Bab 17. Saingan

1367 คำ
"Kalian berantem?" tanya Alca saat melihat Aca dan Deva saling diam di meja makan. "Jadi gini lho Om ...." "Diam!" Aca memotong perkataan Deva dan Deva segera diam. Tidak mau membuat sang tuan putri semakin marah. "Kenapa sayang? Deva ngapain kamu?" tanya Alca pada putrinya dengan sabar. "Bukan Aca, paling justru Deva yang di bully sama Aca." Bukan membela putrinya, Aurora yang merasa putrinya suka mengerjai Deva pasti adalah tersangkanya. "Nah, ini Tante, ada yang suka sama Aca." "Deva!" Aca memperingatkan dan Deva kembali diam. "Siapa? Anak mana? Ortunya siapa? Ganteng enggak? Kaya enggak? Pinter enggak?" tanya Alca seketika kepo karena setelah sekian lama akhirnya anaknya memiliki tanda-tanda jatuh cinta. "Apa sih Papa, jangan kayak Deva deh pertanyaannya." Aca merasa dejavu. "Sesuai standart kita enggak?" Aurora bertanya dengan simple. "Enggak dan aku nolak dia, makanya Aca ngambek!" Dengan santai Deva menjawab. "Owalah gitu, ya emang harus ditolak kalau enggak sesuai standar kita." Alca setuju jangan sampai anaknya dapat laki-laki mongkodo atau patriarki. "Benar Aca, kamu sebagai anak satu-satunya kami enggak boleh berpasangan dengan cowok sembarangan. Deva lebih pengalaman, jadi dia pasti tahu mana cowok yang pantas dan enggak baik buat kamu." Aurora juga setuju dengan keputusan Deva. "Anak kalian aku apa Deva sih? Kenapa belain dia semua?" Aca yang sudah kesal langsung berdiri dan meninggalkan meja makan. "Yah, makin marah deh!" Deva menatap Aca yang sudah pergi. "Tenang saja, biar aku yang urus." Alca ikut beranjak pergi menyusul putri kesayangannya untuk menghiburnya. Sebagai ayah yang paling baik dan disukai Aca, Alca selalu memanjakannya sehingga dia adalah orang yang paling didengarkan Aca saat ada di rumah ini, dari pada mamanya Aurora yang suka ngajak rebutan kasih sayang Alca. "Deva, kamu tahu 'kan, apa yang harus kamu lakukan pada cowok itu?" tanya Aurora, meski di luar dia suka saingan dengan Aca, namun dia juga sangat protektif pada putri satu-satunya itu. Jangan sampai terjerat dengan cowok yang tidak sesuai standart mereka. "Tenang saja Tante, Deva akan mengurusnya dengan baik." Deva segera menyanggupi karena dia tahu bahwa meski wajah Aurora terlihat polos, anggun dan baik hati. Namun, sebenarnya di rumah ini yang perlu dia takutin bukan Alca yang terlihat sombong, tapi Aurora yang pendiam tapi dalamnya sikopat sama seperti Marco dan saudaranya Junior. "Tidak perlu, kirim datanya ke aku saja, nanti aku yang urus." Aurora berubah pikiran karena merasa Aris tidak banyak tingkah, jadi dia hanya perlu memberikan sedikit peringatan kepada keluarganya saja. Aurora akan menjadi boneka cantik di depan Alca, tapi di belakangnya bisa jadi labubu yang menyeramkan. Lebih ngerinya lagi adalah Aurora selalu bermain bersih tanpa Alca menyadari semuanya, padahal dia adalah orang yang berbagi bantal setiap malam dengannya. Deva mengirim semua data yang berhubungan dengan Aris ke ponsel Aurora dalam diam. Tahu pasti bahwa sebentar lagi, keluarga Aris pasti dalam masalah. "Oh, iya Tante, karena Aca masih marah sama aku, besok biar sama Dava saja ya yang menenainya. Soalnya aku ada urusan lain." "Nyari pacar?" tebak Aurora dan Deva hanya tersenyum canggung. "Jangan kebanyakan gonta ganti pasangan, ingat penyakit." Aurora menasehati. "Tenang saja Tante, aku bukan cowok sembarangan." Deva tidak mau imagenya semakin jelek. "Ya sudah, besok kasih tahu Dava buat jemput Aca." Aurora meletakkan sendok karena selesai makan dan langsung beranjak pergi ke ruang kerja. Deva yang ditinggal sendiri menyuruh art membereskan meja makan. Malam ini dia tidak menginap di rumah Aca dan memilih pulang karena harus memberitahu kakaknya Dava agar menemani Aca besok. *** Suara tamparan bergema di rumah besar itu. Aris berdiri dengan wajah mengarah ke samping karena terkejut. "Sebenarnya apa yang sudah kamu lakukan?" "Kenapa menimbulkan masalah untuk keluarga kita?" Aris menatap ibunya yang berdiri dengan marah, dia merasa bingung setelah ditampar oleh ibunya karena seumur hidup baru kali ini dia mendapatkan kekerasan seperti itu. "Mama, why? Aku enggak ngapa-ngapain? Kenapa mama memukulku?" tanya Aris masih shock. "Aris, kita pindah ke Indonesia karena usaha kita di luar negeri itu bangkrut. Kita sedang berusaha membuat usaha kita yang di Indonesia itu berkembang dan menjadi besar, tapi kenapa kamu malah main-main dengan orang yang punya kuasa dan buat bisnis kita kesulitan?" "Kamu tahu enggak, kalau sampai usaha kali ini gagal, kita akan bangkrut dan benar-benar jatuh miskin!" Papanya ikut marah. "Tapi Aris enggak mengerti? Apa maksud Papa dan Mama? Aris enggak pernah bikin masalah." Aris masih tidak paham. "Enggak tahu! Ingat-ingat lagi, orang kaya mana yang sudah kamu singgung!" Papanya kembali menekan. "Cepat minta maaf, kalau perlu berlutut padanya. Jangan sampai keluarga kita bangkrut!" Mama nya yang biasanya anggun terlihat panik. "Aku benar-benar tidak membuat masalah dengan siapa pun, selain menyatakan cinta pada ... Aca? Eh ... keluarga Aca sangat kaya, apa mungkin!!! Mustahil!!!" Aris tidak bahwa Aca akan seperti itu. "Apa! Menyatakan cinta? Aris Mama nyuruh kamu belajar yang bener kenapa kamu malah pacar-pacaran?" "Tapi dia ranking 1 Mama dan dia kaya raya." Aris membela diri. "Bodoh, kamu pikir mendekati orang kaya itu semudah membalikan telapak tangan. Mereka memiliki standar tinggi untuk mencari pasangan. Sial, kenapa aku bisa punya anak bodoh seperti kamu." "Lebih baik sekarang kamu temui Aca dan minta maaf." Ayahnya memerintah. "Tapi, bagaimana kalau bukan Aca?" tanya Aris, tidak percaya bahwa aku akan melakukan hal seperti itu. "Dari pada menebak-nebak lebih baik kamu pergi sekarang!" Perintah papanya dan Aris yang tidak mau jatuh miskin segera melakukan perintah ayahnya. Aris tidak tahu di mana rumah Aca, jadi dia pergi ke sekolah untuk mencari informasi. Tapi, karena hari sudah sore, sekolah sudah sangat sepi namun masih ada penjaga gerbang, beberapa guru yang bertugas dan beberapa murid yang mengerjakan tugas di perpustakaan. Aris turun dari mobil, berniat janjian dengan Aca di sekolah. Dia baru membuka ponselnya dan hendak mengirim chat saat tiba-tiba ada sesuatu yang membekap mulutnya dan menyeretnya menjauh ke sebuah gudang. Aris sangat ketakutan dan berusaha memberontak. Namun sebagai balasan tangannya langsung terikat dan matanya ditutup hingga tidak bisa melihat apa pun. "Ugh!" Satu tendangan membuat kakinya berlutut, lalu tendangan lain menghampiri tubuhnya hingga dia jatuh tersungkur dan meringkuk kesakitan. "Um, um!" Hanya ada suara terendam yang keluar dari mulut Aris, dia sudah menangis ketakutan dan berusaha memohon ampun. Namun seperti tidak ada yang mendengarkan dan mereka terus memukulinya tanpa ampun. "Buah, ah, ha, ha ampun! Jangan pukul lagi." Aris langsung memohon dengan suara gemetar ketakutan, seluruh tubuhnya terasa sangat sakit sampai dia seperti sekarat. Tubuhnya jatuh tersungkur dalam keadaan tengkurap dan tangan terikat di belakang sehingga tidak bisa bangun. Seorang pria dengan pakaian formal berjalan mendekat, di bibirnya ada sebatang rokok mahal yang tersangkut dengan elegan. Sebuah sepatu kulit mengkilap tepat ada di depannya Aris, namun karena matanya di tutup, Aris tidak bisa melihatnya. "Apakah sekarang kamu tahu rasanya takut?" Suara itu terdengar dewasa dan penuh nada ejekan. Ingin menginjak wajah Aris namun mengurungkan niatnya karena takut sepatunya kotor. "Ampun! Maafkan aku! Tolong lepaskan!" Aris benar-benar ketakutan, dia selalu di manja dan disayangi semua orang, mana pernah mengalami hal mengerikan seperti ini. Pria itu menjambak rambut Aris, mendongakkan wajahnya agar terlihat jelas. "Tampang seperti ini, berani menyukai wanita pujaanku! Heh, benar-benar tidak sadar diri!" Pria itu menepuk wajah Aris dengan pelan, namun mampu membuat wajah Aris memucat semakin ketakutan. "Tidak berani, aku tidak akan berani mendekati Aca lagi. Tolong jangan pukul lagi." Air mata seperti banjir dengan ingus yang ikut meleleh. Membuat pria itu merasa jijik. "Lain kali, sebelum menyukai wanita, kamu harus mencari tahu siapa sainganmu!" Pria itu menghembuskan asap rokok tepat ke wajah Aris hingga dia terbatuk-batuk semakin merasa ngeri. "Apa kamu mengerti?" Pria itu membuka tutup mata Aris agar bisa melihat wajahnya dengan jelas. Aris tercengang dengan ekspresi tidak percaya. "Kamu ... bagaimana bisa? Kamu menyukai Aca?" Aris sangat Shok. "Kenapa? Tidak bisakah?" Pria itu menyeringai. "Bisa, tentu saja bisa." Aris segera menjawab dan mengangguk meski masih bingung. "Ingat, jaga mulutmu. Kalau sampai ada yang tahu ...." "Mengerti! Aku mengerti! Aku tidak akan berani mendekati Aca lagi dan aku tidak akan mengatakan apa pun pada orang lain." Aris sangat ketakutan. Jika tahu saingan cintanya adalah orang yang sangat mengerikan, dia tidak akan berani mendekati Aca apalagi menyatakan perasaannya. "Bagus, lepaskan dia." Pria berdiri dan anak buahnya segera melepaskan Aris yang langsung berlari tunggang langgang seperti dikejar setan. Dia menatap Aris dengan wajah penuh penghinaan. "Mau merebut Aca dariku?" "Mustahil!" ucap pria itu sambil menghembuskan asap rokoknya dengan wajah arogan.
อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม