjelaskan pada Deva bahwa bukan dia yang membocorkan tentang perselingkuhan itu, tapi lalu dia berpikir bahwa dia sama sekali tidak bersalah, jadi kenapa dia harus menjelaskan? "Sialan." Aca kehilangan mood belajar dan hendak pergi, sayang baru dia berdiri dan bertepatan dengan guru yang baru masuk sehingga Aca akhirnya mengurungkan niat dan tetap duduk lagi di kelas namun dengan otak yang tidak bisa konsentrasi. Ingin sekali memukuli Deva yang berani mempertanyakan kredibilitasnya dalam menjaga rahasia.
อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม