Terungkap
“Apa! Menceraikan Ayunda?!”
“Ya! Itu keputusan yang tepat, Xel.”
“Nggak!” Pria yang dipanggil Axel menggeleng, menatap tajam ke arah Rico, sahabat dekatnya.
“Sampai kapanpun Ayunda akan menjadi istri gue,” ucap Axel.
“Lo akan menyembunyikan Lina sampai kapan?!”
Axel menyunggingkan senyumnya, sebuah senyum kebanggaan. “Nyatanya selama satu tahun ini tidak ada yang tau selain lo, kecuali—“
“Gue yang membocorkan?!” potong Rico penuh emosi. Menjambak rambutnya, menunjuk ke arah Axel. “Gue yang selama ini nutup-nutupin rahasia ini dari semua orang, paham!”
“Nggak ... ini pasti bohong ...” lirih seorang wanita cantik yang ternyata dari tadi berdiri di samping pintu yang memang terbuka, dia dengan jelas mendengarkan semua pembicaraan dua orang sahabat itu. Wanita cantik itu menggeleng, membekap mulutnya sendiri, air mata berderai di pipinya yang mulus. Dia kembali mendengarkan pembicaraan mereka.
“Terus, kenapa tiba-tIba saja lo nyuruh gue cerai sama Ayunda. Apa masud lo?!” Axel terlihat penasaran.
“Ayunda nggak pantas lo perlakukan seperti ini.”
“Memang selama ini gue pernah berlaku kasar sama dia?” Axel menatap tajam ke arah sahabatnya. “Asal lo tau aja, Ayunda itu wanita yang sempurna di lihat dari sisi manapun, dia yang pantas berdiri di sampingku, ibarat kata ... dia barang antik yang hanya pantas untuk dipajang.”
“Gila lo! Dia itu manusia yang punya emosi dan juga rasa!” protes Rico.
“Itu menurut lo. Ayunda itu cinta mati sama gue, dia selamanya akan menjadi b***k cinta.” Axel mengucapkannya dengan penuh kebanggaan, tak ada rasa bersalah sedikitpun.
Wanita cantik yang bersembunyi di samping pintu terus membekap mulutnya, dia adalah Ayunda. Mungkin saja dia tidak akan pernah tau fakta itu jika saja dia tidak kembali lagi untuk mengambil barangnya yang tertinggal di rumah, kata-kata Axel membuatnya tak tahan lagi, dengan langkah yang begitu pelan, Ayunda meninggalkan kediamannya dengan hati yang begitu hancur.
“Lho! Kok cepat sekali Nyonya?” tanya seorang satpam begitu Ayunda sampai di depan pintu gerbang rumahnya.
“I—iya!” jawab Ayunda gagap. “To—tolong Bapak jangan bilang kalau saya kembali lagi ya ... takutnya nanti Tuan khawatir,” ucap Ayunda bohong.
“Baik, Nyonya.”
Ayunda kembali berjalan menuju mobilnya yang dia parkir di depan pintu gerbang rumahnya. Gadis itu buru-buru masuk ke dalam mobilnya, melajukan mobilnya tanpa sebuah tujuan hingga akhirnya berhenti di tepi jalan, gadis itu memukul keras kemudi yang dia pegang, air matanya mengalir deras, hatinya begitu sakit saat mendengar pengakuan Axel. Bagaimana mungkin orang yang begitu dia cintai tega menghianatinya sedemikian rupa, dia rela menyimpan ijazah luar negerinya demi menjadi istri yang baik untuk Axel, bahkan dia rela mengubur semua mimpi-mimpinya demi Axel. Dia pikir selama ini Axel butuh waktu tapi nyatanya tidak seperti dugaannya. Ternyata Axel memiliki wanita idaman lain sedangkan dia hanya dijadikan sebagai istri pajangan. Ayunda menghapus air matanya, dia merasa air mata itu tidak pantas untuk Axel. Gadis cantik itu menatap tajam ke depan, meraih ponselnya, menghubungi seseorang yang begitu dia percaya. “Mel, pindahkan semua saham atas nama aku.”
“Apa?! Kamu tidak bercanda!” seru seseorang dari seberang sana.
“Dalam sepuluh menit aku sampai di kantor.”
Ayunda menutup panggilannya secara sepihak, kembali melajukan mobilnya menuju sebuah kantor. Hanya butuh beberapa menit saja, mobil yang Ayunda kendarai berhenti di sebuah gedung yang cukup megah, gadis itu buru-buru turun dari dalam mobil, berjalan cepat menuju sebuah lift yang akan membawanya ke sebuah ruangan. Pintu lift pun terbuka, gadis itu langsung berjalan menuju ruangan CEO. Seseorang terlihat sangat bahagia sekali saat Ayunda masuk ke dalam ruangan itu.
“Selamat datang kembali, Ayu.” Gadis itu mengucapkannya dengan penuh semangat.
“Terima kasih, Mel.” Ayunda terlihat mengamati sekitar. “Masih tetap sama.”
“Tentu! Dan kursi kebesaran ini kembali menjadi milikmu.” Meli berdiri, berjalan menghampiri Ayunda, memegang tangan gadis itu, melihat wajah sahabatnya yang terlihat tidak biasa meskipun Ayunda berusaha menyembunyikan darinya. “Apa dia berulah?’ tanya Meli tiba-tiba.
Ayunda megangguk pelan. “Ya! Bahkan dia menikahi wanita itu di belakangku.”
“Sialan! Cowok b******k! Uhhh!” Meli mengepal kedua telapak tangannya, giginya gemeretak. “Rasanya pengen aku tonjok tuh muka!” kesal Meli.
“Semuanya sia-sia ....” lirih Ayunda, air matanya kembali mengalir. “Rasanya sakit, Mel. Aku selama ini mengorbankan segalanya demi menjadi istri yang baik buat dia, ini yang aku dapatkan. Sebuah penghianatan ....”
Meli langsung meraih sahabatnya, memberi sebuah kekuatan lewat pelukannya. “Dia nggak pantas menerima air mata kamu.” Meli mengurai pelukannya, memegang kedua bahu Ayunda. “Lihat aku! Kamu seorang yang hebat, dia tidak tau siapa sebenarnya kamu, tunjukan kualitas kamu di depannya.”
Ayunda mengangguk pelan, bukan sakit karena penghianatan yang dilakukan oleh suaminya tapi dia merasa kecewa dan bodoh karena selama ini mengorbankan waktunya untuk orang yang tidak pernah membalas perasaannya, justru malah menjadikannya layaknya sebuah pajangan. “Aku akan kembali, aku tidak akan diam dengan penghinaan ini.”
Meli tersenyum, menepuk pelan punggung sahabatnya. “Ini baru Ayu yang aku kenal. Terus apa rencana kamu?”
Ayunda menyungingkan senyumnya. “Akan ku ikuti permainannya sampai aku bisa memulihkan bisnis keluargaku.”
“Itu ide yang bagus! Ayo kita beri pelajaran untuk pria yang tidak tau diri itu!” ucap Meli penuh semangat.
“Bantu aku selidiki siapa Lina itu.”
“Lina ...?” Meli mengernyit. “Dia selingkuhan Axel?!
“Ya!” Jawab Ayunda singkat. “Sudahlah, aku ingin fokus dengan pekerjaan kita. Kali ini kita nggak bisa main-main.”
Meli memberi hormat kepada Ayunda. “Siap, Boss!”
Ayunda tersenyum, berjalan menuju kursi kebesarannya dan duduk di sana untuk memeriksa beberapa berkas penting. Gadis itu mulai terlihat serius dan sibuk dengan pekerjaannya hingga waktu menunjukkan malam.
***
Kediaman Axel
Tidak seperti biasanya, Axel terlihat sangat gelisah. Pria itu terlihat mondar-mandir di ruang tamu, berulang kali dia melihat ke arah pintu, memastikan istrinya segera kembali. Wajahnya kembali sumringah saat pintu utama terbuka, menampilkan seorang wanita cantik jelita yang bahkan boleh dikatakan dia begitu sempurna untuk seorang mahluk yang di sebut ‘wanita’.
“Sayang, kamu sudah pulang?” Axel langsung berjalan menyambut Ayunda.
“Kenapa? Aku capek.”
Axel tercengang, benar-benar berubah seratus delapan puluh derajat. Itu adalah kebiasaan Ayunda yang hampir setiap hari mondar-mandir di ruang tamu hanya untuk menunggu dirinya pulang. “I—itu kamu tadi kemana? Aku juga capek.”
Ayunda memejamkan matanya sebentar, rasanya begitu muak menghadapi pria di depannya ini yang masih menyandang status sebagai suami sahnya. Kemarin malam dia masih menjadi wanita bodoh yang dengan senang hati menyambut kepulangan suaminya dan mengurus semua kebutuhannya. “Kalau capek tinggal istirahat aja.”
“Kamu kenapa?” tanya Axel curiga.
Ayunda dengan terpaksa menampilkan senyum termanisnya di depan Axel. “Aku capek lho! Seharian aku muter-muter mall untuk belanja.”
Axel melotot, ini bukan kebiasaan dari Ayunda. “Eh, itu nggak masalah. Bisa kamu siapkan air hangat untukku?”
“Ya ampun! Tinggal kamu nyalakan krannya, itu juga udah anget.” Ayunda menghela nafas, malas sekali berhadapan dengan pria di hadapannya itu. “Sudahlah! Aku mau istirahat.” Ayunda berlalu dari hadapan Axel, berjalan menuju kamarnya.
“Ta—“ Axel tidak jadi melanjutkan kata-katanya, pria itu hanya terlihat bingung dengan perubahan sikap istrinya. Padahal biasanya Ayunda menyambut kepulangannya, selalu di rumah saat dia pulang, membawakan kopernya, bahkan dengan sangat lembutnya selalu berkata, “Sayang, air hangatnya sudah aku siapkan.”
***
Ayunda langsung berbaring di kasur setelah dia selesai membersihkan dirinya, sedangkan Axel terdengar masih di kamar mandi untuk membersihkan dirinya setelah dia menunggu Ayunda selesai membersihkan diri. Jika kemarin malam Ayunda masih dengan setianya menunggu Axel selesai mandi, berharap pria itu datang memeluknya, menunaikan kewajibannya sebagai seorang suami tapi tidak dengan malam ini. Ayunda hanya ingin mengumpulkan tenaganya kembali, bersiap untuk menghadapi pertempuran hari esok.
“Sayang ....”
Ayunda terbelalak, baru saja dia terlelap, entah bagaimana tiba-tiba saja Axel sudah berdiri tepat di depannya dengan posisi yang dulu dia idam-idamkan selama ini. Pria itu terlihat begitu tampan dan sexi, rambut basah, hanya menggunakan celana boxing yang memperlihatkan otot perutnya yang begitu sispack dengan tubuh yang masih sedikit basah. Jika kemarin malam dia masih tergoda, tidak dengan sekarang. Bahkan meihatnya saja dia begitu jijik, kali ini dia melihatnya hanya sebatas seonggok daging.
Ayunda sedikit bergeser. “Ada apa?”
Axel perlahan mulai naik ke ranjang, dia melihat Ayunda dengan penuh gairah membara. “Aku—“
“Aku lagi datang bulan!”
Axel tercengang dengan jawaban istrinya yang tiba-tiba saja memotong kata-katanya. “Ah, sial! Padahal malam ini aku ingin menyentuhnya.” Ini suara hati Axel yang terlihat sangat kecewa dengan jawaban Ayunda.
“Jangan gangu aku!” kesal Ayunda, lagsung menarik selimut agar menutupi wajahnya.
“Oh ... Aku boleh tidur di sini?” Axel kembali bertanya.
“Selesaikan saja pekerjaan kamu!”
Axel terlihat salah tingkah, memang selama ini dia akan pergi ke ruang kerjanya setelah selesai membersihkan diri dan akan kembali ke kamar jika istrinya sudah terlelap. Bahkan kebiasaannya itu masih berlangsung kemarin malam.
“Baiklah ... kamu tidur saja,” ucap Axel. Berjalan meninggalkan kamar mereka untuk menuju ruang kerjanya.
Ayunda kembali membuka selimutnya setelah merasa Axel tidak lagi di kamar mereka. “Huh! Jangan harap kamu bisa menyentuh aku!”
Ayunda buru-buru meraih ponselnya yang terus saja berdering, yang ternyata itu panggilan telepon dari Meli, sahabatnya.
“Ada apa, Mel?”
“Aku tau siapa Lina?”