Deva baru menyetir mobilnya belum lama, mungkin sekitar 2 menit dari saat dia keluar dari gerbang sekolah ketika melihat kerusuhan di jalan.
Sepertinya ada tawuran!
Deva berhenti, memarkir mobilnya di tempat yang aman lalu keluar dari mobil dan mendekat ke arah tempat di mana tawuran terjadi. Karena biasanya di mana ada tawuran, maka di situ ada Dewa adiknya.
Benar saja, di tengah pusat badai sang adik yang baru menginjak bangku SMP terlihat berkelahi dengan anak-anak SMA di sana. Bahkan ada Dava, Dika dan Justine juga.
"Dih, pada ngapain sih mereka?" batin Deva tidak mengerti, kenapa kakaknya juga ikut menanggapi keributan anak SMA.
"Itu Deva!" teriak seseorang dan Deva langsung menoleh ke arah sumber suara. Ternyata mereka adalah teman dari pacar Sarah yang semalam dia hajar.
"Kuat juga itu orang!" Semalam meski dia tidak banyak menggunakan tenaga, namun jika itu hanya orang biasa pasti dibutuhkan waktu paling cepat 3 hari untuk bangun dari tempat tidur setelah dia pukuli. Siapa sangka mereka sudah bisa ngajak tawuran di pagi hari. Jelas mereka sepertinya memiliki kemampuan berkelahi juga.
"Oh, jadi kamu selingkuhan Sarah?"
"What!!!" Deva tercengang.
"Hajar dia!" tunjuk salah satu diantara mereka.
"Mau lawan kakakku, lewati dulu aku." Tiba-tiba Dewa sudah ada di depan Deva dengan wajah garang. Secara otomatis semua orang langsung mundur satu langkah saat melihat Dewa.
Orang itu wajahnya masih memiliki lemak bayi yang sangat imut, tapi terlalu ganas saat memukuli teman-teman mereka. Bahkan ada yang hanya butuh satu pukulan dan langsung pingsan tanpa bisa melawan. Membuat semua orang di sana tidak berani maju sendiri kalau melawan Dewa.
"Kakak aku itu ganteng, dibandingkan dengan pacar si Sarah, dia 100 kali lipat lebih ganteng. Jadi, enggak usah nuduh sembarang, jangan-jangan justru teman kalian yang merupakan selingkuhan!" Kali ini Dika yang bicara. Meski dari keheningan Deva di grup dia tahu bahwa kakaknya memang selingkuhan, tapi di dunia luar dia harus tetap membela agar saudaranya tidak di remehkan.
"Kalaupun Deva adalah selingkuhan pacar teman kamu, harusnya kamu nanya sama teman kalian. Kenapa bisa diselingkuhi? Jelek atau enggak mampu biayain cewek?" Dava ikut menghina.
"Benar, lihat aku. Ganteng dan kaya, enggak bakal diselingkuhi!" Tiba-tiba suara Justine dari jauh terdengar. Dengan rasa percaya diri dia membuka kacamatanya dan menunjukkan wajah tampannya yang paripurna.
Soal kekompakan jangan pernah meremehkan anak Alxi. Satu dihina, maka semuanya akan maju untuk membela.
Deva di belakang mereka tidak tahu apakah harus terharu atau malu karena dibela padahal jelas di sini memang dia yang salah karena jadi selingkuhan.
"Minggir dulu kalian, biar aku urus sendiri." Deva segera maju dan semua saudaranya memberi jalan kecuali Dewa.
"Tapi aku masih mau berkelahi." Dewa bicara dengan polos. Kata Daddy Alxi dia butuh banyak latihan jika mau jadi bodyguard mahal dikemudian hari dan latihan paling bagus adalah dengan terjun langsung ke lapangan alias tawuran.
Rasa haru karena di bela saudara-saudaranya seketika lenyap begitu mendengar perkataan Dewa, karena sepertinya mereka ada di sini bukan untuk membelanya tapi memang sekedar ingin berkelahi dengan orang-orang atau kepo dengan permasalahannya.
"Aku sudah bilang sama teman kamu, aku enggak tahu Sarah sudah punya pacar dan begitu mengetahuinya, aku langsung putus darinya. Jadi, di mana masalahnya?" Deva bertanya pada rombongan cowok-cowok dadi SMA negeri.
"Kamu nanya masalahnya di mana? Jelas-jelas kamu sudah jadi selingkuhan dan malah memukuli teman kami."
"Teman kamu yang mulai pukul aku duluan." Masa Deva diam saja mau dihajar.
"Halah bacot." Salah satu dari mereka sudah emosi dan langsung maju untuk menerjang Deva.
Deva kembali membela diri, dia seperti tidak banyak mengeluarkan tenaga saat memukul orang-orang itu, namun anehnya mereka segera jatuh kesakitan setelah mendapat pukulan dari Deva bahkan tidak bisa bangun.
Semua itu karena, meski terlihat ringan namun Deva dan semua saudaranya sudah belajar sedari kecil tentang titik rasa sakit manusia. Di mana mereka bisa memukul titik itu dan membuat yang terkena pukulan akan melolong setengah mati karena kesakitan, padahal luka yang mereka berikan tidak parah sama sekali.
Begitu satu maju maka yang lain ikut maju, di mana tanpa dikomando Dava, Dika dan Deva juga ikut bergabung untuk membantu saudaranya.
Di pihak mereka hanya ada 4, sedang dipijak musuh ada sekitar 50.
Meski begitu mereka sama sekali tidak kewalahan saat menanggapi mereka, baik satu persatu atau bahkan beberapa sekaligus.
Hanya butuh waktu 10 menit dan semuanya segera lari tunggang langgang bahkan berguling-guling di aspal karena kesakitan.
"Woe, jangan pergi ... kasih lihat foto Sarah ke gue dulu!" Tiba-tiba Justine yang tadi hanya diam menonton sambil duduk di atas kap mobil melompat turun dan mencengkram salah satu anak SMA negeri yang hendak kabur.
"Ampun, jangan pukul lagi." Anak SMA itu ketakutan.
"Ish, aku cuma mau lihat muka Sarah. Tunjukkan!" Perintah Justine dan anak SMA itu dengan panik membuka ponselnya dan memperlihatkan foto grup di kelas mereka di mana ada Sarah di sana.
"Oh, jelek ya?" ucap Justine tanpa saringan dan langsung melepaskan orang itu.
"Ternyata Sarah jelek, enggak secantik mantan-mantan Deva." Justine memberitahu semuanya dengan nada meremehkan. Merasa rugi kalau Deva sampai jadi selingkuhan cewek jelek kayak itu.
"Dibilang aku enggak tahu dia ada pacar, stop ngatain gue selingkuhan. Lagian, ngapain kalian pake acara ngajakin mereka tawuran kalau cuma demi masalah sepele kek gini." Deva hendak berbalik pergi.
"Dih, ngapain kita tawuran. Kalau bukan mereka yang datang dan cari masalah ke sini, kita mah ogah ngurusin hal kek gini." Dava sebagai kakak merasa waktunya juga terbuang percuma demi hal yang bisa diselesaikan sendiri oleh Deva.
"Kalau bukan gara-gara Dewa telpon aku dan kasih tahu kalau depan sekolah ada anak SMA negri yang ngajak ribut yang ternyata gara-gara kamu jadi selingkuhan dan pacarnya pacarmu ngajak ribut, ogah aku di sini, mendingan ngurusin kerjaanku sendiri."
Karena SD, SMP, SMA dan universitas Cavendis berada di jalan yang sama dengan lokasi berjejer, jadi saat anak-anak SMA negeri datang untuk tawuran maka secara otomatis akan melewati SMP Cavendish di mana Dewa berada.
Itulah kenapa dia adalah orang pertama yang tahu tentang keributan ini dan langsung menghubungi kakak pertamanya untuk meminta penyelesaian. Karena bahkan untuk tawuran, Dewa harus dapat izin dari sang kakak.
"Tunggu! Maksud di grup adalah ... kalian tahu aku jadi selingkuhan gara-gara mereka datang ajak tawuran?" tanya Deva memastikan.
"Lha iya, kalau mereka enggak nongol mana kita tahu kamu jadi selingkuhan." Dika yang menjawab.
"Ck, Ck, turun sudah harga diri squad kita gara-gara Deva."
"Selingkuhan oh selingkuhan."
"s**t!" Deva sudah menduga bahwa dia akan diejek habis-habisan kalau saudaranya tahu dia jadi selingkuhan. Tapi seketika dia malah ingat ekspresi Aca saat dia menuduhnya membocorkan rahasianya itu.
"Woe ... mau ke mana? Kamu enggak ada niat kenalin aku ke Sarah?" Justine masih bersandar di kap mobil dengan pose santai namun kata-kata yang mengejek jelas terasa.
Deva tidak menjawab dan langsung berlari ke mobil untuk kembali ke sekolahnya. Ingin meminta maaf sesegera mungkin pada Aca karena sudah salah paham.
"Oke! Sampai jumpa selingkuhan! Terima kasih udah dibantu tawuran!" Sindir Dava yang tidak dipedulikan oleh Deva karena sudah mulai menyalakan mobilnya.
***
"Aca? Sorry, aku benar-benar nggak tahu bahwa sepupu aku Sarah sudah punya pacar dan lagi dia baru perkenalan dengan Deva selama beberapa hari, jadi aku juga tidak menyangka kalau mereka akan secepat itu jadian." Aris sudah menunggu Aca datang ke sekolah dengan rasa gelisah karena sejak kemarin Aca sudah tidak mau membalas chat darinya lagi.
Aca yang sedang kesal dan marah dengan Deva semakin kesal karena Aris yang mengganggu waktunya.
"Aris, aku enggak bego. Jelas banget kamu ada niat deketin Sarah ke Deva, jadi mana mungkin kamu nggak tahu kalau Sarah sudah punya pacar." Aca menatap dengan tajam, dia tidak mau dibodohi.
"Oke, aku memang sengaja mendekatkan Sarah pada Deva. Itu semua aku lakukan karena Deva selalu ganggu hubungan kita."
"Hubungan kita? Emang kita ada hubungan apa?" Aca merasa ingin tertawa.
"Sekarang memang belum, tapi ... sebenarnya ...." Aris terlihat salah tingkah, membuat Aca sudah menebak apa yang ingin dia katakan.
"Aca, aku dari awal sudah sangat suka sama kamu, jadi Aku cemburu kalau kamu selalu kemana-mana bareng Deva, jadi aku sengaja ngajak Sarah biar dia bisa sama Deva dan kamu sama aku." Tiba-tiba Aris berlutut di depan meja Aca.
"Aca, aku pintar, aku tampan, aku kaya dan yang pasti aku suka sama kamu. Please, jadilah pacarku." Aris mempersembahkan sebuah kotak perhiasan berisi kalung dengan liontin mutiara. Merasa yakin tidak akan ada cewek yang bisa menolak pesona perhiasan mahal.
"Wow! Terima!"
"Terima! Terima! Terima." Teman sekelas Aca yang awalanya hanya diam-diam melirik seketika ramai begitu Aris menyatakan cinta.
"Aca?" Deva baru masuk ke kelas dengan napas memburu karena berlari tergesa-gesa, lalu dia melihat Aris yang berlutut di depan Aca dan sedang menyatakan cinta di saksikan semua teman sekelasnya. Membuat Deva seketika terkejut dan berdiri dengan ekspresi kaku.
Aca melihat Deva yang berdiri tak jauh dari sana, ada jejak kemarahan dan rasa kecewa di hati Aca saat melihat Deva yang tadi menuduhnya dengan sembarangan.
Hatinya terasa sakit dan Aca ingin melampiaskan kemarahannya pada Deva, maka dia menunduk menatap Aris dan mengabaikan Deva yang masih berdiri dengan bodoh.
Aca mengulurkan tangan lalu ....