Bab 16. Marah

1053 คำ
Aca mengulurkan tangannya ke arah Aris, lalu .... "Cox, apaan ini?" Sebelum Aca menyentuh kotak hadiah itu, Deva lebih dulu menyerobotnya. "Deva! Kamu yang apa-apaan? Enggak sopan banget jadi orang!" Aca semakin kesal karena Deva yang main serobot saja. "Aca, lihat dong apa yang dikasih buat kamu, enggak banget tahu." Deva mengambil kalung dari kotak dan menggantung di jarinya seperti memperlihatkan pada Aca. "Ya memang kenapa?" Aca juga dari awal sudah tahu itu barang meski memiliki mutiara asli namun mutiara itu adalah harga yang paling murah kisaran harga 3-4 juta bukan yang 25 atau 100 jutaan. Aca tahu karena dia punya nenek yang sangat doyan belanja, bahkan memiliki rumah dengan 3 lantai yang isinya koleksi busana, tas, sepatu hingga perhiasannya sendiri. Bahkan jika perusahaan keluarga mereka bangkrut, maka hanya perlu menjual koleksi milik neneknya saja, Aca yakin akan bisa membangun 5 perusahaan baru. "Kok kenapa sih Aca, ini murah sedang kamu terlalu mahal untuk dikasih barang semurah ini." Deva berbalik dan melihat Aris. "Serius ini kamu nembak Aca dengan perhiasan ginian doang?" Deva melihat kalung mutiara yang menurutnya cuma cocok untuk emak-emak OKB, di mana modelnya sudah sangat ketinggalan zaman. "Deva, meski kamu sepupu Aca, tapi ini urusan aku sama Aca, kamu enggak berhak ikut campur." Aris merasa tersinggung saat hadiahnya tiba-tiba direbut oleh Deva. "Bukan urusanku?"Deva mencibir. "Asal kamu tahu, semua urusan yang berangkutan dengan Aca itu adalah tanggung jawabku dan kamu sebagai cowok yang naksir Aca, enggak tahu hal itu? Please lihat dengan jelas, anting yang dipakai Aca saja harganya minimal 100 juta, kamu nembak Aca dengan barang murah kek gini?" Deva melempar kalung ke arah Aris dan dengan sigap Aris menangkapnya. "Ambil balik, Aca alergi barang murah kek gitu," ucap Deva dengan nada menghina. "Deva jangan seperti itu," tegur Aca tidak senang. "Aris maaf ya, Deva kadang memang keterlaluan. Kita bicarakan ini nanti." Aca tidak mau mempermalukan Aris di tempat umum jadi dia berharap bisa bicara baik-baik dengan Aris di tempat lain yang tidak ada penonton. "Enggak apa-apa kok Aca, aku tahu pemberian aku enggak seberapa dibanding dengan milikmu, Deva benar ini pasti hanya barang murah buatmu." Aris memegang perhiasan itu dengan wajah sedih sehingga membuat teman sekelas mereka seketika ikut merasa kasihan. "Deva, kamu kok sombong banget sih! Aris itu benar-benar cinta sama Aca dan jangan lihat dari harganya lah, lihat ketulusannya. Lagipula di sekolah ini meski isinya anak orang-orang yang mampu, tapi memangnya ada yang mau beliin mutiara asli buat nembak cewek? Ini sudah masuk kategori mahal." Suara Sera di sebelah Aris membela. "Sebenarnya, aku kasih ini karena merasa ini sangat cocok untuk Aca, selain itu untuk membelinya saja aku harus ngumpulin uang saku selama 3 bulan." Aris membela diri. "Ya ampun baik banget sih Aris." "Rela enggak jajan 3 bulan, lihat Aca dia benar-benar sayang kamu." "Iya lho Deva, Aca kalau kalian nilai cuma dari uang maka hanya cewek matre yang seperti itu." Beberapa teman satu teman sekelas mereka ikut bicara. "Matre? Kalian ngatain aku matre?" Meski Aca juga tidak menyukai cara Deva menyepelekan Aris, namun dia sudah minta maaf pada Aris. Tapi kenapa sekarang malah dia ikut dikatain matre? Di mana letak dia matre? Seketika Aca tidak tinggal diam. "Bukan gitu maksudnya Aca, tapi Aris jelas-jelas tulus sama kamu." Sera langsung kempis setelah dipelototi oleh Aca. "Memang kenapa kalau Aca matre? Wajar cewek secantik Aca jadi matre, lagipula aku enggak mau demi yang namanya ketulusan Aca harus menurunkan standartnya. Aca itu levelnya tinggi, jadi kalau kamu mau jadi pacar Aca, harusnya kamu naikin level kamu, jangan malah merasa kami sombong dan matre hanya karena kamu yang enggak mampu!" Deva ikut bicara dan segera membela Aca. "Dan Jangan salahin Aca atau aku yang bilang fakta, salahin dirimu sendiri kenapa enggak mampu!" Deva melihat dingin ke arah Aris. "Lagian, Aca enggak perlu jadi cewek matre kalau pengen membeli semua barang itu. Karena bapaknya lebih dari mampu." Deva segera menarik tangan Aca dan langsung membawanya keluar dari kelas. Takut Aca akan semakin marah karena mereka. Aca awalnya diam dan mengikuti dengan patuh, apalagi jarang-jarang Deva mau pegang tangannya, tapi begitu sampai di parkiran dia segera melepaskan tangan Deva dengan kasar karena bagaimanapun dia masih kesal dengan Deva. "Ngapain kamu bawa aku ke sini, kita itu masih ada kelas." Aca berbalik hendak menggunakan waktu istirahat di perpustakaan. "Aca ... maaf, aku tahu aku salah." Deva kembali meraih tangan Aca membuat langkah Aca terhenti seketika. "Aku sudah salah nuduh kamu sembarangan tadi pagi, maaf aku benar-benar enggak sengaja. Jangan marah dong cantik." Deva memasang wajah melas merasa tidak tahan kalau sampai Aca mengabaikannya. "Kamu boleh ngatain aku apa saja, boleh lakuin apa saja, tapi maafin aku ya." Deva kembali berdiri di hadapan Aca, menghalanginya untuk kembali ke kelas. "Minggir!" Aca semakin cemberut karena dengan wajah tampan itu, Aca mulai goyah dengan sikapnya. "Arhemis ... memaafkan aku ya!" Deva tidak pergi dan kembali memegang tangan Aca dan menggoyangkan seperti anak kecil yang melakukan kesalahan. Aca tidak tahan! "Oke! Tapi minta maaf dulu sama Aris, kamu udah kasar dan keterlaluan banget tadi." Aca mengingatkan. Meski dia juga tidak suka pada Aris yang membawa Sarah sebagai pacar Deva, namun tidak perlu menghina di depan umum juga. "Tapi dia enggak cocok buat kamu Aca, ganteng masih jelas gantengan aku, duit juga standard, otak standart. Aku cuma bicara fakta." "Mau cocok mau enggak, kamu enggak bisa kasar seperti itu. Aku bisa kok nolak dengan cara halus, enggak perlu menghina kayak gitu." "Aca, cowok itu meskipun kamu tolak tapi kalau kamu masih perlakukan dia dengan cara yang halus maka cowok akan tetap berharap sama kamu dan pasti nggak bakalan yang namanya mundur selama kamu masih ramah sama mereka." Deva sebagai playboy cap badak paten tentu sudah hapal tingkah saudara garangan mereka. "Terserah kamu." Aca kembali kesal dan langsung masuk mobil, kali ini dia menguncinya dari dalam sehingga saat Deva juga akan ikut masuk malah tidak bisa. "Aca ... buka please, maafin aku. Oke-oke aku akan minta maaf sama Aris." "Telat, aku sudah enggak mood dan bisa pulang sendiri." Aca bisa mengemudi, namun karena ada Deva dia jarang melakukannya. "Aca ... ish, Aca!" Deva mengetuk kaca, namun diabaikan oleh Aca dan mobil langsung melaju meninggalkan parkiran sekolah. Setalah bertahun-tahun ini adalah pertama kalinya Aca bolos sekolah. "Duh, beneran marah ini!" Deva mengusap rambutnya dengan gusar lalu meminta kunci mobil kakaknya untuk di pinjam dan segera menyusul Aca pulang.
อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม